Sejarah Wahabi (Bagian 1) - Buntet Pesantren Sejarah Wahabi (Bagian 1) - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Tuesday, July 1, 2008

    Sejarah Wahabi (Bagian 1)

    sejarah Oleh: M. Zaim Nugroho


    MENULIS sejarah Wahabi tidak terlepas dari negara asalanya aliran ini berasal,
    yaitu Arab Saudi. Arab Saudi adalah satu-satunya negeri di mana para
    ulama masih mendominasi peran perubahan masyarakat. Di negeri ini,
    nasionalisme, Pan-Arabisme, Pan-Islamisme, sosialisme Islam, yang
    memainkan peran di negeri-negeri Muslim lainnya, tidak punya gaung.
    Satu-satunya doktrin yang ditoleransi adalah paham Wahhabiyah. Dengan
    itu, Arab Saudi menjadi sebuah kerajaan yang totalitarian, tak kenal
    kompromi.



    Tidak mengherankan jika kerajaan Saudi memandang
    nasionalisme Nasser di Mesir sebagai ancaman langsung terhadap
    keberadaannya. Untuk menahan pengaruh Nasser yang makin menguat,
    kerajaan Saudi mengulurkan tangannya kepada para aktivis Ikhwanul
    Muslimin – tidak saja mereka yang terusir dari Mesir, tetapi juga dari
    negara-negara Arab sekular lainnya seperti Syria dan Irak.

    Nama
    “Wahabisme” dan “Wahabi” berasal dari Muhammad ibn Abd al Wahhab
    (1703-1792). Nama ini diberikan orang-orang yang berada di luar gerakan
    tersebut, dan kerap kali dengan makna yang terkesan buruk. Kaum Wahabi
    sendiri lebih suka istilah al-Muwahhidun atau Ahl al-Tawhid sebagai
    nama kelompok mereka. Menurut Algar, penggunaan nama-nama ini
    mencerminkan keinginan untuk menggunakan secara eksklusif prinsip
    tawhid, yang merupakan landasan Islam itu sendiri.

    Pada saat yang sama,
    mereka membedakan diri dari seluruh umat Islam yang lain, yang mereka
    cap telah melakukan syirik. Akan tetapi, tidak ada alasan menerima
    monopoli atas prinsip tawhid tersebtu, dan karena gerakan yang menjadi
    pokok pembahasan ini merupakan karya seorang manusia, yakni Muhammad b.
    ‘Abd al-Wahhab, maka cukup beralasan dan lazim untuk menyebut mereka
    “Wahabisme” dan “kaum Wahabi” (Algar, 2003: 1-2).

    Dalam sejarah
    pemikiran Islam yang telah berlangsung lama dan sangat kaya, Wahabisme
    tidak menempati tempat yang begitu penting. Secara intelektual gerakan
    ini adalah marjinal, tetapi bernasib baik karena muncul di Semenanjung
    Arab (meski di Najd, yang relatif jauh dari semenanjung itu) dan karena
    itu dekat dengan Haramayn, yang secara geografis merupakan jantung
    dunia Muslim.

    Selain itu, dinasti Saudi, yang menjadi patron gerakan
    Wahabisme, bernasib baik ketika pada abad keduapuluh mereka memperoleh
    kekayaan minyak yang luar biasa, yang sebagiannya digunakan
    menyebarluaskan Wahabisme. Jika tidak ada dua faktor tersebut,
    Wahabisme mungkin saja hanya dicatat dalam sejarah sebagai gerakan
    sektarian yang marjinal dan berumur pendek. Kedua faktor yang sama
    pula, yang diperkuat dengan adanya sejumlah kesamaan dengan
    kecenderungan-kecenderungan kontemporer lainnya di dunia Islam, telah
    menyebabkan Wahabisme dapat bertahan lama. (Algar, 2003: 2)

