Tanggapan Terhadap Doktrin Ulil Abshar Abdalla - Buntet Pesantren Tanggapan Terhadap Doktrin Ulil Abshar Abdalla - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Sunday, May 4, 2008

    Tanggapan Terhadap Doktrin Ulil Abshar Abdalla


    Oleh KH. Afifuddin Muhajir

    Setidaknya
    ada tiga hal yang mendorong saya untuk menanggapi tulisan saudara Ulil
    Abshar Abdalla tentang doktrin-doktrin agama yang menurutnya kurang
    perlu atau tidak perlu sama sekali :

    1. Husnud dzan saya kepada saudara Ulil bahwa dia bukan orang yang keras kepala yang enggan menerima kebenaran.

    2. Ketidakpercayaan saya pada anggapan sebagian orang bahwa Ulil telah sinting.

    3. Keyakinan saya bahwa Ulil tidak akan berani berseberangan dengan tuhan.

    Saya
    yakin bahwa saudara Ulil masih meyakini shalat, zakat, dan haji sebagai
    perintah Allah yang wajib dilaksanakan dan saya yakin pula bahwa ketika
    berhaji dia juga ikut thawaf, sa'i dan melontar jumrah, meski pasti
    bukan karena telah memahami maksud-maksudnya, melainkan karena meyakini
    itu sebagai perintah Tuhan. Tentu bukan hanya seorang Ulil, orang yang
    paling jenius pun asal dia muslim pasti tunduk melakukan
    amaliah-amaliah ritual seperti itu dan tidak akan pernah berfikir untuk
    menghapusnya dengan alasan tidak perlu atau tidak relevan. Memang itu
    ibadah ritual yang berbasis ketundukan dan kepasrahan kepada yang maha
    kuasa. Tetapi bukankah semua amaliah yang kita lakukan dalam kerangka
    agama harus berbingkai ketundukan dan kepasrahan, karena esensi dari
    keberagamaan adalah ketundukan dan kepasrahan itu. Saya melihat ada
    orang yang salah paham dalam soal ini dan yang pertama kali salah paham
    adalah Iblis ketika diperintah oleh Allah swt agar sujud kepada Nabi
    Adam as. Karena pemahamannya yang salah, Iblis merasa tidak pantas
    bersujud kepada Nabi Adam as. Padahal sujud kepada siapapun asal Allah
    yang menyuruh pada hakikatnya adalah bersujud kepada Allah.

    Apakah
    saudara Ulil termasuk yang salah paham atau justru saya yang salah
    paham? Untuk itu, perlu membaca tulisan saudara Ulil tentang beberapa
    hal dalam Islam yang menurutnya tidak perlu, berikut tanggapannya
    sebagai berikut :

    Satu, doktrin 'ishmah al-nubuwwah (bahwa Nabi
    tidak bisa berbuat salah). Istilah Nabi ma'shum tidak bermakna Nabi
    tidak bisa berbuat salah, ia lebih tepat bermakna Nabi tidak pernah
    dibiarkan berbuat salah, karena pernah beberapa kali Nabi mendapat
    teguran dari Allah. Ini berarti bahwa semua yang keluar dari Nabi
    selama tidak ditegur oleh Allah berarti benar.

    Doktrin 'ishmah
    al-nubuwwah ini lahir dari ayat-ayat al-Qur'an yang berisi perintah
    kepada kaum muslimin untuk mengikuti Nabi, menta'atinya dan ber-uswah
    kepadanya tanpa ada qayid (tanpa catatan) bila benar. Tentu ini bukan
    dalam hal-hal yang bersifat duniawi semisal cara menanam pohon yang
    baik, taktik dan strategi perang dan sebagainya. Sebab, dalam persoalan
    ini, Nabi bersabda, "Kamu lebih tahu dengan urusan duniamu" (HR. Imam
    Muslim). Mengatakan bahwa doktrin 'ishmah al-nubuwwah tidak perlu, sama
    halnya dengan mengatakan bahwa mengikuti dan meneladani Nabi tidak
    perlu, karena apa perlunya kita mengikuti dan meneladani Nabi bila
    beliau sendiri belum tentu benar, kecuali jika ukuran benar dan salah
    kita sendiri yang membuatnya.

    Dua, doktrin tentang sumber hukum.

