Pergulatan Intelektual Al Ghozali - Buntet Pesantren Pergulatan Intelektual Al Ghozali - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Saturday, May 31, 2008

    Pergulatan Intelektual Al Ghozali




    Munkidz


    al-Munqidz min al-Dhalal



    Pergulatan Intlektual Imam al-Ghazali



    o l e h  Jamaluddin Mohammad


    Jika
    kita mau menengok kembali perjalanan sejarah umat manusia, kita akan
    mendapati banyak sekali pergolakan, pertentangan, dan perebutan (atas
    nama) “kebenaran”. Kebenaran seolah-olah tidak cukup hanya untuk
    dipeluk dan diyakini, melainkan harus dipertaruhkan, dikukuhkan,
    dikontestasikan, dan selanjutnya dijadikan alat kekuasaan.




    Sehingga
    seringkali “atas nama” kebenaran segalanya harus dibayar dengan darah,
    nyawa, bahkan tidak jarang berakhir dengan perang terbuka. Al-Hallaj,
    seorang sufi dari Persia, harus rela mati di tiang gantungan hanya
    untuk mempertahankan doktrin hulul (bersemayamnya lahut di dalam nasut).
    Syekh Siti Jenar diadili dan dieksekusi mati Wali Songo gara-gara
    mengajarkan doktrin wihdat al-wujud (manunggaling kaula ing gusti) yang
    dianggap “sesat” dan “menyesatkan”.






    Ini adalah fakta sejarah
    betapa “kebenaran” bisa tampil dalam berbagai warna dan bentuk.
    Bergantung pada siapa dan demi kepentingan apa ia (di)hadir(kan). Pada
    kenyataannya, kebenaran tidaklah bebas dari kepentingan dan kekuasaan.
    Ia akan selamanya dipertaruhkan dan diperebutkan umat manusia.
    Pertaruhan dan perebutan itu tidak selamanya terjadi dalam medan
    terbuka. Terkadang ia muncul dan bergolak dalam ruang batin atau
    psikologi seseorang.






    Salah
    satunya pernah dialami Imam al-Ghazali. Beliau pernah menderita semacam
    “gejolak kejiwaan” pada saat beliau mencoba menelusuri “hakikat
    kebenaran” (hakikah al-umur) dan “kebenaran sejati” (al-ilm al-yaqin).
    Dalam pencariannya itu al-Ghazali mempelajari, mengkaji dan
    memverifikasi segenap ilmu pengetahuan yang ada pada saat itu, seperti
    ilmu kalam (teologi), fiqh, filsafat, dan tasawuf, berikut
    cabang-cabangnya.






    Pengalaman eksistensial al-Ghazali dalam
    mencari dan mnyusuri “kebenaran” terekam jelas di dalam kitabnya
    “al-Munqidz min al-Dhalal”. Dari awal-awal tulisannya itu, kita sudah
    bisa mencium aroma kegelisahan al-Ghazali. Yang pasti, kata al-Ghazali,
    kebenaran harus dicari, dan terus dicari sampai dalam waktu yang tak
    berbatas. Kebenaran sejati tidak tersaji dalam tulisan, ucapan atau
    pendapat orang. Kebenaran bersifat pribadi (subjektif), sehingga harus
    didekati secara pribadi pula.





    Sekilas tentang al-Ghazali





    Abu
    Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali lahir di Thus,
    salah satu daerah di Khurosan, Iran pada 450 H/1058 M. Sejak kecil ia
    belajar ilmu fiqh pada Imam Ahmad bin Muhammad al-Radzikani, kemudian
    pindah ke Jurjan untuk nyantri pada Imam Abi Nasr al-Isma’ily.






