Kebudayaan Berbasis Selebriti - Buntet Pesantren Kebudayaan Berbasis Selebriti - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Tuesday, July 1, 2008

    Kebudayaan Berbasis Selebriti

    selebritiOleh: Agus Iswanto



    21st century society is all about celebrity

    (Thomas C.O Guinn)





     



    Di Indonesia, belakangan fenomena jurnalisme selebritis benar-benar sedang mengalami kebangkitan dengan tumbuhnya industri televisi swasta yang semakin memperpanjang jam tayangnya. Karenanya ada semacam keranjingan untuk memberitakan apa pun hal yang dilakukan oleh sosok yang dinamakan selebriti ini, meski, sayangnya, persaingan "industri selebritis" ini tidak disertai kreatifitas insan pertelevisiannya, karena terkesan hanya mengulang-ulang saja dengan isi yang sama. Bahkan ada kecendrungan untuk menayangkan atau membesar-besarkan hal yang remeh-temeh pola para selebriti ini. Siapakah "selebriti" itu?



     









    Selebriti adalah suatu kategori sosiologis yang bisa dikatakan unik,
    mengapa? Karena mereka dapat menjadi ekspresi diri yang pada saat yang
    sama pula mampu menjadi pembangkit aspirasi bagi para konsumen,
    sehingga bisa dikatakan sebagai "heroic image"sebagaimana kata Daniel
    Boorstin.





     



    Para selebriti bisa membantu dalam pembentukan identitas dari para
    konsumen. Sedangkan dalam sebuah budaya konsumen, identitas menjadi
    landasan sebuah aksesori. Sehingga kita dapat dengan mudah menyaksikan
    para anak muda dengan gaya yang diimajinasi para selebritis itu.





     



    Maka, tak heran, orang menjadi keranjingan untuk selalu gonta-ganti
    mode, dari masalah pakaian hingga model handphone, bahkan budaya
    hangout atau budaya "mengisi waktu luang" menjadi sangat booming di
    kalangan anak-anak muda, malah bukan hanya anak muda. Inilah yang
    kemudian melahirkan generasi yang diilhami oleh selebriti
    (celebrity-inspired identity), sehingga memunculkan apa yang disebut
    dengan budaya berbasiskan selebriti (celebrity-based culture).





     



    Selebriti dalam budaya konsumen adalah sebagai agen public
    relations, yang sengaja diciptakan oleh media populer, utamanya
    televisi. Sehingga selebriti adalah juga sebuah pencitraan produk atau
    sebuah image yang diciptakan. Media sekarang lebih senang untuk
    menciptakan tokoh-tokoh, bintang-bintang, atau para selebritis
    tersebut, yang kemudian lalu dapat sewaktu-waktu bisa dihempaskan
    begitu saja seiring pergantian gaya atau mode yang baru. Implikasinya
    apa? Jarang sekali perhatian diberikan kepada para ilmuan, sastrawan,
    atau seorang pendidik, karena profesi-profesi ini tidak menghasilkan
    keuntungan bagi media yang menciptakan.





     




    Pembebasan Gaya Hidup



    Apa yang saya uraiakan di atas sekadar memberikan sebuah fenomena
    yang sedang terjadi. Yakni sebuah fenomena dari akibat lain mata rantai
    masa yang dinamakan dengan era posmodern, yang ditandai salah satunya
    dengan ciri subjektifitas individu.





     



    Subjektifitas inilah yang kemudian menyemaikan gaya hidup seseorang.
    Tak lebih dari itu, masalahnya kemudian adalah jika subjektifitas itu
    lalu ditentukan oleh hegemoni kapitalis media demi meraup keuntungan.
    Citra diri sengaja diciptakan untuk menyetir gaya hidup, sehingga gaya
    hidup menjadi ladang eksploitasi ranah sifat-sifat kemanusiaan itu
    sendiri. Pada titik ini, maka bagi sebagian orang lalu berseru untuk
    menolak posmodern yang memang sengaja diciptakan dan didengungkan oleh
    hegemoni kapitalisme.





     



    Apa yang mungkin dilakukan untuk mengembalikan nilai-nilai
    kemanusiaan dalam konteks persemaian gaya hidup itu? Yakni
    mengembalikan gaya hidup sebagai sebuah upaya eksistensial ketimbang
    sebagai alat pemenuhan pasar. Pengembalian gaya hidup sebagai upaya
    eksistensial, berarti juga mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan
    kembali. Dan itu pula sebagai upaya pembebasan gaya hidup.






     



    A gus Iswanto, alumni Buntet Pesantren Cirebon, tinggal dan belajar di Yogyakarta


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kebudayaan Berbasis Selebriti Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top