    Sebagai
    aliran pemikiran atau sekte tersendiri, Wahabi dicirikan, khususnya
    oleh para pengamat non-Muslim yang mencari deskripsi ringkas
    mengenainya, sebagai kaum Sunni yang “ekstrem” atau sebagai kaum Sunni
    yang “konservatif,” dengan kata-kata sifat seperti “keras” atau “ketat”
    ditambahkan di belakangnya, untuk memberikan gambaran yang lebih pasti.
    Namun, kalangan Sunni mengamati bahwa kaum Wahabi, sejak pertama kali
    aliran mereka dikumandangkan, tidak bisa dimasukkan sebagai bagian dari
    Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah. Hal itu karena hampir semua praktik,
    tradisi dan keyakinan yang dikecam oleh Muhammad b. `Abd al-Wahhab
    sudah lama diakui sebagai bagian integral dari Islam Sunni, diuraikan
    dalam banyak sekali literatur dan diterima oleh sebagian besar kaum
    Muslim.

    Karena alasan ini, banyak ulama yang hidup pada masa ketika
    Wahabisme pertama kali dikampanyekan mengecam pendukungnya sebagai
    bukan bagian dari Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah. Bahwa sekarang Wahabisme
    dipandang sebagai bagian dari Sunni, hal itu menunjukkan bahwa istilah
    “Sunni” mulai memperoleh makna yang luar biasa longgar. (Algar, 2003:
    2-3)

    Karena ketertarikan yang ditunjukkan Muhamad b. ‘Abd al-Wahhab
    pada karya-karya Ibn Taymiyah, Wahabisme senantiasa diklaim
    mencerminkan kemunculan yang tertunda dari warisan Ibn Taymiyah. Klaim
    ini sulit dipertahankan. Apapun pendapat orang tentang posisi atau
    sikap Ibn Taymiyah, tidak diragukan bahwa ia adalah pemikir yang jauh
    lebih canggih dan produktif dibandingkan dengan Muhammad b. ‘Abd
    al-Wahhab. Lebih dari itu, perbedaan kunci antara kedua orang ini
    adalah: kendati Ibn Taymiyah menentang aspek-aspek tertentu Sufisme
    pada zamannya yang ia pandang keliru atau menyimpang, ia tidak menolak
    Sufisme secara keseluruhan. Ia sendiri adalah pelopor tarikat
    Qadiriyyah. Sebaliknya, Muhammad b. ‘Abd al-Wahhab menolak tasawuf
    secara lebih luas, akar maupun cabangnya, bukan hanya manifestasi
    tertentu tasawuf. (Algar, 9-10)


    Ekspansi Wahabi

    Wahhabisme atau
    Wahhabiyah diambil dari Syeikh Muhammad ibn `Abd al-Wahhab (1703-1792),
    pendiri gerakan puritanisme keagamaan di Semenanjung Arabia yang pada
    akhirnya berujung pada pembentukan negara Islam Arab Saudi. Ia
    dilahirkan pada tahun 1703 di Uyaina, sebuah kota yang sekarang ini
    sudah tidak ada lagi, di wilayah Najd, Arabia. Ia memperoleh pendidikan
    agama, dan pernah belajar di Madinah. Ia kemudian berkelana ke
    mana-mana, berkunjung dan belajar ke tempat-tempat seperti Syria, Irak,
    Kurdistan, dan Persia. Ketika kembali ke Arabia, ia mulai mengajarkan
    bentuk Islam yang puritan, yang menyerukan kaum Muslim untuk kembali
    kepada dasar-dasar Islam seperti yang dikemukakan dalam al-Qur’an dan
    hadis, tentunya sebagaimana yang ia sendiri pahami dan tafsirkan.

