Muslimah Bekerja dan Berkarier - Buntet Pesantren Muslimah Bekerja dan Berkarier - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Friday, June 20, 2008

    Muslimah Bekerja dan Berkarier

    Nuning Oleh: Nuning Mumarisa Al Haq


    KOMPETISI hidup dan tekanan ekonomi global dewasa ini sering kali menuntut wanita untuk bekerja guna memenuhi kebutuhan keluarga.Berbagai jenis pekerjaan dilakukan, seperti menjadi buruh, pembantu rumah tangga, pedagang kecil, dan pekerjaan-pekerjaan lain. Perempuan yang bekerja karena tidak ada pilihan lain selain harus bekerja kita sebut ‘pekerja perempuan’.



    Disisi lain, ada banyak perempuan yang memiliki pengetahuan,
    pendidikan, dan pengalaman yang memadai. kebutuhan mereka untuk
    aktualisasi diri sesuai kebutuhan dunia kerja, dunia usaha, dunia
    pendidikan, dan dunia-dunia lain yang memerlukan  kehadiran orang-orang yang
    profesional dan kompeten.

    Perempuan yang bisa memilih pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan dan
    sekaligus menjadi sarana aktualisasi diri inilah yang biasa kita sebut
    sebagai  ‘wanita karier’.


    Apresiasi positif

    Pada prinsipnya, dalam islam tidak ada larangan bagi perempuan untuk
    bekerja dan berkarier di bidang apa saja,asal dilakukan dengan cara
    yang baik, benar, dan halal  sesuai dengan ketentuan syari’at. Bahkan
    pada tataran aplikatif, islam telah memberikan apresiasi positif dan
    penghargaan yang tinggi terhadap perempuan ‘pekerja’ yang gigih
    sekaligus berkenan membantu keluarganya.

    Contoh kasus, Alqur’an sempat mengangkat kisah tentang dua perempuan
    bersaudara suku madyan yang harus bekerja dan keluar agak jauh dari
    rumah untuk mendapatkan air setiap harinya,  karena bapaknya seorang
    tua renta yang lemah (QS. al qashash/28:23). Kedua perempuan ini, menurut
    beberapa ahli tafsir, adalah puteri Nabi Syu’aib AS.

    Kemudian, sejarah awal islam pun mencatat banyak figur perempuan
    sahabat nabi yang terjun dalam berbagai bidang usaha. Sebut saja siti
    Khadijah istri nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai komisaris
    perusahaan, Ummu Salim binti Milhan yang menekuni bidang tata rias
    pengantin, Zainab binti Jahsy yang berprofesi  sebagai penyamak kulit
    binatang, dan Alsyifa’ yang berprofesi sebagai sekretaris dan pernah
    diangkat khalifah Umar ibn al-Khattab sebagai kepala pasar kota
    Madinah, istri Abdullah ibn Mas’ud yang dikenal sebagai pengusaha
    wiraswasta dari kalangan perempuan yang sukses.

    Semua itu menandakan betapa islam, hingga pada tataran tertentu sangat
    apresiatif dan welcome terhadap perempuan yang bekerja dan berkarier.
    Tak heran bila siti Aisyah berkomentar “....... Alat pemintal di tangan
    perempuan lebih baik daripada tombak di tangan  kaum laki laki (di saat
    berjihad).


    Nilai plus      
                              
    Terkait dengan pembagian peran dalam keluarga, menurut ajaran islam,
    keharusan memberi nafkah merupakan tanggung jawab utama suami. Dengan
    kata lain, istri mempunyai hak mendapatkan sebagian harta suami untuk
    mencukupi semua kebutuhan dasarnya.

    Namun, fakta di lapangan tidak sepenuhnya sama dengan apa yang di
    harapkan. Kenyataannya tidak semua suami mampu memenuhi semua kebutuhan
    dasar istri dan keluarganya. Dalam situasi di mana istri sesungguhnya
    tidak wajib menafkahi keluarga tetapi ia berkenan memberikan sebagian
    hartanya kepada suami dan anak anaknya, maka hal itu tercatat sebagai
    sedekah yang berpahala ganda, yakni pahala sedekah dan pahala membantu
    keluarga (HR. Bukhari-Muslim).

    Itulah ‘nilai plus’ yang diberikan kepada muslimah yang berkekayaan
    dan berpenghasilan sendiri serta berkenan membantu meringankan beban
    ekonomi keluarganya.


    Teguh dan seimbang

    Pada tataran operasional, hal hal yang prinsip harus di perhatiakan dan
    dilakukan seorang muslimah dalam meniti karier dan bekerja adalah:


    1. Mendapatkan restu dari suami, sesuai dengan ajaran islam yang
      bersumber dari Alqur’an dan Hadits dan sesuai dengan tata nilai adat
      ketimuran, dalam kondisi tertentu muslimah yang bekerja perlu
      mendapatkan restu dari semua elemen keluarga untuk menghindari hal2
      yang tidak di inginkan.

    2. Terus membangun kesadaran bahwa bekerja dan berkarier adalah sarana
      mencapai ridha Allah.dengan demikian di lingkungan bekerja muslimah
      akan senantiasa menjaga integritas, moralitas, dedikasi serta
      profesinalitas sehingga citra positif muslimah terjaga.

    3. Senantiasa menjaga keseimbangan diri, perasaan, pikiran, tenaga dan
      waktu dalam peranan sebagai ibu bagi anak  anaknya, sebagai istri bagi
      suaminya, dan profesional dalam lingkungan kerjanya.

    4. Bersinergi dengan pasangan/suami  dan mitra keluarga dan lainnya
      dalam berbagi peran dan tugas rumah tangga sehingga tercapai
      kesepahaman yang baik dan kondusif.

    5. Senantiasa mengingatkan bahwa kepentingan dan kebutuhan keluarga adalah yang pertama dan terpenting.



    Dalam konteks ini, teladan yang dapat dijadikan rujukan adalah sayyidah
    Khadijah ra.yang telah memberikan contoh bagaimana perempuan muslimah
    dapat sukses menekuni dan mengembangkan bidang usaha, tanpa kehilangan
    jati diri tetap taat pada norma norma dan etika agama, serta mampu
    menjaga keseimbanganperan dan pola relasi dalam keluarga.Wallahu a’lam
    bish-Shawab.



    Nuning Mumarisa Al Haq
    adalah Putra KH. Fuad Hasyim, sedang menyelesaikan Tesis  S2 UI Jurusan Filsafat Umum.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Muslimah Bekerja dan Berkarier Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top