Bersatu Membela yang Benar? - Buntet Pesantren Bersatu Membela yang Benar? - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Tuesday, July 8, 2008

    Bersatu Membela yang Benar?


    perang
    Oleh: Agus Iswanto
    Maaf, bukannya saya ingin mengkampanyekan salah satu motto sebuah
    Parpol berbasis warga Nahdliyyin. Bukan juga mau membela bahwa Gus Dur,
    sebagai sesepuh Parpol itu selalu benar. Namun, saya juga tidak akan
    membela Sang Habib, yang menjadi tidak lagi bisa dikatakan “Habib,”
    karena seharusnya Habib itu orangnya selalu membawakan cinta kasih.

    Ya,
    lihat saja dari namanya, bagaimana mungkin dikatakan "Habib," kalau
    tidak sebagai "seorang pecinta" yang seharusnya penuh kasih sayang dan
    kedamaian. Pun juga saya bukan mau mengatakan bahwa FPI itu benar, atau
    kelompok-kelompok seperti, katakan IPNU, Anshor, Banser atau yang
    lainnya juga benar. Lalu apa?





    Saya
    hanya mau mengatakan bahwa kita, orang-orang Muslim itu sebenarnya
    masih mewarisi tradisi barbar atau orang-orang primitif Arab (Badui),
    yang memang hidup berkelompok dan membela untuk kelompok. Mengapa saya
    katakan begitu? Kita bisa lihat, sampai hari ini, negeri-negeri Arab
    tidak pernah absen dari yang namanya konflik. Konflik akan terus
    terjadi selama mereka masih dalam tataran ideologi massa komunal.
    Bagaimana kita bisa lihat, konflik di Irak, Iran, Mesir, Lebanon, atau
    bahkan Saudi Arabia (yang menjadi hegemoni dinasti Bani Sa’ud).


    Kalau
    jauh-jauh ke Arab, kita bisa ambil contoh bangsa kita sendiri yang
    dekat. Sebelum Indonesia terbentuk, yang kira-kira baru sekitar
    setengah abad lebih, atau boleh dikatakan 100 tahun jika menghitung
    mulainya kesadaran akan nasib ketertindasan yang sama oleh Kolonial.




    Kepulauan Nusantara adalah kepulauan yang dihuni oleh berbeda-beda suku
    bangsa. Dan masing-masing suku itu mempunyai, dalam sejarahnya,
    memunculkan berbagai dinasti atau kerajaan. Di Jawa, mulai dari Mataram
    Kuno, Singasari, Kahuripan, Jenggala, Kediri, Majapahit, Pajajaran,
    Demak, dan Mataram Islam. Di luar Jawa, kita bisa menyebut Sriwijaya di
    Palembang Sumatra, atau Kutai Kartanegara di Kalimantan, Samudra Pasai
    di Aceh, dan masih banyak lagi yang lainnya, terhitung sampai
    kerajaan-kerajaan kecil dimasing-masing wilayah, misalnya Cirebon dan
    Banten.


    Kita bisa lihat, mulai dari Majapahit, mereka mengklaim
    mempersatukan Nusantara dengan cara memerangi wilayah-wilayah kekuasaan
    yang lain. Padahal misi utamanya adalah ya untuk menaklukan kekuasaan,
    sehingga kerajaan Majapahit, yang membawahi rakyat Jawa atau suku
    bangsa Jawa menjadi lebih berkuasa. Kalau sudah berkuasa, maka akan
    tambah upeti atau kekayaan negaranya.




    Misalnya lagi, kerajaan Mataram
    Islam menaklukan kerajaan-kerajaan Islam di wilayah pesisir utara pulau
    Jawa, mulai dari Surabaya hingga Batavia dan Banten, padahal yang
    ditaklukan sama-sama kerajaan Islam. Mengapa sama-sama Islamnya mau
    saling perang? Tafsir saya, jawaban orang Mataraman biasanya,
    orang-orang Islam pesisir itu sesungguhnya bukan orang Jawa sebenarnya,
    jadi tidak bisa berupaya menjaga tradisi leluhur orang-orang Jawa,
    sehingga nantinya kalau orang Jawa menjadi “sangat Islam,” maka tradisi
    leluhur Jawa akan ditinggalkan.




    Sebaliknya, orang-orang Islam-Jawa
    pesisir menganggap orang-orang Islam-Jawa Mataraman tidak “pati Islam”
    (tidak Islam betulan). Itu tafsir permukaan saja, tafsir dibalik
    permukaan itu sebetulnya sederhana saja, tapi sesungguhnya naif, yakni
    demi kekuasaan dan kedudukan serta kekayaan. Mengenai hal ini, bisa
    ditabayun dalam buku-buku sejarah.


    Tapi sebetulnya, saya juga
    lebih setuju dengan alasan yang kedua. Dulu zaman Nabi, memang betulan
    ada perang demi dakwah Islam, tapi itukan juga terpaksa. Asumsi saya
    itu dilakukan karena semangat untuk menghancurkan kebejatan moral
    (dalam arti kemanusiaan universal), bukan pertama-pertama atas nama
    agama Islam. Buktinya, Nabi Muhammad masih membiarkan raja Habsyi untuk
    tetap Kristen, tanpa memaksa ia untuk masuk Islam. Bahwa kemudian masuk
    Islam, itu karena kesadaran dirinya akibat dialog-dialog yang damai dan
    santun.



    Dengan begitu, saya sesungguhnya tidak heran dengan
    kekerasan- kekerasan orang-orang Muslim, baik itu oleh FPI atau
    kelompok-kelompok Islam yang lain, selagi mereka masih mewarisi tradisi
    barbar, baik yang dibawa oleh orang-orang Arab, atau orang asli
    Nusantara sendiri.


    Yang saya heran, kita, dan para pemimpin
    Islam di negeri ini masih terkadang ikut-ikutan tradisi barbar itu.
    Ketika sekelompok melakukan kekerasan, maka dia sebagai pemimpin
    kelompok itu membelanya, dan sebaliknya, jika sekelompok Islam yang
    lainnya juga menyerang balik, malah memilih diam seakan sepakat dengan
    aksi balasan kekerasan itu. Ini mirip dengan film silat yang bercerita
    pertarungan dua kelompok perguruan silat. Seru bukan? Itu kalau dalam
    film, namun, kalau sungguhan, apa kata dunia?

    Agus Iswanto, Alumni Buntet Pesantren, tengah menyelesaikan pendidikan S2 di Yogyakarta.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Bersatu Membela yang Benar? Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top