• Latest News

    Wednesday, July 16, 2008

    Berakhir Pekan dengan Memadamkan Api di Gunung Ciremai


    GUNUNG CIREMAIOleh: Komunitas Banyu Bening

    SEPERTI tidak ada masalah di Cirebon itu, masyarakat adem ayem saja. Karena pada minggu kemarin itu tiada ada apa-apa. Bahkan para pengunjung obyek wisata di Linggarjatipun tetap ramai dan warga sekitar Gunung Ciremai juga tidak ambil pusing.




    Padahal apa yang terjadi, Hutan lindung di Gunung Ciremai, sebagai
    gunung terbesar yang ada di pulau Jawa dan penjangga pulau ini dilanda
    kebakaran hebat. Sekitar 20 hektar ludes terbakar. Namun keadaan itu
    bisa meluas hingga ke pemukiman warga di bawah Gunung jika saja tidak
    ada orang yang mati-matian bergumul bersama panasnya api di atas bukit
    gunung yang daya kemiringanya 30 derajat.

    Bersama peralatan seadanya dan anggota dari dinas perkebunan dan
    Perhutanan yang dikomandoi oleh Asep Zulkarnaen, Gunung Ciremai itu
    mulutnya tetap tersenyum karena rambut yang tumbuh di kepala gunung itu
    masih banyak yang tumbuh subur dan  tidak semuanya terbakar.

    Karenanya, kami dari Komunitas Banyu Bening merasa bangga sekali dengan
    pengorbanan Pak Asep atas kegigihannya untuk memadamkan api di sana.
    Bayangkan jika tidak dipdamkan, maka kebakaran itu meluas dan gunung
    sebagai konservasi lahan hijau yang menyangga sumber air bersih jika
    terbakar, akan gundul dan tidak bisa dibayangkan bencana selanjutnya.

    Jika orang Amerika bangga dengan satuan fire guard-nya,
    maka kami bangga dengan Pak Asep Zulkarnaen dkk. semoga Allah
    memberikan kekuatan pada kita untuk terus melestarikan dan menjaga
    stabilitas alam sekitar kita. Amin

    Di bawah ini adalah cerita Pak Asep Zulkarnaen bagaimana liku-liku
    perjalanan gunung itu bisa terbakar. Tulisan ini diambil dari situs
    beritacirebon.com.



    -----------------------------------------
     

    Berakhir Pekan dengan Memadamkan Api di Gunung Ciremai
    Oleh: Asep Zulkarnaen

    ciremai.jpgJULI
    2008,  kaki Gunung Ciremai yang sejak tahun 2004 menjadi kawasan
    konservasi  bernama Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terbakar lagi.
    Kebakaran hutan di kawasan Gunung Ciremai sudah menjadi langganan dan
    tradisi yang setiap tahun biasa terulang. Akan sangat bergembira
    apabila Gunung Ciremai tidak tersentuh kebakaran.

    Akibat
    kebakaran hutan bukan hanya berdampak terhadap kelestarian hutan itu
    sendiri, namun secara tidak langsung berdampak pula terhadap fungsi
    hutan sebagai penyedia air.

    Bagi orang yang terlibat dalam
    pemadaman api pada kebakaran Gunung Ciremai mungkin terasa capai,
    jengkel dan berbagai perasaan lain yang paling sakit di dalam hati.
    Sepertinya akan berbeda dengan perasaan mereka yang hanya sadar untuk
    menikmati keindahan, menikmati keuntungan, menikmati segarnya air dan
    menikmati menggunakan air untuk berbagai keperluan.

    Banyak
    contoh yang dapat diperlihatkan betapa kurang sadarnnya mereka dan masa
    bodoh mereka. Melihat Gunung Ciremai kebakaran hanya mencibir dan
    menuding orang lain atau pihak terkait saja yang harus
    bertanggungjawab. Timbul banyak pertanyaan dari beberapa orang: kenapa?


    Saya hanya bisa menjawab, mungkin mereka belum pernah mengalami
    akibat dari hancurnya Gunung Ciremai. Dan mereka kurang peduli karena
    memang mereka tidak peduli apa yang mereka banggakan.

    Sabtu, 12
    Juli 2008, sore sekitar pukul 17.15 WIB, kaki Gunung Ciremai blok
    Lambusir (petak 18) terbakar, atau mungkin pula dibakar atau mungkin
    juga terbakar oleh alam. Itulah masalah setiap kejadian kebakaran hutan
    di Gunung Ciremai, tak bisa memastikan sebab musababnya.

    Tetapi
    yang paling penting saya lakukan adalah ikut serta dan melekat dalam
    jiwa sebagai rimbawan bahwa itulah salah satu bentuk kewajiban, baik
    moral maupun tugas yang diemban.

    Saya berangkat seperti biasa
    ketika terjadi kebakaran tahun-tahun sebelumnya. Berangkat dengan
    logistik seperlunya, senter, golok, perbekalan makanan serta keperluan
    lainnya. Tak banyak yang dipikirkan setelah dihubungi teman
    seperjuangan di TNGC, saya pun berangkat.

    Dengan kondisi jalan
    yang terjal dan berbatu saya langsung menuju lokasi kebakaran. Api
    melahap Gunung Ciremai sepertinya perkara mudah. Bagaimana tidak, yang
    dilahap adalah lokasi yang penuh dengan semak, alang-alang dan tanaman
    kaso. Pantaslah api cepat menyebar karena yang dilahap ygampang
    terbakar. Lokasi terjadinya kebakaran semuanya didonimasi dengan semak
    dan alang-alang.

