Kacang Lupa Kulitnya (PKB dan Dilema Kader Gusdur) - Buntet Pesantren Kacang Lupa Kulitnya (PKB dan Dilema Kader Gusdur) - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Tuesday, May 13, 2008

    Kacang Lupa Kulitnya (PKB dan Dilema Kader Gusdur)


    Oleh Zuhairi Misrawi *
    “Saya belum dapat jabatan terhormat dari Gus Dur, senantiasa setia dan sami’na
    wa atha’na kepada Gus Dur, kok malah yang sudah mendapat jabatan dan gelimangan
    harta justru ramai-ramai melawan Gus Dur”.







    Itulah SMS yang dikirimkan teman saya yang sekarang sedang studi program
    doktoral di Universitas Boston, Amerika Serikat. Dia menyampaikan keprihatinan
    tentang konflik telanjang antara kubu Muhaimin Iskandar dan kubu Gus Dur,
    sebagaimana dilansir sejumlah media massa nasional.



    Dalam kultur tradisional, sejauh ini hubungan antara guru dan murid, patron
    dan klien, dibangun di atas kepatuhan dan ketundukan. Dalam kitab al-Ta’lim wa
    al-Muta’allim disebutkan, menghormati guru merupakan prinsip yang mesti dilakukan
    murid. Pandangan itu meminjam ungkapan Imam Ali karramallahu wajhah, “Saya
    adalah hamba/murid bagi siapa pun yang mengajarkan satu huruf sekalipun”.



     


    Ungkapan itu begitu ditekankan dalam pendidikan tradisional di pesantren.
    Kiai/ustad tentu saja tidak mengajarkan satu huruf, melainkan membuka cakrawala
    para santri dalam pelbagai disiplin keilmuan. Kiai/ustad tidak hanya
    mengajarkan ilmu, tetapi juga mengajarkan akhlak/etika.


    Tradisi menghormati kiai/ustad merupakan salah satu kultur yang telah
    menjadikan NU sebagai organisasi yang solid dan kukuh. Kendati diterpa angin
    dan badai politik berkali-kali, NU dengan kultur tersebut mampu membangun
    hubungan yang kuat dengan basis.



    Terlebih dalam ranah politik, menggerakkan suara warga NU bukanlah hal
    sulit. Cukup dengan menggerakkan kiai, basis akan mengikuti haluan politik yang
    dikehendaki sang kiai.



    Dalam hal itu, Gus Dur sebagai representasi kiai merupakan tokoh yang paling
    fenomenal dalam sejarah NU. Dia mempunyai dua modal sekaligus, yaitu kekuatan
    kultural dan intelektual. Dengan kedua kekuatan tersebut, Gus Dur mampu
    menjadikan NU sebagai kekuatan politik yang paling disegani pihak lain. Dia
    juga mampu membangun aliansi dengan dunia internasional melalui representasi
    Islam yang ramah dan toleran.



    Di tengah-tengah konflik PKB yang makin runyam itu, Gus Dur akan mendapatkan
    penghargaan internasional di Amerika Serikat dalam kapasitas sebagai tokoh
    muslim yang berjasa dalam moderasi Islam. Menurut almarhumah Benazir Bhutto
    dalam buku yang dirampungkan sebelum dia wafat akibat bom bunuh diri,
    Reconciliation: Islam, Democracy, and The West, Gus Dur adalah salah seorang
    tokoh dunia yang turut mempengaruhi dirinya dalam hal menegakkan demokrasi.



    Tentu saja, fenomena itu tidak hanya menguntungkan Gus Dur secara pribadi.
    Melainkan juga menguntungkan NU sebagai institusi dan warga NU yang mempunyai
    kapasitas keilmuan, khususnya mereka yang berpendidikan tinggi.



