Khaerul Anam, Santri Buntet yang Terobsesi pada Einstein - Buntet Pesantren Khaerul Anam, Santri Buntet yang Terobsesi pada Einstein - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Monday, July 14, 2008

    Khaerul Anam, Santri Buntet yang Terobsesi pada Einstein

    anamth.jpgKisah Alumni:
    Meski gak Serius Mondok tapi Jadi PNS Tercepat


    Oleh: Redaksi
    Rasa hormat kepada Orang tua dan tidak berani membantah bisa jadi
    merupakan barokah dalam hidup seseorang nantinya. Setidaknya begitulah
    yang dialami oleh Khaerul Anam, santri yang mengaku tidak serius waktu
    mondok tapi kini sudah menjadi PNS di Departemen Keuangan RI hanya tiga
    tahun setelah lulus Pesantren. 



    "Buntet Pesantren sebenarnya asing bagi saya tapi karena orang tua ngebet (maksa) untuk pergi mondok biar jangan bandel katanya. Maka saya turuti keinginan wong tua saya." Ungkap Anam pada redaksi di tengah kesibukannya sebagai staff  di Kanwil XXIV Ditjen Perbendaharaan Departemen Keuangan Republik Indonesia Palu, Sulawesi Tengah siang ini, Senin, 14 Juli 2008.

    Anam, panggilan akrab Khaerul Anam santri dari Langut, Indramayu ini lulusan tahun 2002 dari Madrasah Aliyah Negeri Buntet Pesantren. Sedangkan tempat ia menempatkan diri, tinggal di asrama Al Muttaba, pimpinan K.H. Cecep Nidzomuddin (Kang Cecep) selama satu tahun dan dilanjutkan di asrama Al Ikhlas, pimpinan Kol. KH. Abdul Aziz Ahyadi (alm) yang kini diteruskan oleh Nyai Nunung Rakhmat dan putra-putrinya selama dua tahun.    

    Sebenarnya, ia punya obsesi pada pelajaran Fisika waktu belajar di MTsNLosarang, Indramayu. Ia bahkan ingin  menjadi Fisikawan sekelas Albert Einstein.  Namun karena wong tua saya "memaksa" jangan macam-macam hidup itu, kata orang tua saya, jadilah orang benar karena wong pinter itu pirang-pirang wong bener arang-arang. "Begitulah nasehat wong tua padaku sampe terngiang-ngiang meskipun saya tetap pengen jadi fisikawan." katanya.

    Bapak Muzayyin adalah orang tua dari Khaerul Anam, beliau pernah mondok di Buntet Pesantren pada masa KH. Mustahdi Abbas. Anggota keluarga Anam merupakan orang-orang terpelajar baik secara agama maupun pendidikan umum. Bahkan saudara-saudaranya banyak yang telah sukses baik yang bergelut di bidang sosial maupun birokrasi.

    Anam sebenarnya merasa kecewa pada orangtuanya yang tidak mengikuti kehendak dan cita-citanya. Tapi saat orang tuanya memaksa mondok itu ia pendam saja dalam hati yang paling dalam. Karena menurutnya, kekecewaan itu jangan sampai orang tuanya mengetahui. Ia sangat hormat sekali pada orang tuanya, dan tidak mau mengecewakan meskipun keinginannya tidak disukai. Rupanya pendidikan keagamaan orang tua pada anak-anaknya itu begitu membekas. Sampai orang tuanya "mewajibkan" anaknya untuk mondok itu seakan menjadi prinsip hidup di keluarganya danb mesti dikuti anak-anaknya, walaupun bertentantgan dengan keinginan sang anak. Kesannya memang memaksa, namun begitulah prinsip dalam keluarga Anam.

    Kekecewaan bertambah lagi saat di Pondok karena hobi kesukaan pada ilmu fisika itu tidak terpenuhi saat belajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN). "Di MAN sendiri laboratorium tidak lengkap, dan jarang praktikum IPA bagaimana saya bisa serius belajar Fisika bahkan ketika saya mau ikutan seleksi  olimpiade Fisika tidak diperkenankan oleh pihak sekolah." kenang santri Dermayu ini.

