Mendiagnosa Kekerasan Massa - Buntet Pesantren Mendiagnosa Kekerasan Massa - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Wednesday, June 18, 2008

    Mendiagnosa Kekerasan Massa


    posoOleh : M. Zaim Nugroho*


    Setiap kita menyelesaikan melaksanakan shalat, kita menengok ke kanan dan ke kiri sebagai ungkapan untuk menebarkan salam di sekeliling kita. Setiap tahun ada  ramadhan bulan yang penuh kasih sayang dimana kita sebagai umat manusia dituntut untuk memanifestasikan rasa kasih sayang itu untuk peduli dan saling menghormati terhadap sesama umat manusia.  Kekerasan massa dimanapun berada telah banyak mencoreng bangsa ini.



     



    Tahun-tahun sebelumnya  misalnya di Poso,
    meninggalkan luka mendalam korban dari sebuah kekerasan massa yang
    terjadi akibat konflik yang timbul atas nama Agama. Agama yang
    sejatinya dituntut untuk membawa umat manusia menjadi pengayom bagi
    kehidupan manusia dirusak karena masalah fanatisme sempit dan
    buta,mereka menggap kelompok lain sebagai sesuatu yang layak untuk
    dimusnahkan. Untuk itu pulalah saya akan sedikit mendiagnosa kekerasan
    Massa dalam sudut pandang Ilmiah.



     





    Di dalam bukunya memahami negatifitas “ diskursus
    tentang Massa, Teror, dan Trauma, F.Budi Hardiman mempertanyakan
    Mengapa manusia melakukan kekerasan kepada sesamanya? Pertanyaan itu
    akan muncul karena timbul keheranan dari diri kita. Keheranan adalah
    sebuah persaan yang timbul dari diri kita ketika menghadapi sesuatu
    yang tidak lazim. Bayangkan bila di dalam masyarakat kita kekerasan
    dianggap sesuatu yang lazim. Pasti tak ada keheranan yang muncul
    atasnya, akal pun tertidur dan secara bersamaan dengan itu kekerasan
    tidak pernah dipersoalkan.







    Kekerasan massa seperti kerusuhan, huru-hara,
    pengeroyokan, penjarahan, pembantaian, pemberontakan, revolusi dan
    seterusnya meruapakan fenomena yang sangat diminati tidak hanya oleh
    para politikus ,melainkan juga para sejarawan, sosiolog, filusuf,
    psikolog, sastrawan, dan kritikus kebudayaan. Kekerasan sering meletus
    dalam sejarah umat manusia. Pemberontakan budak dizaman Romawi
    kuno,peralawanan rakyat Prancis melawan Raja Lois ke IV adalah
    peristiwa kekerasan massa yang dicatat didalam sejarah dunia.






    Kekerasan memang tidak hanaya terajadi di dunia
    Eropa, tetapi sering juga terjadi di Dunia ke tiaga. Indonesia adalah
    salah satu contoh negara yang mempunyai tradisi kekerasan massa yang
    cukup rutin .Pembunuhan masal di tahun 60-an terhadap anggota PKI,
    tragedi Priok dan masih basah dalam ingatan bayak orang kerusuhan yang
    berbau SARA pada tanggal 13-14 mei 1998 belum juga kekerasan yang
    terjadi di Sampit dan masih banyak kekerasan lainya.








    Yang jadi persoalan bagi kita adalah mengapa gempa
    sosial itu bisa terjadi? bagaimana kita bisa menerangkan kondisi
    kondisi kekerasan massa semacam itu untuk menemukan “ struktur struktur
    “ tertentu dari peristiwa yang tampaknya tak tersruktur itu.? Untuk itu
    saya akan mengutip beberapa pandangan para tokoh yang menyumbangkan
    teori teorinya tentang kekerasan Massa yang begitu destruktif.








