Antara Ritual Agama dan Ritus Modern - Buntet Pesantren Antara Ritual Agama dan Ritus Modern - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Saturday, July 12, 2008

    Antara Ritual Agama dan Ritus Modern



    Albert Einstein



    Oleh: Nuning Mumarisa Al Haq




    MENGGAPAI  keseimbangan hidup antara ibadah dan kerja merupakan kemuliaan dalam agama. Namun sebuah cita-cita yang digantungkan setinggi langit sulit tercapai manakala tak memeras keringat. Bahkan tokoh modernis semisal Einstein dan Thomas Alfa Edison pun sampai berkata "Kecerdasan itu hanya 1 persen sementara 99 persen selebihnya adalah kerja keras."







    Pernyataan yang simpel tersebut rupanya dipegang erat oleh Sugandi, seorang sarjana Agama (S.Ag) yang juga santri asal Kuningan. Ia lulusan IAIN Sunan Gunung Jati Cirebon lulus tahun 1997. Ia berhasil merintis usaha home industri (industri rumahan) berupa pabrik pembuatan nata de coco. Minuman segar yang dibuat dari air kelapa.

    Rupanya, anak muda ini pantas disebut  trengginas  karena ia mampu mengkombinasikan antara kerja dan ibadah. Segala macam titel dan pangkat rupanya dianggap hiasan lahir saja sementara kerja keras adalah bagian dari hidup itu sendiri yang harus terus dilakoninya.




    Subardi Contoh-contoh kisah orang sukses banyak sekali yang lahir dari sesuatu yang jalan hidupnya tidak disangka-sangka.

    Subardi misalnya. Ia seorang sajana agama, mestinya ia mengajar dan menjadi PNS namun ia malah rela pulang pergi ke pasar bergaul dengan para ibu-ibu untuk mendapatkan bahan nata de coco. Namun karena tekad dan kerja kerasnya itu ia pun mengabaikan saja cemoohan dari teman-teman dan tetangganya.




    "Saya sering mendapat hinaan, cacian, ejekan, namun semua itu tak saya hiraukan," kata Sugandi, mengenang masa lalu. Ungkapnya seperti dikutip koran Cirebon.




    Saat orang tuanya menyesalkan pekerjaan anaknya itu  Subandi tenyata punya prinsip kuat. "Saat itu saya jelaskan kepada kedua orang tua, Sesungguhnya mencari ilmu itu adalah kewajiban untuk bekal hidup. Sementara, lapangan pekerjaan bisa diciptakan sendiri asal kita punya kemauan untuk melakukannya,"  kata Gandi.




    Cerita Man Jaen

    Kalau Subardi, sarjana agama yang mau bekerja di pasar,  lain lagi bagi Man Jaen di Buntet Pesantren. Seorang anak muda hanya keluaran Sekolah Dasar justru mampu menjadi pekerja keras dan sukses.




    Man Jaen, panggilan akrab pemuda yang tetanggan dengan KH. Nasiruddin Zaid (alm) itu konon menurut ceritanya, ia sangat miskin. Untuk bisa bertahan hidup di tengah situasi yang kurang beruntung saat itu, ia kemudian memutar otak. Namun apa yang didapat, otak jebolan anak SD itu bukan teori yang keluar tetapi kreativitas yang didpatkan.




    Mula-mula Man Jaen menjadi kuli angkut barang bekas bangunan rumah kyai yang dibongkar. Kemudian ia berinikan diri menawarkan kepada para pemilik rumah itu untuk menjualkan genteng-genteng bekas rumah yang dibongkar itu kepada orang yang membutuhkan. Tentu saja bagi pemilik rumah yang dibongkar merasa senang kalau genteng yang bekas itu bisa dijadikan uang.




    Mulailah Man Jaen menemukan jalan hidupnya. Ia kemudian memberanikan diri memborong genteng rumah siapa saja dan siap menyuplai genteng rumah jenis apa saja kepada orang yang membutuhakannya. Karena Man Jaen pemuda yang kuat bisnis borong memborong genteng itu ia kerjakan sendiri dari mulai menawar harga hingga mengangkutnya. Sedikit demi sedikit uang bisa terkumpul lalu ia pun membuka toko material.




    Kini Man Jaen benar-benar menjadi bos dari toko material besar di daerah Cirebon. Sebuah kesederhanaan pola pikir tetapi mendatangkan berkah yang bisa memberikan manfaat buat orang lain.





    Ajaran

    Bila kita kebet-kebet (membuka alquran  bisa ditemui banyak ayat-ayat yang menyuruh agar kita bekerja keras mencari keridoan Allah melalui kerja. Namun Al quran tetap memberikan batas keseimbangan jika antara ibadah dan kerja itu bisa berdampingan.





    al-Qur’an surah 62 al-Jumu’ah ayat 9-10 :
    "Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Dan apabila shalat jum'at telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah hukum Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu mendapat kejayaan."




    Nabi, para sahabat, orang-orang sufi banyak yang berprilaku sebagai pedagang. Misalnya saat Nabi masih muda, beliau pernah menjadi pebisnis, begitupula sahabat-sahbat Rasulullah saw. Bahkan kita bisa mengambil pelajaran  dari tokoh sufi seperti kisah Ibrahim bin Adzam:



    Ketika orang-orang menganggap rendah Ibrahim bin Adham gara-gara ia bekerja sebagai pengumpul kayu bakar untuk menghidupi dirinya, Ibrahim bin Adham mengatakan, "Sesungguhnya telah sampai kepadaku suatu riwayat hadits bahwa barangsiapa yang bersedia berada pada status rendah demi mencari rezeki yang halal, maka wajib baginya syurga."




    Abu Sulaiman Ad-Darani yang juga tokoh sufi besar, 'Ibadah menuruh hemat kami bukan dengan engkau merapatkan kaki di dalam barisan shalat sedangkan orang lain mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan kamu. Mulai dengan dua potong rotimu, cari keduanya, kemudian baru engkau beribadat!"




    Begitulah sekilas bagaiaman ajaran agama Islam sangat cocok untuk modernisasi. Jika ada pandangan yang mengatakan bahwa islam itu melulu ibadah dan tidak mementingkan kerja maka pandangan umum itu salah.




    Dari pelajaran orang-orang seputar kita Man Jaen dari Buntet Pesantren dan Subardi, S.Ag  dari Kuningan, setidaknya kita bisa mengingat kembali bahwa kehidupan harus terus berjalan dan dipertahankan.

    Begitupula, ritual agama dan juga ritual modernisasi harus pula terus digelorakan karena keduanya itu wajib. Karena itulah ajaran modernisasi dan begitulah Islam sebenarnya telah menginspirasikan filosofi moderinisasi di segala bidang. Dan itulah yang digunakan oleh orang-orang Barat, Timur, Utara dan selatan. Bagaimana dengan sampean? 




    Wallahu a'lam.



    ---------------
    Nuning Mumarisa Al Haq, Putri KH. Fuad Hasyim, tengah menyelesaikan program S2 UI Jakarta.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Antara Ritual Agama dan Ritus Modern Rating: 5 Reviewed By: Mubarok Hasanuddin
    Scroll to Top