KH. Hasanuddin : "Jangan Ikut-ikutan Arus Pertentangan Umat" - Buntet Pesantren KH. Hasanuddin : "Jangan Ikut-ikutan Arus Pertentangan Umat" - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Monday, June 30, 2008

    KH. Hasanuddin : "Jangan Ikut-ikutan Arus Pertentangan Umat"


    Oleh: Redaksi
    Pertentangan antar umat Islam jangan disikapi dengan ikut-ikutan terbawa arus. Karenanya, kita tidak perlu lagi saling mencibir dan memperkeruh pertentangan itu. Apalagi masalah yang dihadapi tidak dimengerti sama sekali. Sebagai umat Islam khususnya Nahdliyin, cukup menjalankan
    peribadatan sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi dengan merujuk pada
    para ulama salaf jangan ulama kholaf.




    “Sebagai umat, jangan ikut-ikut mencibir antara yang satu dengan lain.
    Yang terpenting kita bangun dan kedepankan silaturohmi untuk mencairkan
    segala persoalan,” ungkap KH Hasanudin Imam dari Pesantren Gedongan Cirebon,
    Jabar saat maidatukhasanah peresmian penggunaan Aula Pondok Pesantren
    Assalafiyah Luwung Ragi Kec. Bulakamba Brebes Jateng Sabtu (28/6) malam.

    Menurut Kyai Hasanuddin Imam yang pernah menjadi Kepala MAN Buntet Pesantren pada 2001 ini mengatakan bahwa problema pertentangan pandangan dalam Islam, lanjut Kyai memang sudah
    tercatat dalam sejarah masa silam dengan terjadinya pertentangan antara
    Kholifah Ali Bin Abi Thalib, Muawiyah Bin Abi Sofyan dan Amir bin Ash.
    “Dari pertentangan tersebut, pada intinya hanya salah paham yang
    dibesar-besarkan sehingga menjadi peperangan dan centang perenang,
    padahal akar permasalahan tidak diketahui oleh umatnya,” cerita KH
    Hasan..

    Mantan Kepala Kantor Depag Cirebon ini mengingatkan kepada hadirin
    bahwa kita dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang apabila bisa
    dijalankan akan
    mendatangkan kebahagiaan hakiki. Yakni : 1) Mengampuni orang, dikala
    kita masih dalam keadaan marah.2) Ahli Jariyah dikala sedang susah
    maupun senang, 3) menghitung uang dengan kesaksian orang lain dan 4)
    Menasehati atasan.

    Sementara KH Subkhan Ma'mun dalam kata pengantarnya menerangkan
    pembangunan Aula tersebut atas dilatarbelakangi desakan para wali
    santri yang menghendaki sholat
    jamaah secara terus menerus selama lima waktu bersama dirinya selaku
    pengasuh Ponpes. Namun karena saat itu Masjid yang ada di kompleks
    pesantren milik Desa, maka pengimamannya digilir dengan ulama-ulama
    desa setempat. Sehingga dirinya tidak bisa rutin. “Di
    Masjid, Saya mendapat giliran menjadi Imam setiap Sholat Dhuhur,” ucap
    Kyai Subekhan.

    Dia merasa bahagia dengan selesainya pembangunan Aula yang diberi nama
    Addalail Al Khaerat itu. Sebagai kudengannya (permintaannya) maka para
    santri harus sholat lima
    waktu secara berjamaah. “Bila sampai tiga waktu tidak ditepati, Saya
    tajir,” ungkapnya.

    Aula yang berukuran 19 X 23 meter persegi itu, dibangun atas biaya
    pondok secara bertahap. “Alhamdulilah, hanya dalam waktu setahun
    rampung,” ungkap kyai tanpa mau menyebutkan berapa dana yang
    dikeluarkan.

    Penggunaan Aula tersebut ditandai dengan pembacaan Al quran  30 juz
    oleh dua orang santri yang sudah hafidz dan pembacaan kitab Simthud
    Duroh yang dipimpin oleh Habib Hud Bin Yahya dari Ciwaringin Cirebon.

    Meski dihadiri ribuan pengunjung tapi tak tampak hadir perwakilan dari
    pejabat pemerintah Kabupaten Brebes. Terlihat hanya orang tua/wali
    santri, Santriwan-santriwati, alumni santri, para ulama Kabupaten
    Brebes dan Tegal serta masyarakat desa Luwungragi. (was/nuol/kurt)


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: KH. Hasanuddin : "Jangan Ikut-ikutan Arus Pertentangan Umat" Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top