    Anggapan
    bahwa Ahlussunnah membatasi sumber hukum hanya pada empat ; al-Qur'an,
    hadits, ijma', dan qiyas adalah tidak benar. Entah dari mana saudara
    Ulil memperoleh informasi tentang hal ini, karena banyak sumber selain
    dari yang empat tersebut yang juga menjadi acuan kalangan Ahlussunnah,
    seperti istihsan, maslahah mursalah, 'urf dan seterusnya. Yang dikenal
    membatasi sumber hukum pada empat ini adalah Imam Syafi'i yang tidak
    selalu identik dengan al-Syafi'iyah (ulama pengikut madzhab Syafi'i).
    Menurut saya, pembatasan pada sumber-sumber terkenal tersebut sangat
    logis karena hukum yang kita maksudkan adalah hukum Islam yang sering
    disebut dengan "hukum Allah", yaitu hukum yang diyakini atau diduga
    kuat sebagai hukum Allah yang mempunyai konsekuensi tsawab dan 'iqab di
    akhirat. Bagi kalangan Ahlussunnah, hukum Allah hanya bisa diambil dari
    wahyu Allah (al-Qur'an dan hadits) atau sumber-sumber lain yang
    diyakini mendapat mandat dari wahyu Allah, seperti ijma' dan qiyas.

    Rasa
    husnudz dzan saya yang sangat tinggi pada Imam Abu Hanifah, Imam Malik,
    Imam Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain membuat saya tidak
    ragu sama sekali akan integritas dan obyektifitas mereka. Justru saya
    ragu akan obyektifitas saudara Ulil yang telah menuduh mereka sebagai
    alat ortodoksi Islam untuk mempertahankan status quo.

    Tiga, doktrin inqitha' al-nubuwwah (bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman).

    Saya
    pikir kita tidak berhak menentukan bahwa setelah Nabi Muhammad akan ada
    Nabi lagi atau tidak, karena ini adalah hak prerogatif Tuhan. Rasanya
    kita sangat su'ul adab kepada Tuhan kalau sampai ikut campur dalam
    urusan ini, sama su'ul adab -nya dengan mengatakan bahwa Allah swt
    perlu mengutus utusan di atas bumi ini atau mengatakan sebaliknya,
    yakni Allah tidak perlu mengutus utusan. Kalau kita mengatakan perlu,
    seolah-olah kita ragu akan ke-mahakuasa-an Allah menciptakan
    kemaslahatan di atas bumi tanpa kehadiran seorang utusan. Menyatakan
    tidak perlu berarti kita menyalahkan Tuhan yang telah banyak mengutus
    utusan. Maka, seharusnya urusan ini kita serahkan saja kepada kebijakan
    Tuhan. Dengan acuan nash al-Qur'an dan hadits, sampai saat ini kaum
    muslimin berkeyakinan bahwa kebijakan Tuhan dalam soal ini adalah
    inqitha' al-nubuwwah. (Tidak adanya Nabi setelah Rasulullah Muhammad
    SAW)

    Empat, doktrin nasikh-mansukh atau tashhih mentashhih antar agama.

    Seharusnya
    kita tidak perlu ambil pusing dengan persoalan nasikh-mansukh atau
    tashhih mentashhih antar agama, karena kita hanya sebagai pemeluk
    agama. Agama yang kita anut bukan kita yang membuatnya dan
    doktrin-doktrinnya pun bukan kita yang merumuskan. Jika pemeluk suatu
    agama percaya bahwa agama yang mereka anut telah menghapus agama-agama
    yang lain tentu karena kitab suci yang mereka yakini datang dari Tuhan
    telah mengatakan demikian dan pasti mereka tidak berani menganulirnya.
    Selain itu, kepercayaan demikian merupakan perwujudan dari keyakinan
    mereka yang sangat kuat terhadap kebenaran agama mereka. Dan hal itu
    sah-sah saja bahkan sangat positif. Yang tidak sah adalah melakukan
    tindak kekerasan dan arogansi atas nama agama baik secara fisik maupun
    psikis. Tukar menukar pengalaman dan saling belajar di antara para
    pemeluk agama tidak dilarang, bahkan perlu. Yang dilarang adalah tukar
    menukar prinsip dan mengorbankan substansi keberagamaan yakni
    ketundukan dan kepasrahan pada ketentuan Tuhan.

    Al-Qur'an
    sebagai kitab suci agama Islam di antara doktrinnya menyatakan bahwa
    Nabi Muhammad SAW diutus sebagai pembenar terhadap rasul-rasul Allah
    sebelumnya dan al-Qur'an diturunkan sebagai pembenar terhadap
    kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelumnya. Jadi, al-Qur'an tidak
    menghapus prinsip-prinsip ajaran kitab Taurat dan kitab Injil maupun
    kitab-kitab Allah yang lain. Hanya saja, Allah melalui al-Qur'an
    menyuruh para penganut kitab Taurat (Yahudi), penganut kitab Injil
    (Nasrani) dan yang lain agar melengkapi iman mereka dengan beriman
    kepada Nabi Muhammad dan al-Qur'annya.

