Terorisme Lingkungan - Buntet Pesantren Terorisme Lingkungan - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Thursday, June 19, 2008

    Terorisme Lingkungan




    bom
    Oleh: Mohammad Fathi Royyani



    Baru-baru ini, bom bunuh diri irak meletus kembali: Booom!!! Berita kemarin di media (lihat tayangannya)  melaporkan 50 orang tewas berkeping-keping dan 20 orang lainnya luka-kula. Sudah ribuan nyawa melayang akibat bom di sana. Ledakan bom yang meluluhlantakkan manusia dan bangunan di sekitarnya itu terdengar dalam radius beberapa kilo meter. Suara ledakan yang membahana berbaur dengan suara jerit tangis kesakitan, kepanikan, dan kebingunan tidak mengerti apa yang terjadi dan harus diperbuat.






    Bom itu bukan saja akrab di negeri 1001 malam. Dalam hitungan jam,
    insiden yang terjadi di sebuah kafe di Bali yang amanpun terjadi pula benda keras bernama bom. Seperti kejadian tahun lalu di Bali, untuk bom yang
    kedua kalinya, langsung menjadi konsumsi publik. Adegan kejadian di
    mana kepanikan dan menderitanya korban akibat ledakan itu dapat dilihat
    oleh seluruh orang yang menonton televisi.

    Teorisme, atau apalah sebutannya (jihad), telah
    menjadi bahan perbincangan hampir semua orang, dari pejabat tinggi
    sampai tukang becak, perbincangan tentang terorisme untuk sementara
    waktu menggeser dan melupakan problem hidup keseharian kita dan apa
    yang bangsa ini sedang hadapi. Kenaikan BBM untuk sementara terlupakan.
    Berbagai teori dan sudut pandang digunakan untuk memperbincangkan teror
    dan terorisme.

    Semua orang yang masih memiliki nurani sepakat
    bahwa terorisme tidak dibenarkan oleh agama manapun, upaya teror yang
    dilakukan oleh jaringan kelompok teroris (Amrozi, Azahari, dll) dan
    aktifitas peledakan yang mereka lakukan, adalah sebuah kesia-siaan
    perjuangan. Siapapun mereka dan apapun alasannya, yang pasti peledakan
    bom bunuh diri merupakan upaya merusak tatanan kehidupan yang ada di
    bumi.

    Namun sayangnya, akibat dari pemberitaan tentang teroris
    yang melanda kita tiap saat menjadikan makna nama-nama Dr Azahari,
    Amrozi, dll sebagai seorang manusia dan individu telah kabur,
    perkembangan dunia teknologi, terutama teknologi informasi telah
    melahirkan masyarakat simulasi. Dalam masyarakat seperti ini
    pencitraan, pemodelan, tanda-tanda, dan bahsa menjadi kabur dan bisa
    dibolak-balik.

    Dalam simulasi yang dibuat oleh televisi
    tentang realitas yang terjadi nampak seolah lebih nyata, lebih dahsyat
    dan lebih mengerikan bila dibandingkan dengan realitas pelaku teror dan
    ledakan itu sendiri yang sebenarnya. Mereka seolah-olah akan membunuh
    tanpa mempertimbangkan banyak hal, dalam gambaran yang diberikan oleh
    media tidak ada moral pada mereka, yang ada adalah kepuasan setelah
    berhasil meledakkan dan membunuh manusia yang lainnya.

    Penggambaran
    berbagai latihan militer yang dilakukan mereka, kehidupan keseharian,
    ledakan dahsyat, life story mereka, dan pengakuan mereka sebelum
    melakukan bom bunuh diri terkesan sangat sangar dan digambarkan sebagai
    mesin pembunuh. Jaringan komunikasi global dan satelit transmisi yang
    mampu menyebarluaskan informasi pada saat yang bersamaan dengan
    kejadian, menjadikan realitas teroris segera dapat diketahui di seluruh
    penjuru dunia.

    Pemberitaan tentang teroris dan aksi teror
    mereka kemudian menjadi semacam arena pertarungan antara tontonan teror
    (berita-informasi ledakan dari lokasi kejadian) melawan perang tontonan
    (berlombanya setiap jaringan televisi dalam memberikan tontonan tentang
    teroris yang paling aktual). Sementara dengan teknologi simulasi,
    televisi menjadikan ledakan dan sekaligus isyu teroris tidak sekedar
    sebagai sebuah peristiwa biasa. Ia adalah cyber war tentang nilai-nilai
    baik dan nilai-nilai jahat versi mereka.

    Dengan demikian, bukan
    berarti terorisme tidak pernah terjadi dalam realitas yang sebenarnya,
    yang patut kita cermati dan sadari adalah bahwa di balik pemberitaan
    tentang ledakan tersebut, batas antara realitas media dan realitas yang
    sebenarnya telah lebur dalam suatu mekanisme simulasi. Teroris telah
    menjadi kolase dari berbagai fragmen kamera televisi dan sekaligus
    peristiwa ledakan yang nyata.