    Setelah
    itu, al-Ghazali pindah ke Naisabur, belajar pada Imam Haramain
    al-Juwaini. Di sini ia mulai mengenal tasawuf dan filsafat. Setelah
    Juwaini tutup usia pada 477, tujuh tahun berikutnya al-Ghazali pergi ke
    Irak, mengajar di Madrasah Nidzamiyyah. Di madrasah milik Wazir Nidzam
    al-Mulk (1018-1018 M) inilah popularitas dan kapasitas keilmuan
    al-Ghazali mulai diperhitungkan banyak orang. (Ihya, juz 1/3)






    Karir
    intelektual al-Ghazali semakin menunjukkan kematangannya setelah ia
    banyak menulis tentang fiqh, teologi, filsafat dan tasawuf. Ia
    tergolong ulama yang sangat produktif. Menurut Ibnu Qadli Syuhbah
    al-Dimsyiqi, pengarang kitab “Thabaqat al-syafiiyyah”, ada sekitar 60
    kitab yang ditulis al-Ghazali. Sementara Imam Zubaidi menyebut ada
    sekitar 80 kitab dan risalah yang dikarang al-Ghazali.






    Ketika usianya mulai beranjak senja, Al-Ghazali pulang ke tanah kelahirannya, sampai beliau wafat pada 505 H/1111 M.





    Pintu kegelisahan al-Ghazali





    Kitab
    al-Munqiz min al-Dhalal merekam jelas kegelisahan al-Ghazali selama
    pengembaraan intelektualnya. Dalam kitab ini, al-Ghazali menceritakan
    dengan jujur bahwa proses pencarian “kebenaran” tidaklah semudah apa
    yang dibayangkan orang. Ia butuh pengorbanan, keberanian, kejujuran
    serta kesungguhan.





    Sedari
    kecil al-Ghazali selalu gelisah dan sering mempertanyakan segala
    sesuatu. Sampai-sampai ia harus melepaskan segenap belenggu taklid
    (budaya mem-bebek) dan meremukkan benteng keyakinan (aqidah) yang ia
    terima sejak kecil. (hal. 25)





    Kesadaran seperti ini timbul
    setelah ia sama sekali tidak melihat perubahan apa-apa pada anak-anak
    orang Nasrani maupun Yahudi. Mereka akan selamanya tumbuh menjadi
    Nasrani maupun Yahudi, dan seterusnya. Sebagaimana yang disetir oleh
    hadits Nabi SAW: “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Orang
    tuanyalah (Bapak) yang telah menjadikan ia Yahudi, Nasrani dan Majusi”.






    Oleh
    karena itu, tergerak dalam hati al-Ghazali untuk melakukan
    lompatan-lompatan dan pilihan-pilihan sendiri; berdasarkan pencarian
    dan upaya pribadi. Al-Ghazali pernah menceburkan diri menjadi pengikut
    batiniyyah (salah satu sekte syiah paling ektrem dan radikal), menjadi
    seorang teolog (mutakallimun), mempelajari segenap ilmu-ilmu filsafat,
    dan pada akhirnya kepincut dengan tasawuf. (hal. 25)







    Epistemologi al-Ghazali





    Sebelum
    kita menelisik lebih jauh isi kitab al-Munqidz min al-Dhalal, alangkah
    baiknya kita paparkan terlebih dahulu epistemologi al-Ghazali. Ini
    penting, sebab epistemologi ibarat pintu masuk untuk mengetahui
    paradigma berpikir (gugusan pemikiran) seseorang. Dengan menyusuri
    epistemologi seseorang, kita akan lebih mudah membaca alur pikir atau
    sistematika pemikiran orang dari awal sampai akhir.





    Epistemologi
    berasal dari kata episteme (pengetahuan, ilmu pengetahuan) dan logos
    (informasi). Secara sederhana epistemologi berarti “teori pengetahuan”
    atau “pengetahuan tentang pengetahuan”. (Lorens Bagus, Kamus Filsafat,
    hal.. 212)




    Epistemologi melahirkan beragam metode dan
    pendekatan. Yang paling masyhur adalah empirisme dan rasionalisme.
    Selain kedua pendekatan itu, dalam filsafat Islam ditambahkan lagi
    dengan pendekatan intuitif (irfani). Yang terakhir inilah yang
    digunakan oleh al-Ghazali.




