Kesaksian Tragedi Monas (2) - Buntet Pesantren Kesaksian Tragedi Monas (2) - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Wednesday, June 4, 2008

    Kesaksian Tragedi Monas (2)

     

    oleh Ahmad Taufik, Aktivis Garda Kemerdekaan

     

    Pukul 11.30 WIB saya dan rombongan teman-teman Garda Kemerdekaan dari Bandung sekitar 10 orang sudah memarkir kendaraan sewaan (dari Bandung) di Stasiun Gambir, karena kabarnya titik orasi AKBB di belakang stasiun Gambir (cukup membingungkan, belakang Gambir yang mana?). Lalu kami melompati pagar dari stasiun Gambir masuk ke Monas (karena gak mau muter jauh). Pagar cukup tinggi. Kami sempat berseloroh, kalau dikejar-kejar bisa lompat, sekarang belajar dulu. Salah seorang teman kai dari Bandung, Narji, mahasiswa Unisba, kakinya agak sakit sehingga perlu dibantu saat melompati pagar.

     

     

    Kami akhirnya duduk-duduk di rumput, dekat air mancur di dalam Monas, persis di belakang bagian keamanan acara PDI-P yang baru saja selesai acara. Pasukan PDI-P yang berseragam hitam-hitam sedang menghitung orang, baris untuk membubarkan diri. Sementara dari jarak 30 meter, rombongan berbendera Front Pembela Islam (hampir semua membawa bendera yang dikibarkan dan diikat dengan bambu, pring), ada juga yang memakai jaket Lasykar, kebanyakan memakai baju gamis dan pici putih. Saat itu saya jadi teringat buku Tuan ku Rao, cerita atau fakta (?) tentang pasukan bersorban dan berseragam putih yang brutal. Setelah pasukan itu siap, mereka mulai menyisir pelan-pelan, persis cara-cara militer zaman orde baru, menyisir mencari mahasiswa atau masyarakat yang mau dihantami.

     

    Saya bertanya pada Malik (salah seorang Ketua garda Kemerdekaan di lapangan), beliau sedang mengiringi 6 bis yang membawa massa Ahmadiyah. Dia dari telepon juga bingung, massa akan berkumpul di mana.

     

    Saya telepon ke Nong (darul mahmada) dia hanya bilang ada tronton dekat sana. Tak jelas. Sementara rombongan, Garda Kemerdekaan simpul proklamasi (kawan-kawan di Bonang mulai datang). Begitu juga dua orang kepribaden dari Bogor dan beberapa orang lain. Mereka bertanya, saya cuma menelepon beberapa simpul.

     

    Akhirnya, Malik memberi tahu massa akan berkumpul di depan Kedutaan AS. Saat saya berjalan menuju sana, kami melihat rombongan ratusan orang AKBB berjalan beriringan menuju lokasi, di paling depan, kebanyakan temen-temen dari NIM yang membawa peralatan musik. Tentu saja Sunia, yang cantik itu, berada paling depan (hebat). Mas Joko dari kepribaden berkomentar pada saya "coba pake bunyi-bunyian, atau tambur, pasti menggetarkan dan seru." Kepada teman-teman NIM saya juga sempat berkomentar, "kok, gak diiringi musik?"

     

    13.20
    Kami berkelakar dan teman-temanku masuk bergabung di dalam rombongan, dengan berbagai poster yang kami bawa, mulai dari soal pemberantasan korupsi, kekerasan terhadap wartawan, Bubarkan FPI dan Preman Berjubah (poster yang lama) sampai poster Tanamlah Pohon Janganlah Tanam Kebencian (semua yang nempel di kantor garda diboyong aja).

     

    Rombongan menuju Monas, sebelum pualam selasar Monas, saya bertemu mubarik yang mengendari motor trail warna kuning. Saya sempat berseloroh ke Mubarik, "rik, klo FPI itu nyerbu, kamu tabrak aja ya? Memang hanya berjarak 100 meter FPI tampak sudah dalam keadaan siap.