    Pada
    sekitar tahun 1777, ia tinggal di Dariyah, Arabia, dan di sana ibn
    al-Wahhab menjadi “pemimpin spiritual” keluarga besar Sa`ud. Pada masa
    itu, klan Sa`ud adalah sebuah kelompok pembesar atau elite lokal yang
    sedang berusaha untuk memperluas pengaruh dan wewenang. Wahhab lalu
    menandatangani semacam “perjanjian kerja sama” dengan Muhammad ibn
    Sa`ud, pemimpin klan di atas. Ibn al-Wahhab dan pengikut-pengikutnya
    akan mendukung upaya-upaya keluarga ibn al-Sa`ud untuk memperluas
    pengaruh dan wewenang mereka, dan keluarga al-Sa`ud – sebagai
    konpensasinya – akan menyebarkan versi Islam Wahhabi yang puritan itu.
    Tentang pertemuan keduanya di Oasis Dir`iyyah. Menurut Abu Hakimah, salah satu penulis sejarah ibn al-Wahhab:

    Muhammad
    ibn Sa`ud menyambut Muhammad ibn al-Wahhab dan berkata, “Oasis ini
    milikmu, dan jangan takut kepada musuh-musuhmu. Dengan nama Allah,
    bahkan jika semua [orang] Najd dipanggil untuk menyingkirkan kamu, kami
    tidak akan pernah setuju untuk mengusirmu.” Muhammad ibn `Abd al-Wahhab
    menjawab, “Anda adalah pemimpin mereka yang menetap di sini dan Anda
    adalah seorang yang bijak. Saya ingin Anda menyatakan sumpah Anda
    kepada saya bahwa Anda akan melaksanakan jihad (perang suci) terhadap
    orang-orang kafir. Sebagai imbalannya, Anda akan menjadi imam, pemimpin
    masyarakat Muslim, dan saya akan menjadi pemimpin dalam masalah-masalah
    keagamaan. (dikutip dalam al-Rasheed, 2002: 17).

    Dengan
    terbentuknya koalisi antara Ibn Sa`ud dan `Abd al-Wahhab, Wahhabiyah
    menjadi ideologi keagamaan bagi suatu unifikasi antarsuku di Arabia
    Tengah dan apa yang dapat disebut sebagai gerakan Wahhabiyah pun
    dimulai. Sebagai imam kembar gerakan Wahhabiyah, Ibn Sa`ud dan `Abd
    al-Wahhab menjadi pemimpin spiritual dan temporal wilayah itu.
    Banyak
    deskripsi mengenai keberhasilan ekspansi Wahhabi-Saudi yang awal
    menekankan fakta bahwa raid sejalan dengan praktik-praktik kesukuan
    yang dominan kala itu. Sekalipun mengandung kebenaran, hal ini
    menyepelekan pentingnya dimensi spiritual koalisi itu, yang menjadi
    daya tarik sedikitnya bagi sebagian pengikut Wahhabi yang awal. Selain
    keuntungan material, Wahhabisme juga menawarkan penyelamatan bukan saja
    di dunia ini, melainkan juga di akhirat kelak. Menurut sejarawan Madawi
    al-Rasheed (2002: 20), al-Wahhab membawa sesuatu yang baru, yakni
    pentingnya tawhid, ke dalam tradisi keislaman Najd yang sebelumnya
    didominasi fiqh.

    Mereka dengan sengaja mengaitkan gerakan mereka
    dengan kaum Khawarij, kelompok puritan dan ekstremis pertama dalam
    sejarah Islam, dan seperti kelompok pendahulunya yang fanatik itu,
    mereka memfokuskan kemarahan mereka pertama-tama ke dalam, untuk
    menghancurkan apa yang mereka pandang sebagai sebab-sebab kemunduran
    kaum Muslim. Karena itu, mereka mulai memerangi suku-suku yang ada di
    sekeliling mereka dan memaksa suku-suku tersebut untuk mengikuti versi
    Islam mereka.