    Seperti
    yang dituturkan sendiri oleh al-Ghazali, pada awalnya ia mendasarkan
    pengetahuannya pada empirisme (hissiyyat). Ia sebetulnya ragu dengan
    metode ini: apakah dengan bersandarkan pada empirisme ia akan
    memperoleh keyakinan? Dari sini al-Ghazali mulai melakukan pengujian.
    (hal. 27)




    Pertama-tama ia menguji validitas data-data indrawai
    (data-data empirikal). Semisal, data yang diterima mata. Mata kita
    seringkali melihat bintang-bintang di atas langit. Menurut penglihatan
    kita, bintang-bintang itu terlihat kecil, sekecil uang logam. Tetapi,
    berdasarkan ilmu geometri, ternyata bintang-bintang itu jauh lebih
    besar dibanding bumi.




    Ternyata, pada faktanya, data-data yang
    diterima oleh indera sering kali menipu, bertolak belakang dengan fakta
    sesungguhnya, sebagaimana pada contoh di atas. Dari sini al-Ghazali
    berpindah pada pendekatan rasionalisme. Menurut penganut rasionalisme,
    satu-satunya pengetahuan yang absah dan dapat dipercaya adalah
    pengetahuan yang dihasilkan akal (rasional).




    Contohnya,
    bilangan 10 pasti lebih besar dari bilangan 3. Ada dan tiada tidak
    mungkin bertemu dalam satu waktu, begitu juga qadim (lampau/kekal) dan
    hadits (baru) tidak mungkin dilekatkan pada sesuatu dalam waktu
    bersamaan, dan seterusnya. Ini adalah contoh-contoh pengetahuan yang
    didapatkan oleh akal. Bukankan pengetahuan rasional lebih diterima
    daripada pengetahuan empiris?




    Namun, penganut empirisme pasti
    akan menyangkal lagi dan mencoba memberikan keyakinan: berdasarkan
    alasan apa sehingga kita merasa yakin bahwa akal lebih valid dibanding
    pengalaman? Bukankan apa-apa yang kita cerap dari indera jauh lebih
    riil dan nyata dibanding pengetahuan akal yang masih bersifat abstrak?




    Empirisme
    dan rasionalisme selamanya akan berperang dan saling menyalahkan.
    Keduanya tidak dapat bertemu dan dipertemukan. Nah, pada saat terjadi
    kebuntuan antara pilihan rasional dan empirikal, al-Ghazali justeru
    berpaling dari keduanya dan menaruh kepercayaan pada pengetahuan
    intuitif (mukasyafah). Menurut al-Ghazali, dengan pengetahuan intuitif
    seseorang akan sampai kepada “kebenaran sejati”.




    Untuk
    meyakinkan bahwa pengetahuan intuitif benar-benar ada al-Ghazali
    mengilustrasikan dengan pengalaman mimpi. Ketika kita bermimpi, kata
    al-Ghazali, kita betul-betul merasakan, meyakini, dan mengimajinasikan
    sebuah kenyataan (kejadian) diluar kenyataan indrawi.





    Namun,
    begitu kita terjaga, pengalaman mimpi itu lenyap begitu saja, tanpa
    kita jumpai lagi dalam alam sadar. Dengan kata lain,
    pengalaman-pengalaman bawah sadar /ketidaksadaran itu tidak
    berkorespondensi (berkesesuaian) dengan akal maupun pengalaman indrawi.
    Kendatipun demikian, mimpi itu riil dan keberadaannya sulit dibantah.






