Buntet tidak Ikut-ikutan - Buntet Pesantren Buntet tidak Ikut-ikutan - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Sunday, July 6, 2008

    Buntet tidak Ikut-ikutan


    Demo yang terjadi pada hari Kamis (3/7) di depan Walikota Cirebon yang mentasnamakan ribuan santri yang datang dari wilayah Cirebon terkait dengan penolakan TV Lokal Cirebon tidak melibatkan komunitas pesantren Buntet.





    "Secara lembaga tidak, sebab tidak ada yang
    mengajak atau meminta untuk ikut serta menolak atau berdemo. Bahkan
    memberi tahu masalahnya saja tidak juga." Ungkap KH. Aris Ni'matullah
    pada redaksi.

     Tidak heran para kyai di Buntet Pesantren sendiri tidak tahu-menahu
    adanya demo itu sendiri. Jangankan ikutan tahu masalahnya saja tidak
    mengerti. Paling-paling beberapa kyai melihat tayangan di TV atau
    membaca koran masalah demo tersebut, namun tidak merasa ikut serta.

    Dengan demikian komunitas belum bisa dikatakan menerima atau menlak
    keberadaan TV tersebut karena masalahnya tidak jelas. "ya tidak bisa
    dibilang setuju atau menolak keberadaan TV tersebut wong tidak tahu
    masalahnya  jeh." komentarnya.

    Namun bagi kyai muda yang akrab membina anak-anak muda Buntet dalam
    berolah raga itu, menuturkan bahwa apa yang dilakukan oleh warga santri
    kota dan kyainya itu merupakan aspirasi dari masyarakat. "Tentunya
    aspirasi itu boleh-boleh saja dan harus didengar oleh Walikota Cirebon
    selama tidak anarkis," pungkasnya.

    Anti Perubahan
    Seperti berita yang dilansir oleh berbagai media, banyak mengundang
    komentar negatif seperti di detik.com bahkan terkesan ada anggapan
    bahwa santri Cirebon itu terkesan anti perubahan bahkan dianggap santri
    di Cirebon itu bodoh.

    "Gimana santri-santrinya mau pinter kalo pembangunan TV lokal aja
    diprotes, sholeh itu bukan membatasi ilmu pengetahuan tapi bisa
    membatasi diri mana yg boleh diambil mana yg dibuang. Orang punya
    inovasi dengan membuka lapangan kerja melalui pembukaan stasiun TV
    Lokal ... Diminta tutup oleh masyarakat setempat. Bagaimana logikanya
    orang-orang ini yach?"

    Namun ketua Ansor Cirebon membantah bahwa tidak benar kalau santri
    Cirebon itu anti perubahan. "Kita kan punya sebuah prinsip meskipun
    secara praxis belum terlaksana sepenuhnya, yaitu Al Muhafadzotu Min
    Qodimi as Sholih wal Akhdu bil Jadidi al Aslah, artinya menjaga tradisi
    lama yang masih baik dan menerima/mengambil tradisi baru yang lebih
    baik." ungkap lulusan S2 Antropologi Budaya UI berkomentar.

    Karenanya, menurut Nuruzzman, alumni Buntet ini berpendapat bahwa jika
    televisi itu membawa perubahan yang baik tentu kita terima namun bila
    ternyata malah merusak ya tentu wajar kalau warga Cirebon dan
    sekitarnya itu menolak. "Jadi jika santri Cirebon itu menolak perubahan
    itu tidak benar," pungkasnya.

    Isu Kristenisasi
    Namun apa yang didemo oleh para santri dari kota Cirebon itu terkait
    dengan ajaran kristenisasi yang menggunakan televisi sebagai medianya.
    Karena mereka kemudian menolak pembangunan TV tersebut.

    Dalam demo yang digelar pada bulan April lalu, Cahaya TV disegel karena
    belum mengantongi izin pendirian. Koordinator lapangan, Alan Endy
    Pasha, menjelaskan penyegelan itu dilakukan karena studio TV tersebut
    dinilai akan menyiarkan program acara yang mengandung unsur pemurtadan.
    Hal itu, dinilainya, akan dapat menimbulkan keresahan umat beragama.
    ''Cirebon adalah kota wali yang menjadi pusat penyebaran agama Islam di
    tanah Jawa. Kami tidak rela jika Cirebon dijadikan tempat pemurtadan
    dan kristenisasi,'' ujar Alan menegaskan.

    Terkait kepemilikan Cahaya TV itu sendiri terungkap dalam koran
    Republika, tanggal 15 April 2008 PT CT I (Cahaya TV/CTV) merupakan
    stasiun TV milik Nikodemus Sudirgo, putra dari Gideon Sudirgo. Selama
    ini, Gideon Sudirgo dikenal sebagai pimpinan jemaat Gratia. Atas
    desakan umat Islam, aktivitas peribadatan di gedung pertemuan Gratia
    juga dihentikan aparat Pemkot Cirebon pada akhir 2007-an."

    Dulu TV ini juga didemo oleh massa yang tergabung dalam Gerakan Anti
    Pemurtadan dan Aliran Sesat (Gapas) dan  Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI)
    se-wilayah III Cirebon.   'TV Misionaris Ini Disegel Oleh Umat Islam
    Wilayah III Cirebon Karena Berpotensi Menjadi Media Pemurtadan dan
    Kristenisasi'.

    Terkait dengan kepemilikan oleh orang Kristen Gratia itu menurut KH.
    Abbas Billy Yachsy berpendapat berbeda. "Kalau memang TV itu benar
    milik penganut Kristen Gratia adanya aksi demo itu sangat wajar, karena
    memang TV milik warga Muslim sendiri belum punya." ungkapnya.

    Namun demikian sebuah media televisi jika dikuasai oleh kalangan agama
    tertentu bukan televisi secara umum, maka itu bisa menjadi preseden
    yang tidak baik bagi komunitas agama lain. Apalagi seandainya pemiliki
    TV itu terkesan fanatik,  konservatif atau bahkan radikal.

    Sama saja jika TV itu juga dikuasai oleh umat Islam yang radikal, maka
    negara pun akan hancur. Sebab "radikal vs radikal, fanatif dan
    konservatif vs fanatif dan konservatif. Jika itu terus berlanjut, maka
    sentimen, pertentangan antar agama akan memicu persoalan lokal bangsa
    yang lebih luas.

    Karenanya menurut lulusan S3 UIN ini berpendapat dalam masalah urusan
    publik yang terkait dengan keagamaan, beliau berpendapat "kita
    membutuhkan pemimpin yang jangan hanya menjadi pemimpin agama saja
    tetapi yang bagus adalah selain menjadi pemimpin agama juga memiliki
    kemampuan sebagai pemimpin bangsa." pungkasnya. (Zal)





    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Buntet tidak Ikut-ikutan Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top