Maaf dan Terima Kasih - Buntet Pesantren Maaf dan Terima Kasih - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Saturday, June 28, 2008

    Maaf dan Terima Kasih


    Oleh: Dr. Komaruddin Hidayat







    COBA hitung dan renungkan, berapa banyak kita berbuat salah dan
    menyinggung perasaan orang setiap harinya? Entah kepada
    keluarga,teman,mitra kerja,atau anak buah.



     



    Lalu, jumlahkan kesalahan itu setiap akhir pekan
    atau akhir bulan.Bayangkan,andaikan dalam komunikasi sosial tak ada
    kata maaf, entah dalam konteks minta maaf atau memberi maaf, betapa
    pengap dan tidak nyaman suasana serta relasi sosial di antara kita
    semua. Maaf merupakan kata magis, apalagi diucapkan sepenuh hati,
    membuat manusia semakin menjadi manusia. By forgiving one to another,we
    are all becoming more human. Orang yang enggan atau bahkan tidak pernah
    meminta maaf kepada orang lain pasti jiwanya tidak sehat.






    Kepribadiannya
    mentah. Sebab, sesungguhnya tiada hari kita tidak berbuat salah,
    sengaja atau tidak sengaja, dan menyinggung perasaan orang lain yang
    ada di sekeliling kita.Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin banyak
    teman dan anak buah, maka semakin banyak pula seseorang berbuat salah,
    sehingga mestinya semakin banyak pula sering meminta maaf.






    Di
    sisi lain, orang yang enggan dan pelit memberi maaf, jiwanya kurang
    sehat, karena lama-kelamaan endapan kesal, kecewa, dan benci kepada
    seseorang akan terasa semakin berat dan menjadi beban pikiran serta
    perasaan.






    Orang yang memaafkan secara tulus
    sesungguhnya akan menyehatkan dirinya sendiri, karena dengan memaafkan,
    berarti dia mampu menerima kenyataan pahit, kemudian berusaha
    melupakan, dan seterusnya membuka lembaran baru yang putih dan segar.
    Dengan demikian, memaafkan, melupakan, dan membangun lembaran baru di
    hari esok adalah sumber kesehatan seseorang, masyarakat dan bangsa.






    Tindakan
    memaafkan juga meringankan beban psikologis yang akan menyehatkan.
    Tentu saja, memaafkan yang sehat ada kalanya mesti disertai hukuman dan
    kemarahan sebagai pendidikan bagi mereka yang berbuat salah. Saya
    sering merenung, apakah bangsa ini mampu memaafkan terhadap sesamanya
    ataukah lebih senang balas dendam?






    Memaafkan
    itu bukan aib, bukan pula menunjukkan pribadi yang lemah. Sebaliknya,
    hanya mereka yang lapang, berjiwa besar, dan memiliki rasa percaya diri
    serta menjalani hidup dengan ikhlas yang akan bisa memaafkan orang
    lain. Mungkin Nelson Mandela termasuk pribadi yang mampu memaafkan
    lawan-lawan politiknya sehingga jiwanya pun tampak sehat.






    Berterima Kasih



    Pasangan
    dari maaf adalah terima kasih. Kata ini juga memiliki kandungan makna
    yang amat mulia dan dalam. Jika kata maaf menyadarkan betapa kita
    sering membuat salah dan menyakiti orang lain, dalam kata terima kasih
    mengingatkan kita betapa banyak setiap harinya
    seseorang menerima kebaikan hati dan pertolongan orang lain. Kita tidak
    bisa hidup tanpa bantuan dan kebaikan hati orang lain.






    Semakin
    tinggi jabatan seseorang, semakin banyak memerlukan bantuan orang lain,
    sehingga mestinya semakin banyak pula menyampaikan rasa terima kasih
    kepada teman-teman atau keluarga yang telah memberi pertolongan.
    Menarik direnungkan, apa pun pemberian orang,dijawab dengan ungkapan
    ”terima kasih”. Entah pemberian itu berupa tenaga,materi, moral, dan
    bentuk apa pun lainnya, semuanya dijawab dengan kata terima kasih,
    bukannya menyebut materi yang diberikan.






    Apa
    makna dan rahasia di balik ini semua? Maksudnya, dalam relasi sosial
    kita mesti saling berbagi cinta kasih. Dengan dorongan kasih itulah,
    kita tergerak untuk membantu orang lain sesuai dengan konteks dan
    kemampuan. Jadi, adalah kasih yang mendorong kita menolong orang
    lain,sehingga yang menerima akan merasakannya dan menjawab dengan kata
    ”terima kasih”.