    Ini juga sebetulnya sering
    dialami oleh kita, baik dalam keadaan sadar sekalipun. Coba bayangkan,
    apakah Anda yakin bahwa apapun yang Anda lakukan saat ini memiliki
    landasan rasional maupun empirikal? Semisal, ketika Anda duduk dan
    membaca, apakah Anda betul-betul sedang duduk dan membaca? Bisa jadi
    Anda sebetulnya sedang bermimpi, menggigau, atau dalam keadaan terjaga
    tetapi pikiran Anda melayang kemana-mana sehingga Anda sendiri tidak
    tahu apa sebetulnya yang Anda kerjakan saat ini?






    Berangkat dari
    pendekatan intuitif inilah al-Ghazali membangun segenap gagasan dan
    pemikirannya. Sehingga, tak pelak lagi, al-Ghazali membombardir
    teologi, penganut aliran Batiniyyah, filsafat. Karena kesemuanya
    bersendikan pada rasionalisme atau empirisme. Nah, di dalam kitabnya
    ini (al-Munqidz min al-Dhalal) al-Ghazali mengkritik habis-habisan
    Teologi, Madzhab Ta’limy (aliran Batiniyyah), dan Filsafat.





    Teologi (ilmu Tauhid)





    Al-Ghazali
    sebetulnya tertarik dengan disiplin ilmu ini. Bahkan ia sendiri sempat
    menulis buku tentang Teologi. Namun, sebagaimana pengakuan al-Ghazali
    sendiri, bahwa ia tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari Teologi,
    kecuali manfaat itu kembali pada teologi itu sendiri. (hal. 35)






    Sebab,
    pada perkembangan selanjutnya, disiplin ilmu Teologi sudah tidak lagi
    terfokus pada wilayah kajiannya; pembahasannya terlalu melebar
    kemana-mana; dan mulai melenceng dari tujuan.






    Padahal, kata
    al-Ghazali, tujuan ilmu Teologi adalah menjaga dan membentengi akidah
    ahlussunah wal jama’ah dari pengaruh ahli bid’ah (hifdzu aqidah
    ahlussunah wa hirasatuha an tasywisi ahli al-bid’ah). Sebab, Allah SWT
    melalui lisan rasul sudah menyampaikan akidah yang benar demi
    kemaslahatan dunia maupun akhirat (agama). Hanya saja, akidah itu
    kemudian tercemari oleh kehadiran ahli bid’ah. Dalam konteks ini,
    Teologi muncul untuk memurnikan kembali akidah yang sudah tercemar itu,
    mengembalikan pada asalnya.






    Tetapi,
    yang terjadi justeru tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dan
    dicita-citakan. Wacana yang dikembangkan dalam teologi malah
    bertitik-tolak dari dasar pikiran/asumsi/hipotesis (muqaddimat) lawan.
    Disamping itu, para Teolog (mutakallimun) lebih banyak berapologi
    menanggapi tuduhan-tuduhan lawan, ketimbang membicarakan esensi Teologi
    itu sendiri.






    Pada akhirnya para Teolog tidak lagi membela
    sunnah, malah tenggelam pada pembahasan tentang dzat/substansi
    (al-jauhar), sifat/aksiden (‘arad), dan sebagainya. Hal ini, kata
    al-Ghazali, yang menyebabkan teologi melenceng jauh dari tujuan
    mulianya (ghayah al-quswa). Dengan sangat kecewa al-Ghazali akhirnya
    tidak begitu suka dengan ilmu ini. “falam yakun al-kalam fi haqqy
    kaafiyan. Wala lidaai alladzi kuntu asykuuhu syafiyan” (bagiku, ilmu
    kalam tidak mencukupi. Ia tidak dapat menyembuhkan penyakit
    keragu-raguanku), kata al-Ghazali.





