Buntet Pesantren, NKRI dan Kearifan Lokal - Buntet Pesantren Buntet Pesantren, NKRI dan Kearifan Lokal - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Saturday, June 21, 2008

    Buntet Pesantren, NKRI dan Kearifan Lokal

    Oleh: M. Zaim Nugroho


    Saya perlu menegaskan kembali di dalam tulisan ini pentingnya waawasan nusantara, dimana dalam nusanatara kita ini mempunyai sebuah warisan yang sangat berharga yakin Pancasila, pertama, karena pancasila merupakan  simbol dari saripati budaya indonesia. Kedua, pancasila merupakan pengejahwantahan dari nilai nilai Islam seperti ketuhanan, persatuan, musyawarah, berprikemanusiaan dan berkeadailan sosial.




    .

    Pancasila memang bukanlah wahyu dari langit. Ia lahir dari jerih payah
    dalam sejarah. Ia tumbuh dari benturan kepentingan, sumbang menyumbang
    gagasan, saling mendengar dalam bersaing dan berumbung. Dengan demikian
    ia mengakui perbedaan manusia dan ketidak sempurnaanya. Ia tak
    menganggap diri doktrin yang maha benar.

    Tetapi justru itulah sebabnya
    saya telah belajar untuk tidak menjadi manusia yang menganggap diri
    maha benar. Oleh karenanya saya tidak ingin indoneisa menganggap
    pancasila sebagai agama. Sebagaimana Indoneisa tidak pernah dan tidak
    hendak mendasarkan dirinya pada suatu agama apapun, tapi justru nilai
    luhur agama –agama yang mengilhami Indonesia.

    Dulu kakek saya adalah pejuang, beliau tergabung dalam pasukan
    Hizbullah untuk melawan tentara Kolonial Belanda, menurut nenek saya,
    beliau pernah ditangkap oleh penjajah Belanda selama dua tahun.
    Perjuangan kakek saya dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik
    Indonesia (NKRI) adalah contoh nyata orang Buntet dalam mempertahankan
    NKRI.

    Setelah NKRI merdeka, hampir semua orang Buntet yang ikut berperang 
    (tergabung dalam pasukan Hizbullah) balik ke Pesantren dan tidak lagi
    aktif dalam perpolitikan maupun ketentaraan, perpolitikan mereka
    diwakili oleh partai Nahdhatul Ulama yang saat itu menjadi Paartai
    Politik setelah sebelumnya bergabung dengan Partai Masyumi.

    Setelah Orde lama Tumbang dan diganti oleh Orde baru perjuangan warga
    Buntet dalam mempertahankan NKRI tidaklah selesai. Meskipun pada awal
    munculnya Orde Baru banyak yang menjadi korban atas kezaliman Suharto
    dan militernya pada waktu itu tetapi perjuagan pesantren tidak selesai.
    Saya pernah mendengarkan Wa Min ( Nyai Min) istri dari Alm. KH. Fuad
    Hasyim, bercerita bahwa  KH. Fuad Hasyim pernah di hadang oleh ribuan
    massa  yang ingin melukai beliau, tapi berkat pertolongan Allah beliau
    selamat.

    Tapi apa sebenarnya  ingin Kyai Buntet Pesantren perjuangkan? Mereka
    berjuang demi Islam, Islam yang damai, Islam yang ala santri dan bukan
    Islam yang keras. Pada waktu awal tahun 80an gerakan Islamisme mulai
    tumbuh, mereka ingin sekali mengganti Pancasila sebagai idiologi dan
    digantikan dengan ideologi Islam. Mereka adalah kelompok kelompok Islam
    Garis keras, sama kerasnya dengan pemerintahan Orde Baru waktu itu.
    Tetapi saat itu salah satu Kyai buntet tidak sepakat dengan ide
    tersebut, terbukti pada Sidang Umum MPR Tahun 1983 KH. Mustamid Abbas
    yang pada saat itu menjabat sebagai anggota MPR dari Fraksi utusan
    golongan menerima Pancasila sebagai Idiologi negara, setahun sebelum
    muktamar NU di Situbondo.

