Membaca Al Quran - Buntet Pesantren Membaca Al Quran - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Wednesday, June 25, 2008

    Membaca Al Quran


    qiroatul quranOleh Jabir Alfaruqi









    ALQURAN ditutunkan kepada manusia untuk dibaca. Hal ini sesuai
    dengan ayat yang pertama kali turun yakni perintah untuk membaca. Dengan
    membaca itu manusia akan mendapatkan petunjuk akan segela sesuatu yang
    dibutuhkan.



     





    Tetapi bagaimana cara membaca Alquran yang benar dan cakupan apa saja
    yang bisa disebut membaca? Apakah membaca itu sekadar mempelajari dan melafalkan
    huruf-huruf yang tertulis secara fasih dan benar berdasarkan ilmu qiraah
    dan ilmu taj-wid yang ada?










    Apakah membaca itu harus dengan lantunan suara yang lantang, merdu,
    memukau dan pe-nuh daya seni? Apakah membaca Alquran itu hanya bisa dilakukan
    dengan mata kepala dan dibantu mulut saja atau bisa dilakukan dengan mata
    batin, perasaan, pikiran dan intelektual yang dibantu dengan seperangkat
    alat canggih?










    Akhir-akhir ini umat Islam membaca Alquran sebatas membaca dengan mata
    kepala yang dibantu dengan mulut beserta qiraah dan tajwidnya saja. Maka
    wajar kalau membaca atau tadarus Alquran diidentikkan dengan melafalkan
    dan melagukan. Membaca secara verbal belum il-miah. Inilah pangkal kemun-duran
    umat Islam.










    Membaca Alquran yang benar adalah menggunakan segenap panca indera disertai
    dengan bantuan teknologi jika diperlukan sehingga manusia memiliki ke-mampuan
    untuk mengetahui kandungan dan isinya bukan hanya terjemahan harfiahnya.
    Misalnya saja pada awal surat AlBaqarah disebutkan:










    Kitab(Alquran) ini tidak ada keraguan baginya, petunjuk bagi mereka
    yang bertakwa yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib.










    Dalam terjemahan Alquran yang diterbitkan oleh Mujamma' khadim al Haramain
    asy Syarifain al Malik al Fahd li thibaíat al mushhaf asy syarif
    (Kompleks Percetakan Alquran Khadim al Haramain asy Syarif Raja Fahd) di
    Madinah menerjemahkan makna gaib dengan pengertian yang tidak bisa ditangkap
    oleh panca indera.










    Percaya kepada yang gaib yaitu meng-i'tikadkan adanya sesuatu yang
    maujud
    yang tidak bisa ditangkap oleh panca indera, karena ada dalil
    yang menunjukkan kepada adanya Allah, Malaikat, hari akhir dan sebagainya.










    Arti gaib di atas adalah makna terjemahan bukan pengertian yang didasarkan
    pada kandungan maknanya.










    Sebab ayat Allah itu ada dua yakni ayat yang dhahir dan gaib
    (alam gaib dan makluk gaib). Alam gaib dan makhluk gaib tidak bisa dilihat
    dengan mata ke-pala tetapi bisa dilihat dengan mata hati. Semua yang bersifat
    makluk termasuk malaikat, surga dan neraka meskipun gaib karena berperan
    sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah maka bisa dilihat.










    Lalu mengapa mata batin manusia tidak bisa melihat? Jawabnya karena
    mata batin manusia sekarang berlumuran dosa dan di-tutup dengan kesombongan
    akan dirinya. Orang-orang suci (para nabi dan para sufi) mereka biasa berkomunikasi
    dengan makluk lain termasuk malaikat dan biasa rekreasi melihat surga dan
    neraka.










    Logikanya semua alam gaib diciptakan oleh Allah adalah se-bagai tanda
    kebesaran-Nya. Lalu bagaimana orang akan semakin yakin akan kebesaran Allah
    kalau tidak bisa menyaksikan tanda-tandanya? Bagaimana manusia akan benar-benar
    beriman dan bertakwa kalau tidak pernah menyaksikan betapa pedihnya orang
    disiksa kalau melanggar ajaran Allah.










    Barangkali model beragama gaya para Nabi, rasul dan sufi inilah yang
    disebut beragama secara ilmiah. Orang yakin akan adanya yang gaib karena
    mereka me-nyaksikan dengan mata batinnya. Sebaliknya, bagaimana beragama
    bisa ilmiah kalau keyakinannya hanya didasarkan pada mitos atau yang penting
    diyakini adanya yang gaib.










    Keverbalan cara membaca Alquran inilah barangkali yang menyebabkan orang
    sudah hafidz Alquran tetapi masih mau korupsi, sudah haji berkali-kali
    masih suka menyikat uang rakyat dan sebagainya.










    Ketidakmampuan mata hati manusia menyaksikan yang gaib sebagai ayat
    Allah karena manusia kurang pas dan benar didalam membaca Alquran.










    Jika bisa membaca dengan be-nar maka hanya Allah yang tidak bisa dilihat.
    Makluk halus, alam lain bahkan kejadian-kejadian yang akan datang baik
    yang ditemukan lewat teknologi dan kemukzijatan Allah akan diperoleh bocorannya.
    Dulu umat islam bisa memimpin peradaban karena bisa membaca Alquran dengan
    benar.










    Orang sekarang membaca Alquran hanya dengan mata kepala dan mulut tidak
    mengikutsertakan hati, perasaan dan pikiran. Model seperti ini menjadikan
    manusia sulit menemukan hati dan jantungnya Alquran. Sebab hati dan jantungnya
    hanya bisa dibaca dengan menggunakan mata hati dan perasaan. Ketika mata
    hati manusia tertutup, maka tertutup pula kunci dan pintu rahasia untuk
    memahaminya.










    Secara ilmu pengetahuan, tertinggalnya umat Islam dengan bangsa lain
    karena umat Islam ti-dak mau membaca kandungan Alquran dengan teknologi.
    Misi ilmiah, misi sosial-kemanusiaan tidak dipahami lewat penelitian yang
    akurat sehingga umat tercerahkan.










    Sekarang Alquran diagung-kan dengan bacaan, ditulis de-ngan tinta emas,
    diukir indah bernilai seni dan ekonomis tinggi tetapi tidak diagungkan
    isinya, perintahnya dan tujuannya.





    Alquran menjadi benda mati bukan benda hidup dan berkembang isinya.
    Dalam kondisi seperti ini, sebenarnya kita takut dengan sabda Nabi yang
    artinya kurang lebih : banyak orang membaca Alquran tetapi Alquran sendiri
    justru melaknatinya. Semoga kita terhindar dari ancaman ini.










    Jadi dangkal atau dalamnya pengetahuan seseorang akan makna Islam tergantung
    sejauhmana memahami kitab sucinya. Maka ingat pesan almarhum Prof.Dr. Nur
    Cholish Madjid kepada dua anaknya agar belajar bahasa Arab supaya mengerti
    kandungan Alquran. Sebab dengan mengerti kandungan Alquran manusia akan
    bisa mengerti hakikat kehidupan beserta rahasianya. (11)










    - Jabir Alfaruqi, Direktur Lembaga Studi Agama dan Pembangunan
    (LSAP) Semarang.














    Sumber: SuaraMerdeka

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Membaca Al Quran Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top