Hidup Bahagia dengan Satu Isteri - Buntet Pesantren Hidup Bahagia dengan Satu Isteri - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Sunday, May 4, 2008

    Hidup Bahagia dengan Satu Isteri


    Satu Isteri
    Judul : Bahagiakan Diri dengan Satu Istri
    Penulis : Cahyadi Takariawan
    Penerbit : Era Intermedia, 2007
    Tebal : xxxi + 278 halaman

    Terbitnya buku
    ini tak kalah kontroversialnya dengan poligami Aa Gym beberapa waktu lalu yang
    berakibat pesantren dan usaha bisnisnya makin sepi.

    Meski penulisnya menolak
    kalau ia menulis buku ini bukan lah karena faktor itu. Konon saking
    kontroversinya, buku ini sempat ditarik dari peredaran karena membuat gerah
    aktivis dan petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Meski yang memberi
    pengantar buku ini adalah istri pertama Presiden partai tersebut, Sri Rahayu
    Tifatul Sembiring.


    Wajar saja karena buku ini ditulis oleh Ustadz Cahyadi
    Takariawan yang merupakan salah seorang anggota Majelis Syuro PKS. Majelis ini
    menempati posisi tertinggi dalam struktur partai yang berideologi Islam ini.
    Sementara sudah jadi rahasia umum kalau ikhwan partai ini lazim melaksanakan
    praktek poligami dengan tujuan untuk perluasan dakwah Islam. Mereka juga
    meyakini bila poligami merupakan solusi ideal relasi suami istri bila sang
    suami "tergoda."

    Di sinilah menarik dan beraninya buku ini. Isinya
    memang benar-benar menelanjangi praktek poligami yang banyak menyengsarakan
    kaum istri dan anak serta lebih khusus lagi kata penulis, berakibat buruk pada
    dakwah Islam. Artinya penulis mendekonstruksi pemahaman dan keyakinan sebagian
    besar koleganya di partai. Dalam pendahuluannya, penulis mengakui bahwa
    sebenarnya tema ini merupakan tema yang selalu dia hindari karena supersensitif
    bahkan hipersensitif. Menurutnya, menulis masalah poligami bukanlah wilayah
    aman untuk mengungkapkannya. Keputusan penulis untuk tetap menulis tema ini,
    tentulah sangat tidak populer. Bahkan cenderung menentang arus, atau mungkin
    juga menentang policy partai.

    Sedari awal penulis menekankan bahwa ia menulis
    buku ini bukan dalam rangka menolak hukum atau ajaran Islam tentang poligami.
    Yang ia tolak adalah praktek poligami itu sendiri. Hal ini dikarenakan banyak
    fakta dan kasus yang akhirnya ia sendiri punya kesimpulan kalau poligami itu
    bukanlah solusi terbaik untuk menyelesaikan persoalan keluarga tapi malah
    menghancurkan institusi keluarga khususnya perempuan dan anak. Meski penulis
    mengakui pada kasus-kasus tertentu seperti menolong janda dan anak korban
    konflik, poligami tetaplah menjadi solusi. Tapi kenyataannya sangat jarang
    suami yang berpoligami karena alasan tersebut. Mayoritas berpoligami karena
    perempuan yang akan dijadikan istri selanjutnya itu lebih muda, lebih menarik,
    lebih pintar dan lebih segalanya dibanding istri terdahulunya. Buku ini banyak
    mengungkap data dan fakta yang didasarkan pada kasus-kasus praktek poligami
    yang memang menjadi kecenderungan partai dimana penulis terlibat dan dari
    pengaduan para kliennya karena profesinya sebagai konsultan pernikahan dan keluarga
    di Jogja Family Center (JFC).

    Karena itulah penulis menyarankan agar suami
    membahagiakan dan memaksimalkan diri dengan satu istri. Dari situ, penulis
    mengeksplorasi argumen-argumen doktrin Islam tentang monogami yang menurut saya
    argumen tersebut mendekonstruksi argumen tentang poligami dalam Islam.