    Filasafat





    Al-Ghazali
    belajar dan mendalami filsafat kurang lebih selama dua tahun. Ia banyak
    membaca kitab-kitab filsafat yang dikarang filsuf muslim pada waktu
    itu. Dari hasil bacaannya itu, al-Ghazali menyimpulkan ada tiga madzhab
    besar dalam filsafat: (1) al-dahriyyun, (2) thabiiyyun, dan (3)
    ilahiyyun. (hal 37)






    Pertama, al-dahriyyun (atheisme). Ia merujuk
    pada aliran filsafat kuno yang tidak mempercayai adanya Tuhan. Menurut
    aliran ini, kehidupan dunia ada dengan sendirinya melalui proses alam.
    Manusia tercipta dari sperma, begitu juga sebaliknya. Proses alam akan
    terus berjalan sesuai dengan hukumnya. Dan terus berjalan tanpa
    mengenal akhir.






    Kedua, thabiiyyun (naturalisme). Aliran filsafat
    yang lebih banyak membahas gejala dan perubahan materi; fenomena alam
    berikut makhluk hidup dan tumbuh-tumbuhan. Objek penelitiannya lebih
    banyak dicurahkan untuk memahami struktur tubuh mahkluk hidup. Aliran
    ini masih percaya terhadap adanya Tuhan.






    Mereka
    berpendapat bahwa kekuatan yang dimiliki manusia dihasilkan oleh
    struktur tubuhnya, bukan disebabkan sesuatu yang lain yang berada
    diluar tubuh. Mereka juga menolak adanya dualisme jiwa dan badan. Jiwa
    tidak lain dari materi (badan) itu sendiri. sehingga, ketika seseorang
    mati, maka jiwanya juga ikut mati. Mereka tidak mempercayai adanya
    dunia adikodrati, seperti surga, neraka, kiamat, hisab, dll.






    Dan
    ketiga, ilahiyyun (metafisika). Socrates, Plato, dan Aristoteles adalah
    sederetaan filsuf yang masuk dalam kelompok ini. Plato adalah Murid
    Socrates, sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Aristoteles dikenal
    sebagai pencetus ilmu mantiq (logika), banyak memberikan ulasan,
    komentar, dan penyempurnaan terhadap pelbagai disiplin ilmu.
    Aristoteles juga banyak mengkritik madzhab-madzhab filsafat sebelumnya,
    seperti dahriyyun dan thabiyyun.






    Secara garis besar, kajian filsafat meliputi:
    matematika (riyadliyyah), logika (mantiqiyyah), ilmu alam (thabiiyyah),
    metafisika (ilahiyyah), politik (siyasiyyah), dan etika (khalqiyyah).






    Pada
    prinsipnya, al-Ghazali tidak begitu antipati terhadap filsafat. Sebab,
    menurutnya, filsafat sama sekali tidak memiliki relasi dengan agama.
    Al-Ghazali termasuk pendukung sekularisasi ilmu. Hanya saja, kata
    al-Ghazali, tidak sedikit paham/ajaran filsafat yang dapat menimbulkan
    efek membahayakan (afat al-adzimah) bagi keimanan, dan bahkan
    bertentangan dengan ajaran agama.






    Sebagaimana madzhab dahriyyun
    yang mengingkari adanya Tuhan dan thabiiyyun yang tidak mempercayai
    keberadaan “dunia lain”. Begitu juga ajaran ilahiyyun yang di transfer
    dari Ibnu Sina dan al-Farabi yang mengatakan bahwa jasad tidak akan
    menerima nikmat maupun siksaan. Yang mendapatkan balasan di akherat
    kelak hanyalah ruh. Mereka juga mengatakan bahwa alam bersifat qadim
    dan abadi.