    Akhirnya, dengan kegundahanya itu, ia pun mengaku tidak serius mengikuti program-program pondok. "Saya memang terkesan paling bandel di asrama, banyak kegiatan asrama tidak serius aku ikuti. Kalaupun saya ikuti, hanya menjalankan rutinitas aja, tanpa mau belajar lebih dalam" Kata PNS departemen keuangan itu.

    Saat lulus tahun 2002, ia mengaku langsung mengikuti tes masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) di Gelora Bung Karno, Senayan –Jakarta. Sebelumnya ia mendaftar terlebih dahulu di Kampus STAN Jurangmangu – Bintaro – Tangerang. Masih pada tahun itu, bersama sekitar empat ribuan peserta lainnya Anam tercatat dalam daftar peserta yang dinyatakan lulus dari sekitar tiga 36 ribuan peserta seluruh Indonesia.

    "Saya sebenarnya tidak tahu mau kemana setelah lulus dari pesantren, namun alhamdulillah, saya mendapat angin segar, karena bimbingan dari Kang Nahdi, putra Kyai Abd. Aziz yang kini sudah menjadi eselon IV di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Departemen Keuangan Jakarta. Saya akhirnya mengikuti saran beliau untuk masuk STAN dan alhamdulillah saya lulus dan kuliah." Kenangnya pada redaksi.

    Hanya satu tahun Anam lakoni manjadi siswa STAN jurusan Anggaran Negara di Semarang dan kemudian diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada tahun 2003 dan diangkat menjadi  pegawai negeri sipil (PNS) di Depkeu pada tahun 2005. "Saya sebenarnya dilarang oleh orang tua untuk masuk jurusan pajak dan Bea Cukai, gak tahu kenapa dilarang," katanya.

    Dengan umur 21 tahun menjadi PNS di Depkeu, ia tergolong santri yang sangat muda memasuki jenjang karir sebagai praktisi keuangan. Dalam tugasnya itu, ia sangat menikmati pekerjaannya dan menurutnya hidup itu merupakan sebuah perjalanan yang sudah digariskan oleh Allah swt. Kita hanya menjalani proses takdir itu. Namun demikain akunya, "ikhtiar dan usaha merupakan kewajiban kita sebagai manusia." Kata Anam yang baru melangsungkan pernikahan beberapa bulan yang lalu.

    Anam bukanlah santri Indramayu yang tergolong baru, ada ribuan bahkan mungkin ratusan ribu santri yang datang dari Indramayu mondok di perbagai pelosok pesantren. Di antara mereka ada yang menghabiskan pendidikannya di Buntet. Langut sendiri sudah dikenal Buntet karena santri-santri yang dulu mondok di sini sangat banyak. Bahkan Anam memiliki saudara yang menikah dengan putra Kyai di Buntet Pesantren.

    Bahkan beberapa saudaranya juga mondok di sini seperti Ust. Drs. Jawahir, guru MTs Podok Pinang Jakarta. “Kang Jawahir dan Kang Ikhlas juga alumni Buntet yang dua-duanya guru bahasa Arab. Kang Jawahir di MTs N Pondok Pinang, Jakarta, dan Kang Ikhlas menjadi PNS di diknas Tangerang. Mereka  adalah sepupu saya.”

    Buntet Menurutnya
    Meskipun Anam mengaku tidak terpenuhi keinginan untuk  belajar fisika di Buntet, namun ia sangat bersyukur karena saat mondok di Buntet itu, ia mengaku memiliki kyai yang baik hati KH. Abdul Aziz Ahyadi. Beliau bukan saja kyai tetapi sekaligus wakil orang tua yang sangat ngemong pada santri-santrinya. Banyak kesan yang ia dapatkan dari kyai berpangkat Kolonel ini.  Salah satunya meski ia bandel tapi rasanya Anam tetap menjadi bagian keluarga di asramanya pak kyai ini.

    Kyai Abdul Aziz Ahyadi (alm) dulunya seorang pejabat di Angkatan Darat Bandung khusus pembinaan mental spiritual dan sekaligus psikolognya tentara. Kyai yang memiliki putra seorang dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesi bernama Kang Syafiq ini, kemudian pernah berjasa dalam mewujudkan sebuah Akademi Perawat kebanggan di Buntet Pesantren (Akper Buntet Pesantren). Setelah itu, Pak Kyai Aziz mendirikan asrama Al Ikhlas dan SMP Al Ikhlas hingga saat ini. Selain itu Kyai Aziz  memiliki pendekatan personal yang cukup baik dengan santri-santrinya. Bahkan ilmu psikologi yang beliau kuasai, telah ditulis secara lengkap dalam buku "Kesadaran Beragama." Buku ini beredar luas di kalangan mahasiswa dan pemerhati masalah psiko-religius.