    Semangat yang lebih mememintingkan aspek kemaslahatan ternyata terus
    dipertahankan oleh generasi sesudahnya, yaitu KH. Abdullah Abbas,
    beliau selalu menampilkan wajah Islam yang santun dan sangat menghargai
    perbedaan. Semangat toleransi KH Abdullah Abbas diakui bukan saja oleh
    warga Nahdiyyin tetapi juga oleh komunitas lain. Pada ulang tahun Mas
    Dawam (Dawam Raharjo) yang ke 70 di Auditorium Paramadina, dimana pada
    saat itu saya hadir, saya duduk bersama Rahman seoroang yang dianggap
    Rasul oleh Komunitas Eden. Dia panjang lebar bercerita tentang
    pengalaman Spiritualnya hingga akhirnya dia bercerita tentang KH.
    Abdullah Abbas, baginya KH. Abdullah Abbas merupakan sosok yang Humais,
    dan Toleran, bahkan sang “rasul” tersebut bersama Lia Eden pernah
    melakukan Doa bersama dengan KH. Abdullah Abbas untuk kemaslahatan
    bangsa Indonesia di kediaman beliau di Buntet Pesantren.       

    Pesantren Buntet Budaya dan Kearifan Lokal

    Sejatinya, watak dan karakter pesantren yang apresiatif terhadap
    kebudayaan lokal adalah watak yang damai, ramah dan toleran. Karena
    watak pesantren yang demikian ini, tidak menyuguhkan praktek kekerasan
    (penetracion pacifigure) untuk mendialogkan pesantren dengan kebudayaan
    lokal. Hal ini diambil dari kenyatan historis penyebaran Islam di
    Indonesia yang dilakukan pesantren memunculkan konsekuansi bahwa Islam
    di Indonesia lebih lunak, jinak dan akomodatif terhadap kepercayaan,
    praktek keagamaan, dan tradisi lokal. Nikii Keddie (1987), pengamat
    Timur Tengah, justru memandang karakter inilah yang menjadi kebangggan
    Islam di Indonesia, dan umumnya di kawasan Asia Tenggara.

    Bagi Kalangan Pesantren, Wali songo merupakan tokoh penting  yang
    sangat dihormati karena jasanya menyebarkan Islam di Indonesia melalui
    jalan tengah dan moderat.   Dakwah yang di jalankan Wali Songo adalah
    Dakwah dengan akulturasi budaya, Wali Songo dalam menjalankan Dakwahnya
    sangat menghormati kearifan lokal, Sunan Kali Jaga misalnya,  dalam
    salah satu Dakwahnya adalah melalui media wayang kulit, beliau
    mengganti cerita agama Hindu  dan digantikan dengan cerita Agama Islam.
    Begitu juga dengan wali yang lain.

    Masyarakat Buntet Pesantren sama seperti kaum sarungan yang lain.
    Mereka  melakukan tradisi yang sudah berakulturasi dengan nilai lokal.
    Seperti Tahlilan, ngerujaki, Mangku, Ngupati, Puputan, Mudun lemah,
    Curak, Genjringan, Majluran dan sebagainya. Keaneka ragaman ini adalah
    hasil (Hybrid Culture) dari tradisi budaya Lokal dan Nilai nilai Islam.
    Mereka seterusnya di sebut Islam Pribumi.

    Disini Islam Pribumi tidak digunakan dalam konteks politik, melainkan
    digunakan dalam konteks keagamaan. Yakni, ketika Islam sebagai agama
    diyakini, diekspresikan dan dipraktikkan oleh seluruh lapisan
    masyarakat Buntet Pesantren. Maka, landasan yang dapat dijadikan untuk
    menilai sesuatu sebagai yang asli atau pribumi terletak pada praktik
    beragama masyarakat dalam setiap wilayah yang berbeda-beda, yang sering
    disebut sebagai agama rakyat. Model keberagamaan Islam yang sudah lama
    melekat dalam kehidupan masyarakat Buntet khusunya merupakan watak
    pribumi/asli yang juga dialami oleh masyarakat lainnya.

