Ancaman Serius Islam Radikal - Buntet Pesantren Ancaman Serius Islam Radikal - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Wednesday, June 4, 2008

    Ancaman Serius Islam Radikal

    Oleh: Muhammad Rahman
    Saat kawan saya yang mondok di pesantren Mbah Mun (KH. Maemun Zubeir), Sarang, Jawa Tengah meceritakan bahwa ada seorang kawan yang suka kepada ajaran Islam yang keras.  Namun anehnya santri-santri lain tidak tertarik dengan pola dan gaya santri ini. Namun demikian, santri ini tetap bisa berkawan dan yang lainnya tidak mempermasalahkan.
     
    Kini, saat kehidupan para santri bergaul dengan masyarakat, kita bisa melihat bagaimana masyarakat diluar sana juga banyak yang masih dan senang dengan ajaran islam yang model santri tersebut. Namun demikian, bagi para santri kekerasan yang bersumber dari ajaran keagamaan meruapakan hal yang tidak bisa mengamini.

    Saat dimana perbedaan "harus" diselesaikan dengan kekerasan dan aparat keamanan tidak bertindak tegas terhadap aktornya, maka demokrasi sebenarnya sudah mati. Kekerasan akan berbalas kekerasan. Korban akan berjatuhan, luka atau tewas. Dan, masyarakat akhirnya ada dalam kekacauan. Kekacauan adalah pertanda demokrasi sudah mati.

    Umur demokrasi Indonesia tentu belumlah mati. Ia justru baru hidup setelah masa rezim Orde Baru yang berumur lebih dari 30 tahun. Tapi tanda-tanda kematian demokrasi kita yang baru saja hidup itu mulai nyata. Tindak kekerasan yang dilakukan segerombolan orang dengan teriakan lantang mengagungkan nama Tuhan ("Allahu Akbar") terhadap sejumlah orang yang tengah mengekspresikan pendapat dan sikapnya di Lapangan Monas, Jakarta, merupakan salah satu contoh.

    Belum lagi gerombolan penyerang itu berbaju ala habaib, berbaju putih dan bersorban hijau, sebuah pakaian yang  disenangi oleh Rasulullah saw yang memang Rasulullah saw senang dengan kesucian. Kemudian di baju itu tercetak jelas nama dan lambang sebuah organisasi kemasyarakatan Islam. FPI (Front Pembela Islam).  Semua msayarakat tahu, tindakan kemarin bukanlah kali pertama namun serentetan tindak kekerasan organisasi itu sudah sering kita mendengarnya. Kita bisa melihat, pada hari-hari sebelumnya, anggota organisasi ini juga gemar sekali melakukan tindak kekerasan terhadap fasilitas umum dan milik pribadi dengan dalih memberantas judi dan maksiat.

    Saat kemarin, di Lapangan Monas, Jakarta, tidak saja mobil dirusak rusak, puluhan orang mereka hajar dan dipukuli hingga memar dan berdarah-darah. Tentu saja, mereka yang menjadi korban terpaksa harus dirawat di rumah sakit. Para korban ini adalah mereka yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Para anggota Aliansi ini berdemo secara damai di Monas dan selanjutnya akan diteruskan perjalanannya  ke Bundaran HI dalam rangka mengadakan apel peringatan hari lahir Pancasila, 1 Juni.

    Belum ada kejelasan kenapa FPI menyerang. Dugaan sementara karena sikap Aliansi yang hendak membela dan mempertahankan keberadaan Ahmadiyah, yang sejak 1925 sudah eksis di Indonesia. Kemudian alasan lain, beberapa hari sebelumnya Aliansi memasang iklan dengan judul "Mari Pertahankan Indonesia Kita!" Ditanda-tangani sekitar 300  tokoh dan aktivis dari berbagai kalangan, isi iklan media massa itu antara lain menyinggung soal penganut Ahmadiyah yang mengalami teror oleh sekelompok orang.

    Tentu saja reaksi dari FPI bersama organisasi kemasyarakatan Islam lainnya, seperti Majelis Mujahiddin dan Hizbut Tahrir, KLI  bersikap berbeda dengan Aliansi dalam memandang Ahmadiyah. FPI mengikuti fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak kehadiran Ahmadiyah. Semula tindak kekerasan itu sempat mereka arahkan kepada sebagian penganut Ahmadiyah. Namun kini, terlihat menyerang orang yang membela Ahmadiyah.

    Tindakan tersebut benar-benar mencekam dan menakutkan. Para pengikut Ahmadiyah tentu saja dengan langsung mengalami trauma ketakutan secara langsung bisa dirasakan: Kekerasan dan ancaman. Demikian juga para pembela Ahmadiyah, Pancasila dan pembela keragaman juga merasakan betapa derita itu bisa dirasakan mereka karena adanya ancaman dan bisa menjadi sasaran FPI dan kelompok Islam radikal lain.

    Selama ini barangkali para pengamat dan akademisi juga politisi menganggap bahwa Islam radikal di Indonesia itu bukan sebuah ancaman. Sebuah argumen yang menyebutkan bahwa mereka hanya minoritas, dan tidak punya akses politik formal -- juga mayoritas Islam di Indonesia adalah moderat dan itu ditandai dengan kehadiran Muhammadiyah dan NU yang beranggotakan jutaan – tak bisa lagi dipertahankan. Tindak kekerasan dilakukan mereka ditambah polisi yang tidak tegas bertindak, menjadi bukti nyata bahwa gerakan Islam radikal sudah sampaipada tingkat membahayakan kehidupan bersama dan demokrasi.

    Konon, Islam radikal itu tidak mengenal penyelesaian perbedaan secara damai dan dialogis.  Padahal pernytaan itu menjadi esensi demokrasi. Mereka memanipulasi ajaran Islam yang begitu murni dan anggun serta kaya dengan tradisi dan sejarah pemikiran yang berisikan rahmatan lil-alamin. Di tangan kaum radikal, Islam jadinya cemar, ada darah ada kekerasan, ada pentungan juga mendiskriminasikan kaum perempuan.

    Kita harusnya  sadar bahwa Indonesia bukan negara Islam, apalagi negara Islam radikal. Indonesia adalah negara republik. Didirikan hasil perjuangan ulama, dan pejuang lain pejuang dari banyak suku, ras, dan agama. Indoensia ini juga berdiri atas landasan hukum. Karenanya, polisi sebagai penegak hukum harus memproses para kaum radikal yang dengan tega mengobrak-abrik prinsip demokrasi ini. Setelah itu ajukan ke jaksa agar segera dijatuhi sangsi hukuman .
     
    Saya yakin, teman santri saya yang dari Sarang  itu pastilah tidak bertumbuh menjadi santri yang radikal dalam kehidupan sehari-hari. Karena Islam ala pesantren tetap menerima ajaran yang terkesan keras, namun itu sebatas wacana, dalam tindakan para kyai selalu menasehati agar tidak bertindak kerasa dalam menyikapi perbedaan. Wallahu a'lam.
     
    M. Rahman  Alumni Buntet Pesantren Cirebon.  Tulisan ini adalah pendapat pribadi.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ancaman Serius Islam Radikal Rating: 5 Reviewed By: Mubarok Hasanuddin
    Scroll to Top