    Dan teror-teror yang lain
    Namun
    sayangnya, makna teroris dan makna peledakan yang dapat membunuh hanya
    berupa tindakan yang dilakukan oleh kelompok itu. Padahal berbagai
    tindakan jahat lainnya yang dapat membunuh kita sewaktu-waktu, seperti
    korupsi kelas kakap, penebangan hutan secara liar dan tidak bertanggung
    jawab tidak dijadikan isyu yang menarik untuk konsumsi publik. Padahal
    aktifitas itu sendiri dapat membunuh manusia dan ekosistem yang ada di
    bumi. Tindakan tersebut merupakan nilai-nilai jahat dan aktifitas
    tersebut adalah ancaman bagi kelangsungan hidup manusia namun diabaikan
    oleh media, politisi, tokoh agama, dan kita sendiri.

    Pembalakan
    hutan secara liar, penangkapan ikan dengan bom, eksploitasi isi perut
    bumi merupakan wujud bom teroris dalam bentuk yang lain. Mereka telah
    meledakkan dan membunuh ribuan makhluk Tuhan yang juga punya hak hidup
    seperti kita. Tindakan-tindakan tersebut juga merusak ekosistem. Karena
    adanya aktifitas seperti itu, ribuan hewan kehilangan tempat tinggal
    dan sumber makanan, berbagai jenis tumbuhan yang dapat menunjang
    kehidupan kita juga ikut punah. Banjir bahorok dan berbagai bencana
    alam lainnya yang memakan banyak korban jiwa adalah korban bom teroris
    lingkungan yang dilakukan oleh mereka.

    Dalam hitungan jam
    saja, berapa hektar hutan tropis yang ada di Indonesia hilang? Belum
    menghitung perbulan atau pertahun. Hilangnya hutan yang ada berarti
    juga hilangnya ekosistem yang ada di hutan tersebut. Dengan hilangnya
    ekosistem berarti hilang juga habitat asli berbagai hewan, tumbuhan,
    dan mikroba. Belum mengitung penjualan aneka hewan yang keberadaannya
    hampir punah. Baik untuk perdagangan maupun untuk berbagai alasan
    kebutuhan kesehatan.

    Luapan lumpur Laipindo di Sidoarjo
    merupakan gabungan dari bentuk kecerobohan dan keserakahan manusia.
    Akibat tindakannya itu, berapa jumlah orang yang kehilangan tempat
    tinggalnya? Berapa anak usia sekolah yang kehilangan hak-haknya dengan
    baik karena tempat tinggal dan sekolahnya tenggelam? Berapa jumlah
    ekosistem yang juga hilang seiring dengan makin meluap dan meningginya
    lumpur Lapindo? Nah, aktifitas seperti itu apakah bukan bentuk lain
    dari teroris?

    Andai bom teroris lingkungan juga dijadikan dunia
    simulasi oleh media maka tidak hanya aktifis lingkungan semata tetapi
    kita juga akan mengutuk tindakan yang dilakukan oleh mereka. Berbagai
    indikasi dan persamaan antara teroris yang melakukan peledakan di
    tempat-tempat yang ada manusianya dan teroris lingkungan serupa, hanya
    objek dan korban yang berbeda, walaupun pada akhirnya manusia juga
    menjadi korban tetapi karena tidak langsung terasa, ini seolah-olah
    tidak nyata terjadi dan bukan ancaman teroris.

    Sebagai
    masyarakat, kita memang tidak bisa menentukan apa yang diberikan oleh
    media. Karena dalam kondisi masyarakat seperti ini realitas-realitas
    sosial, budaya atau politik, nilai-nilai baik maupun jahat dibangun
    berlandaskan model-model tertentu. Dalam dunia simulasi, bukan realitas
    yang menjadi cermin kenyataan, melainkan model-model yang ditawarkan
    televisi, iklan layanan masyarakat atau opini-opini seseorang, baik itu
    tokoh masyarakat maupun tokoh pemerintahan. Dalam wacana simulasi,
    manusia mendiami suatu ruang realitas, dimana perbedaan antara yang
    nyata dan fantasi, yang asli dan yang palsu, yang benar dan yang salah
    sangat tipis.

    Dalam realitas simulasi seperti ini, manusia tak
    lebih sebagai sekumpulan massa mayoritas yang diam, yang menerima
    segala apa yang diberikan padanya, mereka tidak bisa menolak informasi
    yang masuk padanya yang ditawarkan para produser simulasi. Di mana
    berbagai hal informasi, sejarah, kebenaran, nilai moral, nilai agama
    terserap ke dalamnya tanpa meninggalkan bekas apapun juga. Berbagai
    informasi yang disampaikan kepada massa yang diam seperti ini, pada
    akhirnya justru tidak lagi berfungsi sebagai informasi. Ia kini
    kehilangan nilai informasinya dan justru sebaliknya menimbulkan
    keterasingan sosial. Maka, boooom!!! Meledaklah bom perlawanan itu
    seiring dengan ketakutan dan kecemasan kita semua..

    Muhammad Fathi Royyani
    Wong Buntet, Alumni MANU Buntet Pesantren Cirebon

    Lulusan S2 UI Sosiology, Peneliti di  LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)


    -------------------------------

    Sebuah gambar dari youtube.com bagaimana kamera menangkap dahsyatnya bom mobil meledak di Irak.







     










     

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Terorisme Lingkungan Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top