    Dalam pengakuan Khaerul Anam, ia pernah dididik oleh Kyai Abdul Aziz ini dan beliau sangat open mengemong santri-santrinya. Karenanya meskipun ia merasa bandel saat di pondok, namun merasa enjoy saja dan tidak ada rasa terpaksa dalam mengikuti pelajaran keagamaan di asrama.

    Bagi Anam, katanya Buntet sekarang berbeda dengan saat 2002 lalu. Misalnya, sekarang ini ada ditemui santri putri berpakaian ketat ala sinetron. Padahal ia mengaku dulu jarang sekali menemui, kecuali kalau pergi ke kota Cirebon. "Apakah ini dampak globalisasi kali yah," tukasnya.

    Dalam masalah pendidikan Anam merasa masih kurang sekali bahkan ia mengaku tidak banyak kenal dengan kyai-kyai di Buntet Pesantren. "Saya sih cuma kenal bae karo beberapa kyai, tapi jarang ngobrol." Aku Anam saat di tanya apakah kenal dengan Kyai Ali Maufur, tetangga asrama Al Ikhlas.

    Menurut Anam padahal bila pendidikan keagamaan dibebaskan untuk mencari ilmu pada kyai siapa saja, mungkin santri-santri buntet seperti saya bisa kenal dengan banyak kyai. Menurutnya kenapa para santri hanya mengenal pengasuh asaramanya saja, ia punya alasan, "sebenere sih wong nggoleti ilmu iku kudu kenal gurue, terusan santri kudu kenal kyaine, tapi ning Buntet iku rada angel yen dudu kyai tempat asramane." ungkapnya.

    Bagi anam ia merasa kurang sreg dengan sistem pengkotakan per asrama itu. Mekipun tidak dilarang ikut pengajian di tempat kyai sejene, bagi Anam tetap merasa susah karena peraturan pondok yang bersangkutan kadang harus diikuti dan ini kadang bentrok dengan kegiatan di tempat sejene. "Susah ikut pengajin d tempat lain (walaupun itu diperbolehkan)." Pungkasnya.

    Pria Sejati
    Tapi pria yang masih belia ini kini merasa bahagia, karena ia telah membuktikan kedigjayaan seorang pria sejati. Karena Anam kini telah memiliki bakal mongmongan yang sudah berusia 2 bulan dalam kandungan. Sewaktu menikah, redaksi sempat menghadiri perkawiannya yang cukup shaydu. Kini suami dari isteri seorang pegawai Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Serpong itu,  merasa bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepadanya, dan kepada keluarganya. Ia juga merasa berterima kasih kepada kyai pembimbing di asrama Al Ikhlas pada khususnya dan komunitas keluarga Kyai di Buntet Pesantren pada umumnya.

    Kumandang Asar mengakhiri komunikasi antara redaksi dengan Khaerul Anam dari kantornya di Palu. Koneksi internet kami  terputus tiba-tiba karena jaringan internet yang dimilikinya sering byar pet persis seperti listrik yang kini mendapat giliran antara hidup dan mati.

    Namun meski terputus koneksi, ide dan semangat hidupnya telah terekam di sini. Semoga Anam makin bahagia mengarungi kehidupan rumah tangga barunnya, dan semoga sukses menjalani kehidupan karyanya di republik ini.

    Tentunya, meski cita-cita menjadi ahli fisika seperti Einstein tidak terlaksana, tapi setidaknya Anam telah memberikan kebahagiaan bagi wong tuanya, yang memegang prinsip "wong pinter pirang-pirang wong bener arang-arang." Ini berarti seolah-olah kebenaran dan kepintaran sejatinya harus berimbang bagi pegawai keuangan seperti Anam anak kesayangannya.  Begitu kira-kira pesan orang tuanya. Semoga (Kurt)


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Khaerul Anam, Santri Buntet yang Terobsesi pada Einstein Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top