Bid'ah Dimulai Sejak Zaman Rasulullah saw. - Buntet Pesantren Bid'ah Dimulai Sejak Zaman Rasulullah saw. - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Friday, June 13, 2008

    Bid'ah Dimulai Sejak Zaman Rasulullah saw.


    bidah
    ADA beberapa kebiasan yang dilakukan para sahabat berdasarkan ijtihad
    mereka sendiri, dan kebiasaan itu mendapat sambutan baik dari
    Rasulullah SAW. Bahkan pelakunya diberi kabar gembira akan masuk surga,
    mendapatkan rida Allah, diangkat derajatnya oleh Allah, atau dibukakan
    pintu-pintu langit untuknya.



    Misalnya, sebagaimana digambarkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim,
    perbuatan sahabat Bilal yang selalu melakukan shalat dua rakaat setelah
    bersuci. Perbuatan ini disetujui oleh Rasulullah SAW dan pelakunya
    diberi kabar gembira sebagai orang-­orang yang lebih dahulu masuk surga.

    Contoh lain adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tentang
    sahabat Khubaib yang melakukan shalat dua rakaat sebelum beliau dihukum
    mati oleh kaum kafir Quraisy. Kemudian tradisi ini disetujui oleh
    Rasulullah SAW setahun setelah meninggalnya.

    Selain itu, sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Rifa'ah ibn Rafi' bahwa seorang sahabat berkata: "Rabbana lakal hamdu" (Wahai Tuhanku, untuk-Mu segala puja-puji), setelah bangkit dari ruku' dan berkata "Sami'allahu liman hamidah" (Semoga Allah mendengar siapapun yang memuji­Nya). Maka sahabat tersebut diberi kabar gembira oleh Rasulullah SAW.

    Demikian juga, sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Mushannaf Abdur
    Razaq dan Imam An-Nasa'i dari Ibn Umar bahwa seorang sahabat memasuki
    masjid di saat ada shalat jamaah. Ketika dia bergabung ke dalam shaf
    orang yang shalat, sahabat itu berkata: "Allahu Akbar kabira wal hamdulillah katsira wa subhanallahi bukratan wa ashilan"
    (Allah Mahabesar sebesar-besarnya, dan segala puji hanya bagi Allah
    sebanyak-banyaknya, dan Mahasuci Allah di waktu pagi dan petang). Maka
    Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada sahabat tersebut bahwa
    pintu­pintu langit telah dibukakan untuknya.

    Hadis lain yang diriwayatkan oleh At- Tirmidzi bahwa Rifa'ah ibn Rafi' bersin saat shalat, kemudian berkata: "Alhamdulillahi katsiran thayyiban mubarakan 'alayhi kama yuhibbu rabbuna wa yardha" (Segala puji bagi Allah, sebagaimana yang disenangi dan diridai-Nya). Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda: "Ada
    lebih dari tiga puluh malaikat berlomba-lomba, siapa di antara mereka
    yang beruntung ditu­gaskan untuk mengangkat perkataannya itu ke langit
    ."

    Demikian juga hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam
    An-Nasa'i dari beberapa sahabat yang duduk berzikir kepada Allah.
    Mereka mengungkapkan puji-pujian sebagai ungkapan rasa syukur kepada
    Allah karena diberi hidayah masuk Islam, sebagaimana mereka dianugerahi
    nikmat yang sangat besar berupa kebersamaan dengan Rasulullah SAW.
    Melihat tindakan mereka, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Jibril telah memberitahuku bahwa Allah sekarang sedang berbangga-bangga dengan mereka di hadapan para malaikat."

    Dari tindakan Rasulullah SAW yang menerima perbuatan para sahabat tersebut, kita bisa menarik banyak pelajaran sebagai berikut:

    1. Rasulullah SAW tidak akan menolak tindakan yang dibenarkan syariat
    selama para pelakunya berbuat sesuai dengan pranata so sial yang
    berlaku dan membawa manfaat umum. Dengan demikian, perbuatan tersebut
    bisa dianggap sebagai bentuk taqarrub (mendekatkan
    diri) kepada Allah Swt yang bisa dilakukan kapan saja, baik di malam
    maupun siang. Perbuatan ini tidak bisa disebut sebagai perbuatan yang
    makruh, apalagi bid'ah yang sesat.

    2. Orang Islam tidak dipersoalkan karena perbuatan ibadah yang bersifat
    mutlak, yang tidak ditentukan waktunya dan tempatnya oleh syariat.
    Terbukti bahwa Rasulu1lah SAW telah membolehkan Bilal untuk melakukan
    shalat setiap selesai bersuci, sebagaimana menerlma perbuatan Khubaib
    yang shalat dua rakaat sebelum menjalani hukuman mati di tangan kaum
    kafir Quraisy.

    3. Tindakan Nabi SAW yang membolehkan bacaan doa-doa waktu shalat, dan
    redaksinya dibuat sendiri oleh para shahabat, atau juga tindakan beliau
    yang membolehkan dikhususkannya bacaan surat-surat tertentu yang tidak
    secara rutin dibaca oleh beliau pada waktu shalat, tahajjud, juga
    doa-­doa tambahan lain. Itu menunjukkan bahwa semua perbuatan tersebut
    bukanlah bid'ah menurut syariat. Juga tidak bisa disebut sebagai bid'ah
    jika ada yang berdoa pada waktu-waktu yang mustajabah,
    seperti setelah shalat lima waktu, setelah adzan, setelah merapatkan
    barisan (dalam perang), saat turunnya hujan, dan waktu-waktu mustajabah
    lainnya. Begitu juga doa-doa dan puji­-pujian yang disusun oleh para
    ulama dan orang­ orang shalih tidak. bisa disebut sebagai bid'ah.
    Begitu juga zikir-zikir yang kemudian dibaca secara rutin selama isinya
    masih bisa dibenarkan oleh syariat.

    4. Dari persetujuan Nabi SAW terhadap tindakan beberapa sahabat yang
    berkumpul di masjid untuk berzikir dan menyukuri nikmat dan kebaikan
    Al­lah Swt serta untuk membaca Al-Qur'an, dapat disimpulkan bahwa
    tindakan mereka mendapatkan legitimasi syariat, baik yang dilakukan
    dengan suara pelan ataupun dengan suara keras tanpa ada perubahan makna
    dan gangguan. Dan selama tindakan tersebut bersesuaian dengan kebutuhan
    umum dan tidak ada larangan syariat yang ditegaskan terhadapnya, maka
    perbuatan tersebut termasuk bentuk mendekatkan diri kepada Allah, dan
    bukan termasuk bid'ah menurut syariat.

    Dr. Oemar Abdallah Kemel
    Ulama Mesir kelahiran Makkah al-Mukarromah
    (Dari karyanya "Kalimatun Hadi’ah fil Bid’ah" yang diterjemahkan oleh PP Lakpesdam NU dengan "Kenapa Takut Bid’ah?")
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Bid'ah Dimulai Sejak Zaman Rasulullah saw. Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top