    Lima, doktrin bahwa kesalehan ritual lebih unggul ketimbang kesalehan sosial.

    Saya
    sendiri tidak setuju dengan doktrin bahwa kesalehan ritual lebih unggul
    dari pada kesalehan sosial. Akan tetapi, saya setuju dengan orang yang
    mengatakan bahwa orang yang saleh secara ritual pasti saleh secara
    sosial. Ini berangkat dari doktrin lain bahwa ibadah shalat dan
    ibadah-ibadah ritual yang lain bila dilakukan dengan ikhlas, khusyu',
    dan khudlu' di hadapan al-ma'bud pasti melahirkan kepekaan sosial,
    kerendahan hati, dan kasih sayang terhadap sesama serta menghilangkan
    sifat-sifat tercela, seperti kikir, egoisme, sombong, dan sebagainya.
    Sedang apa yang kita lihat selama ini boleh jadi hanya merupakan format
    kesalehan bukan hakikat kesalehan.

    Enam, doktrin bahwa orang yang mengikuti agama lain adalah kafir.

    Sampai
    saat ini, hampir semua kaum muslimin –kalau tidak menyatakan semuanya-
    meyakini Islam sebagai satu-satunya jalan mencari selamat dan bahwa
    mereka yang berada di luar Islam adalah kafir, karena memang sampai
    saat ini pembagian agama bersifat dikotomis (tsuna'i) yakni Islam dan
    kufr . Tidak ada agama yang bukan Islam dan bukan kufr. Keyakinan di
    atas tertanam begitu kuat di dalam hati kaum muslimin secara idlthirari
    bukan ikhtiyari . Artinya, keyakinan itu lahir bukan karena mereka
    sengaja memilih keyakinan seperti itu, akan tetapi karena dasar-dasar
    yang menjadi acuannya begitu terang benderang sehingga sangat mudah
    menggiring lahirnya pemahaman dan keyakinan tersebut. Keyakinan
    seseorang bahwa agama lain itu salah merupakan konsekuensi logis dari
    keyakinan bahwa agamanya sendiri yang benar. Merupakan suatu hal yang
    tidak mungkin memadukann antara dua keyakinan; di satu sisi meyakini
    bahwa kerasulan Muhammad kepada seluruh alam itu haq, di sisi lain
    meyakini kebenaran agama lain yang mengingkari kerasulan Muhammad itu.

    Tujuh, tentang klaim sekte tertentu dalam lingkaran suatu agama sebagai kelompok yang benar atau al-firqah al-najiyah.

    Kita
    sepakat bahwa ajaran tawadlu' harus ditanamkan, Sikap arogan harus
    dicegah dan klaim bahwa diri sendiri pasti masuk surga sedang orang
    lain pasti masuk neraka harus dihilangkan. Sebab, kehidupan ini
    berubah-ubah. Orang lain yang sekarang dianggap sesat, boleh jadi
    beberapa saat sebelum mati mendapat hidayah. Sedangkan diri sendiri
    yang sekarang sedang merasa dalam hidayah tidak mustahil beberapa saat
    sebelum meninggal berubah menjadi orang sesat.

    Ajaran tawadlu'
    perlu dikembangkan dalam bentuk penekanan sikap toleransi menghadapi
    kelompok lain yang dianggap bermasalah atau salah dan tentu bukan
    dengan cara mengajak orang untuk menjustifikasi agama lain atau faham
    lain yang diyakini tidak benar, karena ini bukan kerendahan hati tapi
    ketololan.

    Delapan, doktrin bahwa jika kitab suci mengatakan A, maka usaha rasional harus berhenti.