     

    Di selasar Monas, tampak ratusan ibu-ibu berjilbab dengan anak-anak, tampak duduk-duduk, ada juga mobil pengeras suara. Mereka riang gembira menyambut kedatangan rombongan itu. Bahkan seorang yang memakai kursi roda minta permisi mau masuk.

     

    Baru sekitar satu atau dua menit, tiba-tiba ada teriakan Allahu Akbar, Ahmadiyah Kafir... Ahmadiyah kafir, dengan brutal dan sadis mereka mengebuki orang, tanpa peduli ibu-ibu dan anak-anak seperti anjing lapar, beberapa kawan tampak melindungi ibu-ibu dan anak-anak dari amukan massa, Ahmad Suaedy, melindungi orang dengan kursi roda itu, namun bogem mentah ke mana-mana. Mereka mengejar, orang-orang yang lari, menggebuki orang semena-mena.

     

    Saya tak lari, karena tahu mereka seperti anjing, akan mengejar orang yang berlari, saya hanya mundur pelan-pelan. Mencoba mengontak rombongan yang saya bawa. Nardji dari Bandung mengontak, terjebak dipanggung PDI-P, dekat dengan massa FPI. Darwis dari Bonang, bubar jalan, baju garda terpaksa dibalik, karna ancaman itu, seorang kawan dari Bonang, yang sempat kepukul membuka kaos, dan berlagak menjadi pemulung mengangkuti gelas-gelas aqua. Mereka protes, pada saya, kenapa tak bilang klo akan melawan FPI--jika mau saya siapkan senjata. Saya hanya bisa menenangkan dan menyatakan bahwa ini aksi damai dan anti kekerasan. Sepulangnya, dari aksi, kawan-kawan dari Bonang mengancam bila FPI aksi di Gedung Proklamasi, akan dihabisi seperti pasukan Pam Swakarsa tempo hari (pasukannya Kivlan Zein--saat masih-baik-baik dengan atasannya dulu).

     

    Seraya mengumpulkan teman-teman, Guntur, berjarak 20 meter dari saya mengajak maju ke depan mencoba membela ibu-ibu yang digebuki secara brutal. Tapi Guntur yang mengenakan baju putih dan celana komprang madura warna hitam, malah menjadi korban berikutnya, dikeroyok rame-rame. Saya tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa meminggirkan ibu-ibu yang baru saja lolos dari kepungan maut, "anjing-anjing" itu.

     

    Seorang ibu berteriak-teriak, "masak yang mengaku-ngaku Islam seperti itu." Mas Suaedy datang dengan luka-luka, saya langsung bawa ke mobil TV-One. seorang muda tinggi berjaket hitam, yang luka-luka cukup parah, saya mau bawa ke TV-one,. gak mau, dia ingin ke rumah sakit saja. saya tak tahu namanya dan dari elemen mana?

     

    Kesaksian Edi (gondrong berbaju hitam) yang kaosnya sempat digenggam (bembeng) Munarman. "Gw kenal elu, jangan ikut-ikutan, ini urusan Islam," kata Munarman, kawan-kawannya menggebuki leher dan punggung Edi itu. ternyata antara Edi dan Munarman memang kenal, karena sewaktu di Kontras, Munarman sering membonceng Edi (menumpang).

     

    Setelah selesai semua, dan bertemu dengan polwan, yang meminta dari AKBB bubar (disitu ada Dirut LBH Jakarta- Asfinawati). "Udah bubar aja, mereka itu memang beringas," kata Polwan itu.

    Akhirnya rombongan AKBB menuju galeri nasional. Saya setelah semua kawan-kawan dari Bandung komplit baru menuju Galnas. Setelah sekitar 20 menit di Galnas. Ilma minta kami mengiringi dua bus rombongan Ahmadiyah yang masih berada di stasiun Gambir untuk diantar menuju pinto tol.