    Susahnya mematikan api karena alat penunjang
    pemadaman seadanya. Untungnya mobil Galaag Agni, menyemburkan air dari
    perutnya, sehingga dapat membantu memadamkan api dengan cepatr. Namun
    itu pun terbatas jangkauannya, karena selang penyemprot apinya terbatas
    pula.

    Pegawai TNGC dari mulai Kabag TU, Kepala Seksi, Polilis
    Hutan serta pegawai TNGC lainnya bahu-membahu tanpa kenal lelah guna
    memadamkan api. Perih di tangan dan muka yang terasa akibat gesekan
    dengan rumput berduri dan daun ilalang tak kami rasakan. Sandungan
    ujung sepatu pada batu-batu yang bertancap di tanah tidak saya dan
    teman-teman hiraukan. Yang penting api yang sedang bergejolak dapat
    segera dipadamkan.

    Lapar dan haus memanggil dan kami semua
    berbagi apa yang kami bawa. Kami makan dan minum bersama itulah
    keindahan yang didapat selagi capai dan perasaan takut api melahap
    lebih luas. Dengan kondisi wajah penuh debu, mata perih kena asap, debu
    serta datangnya serak kerongkongan karena banyak menghirup asap kami
    semua tetap bangga. Bahwa apa yang kami perbuat bukan hanya sebagai
    tanggungjawab terhadap lembaga, namun itulah panggilan jiwa rimbawan
    sejati.

    Pukul 22.00 WIB api dapat dipadamkan, walaupun belum
    sepenuhnya secara total api padam. Pasalnya masih banyak yang menyala
    di bekas tonggak-tonggak pohon pinus bekas tebangan dahulu. Luas yang
    terbakar belum dapat diprediksi dengan jelas, namun pada saat itu
    diperkirakan lebih dari 20 ha.

    Dinginnya suhu dan hembusan angin
    kencang menerpa, membuat fisik kami lelah. Kami semua istirahat sambil
    waspada, barangkali terjadi kebakaran lanjutan. Sampai pukul 00.30 WIB,
    Minggu dinihari, api dipastikan padam. Kami semua turun ke Kantor Balai
    TNGC untuk istirahat.

    Sepanjang jalan menuju rumah, saya hanya
    berpikir kenapa tak ada masyarakat sekitar yang membantu ikut
    berpartisipasi. Malah ada dua orang mahasiswa dari Kota Kuningan yang
    ikut berpartisipasi. Alangkah indahnya pada saat itu apabila
    kebersamaan dalam pahit dilalui bersama. Akhirnya, Minggu dinihari,
    sekiltar pukul 02.00 WIB saya tiba di rumah untuk beristirahat.

    Minggu,
    13 Juli 2008, masa istirahat libur hari Minggu tidak banyak
    dimanfaatkan guna kepentingan keluarga. Siang hari, sekitar pukul 11.00
    WIB saya dikontak lagi. Kebakaran di Blok lambusir terjadi lagi.

    Saya
    pun berangkat dan memang pada saat itu diperlukan banyak orang yang
    harus terlibat, karena api begitu besar dan begitu luas sasaran
    pemadaman. Saya coba kontak teman-teman penyuluh lain guna membantu,
    walaupun dengan pulsa seadanya karena begitulah kondisi swadaya.
    Alhamdulillah, teman-teman datang walaupun pada saat itu api dapat kami
    kendalikan dengan personil lebih dari 25 orang tanpa seorangpun
    masyarakat yang terlibat. Sekitar pukul 14.00 WIB api dapat
    dikendalikan.

    Untuk memastikan kondisi selanjutnya, seperti
    biasa kami semua berjaga dan siaga. Barangkali api merambat lagi dan
    membakar lokasi yang lain.

    Untuk memastikan api padam kami
    berbagi tugas. Personil dibagi dua, sebagian menunggu di atas sebagian
    lagi istirahat di Kantor BTNGC. Sampai pukul 21.00 WIB, api tidak
    berkembang lagi. Kami pun turun untuk sementara guna keperluan makan.

    Pukul
    23.00 WIB, bersama tim dari Polhut yang dipimpin oleh kepala resort,
    saya dan rombongan berangkat lagi, guna melihat barangkali masih ada
    titik api. Untuk memastikan dengan kondisi hutan yang curam dengan
    kemiringan lebih dari 30% kami pun menyusuri sisa-sisa lokasi
    kebakaran. Kami pastikan tonggak-tonggak pohon pinus telah luput dari
    api.  Karena memang sukar sekali untuk cepat padam jika pinus terbakar.
    Pasalnya pohon pinus banyak mengandung getah yang mudah terbakar.

    Senin
    dinihari, pukul 00.30 WIB saya bersama Tim dari TNGC dengan mobil
    patroli meluncur ke kantor guna istirahat. Beruntung dengan kendaraan
    double gardan, kondisi jalan apapun dapat dengan sigap dan cepat kami
    lalui.

    Kebakaran selalu terjadi tanpa diketahui penyebabnya.
    Saya berharap apabila dilakukan oleh manusia dengan sengaja atau tidak
    sengaja semoga Tuhan mengampuni dosanya. Karena engkau telah
    menyusahkan orang lain. Dan kami semua sampai ketinggalan untuk
    menunaikan sholat. Semoga Tuhan memafkan kami semua!
    Saya sekali lagi menghimbau bantulah kami. Semua jangan hanya enaknya saja menikmati manfaat dari Gunung Ciremai.***

    Asep Zulkarnen, Penyuluh pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kuningan   E-Mail: <asep_zulkar@yahoo.com>
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Berakhir Pekan dengan Memadamkan Api di Gunung Ciremai Rating: 5 Reviewed By: Mubarok Hasanuddin
    Scroll to Top