    Tanpa cinta kasih, perbuatan kita
    kehilangan makna dan efek positifnya menguap.Jalinan cinta kasih di
    antara kita yang terdalam adalah jika energi dan relasi kasih itu
    merupakan pancaran dari kasih Tuhan. Bukankah setiap melakukan
    perbuatan yang baik, kita dianjurkan mengucapkan
    ”Bismillahirrahmanirrahim”?






    Maksudnya,
    hendaknya orang yang beriman menjadi penerus sifat kasih-Nya untuk
    menanamkan dan menyebarkan di manapun kita berada, dimulai dari
    kehidupan keluarga, tempat bekerja,lalu melebar dalam kehidupan
    bermasyarakat dan bernegara. Rasanya kehidupan bangsa ini sedang
    diterpa krisis nilai dan kejiwaan, enggan untuk saling memaafkan dan
    saling berterima kasih secara tulus.






    Tanpa kedua
    nilai dan sikap itu, betapa pun melimpahnya sumber alam Indonesia, maka
    tidak akan mendatangkan kedamaian. Betapa pun kaya,pintar, dan tampan
    serta cantiknya pasangan suami-istri, kalau masingmasing egois, enggan
    saling memaafkan dan berterima kasih, maka pertengkaran dan perceraian
    yang terjadi. Coba perhatikan, pribadi yang matang, bangsa yang
    beradab, dan politisi yang berkualitas selalu keluar dari lisannya
    ucapan maaf dan terima kasih.






    Contoh yang
    paling mutakhir adalah hubungan sosial-politik Hillary dan Obama.Betapa
    ketat dan mahalnya persaingan antara keduanya untuk memperebutkan
    posisi sebagai calon dari Partai Demokrat untuk menuju Gedung Putih.
    Namun, persahabatan dan persaingannya sangat memukau, penuh kecerdasan
    dan kesantunan dalam berpolitik.






    Ketika Hillary
    kalah, dia memuji Obama dan menyatakan siap membantu sepenuhnya. Begitu
    pun Obama, dia sangat berterima kasih atas persahabatannya dan
    dukungannya dalam proses konvensi yang amat mahal itu. Dari segi ajaran
    dan nilai, para pengkhotbah baik di masjid, gereja, maupun wihara
    selalu menekankan agar kita saling memaafkan dan berterima kasih.






    Kalau
    saja nilai dan sikap ini dihayati dan dipraktikkan,sejak lingkungan dan
    komunitas terdekat, pasti akan tercipta suasana yang damai,nyaman,dan
    kondusif untuk berprestasi.Sebaliknya, kebencian dan perasaan tidak
    dihargai akan membuat suasana tidak produktif bahkan cenderung saling
    menjegal.Maaf dan terima kasih yang disampaikan secara tulus akan
    membuka katupkatup penghubung empati dan simpati di antara kita yang
    sudah tertutup.



    Energi maaf dan terima kasih
    akan memperlebar saluran sambung rasa positif yang semula menyempit.
    Akan lebih terasa kalau ekspresi maaf dan terima kasih diperkuat dengan
    tatapan mata simpati, senyum apresiasi, dan jabat tangan persahabatan,
    terjadilah pergeseran dari rasa ”ke-aku-an” menjadi ke ”ke-kami-an”dan
    ”ke-kita-an”.






    Energi semacam inilah yang mesti
    kita sebarkan di Indonesia saat ini. Sebagai umat yang beriman,
    ditambah lagi melihat kondisi bangsa yang berjalan tertatih-tatih di
    tengah negara- negara lain yang berjalan melaju,tidak layak dan hanya
    merugi memelihara sikap saling membenci, memfitnah, dan menjatuhkan
    pesaingnya setiap ada peluang untuk berebut kursi kekuasaan,baik
    sebagai bupati, gubernur, maupun presiden. Persaingan dan kompetisi itu
    perlu, bahkan suatu keharusan.






    Namun,mari kita
    buat kompetisi itu indah dan meriah bagaikan festival permainan sepak
    bola Eropa yangkitanikmatibeberapapekan ini. Siapa pun yang menang,
    mesti berterima kasih kepada yang kalah, karena tanpa lawan tanding
    tidak akan ada sang juara. Masingmasing saling memuji dan bersikap
    sportif di depan publik dan wasit.






    * Rektor UIN Syarif Hidayatullah
    Jakarta.



    Kliping dari Koran SINDO, 27 Juni 2008













    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Maaf dan Terima Kasih Rating: 5 Reviewed By: Mubarok Hasanuddin
    Scroll to Top