     

    Saya dan rombongan Bandung dengan mobil kijang, mencari bis yang dimaksud. Bahkan sempat di sweeping saat melewati, rombongan berbendera FPI, dan lasykar yang sudah bergabung dengan massa HTI dalam isu migas. Mereka mensweeping tiap mobil, jalur di dekat RRI tinggal satu. Melihat saya seorang lasykar FPI, kayaknya dia mengenal tampang saya, langsung memberikan kertas selebaran berjudul Lumat (lima tuntutan umat) SBY-JK, ajakan FUI untuk mogok nasional 5 Juni.

     

    "Mogok, ya bib, 5 Juni ajak yang laen," katanya pada ku yang berada di mobil itu. Di seberang mereka juga tampak demo anti kenaikan BBM dari KasBi yang berbaju merah-merah, cukup rapi (kayaknya temen-temen AKBB harus meniru teman-teman Kasbi, deh!)

     

    Akhirnya ketemu juga bis itu. Ternyata masih ada 20 orang ahmadiyah dari Kuningan yang tercecer. Agar tak lama-lama, dua rombongan dalam bis itu, kami antar ke daerah Galur Senen, dekat pool bis Luragung. Kami balik lagi ke monas, menunggu 20 orang. Tapi yang ditunggu tak datang juga.

     

    Malah yang tampak Nurhidayat (Amir Mujahidin peristiwa Lampung 89), naik motor memakai ikatan kepala warna putih dengan tulisan ijo, entah apa. Karena saat mendekati saya, dia cukup kenal, ikatannya sudah tak ada lagi. Saya bilang menyayangkan cara-cara (teman-teman) melakukan kekerasan, "kan, jadi hilang isu demo nasionalisasi migas asing, HTI."

     

    Nurhidayat juga menyayangkan aksi kekerasan itu, namun dia bilang, "udah lah kita revolusi..revolusi, siap?" Saya hanya menanggapi dengan senyum. Tak lama kemudian Munarman lewat dibonceng motor berbaju hitam, dengan membawa bendera HTI, seperti saat saya memanggil Nurhidayat, saya juga berteriak, "Munarman!" seraya melambaikan tangan memanggilnya. Motornya malah ngebut. Nurhidayat bilang, "Memang hari ini saya ketemu Munarman kelihatannya angkuh, ya, kayak gitu," katanya.

     

    Tak lama kemudian dua mobil elf milik Garis dari Cianjur rombongan Ncep (anaknya Haji Dapet almarhum, yang rumahnya tak jauh dari terminal bis lama Cianjur) -kelompok ini yang menyerang Bukit Karmel di Cipanas, Jawa barat. Waktu menjelang magrib, Nurhidayat pulang, 20 orang Ahmadiyah dipastikan sudah tak akan datang ke Monas atau stasiun Gambir itu. Saya dan rombongan juga bergerak pulang. Galnas udah sepi, ada beberapa mobil di sana.

     

    Kami langsung menuju jalan Bonang, mengecek keadaan teman-teman disana yang ikut rombongan garda. Semua sudah selamat, hanya satu yang tangannya masih bengkak karena dipukul balok kayu oleh orang-orang yang memakai emblem FPI. Teman-teman di Bonang, merasa dendam dengan mereka (FPI).

     

    Saya mengantar teman-teman dari Bandung pulang, karena hari senin mereka mau ujian, yang luka dari Bandung, Narji dan Oplos.

    Lebih kurangnya mohon maaf.

     

    Catatan :
    - FPI tak bisa bilang tak bertanggung jawab, karena di lapangan bendera, dan emblem di pundak para penyerang adalah kebanyakan FPI.
    - Sayang sekali demo HTI tenggelam oleh oknum-oknum yang suka kekerasan, brutal, sehingga isu migas asing tenggelam (jika HTI mengaku tak suka melakukan tindak kekerasan).

     

    Renungan:

    - Kejahatan yang teratur (FPI dan lasykarnya ) bisa mengalahkan (mengobrak-abrik) kebaikan (demo baik-baik akbb) A.T

     

    sumber: The Wahid Institute

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kesaksian Tragedi Monas (2) Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top