    Yang
    hendak saya katakan di sini ialah bahwa kaidah 'la ijtihada fi mahal
    al-nassh' bukan firman Allah dan bukan sabda Nabi. Oleh sebab itu,
    mempunyai potensi untuk diterima atau ditolak. Para ulama yang menerima
    kaidah tersebut tidak satu kata tentang apa yang dimaksud dengan
    'nassh' itu. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah
    nassh sebagai lawan dari dhahir. Jadi, berarti teks al-Qur'an dan
    hadits yang mono-tafsir semisal Qul Huwa Allahu Ahad dan Muhammadun
    Rasulullah. Bahkan, pada nash-nash yang dianggap mono-tafsir pun ada
    ruang untuk berijtihad dan berdiskusi, yaitu menyangkut hal-hal yang
    bersifat amaliyah waqi'iyah tarikhiyah dalam konteks aplikasinya di
    tengah-tengah kehidupan. Tentang bahwa firman Allah tidak mungkin salah
    pasti kita semua sepakat termasuk saudara Ulil sendiri tentunya. Yang
    mungkin salah adalah penafsiran dan penerapannya. Bila dalam kondisi
    tertentu ada firman Tuhan yang menurut nalar manusia berat untuk
    diaplikasikan secara lafdhan wa ma'nan tidak boleh dipahami bahwa
    firman itu bergeser dari benar menjadi salah, karena kehidupan ini
    berputar bagikan roda. Kondisi yang kini kurang kondusif, pada saatnya
    nanti akan kembali kondusif.

    Sembilan, doktrin bahwa hukum hanya bisa dibuat oleh syari' (Tuhan).

    Dalam
    Islam, aturan hukum dimaksudkan bukan semata-mata untuk mewujudkan
    ketertiban di muka bumi. Justru yang paling utama adalah untuk menguji
    ketaatan manusia pada aturan tuhannya. Perlu diingat bahwa status yang
    tidak pernah lepas dari manusia selain sebagai khalifatullah adalah
    statusnya sebagai abdullah (hamba Allah). Deklarasi al-Qur'an tentang
    kedudukan manusia sebagai hamba tidak kalah jelas dari deklarasinya
    tentang kedudukan manusia sebagai khalifah. Tentu, penghambaan manusia
    secara total kepada Tuhannya, bukan hanya dalam bentuk amaliah ritual
    seperti shalat dan puasa, melainkan juga dalam bentuk ketaatan pada
    aturan-aturan hukumnya. Ini artinya bahwa dalam melaksanakan tugas
    kekhalifahan, manusia tidak boleh lepas dari aturan-aturan yang
    ditentukan sendiri oleh Allah dan harus menjadikan seluruh amal
    salehnya semata-mata karena Allah, bukan karena manusia atau karena
    yang lain agar tidak menjadi hamba manusia atau hamba yang lain. Kalau
    kita wajib taat kepada orang tua atau negara misalnya itu karena
    diperintahkan oleh Allah.

    Sepuluh, doktrin bahwa kitab suci seluruhnya bersifat supra historis.

    Perbincangan
    tentang apakah kitab suci bersifat supra sejarah atau tidak secara
    substansial identik dengan perdebatan sengit yang terjadi pada masa
    klasik, yaitu apakah al-Qur'an itu qadim atau hadits? Apa material atau
    immaterial? Apakah hukum-hukum yang terkandung di dalamnya Mu'allal
    atau tidak? Dan kalau mu'allal apa yang dimaksud dengan 'illat itu?
    Sebagai kalam ide, firman Allah seluruhnya bersifat supra sejarah dan
    secara potensial bisa diamalkan di tengah-tengah kehidupan. Sedang
    dalam tataran penafsiran dan pengamalan secara riil terdapat
    bagian-bagian firman Allah yang lengket dengan sejarah. Berhubung
    kehidupan ini berputar sebagaimana saya katakan di depan, maka dalam
    menafsiri kitab suci yang lengket dengan sejarah berlaku mekanisme
    buruz (lahirnya makna) dan kumun (tersembunyinya makna). Sedang dalam
    pengamalan secara riil berlaku konsep tanfidz (melaksanakan) dan waqf
    al-tanfidz (menghentikan pelaksanaan sementara). Konsep azimah dan
    rukhshah yang terkenal dalam ushul fiqh sangat terkait dengan persoalan
    ini.

    Sebelas, doktrin bahwa Islam bisa menjawab atau menyelesaikan semua masalah.

    Islam
    sangat potensial untuk dapat menyelesaikan semua masalah. Secara riil
    belum tentu. Tetapi, yang jelas melaksanakan petunjuk-petunjuk Islam
    merupakan suatu prestasi yang mempunyai nilai tersendiri di hadapan
    Tuhan. Perkara bisa atau tidak bisa menyelesaikan persoalan keduniaan
    adalah soal lain. Ibarat sebuah perjuangan, ada kalanya sukses, ada
    kalanya gagal. Bila gagal, belum tentu karena petunjuk dan aturan
    mainnya salah atau jelek. Sangat boleh jadi karena terbatasnya
    kemampuan manusia yang hanya bisa melakukan sebab, tetapi tidak kuasa
    menciptakan akibat.

    ^ Kembali ke atas

    Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1342
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Tanggapan Terhadap Doktrin Ulil Abshar Abdalla Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top