    Di bawah kepemimpinan militer `Abd al-`Aziz, anak
    Muhammad ibn Sa`ud, mereka mulai ekspansi mereka ke Riyadh, Kharj, dan
    Qasim di wilayah Arabia Tengah pada 1792. Setelah berhasil menduduki
    wilayah itu, mereka melanjutkan ekspansi ke timur ke Hasa, dan
    menghancurkan kekuasaan Banu Khalid di wilayah itu. Para pengikut
    Syi`ah di kawasan ini, yang jumlahnya cukup banyak, dipaksa untuk
    menyerah dan mengikuti Wahhabisme atau dibunuh. Lalu, ekspansi
    dilanjutkan ke Teluk Persia dan Oman: Qatar mengakui kekuasaan
    Saud-Wahhabi pada 1797, dan Bahrain menyusul tak lama kemudian. Mereka
    semua diwajibkan untuk membayar zakat ke Dir`iyyah.

    Ekspansi awal
    Wahhabi-Saudi yang menentukan berlangsung ke barat, khususnya ke Hijaz,
    di mana dua kota suci Islam, Mekkah dan Madinah, berada. Dalam ekspansi
    ini mereka berhadapan dengan otoritas keagamaan yang lain, yakni Syarif
    Mekkah, yang memperoleh legitimasinya dari Khalifah Turki Usmani.
    Terlepas dari upaya keras orang-orang Hijaz untuk bertahan, koalisi
    Wahhabi-Saud berhasil memantapkan hegemoni mereka di Ta’if pada 1802,
    Mekkah pada 1803, dan Madinah setahun kemudian. Setelah kemenangan itu,
    para ulama Wahhabi memerintahkan penghancuran kubah yang ada di
    makam-makam Nabi Muhammad dan para sahabatnya di Madinah.

    Kemenangan
    di Hijaz mendorong koalisi Wahhabi-Sa`ud untuk meneruskan ekspansi ke
    wilayah selatan ke `Asir, di mana para pemimpin lokalnya segera memeluk
    Wahhabisme dan ikut serta dalam ekspansi selanjutnya ke Yaman. Kuatnya
    pertahanan orang-orang Yaman, ditambah dengan kondisi geografis yang
    kurang dikuasai pasukan Wahhabi, membuat Yaman tidak berhasil
    ditundukkan sepenuhnya.

    Ekspansi lain mencapai ladang subur
    Mesopotamia, sekaligus mengancam bagian-bagian penting daerah kekuasaan
    Turki Usmani, Pada 1802, di hari suci `Asyura, mereka melabrak tembok
    Karbala dan membunuh 2.000-an pengikut Syi`ah yang sedang bersehbahyang
    sambil merayakan Muharram. Dengan kemarahan yang tak terkontrol, mereka
    menghancurkan makam-makam Ali, Husayn, imam-imam Syi`ah, dan khususnya
    kepada makam puteri Nabi, Fatimah.

    Pada tahun 1803-1804, pasukan
    Wahabi juga menyerbu Mekkah dan Medinah. Mereka membunuh syekh dan
    orang awam yang tidak bersedia masuk Wahabi. Perhiasan dan perabotan
    yang mahal dan indah – yang disumbangkan oleh banyak raja dan pangeran
    dari seluruh dunia Islam untuk memperindah banyak makam wali di seputar
    Mekkah dan Madinah, makam Nabi, dan Masjidil Haram – dicuri dan
    dibagi-bagi. Pada 1804, Mekkah jatuh ke tangah Wahabi. Dunia Islam
    guncang, lebih-lebih karena mendengar kabar bahwa makam nabi telah
    dinodai dan dijarah, rute jamaah haji ditutup, dan segala bentuk
    peribadatan yang tidak sejalan dengan praktik Wahabi dilarang (Allen,
    2006: 64).

    Abd al-Aziz, yang setelah kematian Muhammad ibn Abd
    al-Wahhab memegang dua gelar amir dan imam sekaligus, wafat pada 1806.
    Ia dibunuh ketika sedang sembahyang di masjid Dir`iyyah. Pembunuhnya
    adalah pengikut Syiah dari Karbala yang memburunya dalam rangka
    membalas dendam terhadap perbuatan pasukan Wahabi di Karbala. Ia
    digantikan oleh putranya, Sa`ud ibn Sa`ud yang berkuasa sampai 1814,
    yang digantikan putranya bernama Abdullah ibn Sa`ud.

