Penguasa Ditegur - Buntet Pesantren Penguasa Ditegur - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Wednesday, June 18, 2008

    Penguasa Ditegur

    hijaz"Ketahuilah bahwa setiap orang tidak dilahirkan dalam
    keadaan pandai,

    Dan setiap orang yang berilmu tidak akan bersaudara dengan
    orang bodoh
    . (Umar bin Abdul Aziz radhiallahu
    ‘anhu)



    Saat Daulah (penguasa Islam) Bani Umayyah, masa kerajaan
    setelah Khulafaurrasyidin dipegang oleh sayyidina Umar bin Abdul Aziz Radhiallahu
    Anhu.
    Beliau didatangi oleh
    penguasa daerah dari berbagai wilayah. Saat itu Sayyidina
    sayyidina Umar
    bin Abdul Aziz Radhiallahu Anhu berkedudukan
    di Damaskus, Syiria. Penguasa daerah itu ingin bersilaturahmi kepada raja  yang baru saja dinobatkan. Dalam catatan
    sejarah, Raja Umar bin Abdul Aziz itu dikenal sebagai penguasa terbaik setelah
    Khulafurrasyidin.



    Mereka datang ke beliau satu persatu dan diterima dengan
    baik selayaknya para tamu kehormatan. Namun ada yang aneh dari para utusan itu
    terdapat seorang anak kecil berumur sekitar 11 tahun menghadap. Anak itu
    merupakan utusan dari negeri Hijaz. Tentu saja sang Ibnu Umar ra. Merasa kaget dan
    aneh, karena semua utusan dari wilayah lain adalah orang-orang dewasa dan
    terhormat namun dia tetapi menjadi utusan resmi dari Hijaz.



    "Wahai anak kecil silahkan pulang saja  ke Hijaz! Sebaikanya yang menghadap ke sini
    adalah orang yang jauh lebih tua darimu seperti layaknya utusan-utusan dari
    daerah lain."  Kata khalifah Umar bin
    Abdul Aziz ra.



    "Wahai Amirul Mukminin,
    setiap orang sudah dibekali Allah Subhanahu Wata'ala hati dan lisan
    untuk berbicara  kepada siapa saja,
    termasuk aku." Jawab anak umur 11 tahun itu dengan yakin.



    Belum sempat Amiril mukminin berkata ia masih meneruskan
    kata-katanya.


    "Walau usiaku baru 11 tahun. Allah Subhanahu Wata'ala
    yang menciptakan hambanya saja tidak pernah melarang hambanya yang mau
    berbicara kepada siapa saja, jadi kenapa aku dilarang menghadapmu  dan berbicara kepadamu? " katanya berusaha
    tenang.



    "Apakah hanya karena aku masih anak-anak dan kamu sudah
    dewasa? Apakah Allah Subhanahu Wata'ala yang menciptakan lisan hambanya
    melarang anak-anak berbicara dengan orang dewasa? Allah Subhanahu Wata'ala
    saja pencipta lisanku ini ini tidak melarang aku berbicara denganmu, lalu
    kenapa engkau wahai amiril mu'minin yang sama-sama hamba Allah Subhanahu
    Wata'ala
    melarang lisanku untuk berbicara denganmu?" tegas utusan kecil itu
    menambahkan.



    Alangkah terkejutnya beliau, mendengar jawaban anak kecil
    itu. Belum lagi hilang keterkejutan Amirul mukminin, anak itu lalu melanjutkan
    pembicaraanya.



    "Wahai Amirul Mukminin! Bila semua urusanmu itu diukur
    hanya dengan melihat usia, maka sebetulnya kamu belum pantas untuk menjadi raja
    di Daulah Bani Umayah ini. Dan kamu tidak layak duduk diatas kursi kerajaan
    itu." Tegasnya. Kemudian ia memberikan alasan



    "Karena di wilayah kekuasaan Bani Umayah ini masih banyak
    orang yang usianya lebih tua darimu." Katanya mantap.



    Alangkah terkejutnya beliau mendengar penuturan bocah itu
    yang amat fasih dan lancar laksana seorang diplomat yang sudah kawakan dan
    ulung. Di samping rasa terkejut yang amat sangat, beliau pun tidak memungkiri
    hati nuraninya yang amat sangat kagum dengan bocah itu. Akhirnya beliau pun melantunkan
    syair sebagai berikut,


    "Ketahuilah bahwa setiap orang tidak dilahirkan dalam
    keadaan pandai, dan
    setiap orang yang berilmu dia tidak akan bersaudara dengan
    orang bodoh.



    "Sedangkan orang dewasa yang tidak memiliki ilmu tetap
    dianggap anak kecil, karena masyarakat tidak ada yang mau menoleh kepadanya
    sekalipun ia dewasa." Tutur Sayyidina Umar bin Abdul Aziz Radhiallahu Anhu
    dan akhirnya dengan riang gembira beliau menerima anak itu sebagai utusan dari
    Hijaz.


     


    [dinukil dari kitab Addurus Annahwiyah jilid II halaman
    7
    ]



    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Penguasa Ditegur Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top