Madrasah Gratis, Mimpi Kali! - Buntet Pesantren Madrasah Gratis, Mimpi Kali! - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Thursday, July 24, 2008

    Madrasah Gratis, Mimpi Kali!


    Madrasah atau sekolah yang berada di dalam naungan Departemen Agama masuk dalam UU Sistem Pendidikan Nastional (Sisdiknas). Di sana  madrasah
    memiliki status yang sama dengan sekolah lainnya. Tapi urusan madrasah bisa gratis seperti sekolah umum, mimpi kali.



    Nada "kesal" itu terungkap dalam sebuah seminar Pendidikan Madrasan dan Tantangan Global seperti ditulis NU online kemarin. “Karena berada dibawah binaan Departemen Agama, banyak bupati dan
    walikota yang menggratiskan sekolah hanya untuk SD-SMA, tetapi tidak
    untuk madrasah,” kata Prof Dr Basuki Wibowo dalam seminar di Jakarta Rabu (23/7).



    Prof. Basuki menyarankan agar fasilitas gratis itu harus diberlakukan kepada madrasah, karena
    sebagian anggota masyarakat lebih memilih menyekolahkan anaknya di
    madrasah. “Sebagai contoh seperti di Banten, sebagian besar penduduknya
    Islam dan pembayar pajaknya juga Islam,” tandasnya.



    Sebagai akibatnya, para orang tua di daerah akhirnya lebih memilih
    menyekolahkan anaknya di sekolah umum dari pada di madrasah. Hal ini
    berkebalikan dengan meningkatnya minat orang tua di kota besar untuk
    mengirimkan anaknya di sekolah Islam yang bermutu yang kini menjadi
    trend dengan peminat yang besar.



    “Madrasah dan sekolah Islam Al Azhar itu sama saja, kurikulum agamanya
    6-8 jam. Yang membedakan adalah kualitas dan fasilitas pendukungnya,”
    ujarnya.



    Ini artinya jika madrasah dikelola dengan baik, maka anggapan bahwa
    lulusan madrasah kurang berkualitas akan hilang dan menarik minat
    masyarakat karena memberikan keunggulan dengan adanya tambahan materi
    agama yang lebih banyak dibanding sekolah umum.

    Ia mengibaratkan pengelolaan madrasah sebagai industri mulia yang
    memberikan nilai tambah dalam aspek sosial dan keagamaan yang tak bisa
    diberikan oleh sekolah umum lainnya.

    “Perlu diatur strategi kompetisinya bagaiamana agar konsumen tertarik
    dengan komitmen penyediaan proses belajar, hardware, software,
    brainware dan fasilitas pendukung lainnya. Kalau tidak, akan bermasalah
    karena sumber belajarnya kurang,” tandasnya.

    Dekan Fakultas Teknik Universitas Jakarta ini berpendapat madrasah
    sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa. Dengan jumlah 38 ribu buah
    dan sekitar 5.5 juta siswa, jika dikelola dengan baik, akan mampu
    meningkatkan sumber daya manusia di Indonesia.

    Beberapa hal yang harus dilakukan untuk mendukung daya saing
    diantaranya adalah antusiasme dalam berkompetisi harus dimunculkan,
    dari murid sampai pengelola, menyusun perencanaan stratregis, menarik
    SDM yang mumpuni agar mau membuat orang pinter tertarik mengajar di
    madrasah, pengelolaan keuangan yang baik dan kepemimpinan.
    (NUol/kurt)



    Madrasah atau sekolah yang berada di dalam naungan
    Departemen Agama masuk dalam UU Sistem Pendidikan Nastional
    (Sisdiknas). Di sana  madrasah
    memiliki status yang sama dengan sekolah lainnya. Tapi urusan madrasah
    bisa gratis seperti sekolah umum, mimpi kali.



    Nada "kesal" itu terungkap dalam sebuah
    seminar Pendidikan Madrasan dan Tantangan Global seperti ditulis NU
    online kemarin. “Karena berada dibawah binaan Departemen Agama, banyak
    bupati dan
    walikota yang menggratiskan sekolah hanya untuk SD-SMA, tetapi tidak
    untuk madrasah,” kata Prof Dr Basuki Wibowo dalam seminar di Jakarta
    Rabu (23/7).



    Prof. Basuki menyarankan agar fasilitas gratis itu harus diberlakukan kepada madrasah, karena
    sebagian anggota masyarakat lebih memilih menyekolahkan anaknya di
    madrasah. “Sebagai contoh seperti di Banten, sebagian besar penduduknya
    Islam dan pembayar pajaknya juga Islam,” tandasnya.



    Sebagai akibatnya, para orang tua di daerah akhirnya lebih memilih
    menyekolahkan anaknya di sekolah umum dari pada di madrasah. Hal ini
    berkebalikan dengan meningkatnya minat orang tua di kota besar untuk
    mengirimkan anaknya di sekolah Islam yang bermutu yang kini menjadi
    trend dengan peminat yang besar.



    “Madrasah dan sekolah Islam Al Azhar itu sama saja, kurikulum agamanya
    6-8 jam. Yang membedakan adalah kualitas dan fasilitas pendukungnya,”
    ujarnya.



    Ini artinya jika madrasah dikelola dengan baik, maka anggapan bahwa
    lulusan madrasah kurang berkualitas akan hilang dan menarik minat
    masyarakat karena memberikan keunggulan dengan adanya tambahan materi
    agama yang lebih banyak dibanding sekolah umum.

    Ia mengibaratkan pengelolaan madrasah sebagai industri mulia yang
    memberikan nilai tambah dalam aspek sosial dan keagamaan yang tak bisa
    diberikan oleh sekolah umum lainnya.

    “Perlu diatur strategi kompetisinya bagaiamana agar konsumen tertarik
    dengan komitmen penyediaan proses belajar, hardware, software,
    brainware dan fasilitas pendukung lainnya. Kalau tidak, akan bermasalah
    karena sumber belajarnya kurang,” tandasnya.

    Dekan Fakultas Teknik Universitas Jakarta ini berpendapat madrasah
    sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa. Dengan jumlah 38 ribu buah
    dan sekitar 5.5 juta siswa, jika dikelola dengan baik, akan mampu
    meningkatkan sumber daya manusia di Indonesia.

    Beberapa hal yang harus dilakukan untuk mendukung daya saing
    diantaranya adalah antusiasme dalam berkompetisi harus dimunculkan,
    dari murid sampai pengelola, menyusun perencanaan stratregis, menarik
    SDM yang mumpuni agar mau membuat orang pinter tertarik mengajar di
    madrasah, pengelolaan keuangan yang baik dan kepemimpinan.
    (NUol/kurt)

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Madrasah Gratis, Mimpi Kali! Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top