    Sejak Gus Dur menjabat ketua umum PB NU, diangkat sebagai presiden RI dan
    menakhodai PKB, banyak sekali pihak yang mendulang keuntungan dengan menduduki
    posisi strategis di republik ini. Sebut saja, almarhum Matori Abdul Djalil,
    Alwi Shihab, Saifullah Yusuf, Mahfud M.D., A.S. Hikam, Khofifah Indarparawansa,
    Efendi Choirie, Ali Masykur Musa, dan Muhaimin Iskandar. Sejumlah elite PB NU
    juga sebenarnya bisa dikategorikan sebagai kader-kader Gus Dur.



    Hanya, dalam perjalanan waktu, sejumlah kader tersebut mengambil sikap
    berseberangan dengan Gus Dur, yang pada umumnya ditengarai dilatarbelakangi
    motif-motif politis. Ironisnya, sikap seperti itu disampaikan kepada publik
    sehingga publik dapat mengonsumsi konflik internal dengan murah-meriah.



    Yang paling anyar dari fenomena tersebut adalah keputusan rapot pleno DPP
    PKB beberapa waktu lalu, yang memutuskan agar Muhaimin Iskandar sebagai ketua
    tanfidziah terpilih dalam muktamar di Semarang mundur dari jabatannya. Tak
    pelak, keputusan tersebut direspons keras oleh Muhaimin dan para pendukungnya.
    Mereka menggunakan pelbagai cara. Di antaranya, melalui investigasi pihak-pihak
    yang ditengarai merupakan penyuplai informasi di balik keputusan pleno itu.



    Dari kacamata kultural, fenomena seperti itu semestinya menjadi pembelajaran
    politik bagi kader-kader Gus Dur. Terlebih bagi mereka yang sudah menikmati
    gelimangan dan gemerlapnya dunia politik. Sudah sepatutnya kultur kepatutan
    dimanifestasikan dalam ranah politik. Apalagi ada satu fatsun yang tidak bisa
    dihindari bahwa mereka bukanlah apa-apa tanpa Gus Dur. Posisi dan jabatan
    strategis yang diterimanya merupakan berkah kedekatan mereka dengan Gus Dur.



    Di sini, jalan islah merupakan harga mati yang harus dibayar oleh
    kader-kader muda PKB dalam menyikapi konflik partai. Islah sebenarnya bukan
    hanya menguntungkan secara politik, tetapi juga menguntungkan secara kultural.
    Tidak ada persoalan yang bisa diselesaikan melalui cara-cara rekonsiliasi. Di
    samping itu, yang lebih penting, saatnya relasi antara kiai-santri betul-betul
    diterjemahkan dalam ranah politik dengan sebaik-baiknya.



    Yang muda, yang sudah mendapatkan kenikmatan hidup, semestinya mengalah
    kepada yang tua. Lebih-lebih dalam konteks membalas jasa kepada Gus Dur, yang
    telah terbukti membantu mereka. Seperti kata pepatah, “Janganlah seperti kacang
    lupa kulitnya”.



    Selebihnya, bila masih terdapat perbedaan yang tidak mungkin diselesaikan,
    cara terbaik adalah memilih untuk keluar dan mencari kendaraan politik lain.
    Cara tersebut jauh lebih elegan daripada menampilkan komentar-komentar yang
    tidak sesuai dengan etika kepesantrenan.



    Pada akhirnya, harus diakui bahwa politik bukanlah kiamat. Banyak ranah yang
    bisa dijadikan sebagai wadah perjuangan. Toh, kader-kader muda masih mempunyai
    usia yang cukup panjang sebagai medan perjuangan. Kaidah yang sepatutnya
    digunakan dalam memecahkan masalah itu adalah “mempertimbangkan kemaslahatan
    harus diutamakan daripada meninggalkan efek negatif” (jalb al-mashalih
    muqaddamun ’ala dar’ al-mafasid).
    * Zuhairi Misrawi, intelektual muda NU



    Sumber : Shofiyullah`s World



     

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kacang Lupa Kulitnya (PKB dan Dilema Kader Gusdur) Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top