    Madzhab al-ta’limiy





    Pada
    masa al-Ghazali hidup, madzhab ta’limiyyah atau aliran batiniyyah
    (underground) sedang mengalami perkembangan yang cukup pesat.
    Ta’limiyyah adalah salah satu aliran/sekte syiah ismailiyyah. Aliran
    ini berpendapat bahwa “setiap orang butuh pengajaran (al-ta’lim) dan
    bimbingan mu’allim (guru) yang ma’shum, suci; terlindungi dari dosa”
    (al-hajat ila al-ta’lim wa al-mua’allim. La yashluhu kullu mu’allim bal
    la budda min mu’allim al-ma’shum)”. (hal. 59)






    Menurut sekte ini,
    keberadaan mu’allim ma’shum mutlak diperlukan. Sebab, tanpa melalui
    kehadiran mereka, seseorang tidak mungkin akan sampai pada “kebenaran”.
    Muallim ma’shum yang dimaksudkan mereka adalah para imam (pemimpin)
    mereka.






    Ajaran seperti ini mendapat kritik keras dari
    al-Ghazali. Menurutnya, tidak seorang pun di dunia ini yang patut
    dikatakan ma’shum kecuali Nabi Muhammad SAW. Setiap orang bebas
    melakukan ijtihad dalam mengambil keputusan hukum (istinbath al-ahkam),
    tidak harus menunggu wangsit dari imam ma’shum, tegas al-Ghazali.






    Kita
    bisa belajar dari Mu’adz bin Jabal ketika diutus Nabi ke Yaman. Mu’adz
    melakukan ijtihad sendiri ketika menemukan persoalan-persoalan yang
    hukumnya tidak ditemukan di dalam nash (hadits maupun al-Qur’an). Lebih
    lanjut, al-Ghazali mengatakan: “keterbatasan nash tidak akan bisa
    mengikuti realitas yang terus mengalami perubahan (fainna al-nushus
    al-mutanahiyah la tastau’ibu al-waqai’ al-ghaira al-mutanahiyyah)”.





    Akhir pendakian al-Ghazali





    Setelah
    al-Ghazali merasa kecewa dengan ilmu-ilmu di atas, kemudian beliau
    berpaling pada tasawuf (mistisisme). Untuk mengetahui hakikat tasawuf
    yang sesungguhnya, al-Ghazali belajar dan membaca kitab-kitab yang
    dikarang ulama-ulama tasawuf terkemuka pada waktu itu. Beliau membaca
    “Kut al-Qulub” milik Abi Thalib al-Makki, “Mutafarrikat al-Ma’tsurah”
    karya al-Junaidi, kitab-kitab karya al-Syibli, Abu Yazid al-Bustami,
    Harits al-Muhasibi dan masih banyak lagi. (hal. 68)






    Lagi-lagi
    al-Ghazali harus menelan kekecewaan. Ternyata kitab-kitab yang ia baca
    hanya menyuguhkan wacana tentang tasawuf. Menurut al-Ghazali, inti
    tasawuf bukan pada teorinya (ilmu/wacana) melainkan pada aplikasinya
    (amaliyyah). Substansi tasawuf terletak pada pengamalan (al-ahwal) dan
    rasa (al-dzauq).






    Dari sini al-Ghazali terangsang untuk
    mengamalkan ajaran-ajaran tasawuf, mengasingkan diri (uzlah) dari satu
    tempat ke tempat lain, menyepi (khalwah) dan mengunci diri selama
    sehari penuh di menara masjid Dimsyik, tafakkur (kontempelasi) di
    puncak Bait al-Muqaddas, melakukan ibadah Haji, dan ziarah ke makam
    Rasulullah SAW. Sampai akhirnya beliau merasa bahwa dahaga
    intlektualnya betul-betul hilang berkat mukasyafah dan dzauq. Sungguh,
    sebuah pergulatan intelektual yang sangat menakjubkan! Wallahu a’lam bi
    sawab.

    jamaluddin_mohammad.jpgJamaluddin Mohammad
    Tinggal di Ciputat;
    Nyantri di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
    Muga-muga manfaat lan barokah. Amien








    Source dari koleksi tulisan pribadinya (blog)


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Pergulatan Intelektual Al Ghozali Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top