Kematian sebagai Wisuda - Buntet Pesantren Kematian sebagai Wisuda - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Friday, May 30, 2008

    Kematian sebagai Wisuda


    Oleh: Dr. Komaruddin Hidayat
    BERKENAAN dengan meninggalnya beberapa public figure akhir-akhir ini, menarik didengarkan bagaimana kalangan sufi memaknai kematian.



    Mati adalah sebuah wisuda,sebuah penantian lama untuk kembali menghadap Tuhan Sang Kekasih. Mati itu kembali ke rumah primordial, bak pulang mudik, suatu peristiwa emosional dan spiritual yang menggairahkan, meski secara lahiriah tampak sakit. Mati itu sebuah proses metamorfosis.



    Bagaikan kepompong yang mesti mengalami proses yang menyakitkan untuk bisa menjelma jadi kupu-kupu, sehingga bisa mengepakkan sayapnya melihat dan menikmati indah dan harumnya taman dengan daun,bunga dan buahnya yang warna-warni dalam terang matahari pagi. Mati bukanlah akhir kehidupan, melainkan suatu perpindahan dimensi karena roh tidak mengenal kehancuran, melainkan sekadar baju, kendaraan atau kurungan fisiknya saja yang rusak dimakan usia.



    Mati itu menakutkan, karena semua orang cenderung takut terhadap dunia baru yang belum diketahuinya setelah roh pisah dari jasad.Mati itu membuat ngeri dan ingin dihindari bagi yang masih hidup karena banyak orang sebelum mati tampak merintih sakit dan menahan beban yang sangat berat. Mati datang pada kita dengan beragam pintu masuk. Mati menjemput kita tanpa pandang usia,pangkat,agama, dan status sosial.



    Jenderal perang yang gagah perkasa bisa tiba-tiba gemetar dan menyerah bertekuk lutut di depan sang maut. Seorang miliarder pun tak akan mampu membujuk dan menyuap malaikat Izrail dengan kekayaannya agar menunda kematian jika Izrail datang dengan surat perintah Tuhan.Dokter yang mengaku paling super dengan peralatan paling canggih dan modern pun akan angkat tangan kalau maut sudah mengambil alih tugasnya. Lalu bagaimana kita sebaiknya memaknai kematian dan apakah korelasi kematian dengan kita semua yang masih hidup?



    Rasionalitas Keabadian Jiwa

    Sejak zaman klasik,para filsuf Yunani Kuno,Mesir Kuno, dan Tiongkok Kuno sudah membangun berbagai argumen dan menjaga keyakinan secara turun-temurun bahwa mati itu sesungguhnya hanyalah sebuah proses perpindahan dimensi dan alam kehidupan.Sebuah migrasi atau metamorfosis. Hidup ini bermakna dan berharga karena adanya kematian dan kematian memiliki makna karena adanya kelanjutan serial kehidupan baru.



    Bagaimana kita yakin, menghargai, dan memperjuangkan prinsip moral kalau kematian berarti berakhirnya seluruh cerita kehidupan? Kalau saja orang baik dan buruk, pahlawan dan pecundang, koruptor dan hakim yang bersih semuanya berakhir dengan nilai dan nasib yang sama ketika ajal tiba, rasanya skenario kehidupan menjadi absurd,sulit diterima oleh rasa moral dan nalar yang logis.



    Berbahagialah,ajaran agama secara tegas menyatakan bahwa hidup ini anugerah,dunia ini bagaikan ladang untuk bercocok tanam dan kematian berarti datangnya musim panen. Hukum kausalitas antara bercocok tanam dan panen ini oleh sebagian pakar diyakini masih akan berlangsung terus di balik peristiwa kematian seseorang. Roh tidak mati. Karena tidak mati, berarti hidup.



    Hidup berarti beraktivitas dan aktivitas adalah wahana untuk meningkatkan kualitas hidup sebagai jalan untuk meraih derajat kebahagiaan yang lebih tinggi. Moralitas hidup dibangun berdasarkan empat pilar utama yang selalu diimani oleh umat beragama. Pertama, adanya kebebasan untuk beriman, beragama, dan berbuat. Tanpa kemerdekaan atau pilihan bebas, suatu tindakan tak ada nilai moralnya. Agama yang disebarkan dengan paksaan hanyalah melahirkan ketaatan semu.



