Bukan Sembarang "Abu" - Buntet Pesantren Bukan Sembarang "Abu" - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Saturday, June 7, 2008

    Bukan Sembarang "Abu"

    Oleh: Muhammad Kurtubi


    SEBAGAIMANA dalam pengertian sehari-hari istilah abu adalah sisa pembakaran. Hasil dari pembakaran kayu atau hasil pembakaran mayat di krematorium. Namun bahasa Arab mengartikan abu adalah ‘ayah’. Seorang ayah berarti disebut Abu. Misalnya Abu Najib berarti ayahnya Najib. Tapi Abu pun bisa untuk penyayang binatang: Abu Hurairah, salah satu sahabat Nabi, artinya bapaknya kucing. Terus kenapa ada nama Abu jadi terorist, seperti Abu Dujana yang dulu ketangkap polisi RI.



    Para sahabat Rasulullah saw banyak yang menggunakan kata Abu sebagai ‘kunyah’. Bagi yang belum akrab dengan bahasa arab mengucapkan kata ‘kunyah’ dengan penggalan kata ‘kun’ dan ‘yah’, bukan ‘kunyah’ seperti mengunyah makanan. Ungkapan ini artinya sebutan atau alias.


    Kebiasaan orang-orang Arab dalam menggunakan alias kini ramai diikuti oleh orang Indonesia. Mungkin maksudnya untuk membuat ciri khas kalau dengan ungkapan “Abu” adalah islami dan alim. Sehingga para kyai dan ulama yang tidak memakai Abu dalam publik, tidaklah alim (pakar agama). Atau bisa jadi untuk membuat ciri khas sebuah golongan atau komunitas. Mereka pun mirip orang-orang Arabia: suka memelihara jenggot, bercelana tidak sampai ke mata kaki bukan pada shalat saja, dan sering berbahasa arab campuran dalam ucapannya: Ana, antum dll. Dua ciri khas ini diklaim sebagai kebiasaan Rasulullah saw. Bahkan tidak bisa dibantah karena memang ada haditsnya, shoheh lagi. Nah loh, jadi bagi yang tidak memelihara jenggot dan bercelana hingga mata kaki tidaklah mengikuti sunnah Rasul saw.



    Pengguna nama “Abu” biasanya bukanlah para santri lulusan pesantren desa. Namun seringkali digunakan oleh “santri kota”. Mereka yang sedari kecil biasa-biasa saja, setelah mengikuti gaya pengajian kota (pesantren kota) berubah drastis dalam sikap dan prilaku keagamaan. Bayangkan seorang lulusan UIN jurusan pendidikan agama bisa kalah berdebat dengan lulusan SMU yang telah menjadi santri kota. Banyak sekali dalil-dalil bombastis yang bisa mengalahkannya. Mereka tiba-tiba saja mahir dalam berargumentasi dan berdebat. Namun sayangnya anak SMU yang berubah jadi Abu itu senangnya hanya berdebat saja. Melawan kemapanan dalam beragama di masyarakat bahkan dalam keluarga sekalipun. Seorang ayah bisa dilawan oleh anaknya gara-gara dianggap salah dalam bergagama. Bahkan berani mengatakan ayahnya akan masuk neraka. Dalil bombastis itu biasanya masalah furuiyah.



    Ternyata pembinaan keagamaan yang prematur dan materi ajaran yang bersifat dogmatis hanya akan membawa kepada suasana tidak akrab dalam komunitas dan keluarga. Akhirnya, karena logika keagamaan yang hanya diikuti atas kemauan dan cara berpikir sendiri dan berdasarkan pola pikir mereka saja mengakibatkan kerawanan dalam masyarakat.



    Jika sudah begini, maka tidak heran jika para Abu yang berkarakter keras dan memiliki keberanian besar, ada yang menjadi penebar teror di masyarakat. Ahirnya, terorisme bukan saja melawan hegemoni dunia yang dianggap tidak adil bagi umat Islam, mereka pun lalu mencoba membela dengan kemampuannya dengan membuat bom dan diledakkan pada komuntias yang dianggap ‘kafirin’. Mereka senang karena dianggap perang suci dan atas nama agama. Apalagi mereka pun berbekal dalil ayat-ayat suci dan dalil teori pengetahuan teknik merakit bom. Jadilah upaya mereka cukup membuat ketakutan di masyarakat.



    Jadi ungkapan Abu memang asli bahasa Arab karenanya banyak berada di Arabia. Kini Abu pun banyak dipakai di Indonsia. Mereka yang berkunyah Abu banyak yang baik, ada yang santun ada yang luas pengetauannya bahkan ada yang menjadi ulama panutan dan akrab dengan siapa saja. Tapi sebagaimana juga di Arabia pada zaman Nabi Muhammad saw, ada Abu Bakar, ada Abu Hurairah dan lain-lain. Mereka menjadi pemimpin dan perawi hadits yang kita ikuti ajarannya hingga kini. Tapi jangan lupa ada pula Abu Jahal sebagai ‘terorist’ bagi umat Islam dan Rasulullah saw yang begitu menampakkan kebencian. Padahal Abu Jahal itu sendiri adalah saudara Rasululalh saw.



    Akhirnya Abu Jahal dari dulu hingga kini genarasinya masih saja bertebaran di mana-mana. Ternyata sesama saudara bisa saling bermusuhan. Penyebabnya sama dari dulu hingga kini. Dulu Abu Jahal tidak suka kepada Nabi Muhammad saw karena menjadi Rasul yang mengajarkan kedamaian. Tapi Abu Jahal punya ajaran ‘kebencian’. Bukankah itu mirip sekali dengan Para “Abu” modern yang menjadi “polisi agama”. Menyalahkan sana-sini dan mencari-cari kesalahan lalu “menilang” nama baiknya. Semua itu berdasar pada anggapan kelemahan orang lain dalam beragama. Tentu mereka berbuat karena merasa memiliki “lisensi” dalil atas kemauan mereka. Kerap pula mengeluarkan kata-kata “kasar” kepada golongan di luarnya. Anehnya itu semua berkaitan dengan ajaran agama. Bukan ajaran ekonomi, sosial, politik atau urusan yang lebih penting dalam memenuhi hajat hidup kemanusiaan di dunia sebagai tanaman akherat.



    Saya, Anda dan siapa saja yang telah mempunyai anak juga disebut ‘Abu’. Sebagaimana ada ‘Abu’ menjadi juru masak, ada pula Abu juru rusak bahkan ada ‘Abu’ yang menjadi juru teror. Jadi benarlah tidak sembarang ‘Abu’ yang bisa membawa kedamaian, ketentraman, atau kerusakan. Ah…. ‘Abu’ hanyalah sebuah nama. Wallahu a’lam.


    Kurtubi, Alumni MANU Buntet Pesantren Cirebon


     

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Bukan Sembarang "Abu" Rating: 5 Reviewed By: Mubarok Hasanuddin
    Scroll to Top