     Islam Pribumi yang di gagas oleh KH. Abdurahman Wahid patut kita
    lanjutkan kembali untuk menjawab problem radikalisme Islam. Dalam
    “Pribumisasi Islam” tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran yang
    normatif berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang
    berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing.
    Sehingga, tidak ada lagi pemurnian Islam atau proses menyamakan dengan
    praktek keagamaan masyarakat Muslim di Timur Tengah. Bukankah arabisasi
    atau proses mengidentifikasi diri dengan budaya Timur Tengah berarti
    tercabutnya kita dari akar budaya kita sendiri? Dalam hal ini,
    pribumisasi bukan upaya menghindarkan timbulnya perlawanan dari
    kekuatan budaya-budaya setempat, akan tetapi justru agar budaya itu
    tidak hilang. Inti “Pribumisasi Islam” adalah kebutuhan bukan untuk
    menghindari polarisasi antara agama dengan budaya, sebab polarisasi
    demikian memang tidak terhindarkan (Abdurrahman Wahid, 2001).

    Pada konteks selanjutnya, akan tercipta pola-pola keberagamaan (Islam)
    yang sesuai dengan konteks lokalnya, dalam wujud “Islam Pribumi”
    sebagai jawaban dari “Islam Otentitik” atau  “Islam Murni” yang ingin
    melakukan proyek Arabisasi di dalam setiap komunitas Islam di seluruh
    penjuru dunia. “Islam Pribumi” justru memberikan keanekaragaman
    interpretasi dalam praktek kehidupan beragama (Islam) di setiap wilayah
    yang berbeda-beda. Dengan demikian, Islam tidak lagi dipandang secara
    tunggal, melainkan beraneka ragam. Tidak lagi anggapan Islam yang di
    Timur Tengah sebagai Islam yang murni dan paling benar, karena Islam
    sebagai agama mengalami historisitas yang terus berlanjut.

    Ada nasihat yang jarang orang tahu dari KH. Abbas bin KH. Abdul Jamil
    kepada muridnya KH. Ibrohim Hosen. Sewaktu Ibrohim hendak meningalakan
    Buntet, “Fiqih itu Luas, jangan hanya terpaku dengan satu mazhab,
    contoh :menurut Syafi’i, tidak sah nikah kecuali ada wali dan pakai
    saksi. Menurut malik bin Annas, harus pakai wali. Kalau tidak pakai
    saksi, maka cukup dengan I’lan. Menurut Dawud Dzahiri sah nikah
    walaupun tanpa wali dan tanpa saksi.

    Selanjutnya, jika seseorang menggunakan Mazhab Zdhahiri , dan dia
    merahasiakan kepada masyarakat agar tidak di ketahui Qodli. Kalau Qodli
    tahu, maka ia akan bertanya, siapa perempuan itu? Jawab saja “temanku”
    tentu masalahnya selesai. Tentu kalau dijawab bahwa perempuan itu
    “istriku” maka Qodli bertanya lagi “ kapan nikahnya, siapa walinya,
    siapa saksinya ? Dijawab “aku nikah tanpa saksi”. Jika si Qodli
    menyatakan nikahnya “batal” maka batalah pernikahan tersebut, tetapi
    jika tidak ada reaksi dari Qodli tersebut , berarti pernikahan tersebut
    tidak dibatlkanya.” ( Ibrohim Hosen, 1990)

    Pemurnian ajaaran Islam akhir akhir ini sama sekali tidak dapat saya
    terima, karena bagaimanapun juga pemurnian Islam tersebut lebih kepada
    Arabisasi ketimbang perjuagan nilai untuk menegakan nilai nilai Islam
    di bumi nusantara ini.

    Akhirul kalam mari kita kembali kepada kaidah Ushul Fiqih berikut ini. Almuhafadhatu A’la qodimshaalih Wal Ahdu bijaadidil Ashlah (melestariakan sesuatu yang baik dan menggali nilai baru yang lebih baik.)

    Wallahu A’lam bissawab
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Buntet Pesantren, NKRI dan Kearifan Lokal Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top