    Kedua, adanya keabadian jiwa.Tanpa keabadian jiwa,pilihan untuk beriman dan berbuat baik tidak memiliki dasar dan motivasi yang kokoh. Kalau saja kematian berarti tutup buku, tak ada cerita lanjutan. Ini bertentangan dengan sifat roh yang tak kenal kematian. Ketiga,harus ada proses pengadilan oleh Hakim Yang Mahaadil. Keempat, mesti ada ganjaran baik buruk sebagai konsekuensi dari proses pengadilan.



    Yakin bahwa dunia adalah tempat bercocok tanam, maka merugilah mereka yang menganggap kenikmatan duniawi ini segala-galanya, lalu tidak mengindahkan iman dan moral. Kita pantas kasihan kepada koruptor yang merasa menang,senang,dan sukses membangun karier,padahal yang tengah berlangsung sesungguhnya sedang mempersiapkan kubangan neraka untuk dirinya.



    Kita pantas kasihan kepada mereka yang bangga dengan kursi kekuasaannya yang diraih dengan cara keji dan mengorbankan orang lain demi memuaskan ego. Kita sering dibuat tertawa melihat seorang pejabat merasa paling berjasa kepada negeri ini,padahal bangsa ini tidak berubah karena dirinya, atau jangan-jangan malah rusak oleh kiprahnya. Orang yang merasa sukses tanpa landasan moral dan karya nyata hanyalah menipu dirinya sendiri. Dirinya paling sadar bahwa kesuksesan itu semu, dihantui rasa bersalah, dan khianat pada nurani.



    Instrumental dan Fundamental

    Orang yang bijak selalu sadar untuk memilah dan memilih antara nilai-nilai yang bersifat instrumental dan fundamental. Antara nilainilai yang temporer dan abadi, antara jalan kesenangan dan jalan kebenaran serta kebaikan. Antara kulit dan isi. Antara aksesori dan fungsi. Memang ada benarnya ungkapan yang mengatakan uang bukan segala-galanya, tapi tanpa uang akan susah segala-galanya.



    Formula ini tidak berlaku secara absolut. Uang,kekayaan,dan pangkat tetaplah bernilai instrumental. Bahkan ilmu pengetahuan pun bersifat instrumental. Ketika semua itu terkumpul pada diri seseorang, perlu diajukan pertanyaan: bagaimana cara meraihnya dan untuk apa dan siapa serta niat apa difungsikan? Orang bijak mengatakan, kepemilikan sejati adalah yang melekat sekalipun ketika kematian tiba.



    Kekayaan sejati adalah rekaman dan makna hidup sejati yang tersimpan dalam USB–pinjam bahasa komputer—yang akan terus melekat dalam perjalanan rohani. Rekaman-rekaman itulah yang akan menjadi teman sekaligus pembela yang ampuh dan cerdas serta meyakinkan di hari pengadilan akhirat kelak.



    Yang akan terekam dan melekat pada ”spiritual chip” tentu bukannya uang, mobil, rumah, pangkat dan keluarga, melainkan rekaman amal yang dilandasi dan dimotivasi secara tulus sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas anugerah hidup, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk pelayanan dan cinta kasih kepada sesama makhluk Tuhan, baik pada manusia, hewan, maupun tumbuhtumbuhan.



    Nilai-nilai fundamental adalah motivasi dan prosedur yang benar,yang merupakan fundamen dan pilar bagi seluruh aktivitas duniawi, untuk meraih kualitas ukhrawi. Duniawi artinya kehidupan yang pendek dan dekat, ukhrawi artinya kehidupan yang masih jauh di masa depan.



    Semoga kita memperoleh pencerahan dengan melihat dan merenungkan peristiwa kematian yang setiap menit terjadi, sehingga kematian benar-benar menjadi momen wisuda dan metamorfosis untuk meraih kehidupan yang lebih indah dan lebih membahagiakan di balik kematian itu. *)



    Rektor UIN Syarif Hidayatullah
    sumber: SINDO

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kematian sebagai Wisuda Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top