    “ Massa “ istilah ini banayak digunakan dalam banyak
    arti dan sering tidak tepat karena mengacu pada berbagai fenomena.
    Dalam ranah ini saya hanya akan mengungkapkan istilah “massa” yang
    berarti massa yang tidak mengindahkan norma norma sosial yang berlaku
    sehari hari. Massa yang berkaitan hanya pada situasi khusus yang
    sifatnya Abnormal .Gustave le Bone ,bapak psikologi massa, mengatakan
    bahwa massa itu bodoh, mudah diprovokasi, bersifat rasistits atau
    singkat kata irrasoanal.






    Massa menurutnya terkungkung dalam batas batas
    ketidak sadaran, tunduk pada segala pengaruh,mudah diombang ambing oleh
    emosi dan mudah percaya. Di dalam massa individu individu yang berbeda
    memiliki ” dorongan -dorangan, nafsu-nafsu dan perasaan-perasaan yang
    sangat mirip “ dan bertingkah laku sama.








    Sigmund Freud ( bapak psikoanalisa ) juga mengatakan
    situasi massa adalah “ regresi ke aktiviatas psikis yang
    primitif…bangkitnya kembali gerombolan purba dalam diri kita,” teori
    –tori itu mungkin akan berlainan dengan apa yang dikatakan toori Marxis
    yang lebih melihat massa sebagai sebuah massa yang sadar kelas. Teori
    Marxis tidak memandang fenomena massa sebagai ledakan emosi atau
    pelampiasan naluri naluri biadab,karena aksi massa yang revolusioner
    berasal dari konflik kepentingan kelas kelas atau ketidak samaan
    struktural. Artinya mereka peserta aksi massa tidak bertindak melulu
    karena emosi, melainkan “strategis” :mereka mengikuti
    kepentingan-kepentingan kelas mereka yang bersifat objektif. Atau
    dengan kata lain aksi massa mereka bersifat rasional.








    Manusia yang ikut serta dalam aksi massa tidak
    melulu digerakan oleh kemarahan, frustasi, agresi, kebencian atau
    ketidakpuasan seperti binatang buas yang lapar. Mereka juaga tidak
    murni mengikuti orientasi strategis yang melekat pada kepentingan
    kepentingan mereka. Aksi massa bukanlah “ prilaku kolektif ” , juga
    bukan “ akibat logis “ dari mekanisme struktural. Menurut teori
    tindakan kolektif misalnya yang mendekati akis massa sebagai ”
    tindakan”. Disini perilaku dibedakan secara tegas dari tindakan :
    perilaku berkenaan dengan spontanitas naluriah, sementara tindakan
    menyangkut kesadaran manusiawi. Dalam keadaan keadaan tertentu orang
    berkumpul dan bertindak bersama diluar kerangka institusional itu untuk
    mengubah sesuatu yang secara individual tak bisa mereka lakukan.








    Dari teori teori diatas dapat dilihat kekerasan
    massa seperti kerusuhan, penjaharan, konflik etnis, agama dan
    sebagainya adalah prilaku yang sama sekali irrasional, yang tidak
    mencerminkan rasa kemanusian, dalam ranah moderen sekarang konflik itu
    terus terjadi bahkan kalu dibiarkan akan semakin menjadi seiring dengan
    rasa dendam dan rasa akan diri dan kelompok yang merasa paling benar
    terus terpelihara, krisis identitas itu juga akan semakin tumbuh
    seiring dengan rasa ego akan diri yang juga bisa meletus sewaktu waktu
    menjadi kekerasan massa.








    Dalam tulisan ini juga saya ingin mengatakan dalam
    diskursus epistemologi kekerasan massa dipandang sebagai sesuatu yang
    tidak hanya regresi atau amarah suatu kelompok belaka tetapi lebih jauh
    lagi merupakan sebuah kekacauan dan ketidakstabilan norma norma sosial,
    dimana sebuah tatanan didobrak secara paksa dengan alasan dendam atau
    dengan sengaja ingin menghancurkan tatanan sosial tersebut.





    Wallahualam…………..









     



    *Penulis adalah masasiswa UIN Syarif hidayatullah, Bergiat di FORMACI.( Forum Mahasiswa Ciputat ) Artikel ini pernah dimuat dalam buntetpesantren.com
    2006-11-14 13:32:05
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Mendiagnosa Kekerasan Massa Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top