Memikirkan Kembali Gerakan Sosial Islam - Buntet Pesantren Memikirkan Kembali Gerakan Sosial Islam - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Tuesday, July 8, 2008

    Memikirkan Kembali Gerakan Sosial Islam


    fotoOleh. Agus Iswanto

    Kalau dicermati, sampai sejauh ini, tampaknya para pemimpin, ulama, cendikiawan, aktivis gerakan Islam kita di Indonesia sesungguhnya hanya mengenal konsep-konsep yang normatif mengenai masyarakat. Kendatipun konsepsi tetap penting sebagai basis sebuah pergerakan. Kaidah-kaidah atau ajaran-ajaran kesatuan normatif seperti umat, jama'ah, dan sebagainya lebih mewarnai sistem pengetahuan mereka.


     



    Mereka tidak pernah mengetahui kenyataan-kenyataan empiris mengenai
    adanya stratifikasi, diferensiasi, maupun polarisasi sosial yang
    terjadi di dalam masyarkat. Lebih parahnya lagi, realitas masyarkat
    dianggap sebagai given, sebagai sunnatullah. Bagaimana bisa kemiskinan
    struktural, ketidakadilan struktural, penindasan struktural dianggap
    sebagai sesuatu yang turun dari langit, sebagai taqdir yang tidak bisa
    dibantah atau dirombak lagi.






    Kalau memang benar agama seperti itu, maka benar
    kata Marx "agama adalah candu" buat masyarkatnya, agama hanya sebagai
    legitimasi kekuasaan dan kedudukan elit untuk memeras kaum papa, para
    buruh, petani, para TKI, atau para pemulung sampah di sudut-sudut kota,
    atau jangan-jangan para sarjana pengangguran yang punya cita-cita besar
    bagi sebuah perubahan.



     



    Di dalam kesadaran teologis
    semacam ini, mereka lalu kehilangan orientasi objektif untuk menerapkan
    strategi gerakan religio-sosialnya. Oleh karena itu, mereka misalnya
    akan kebingungannya untuk melakukan pemihakan ketika dalam kenyataan
    empiris tertentu terjadi polarisasi yang tajam antara kelompok sosial
    yang satu dengan kelompok sosial yang lain.



     



    Dalam masyarakat kolonial, ketika terjadi polarisasi antara kelas
    penjajah dengan kelas terjajah, mereka memang mudah melakukan pemihakan
    karena dapat mengidentifikasi kaum penjajah sebagai kaum kafir. Tentu
    ini adalah identifikasi yang normatif. Tetapi yang menjadi persoalaan
    kini adalah siapakah kaum kafir di zaman konglomerat ini? Siapakah
    kafir di era korupsi yang merambat bagai jamur dimusim hujan? Siapa
    pula yang dianggap kafir ketika tanah-tanah rakyat digusur dengan tanpa
    tendeng aling-aling? Siapa pula kafir itu ketika kini
    korporasi-korporasi transnasional yang menghisap darah rakyat lebih
    dimenangkan ketimbang penjual kaki lima yang berjuang menyambung nasib
    mereka di pinggir-pinggir jalan? Siapa yang disebut kafir ketika
    kebijakan tidak memihak pada kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat?
    Siapakah yang harus dibela ketika ketidakadilan struktural tampak
    begitu nyata?



     



    Benar bahwa bagi umat Islam yang memegangi al-Qur'an, meyakini bahwa di
    dalamnya terdapat gagasan yang otentik bahwa mereka harus membela kaum
    yang lemah dan kelas yang tertindas, tetapi ini tentu harus
    didefinisikan secara sosial, politik dan ekonomi, bahkan juga kultural.
    Namun, karena para ulama kita, para aktivis sosial kita yang cenderung
    kurang memahami realitas sosial, maka mereka secara empiris belum
    tuntas mendefinisikan siapa yang lemah dan siapa yang tertindas. Mereka
    misalnya belum pernah menganggap buruh-buruh industri yang muncul
    secara begitu massif akhir-akhir ini sebagai golongan yang harus
    dibela.



     



    Mereka juga sering juga tidak pernah melihat proses-proses penindasan
    yang bersifat struktural terhadap para petani di pedesaan. padahal
    fenomena-fenomena seperti itu jelas akan sangat berpengaruh terhadap
    kehidupan sosial, mungkin bahkan akan menjadi faktor yang dapat
    menimbulkan revolusi sosial. Mereka lebih peka terhadap isu-isu yang
    laku di pasar, klaim-klaim kebenaran diusung dalam ajang-ajang
    perdebatan di seminar-seminar dan diskusi-diskusi dengan dalih
    kebebasan. Di sisi yang lain para aktivis gerakan Islam yang menganggap
    paling murni Islamnya mengusung gerakan Islam Syari'at tanpa jelas
    siapa yang mereka bela, klaim Muslim Kaafah dan Kafir menjadi senjata
    ampuh untuk memulai genderang perang bagi kelompok yang tidak sepaham
    dengan golongan mereka.



     



    Apa yang dihasilkan dari ketidakpekaan sosial mereka itu adalah agama
    yang mereka dakwahkan dan khutbahkan lalu cenderung menjadi sesuatu
    yang tidak fungsional. Agama hanya menjadi atribut kesalehan pribadi,
    dan tidak pernah menjadi kekuatan yang dapat memotivasi terjadinya
    perubahan sosial untuk memperbaiki situasi objektif umatnya. Dari sini,
    maka lalu agama menjadi isolasi struktural yang tidak lain nama dan
    bentuk lain dari sekularisasi. Ini bukan sesuatu yang hal yang mustahil
    akan menyebakan munculnya sekularisasi subjektif yang menyebabkan agama
    tidak lagi mempunyai kredibilitas untuk terlibat dalam urusan-urusan
    duniawi.



     



    Berangkat dari sini perlu pemikiran bagaimana membuat Islam agar
    fungsional sebagai sebuah gerakan sosial, sekaligus agar kita dapat
    secara efektif membela mereka yang tergusur dari proses struktural
    akibat perubahan sosial dalam kurun akhir di negeri ini. Tentu saja
    upaya-upaya ini bukan sekadar upaya konseptualisasi normatif, tanpa
    perspektif yang empiris terhadap rakyat atau umat, apalagi tanpa
    aksi-aksi praksis yang membumi. Bukankah al-Qur'an diturunkan bukan
    dalam keadaan kehidupan yang kosong, abstrak? Kendatipun al-Qur'an
    mengandung nilai-nilai absolut, tetapi al-Qur'an tidak dapat dilepaskan
    dalam ruang sosial-budaya ketika Nabi Muhammad menerimanya lalu
    menyampaikankan pada kaum Muslim.



     



     




    Agus Iswanto,
    Alumni Buntet Pesantren Cirebon, aktif menulis dan kini tengah menyelesaikan S2 di Yogyakarta.




     




    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Memikirkan Kembali Gerakan Sosial Islam Rating: 5 Reviewed By: Mubarok Hasanuddin
    Scroll to Top