    Reaksi Konstantinopel
    Dominasi
    Wahabi di tanah suci juga menjadi tantangan langsung terhadap otoritas
    Khalifah di Turki. Beberapa kali serangan dilancarkan oleh Khalifah
    dari Baghdad tetapi gagal. Muhammad Ali Pasya, wazir atau wakil
    Khalifah di Mesir, diserahi tanggungjawab mengambil alih Hijaz dan
    tanah suci dan mengembalikannya kepada Khalifah sebagai khadimul
    haramayn. Setelah gagal di tahun 1811, pada 1812 pasukan kekhalifahan
    Usmani dari Mesir tersebut berhasil menduduki Madinah. Pada tahun 1815,
    kembali pasukan dari Mesir menyerbu Riyadh, Mekkah, dan Jeddah. Kali
    ini pasukan Wahhabi kucar-kacir.

    Ibrahim Pasya, putra sang
    penguasa Mesir, datang dengan kekuatan sekitar 8000 pasukan kavaleri
    dan infantri dari Mesir, Albania, dan Turki. Ibrahim menawarkan enam
    keping perak untuk setiap kepala pengikut Wahabi yang berhasil dibunuh.
    Di akhir pertempuran, lapangan di depan markasnya berdiri piramida
    kepala pengikut Wahhabi. Pada 1818, pertahanan terakhir Wahabi yang
    dipimpin Abdullah ibn Sa`ud di Dir`iyyah diserbu dan setelah beberapa
    bulan dikepung, mereka menyerah.

    Ibrahim Pasya mengumpulkan semua
    ulama Wahabi yang bisa didapat, kira-kira lima ratusan ulama, dan
    menggiring mereka ke masjid besar. Di sana, selama tiga hari, ia
    memimpin debat keagamaan dalam rangka meyakinkan ulama Wahabi bahwa
    ajaran mereka sesat. Di akhir hari keempat, kesabarannya habis dan ia
    memerintahkan pengawalnya supaya membunuh mereka sehingga masjid
    Dir`iyyah, dalam kata-kata pengelana William Palgrave, ‘menjadi kuburan
    berdarah teologi Wahabi.’

    Abdullah ibn Sa`ud sendiri beserta
    beberapa anggota keluarganya ditawan dan dibawa ke Kairo dan kemudian
    ke Konstantinopel. Di ibukota Khilafah Usmani itu dia dipermalukan,
    diarak keliling kota di tengah cemoohan penonton selama tiga hari.
    Kemudian kepalanya dipenggal dan tubuhnya dipertontonkan kepada
    kerumunan yang marah. Sisa-sisa keluarga Sa`udi-Wahabi menjadi tawanan
    di Kairo.

    Kehancuran Wahabi disambut gembira di banyak negeri
    Muslim. Seorang ulama mazhab Hanafi bernama Muhammad Amin ibn Abidin
    yang hidup di awal abad XIX mengatakan, “Ia mengaku pengikut mazhab
    Hanbali, tapi dalam pemikirannya hanya dia saja yang Muslim dan semua
    orang lain adalah musyrik. Ia mengatakan bahwa membunuh Ahlussunnah
    adalah halal, sampai akhirnya Allah menghancurkannya pada tahun 1233
    Hijriah (1818) melalui pasukan Muslim.” (Allen, 2006: 68).

    Demikianlah,
    fase pertama aliansi Wahabi-Saudi, yang juga dikenal dengan Negara
    Saudi I, berhenti secara brutal, sekejam serbuan dan penaklukan yang
    mereka lakukan sejak aliansi terbentuk. (Bersambung)

    Zaim Nugroho, keluarga dari Buntet Pesantren, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah. Kini aktif di salah satu Lembaga Penelitian Pemilu.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Sejarah Wahabi (Bagian 1) Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top