    Seperti diketahui, biasanya para pelaku poligami
    membenarkan perbuatannya tersebut pada dua hal: Alquran surat
    al-Nisa ayat 3 yang membolehkan poligami sampai empat dan mengikuti Sunnah
    Nabi. Padahal kata penulis, bila kita melihat kehidupan keluarga Nabi secara
    cermat, sesungguhnya Nabi itu melakukan monogami. Karena dalam kurun waktu
    kehidupan rumah tangga Nabi, Nabi itu sangat monogami. Kehidupan rumah tangga
    Nabi dengan Khadijah itu berlangsung 25 tahun, sementara Nabi mempraktekan
    poligami itu hanya 10 tahun. Itu pun setelah Khadijah wafat dan kebanyakan
    pernikahannya itu lebih dikarenakan menolong janda-janda sahabat beliau yang
    meninggal akibat perang untuk membela Islam. (hal xviii)

    Sementara ayat Alquran yang menjadi acuan
    poligami itu pun titik tekannya pada sikap suami yang bisa berlaku adil, bukan
    pada bolehnya praktek poligami tersebut. Sikap adil susah sekali ukurannya
    karena sangat melibatkan perasaan, tidak hanya kepuasan materi dan seksual semata.
    Anugerah perasaan inilah yang merupakan salah satu kelebihan manusia. Seperti
    yang diulas dengan bagus oleh Bintu Syathi Aisyah Abdurrahman dalam bukunya
    Istri-istri Nabi, kehidupan istri-istri Nabi saja tak sepenuhnya harmonis,
    malah cenderung penuh intrik dan saling cemburu karena mereka saling bersaing
    untuk memperebutkan perhatian Nabi. Untuk sekualitas lelaki seperti Nabi saja,
    yang banyak diberi kelebihan oleh Allah, Beliau cukup kerepotan mengelola
    perasaan dan menghadapi isteri-isterinya. Apalagi untuk manusia biasa seperti
    kita semua. Karena itu kata penulis, kita ini bukan Nabi, isteri kita pun bukan
    Aisyah. Makanya jangan coba-coba berpoligami. (hal 238)

    Ada
    juga yang berargumen berpoligami itu karena untuk menghindari zina. Istilahnya,
    dari pada selingkuh kan lebih
    baik poligami. Menurut penulis, kok bisa poligami dibandingkan dan disejajarkan
    dengan zina (selingkuh). Penyejajaran seperti ini kata penulis, merupakan cara
    berpikir yang tak nyambung, dan ungkapan tersebut tidak pada tempatnya sebagai
    alasan untuk melakukan poligami. Ia menyodorkan beberapa pilihan selain
    poligami. Misalnya dari pada suami berpoligami lebih baik berpuasa untuk
    menjaga diri atau konsentrasi dan fokus ke isteri atau onani dan masturbasi
    atau berkebiri atau berlari-lari untuk membuang energi atau bertobat setiap
    hari atau aktif dalam kegiatan berorganisasi atau segera naik haji atau banyak
    pilihan perbuatan yang lebih baik dan positif. Jadi bagi penulis, suami tak
    mesti berpoligami, atau lebih ekstrim lagi berselingkuh, karena pilihan untuk
    tetap beristri satu tetap yang paling realistis. (hal.99)

    Di tengah komunitas yang menjadikan poligami
    sebagai praktek yang lazim, penulis mengakui, banyak yang bertanya kenapa ia
    tak berpoligami. Dengan memarodikan lagu Aa Gym, penulis menjawab:

    Jagalah istri, jangan kau sakiti Sayangi
    istri, amanah ilahi Bila diri kian bersih, satu isteri terasa lebih Bila bisa
    jaga diri, tidak perlu menikah lagi


    Bila suami berpoligami Dakwah akan terbebani
    Demarketing menjadi jadi Dakwah bisa dibenci


    Jagalah istri, jangan khianati Jagalah diri,
    tak perlu poligami


    Buku ini jelas-jelas diperuntukkan untuk suami
    baik yang punya niat berpoligami atau tetap monogami. Bagi yang berniat
    poligami, setelah membaca buku ini pasti tak akan jadi menambah istrinya. Bagi
    yang setia dengan satu istri, pasti akan semakin membahagiakan istrinya. Bagi
    yang sudah berpoligami, ada dua kemungkinan: membenarkan atau menolak
    mentah-mentah isi buku ini. Yang pasti buku ini jelas pesannya seperti
    kelihatan dari judulnya: "Bahagiakan Diri dengan Satu Istri".

    Tentu saja buku ini tak hanya layak dibaca para
    suami atau lelaki meski isinya memang lebih banyak diperuntukkan untuk kaum
    Adam. Bagi perempuan pun, buku ini sangat bermanfaat karena banyak kiat dan
    nasihat agar para istri tidak dipoligami. Sayang sekali, bukunya sangat sulit
    untuk didapatkan sekarang. Salut untuk Ustadz Cahyadi... []

    Penulis Resensi: Nong Darol Mahmada
    Sumber: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1298

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Hidup Bahagia dengan Satu Isteri Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top