Beragama dengan Santun dan Damai - Buntet Pesantren Beragama dengan Santun dan Damai - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Saturday, May 10, 2008

    Beragama dengan Santun dan Damai


    Oleh: Dr. Komaruddin Hidayat



    AJARAN dan pesan agama itu bagaikan air hujan yang
    membuat tanah kering menjadi gembur, sehingga rumput serta pepohonan
    pun tumbuh rindang.



     



    Bunganya yang warna-warni sedap dipandang
    mata. Kemudian daun, buah, dan batangnya menawarkan manfaat buat
    manusia. Begitulah gambaran Alquran tentang wahyu yang diturunkan
    melalui para Rasul-Nya yang merupakan cikal-bakal agama, yang semuanya
    itu diharapkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ajaran dan pesan agama
    itu bagaikan obat,penawar berbagai penyakit.





    Terutama
    penyakit hati dan sosial, agar masyarakat hidup damai, makmur, dan
    bahagia. Lagi-lagi, begitu indahnya pesan Alquran. Jadi, kalau
    akhir-akhir ini kita melihat dan menyaksikan kehidupan beragama yang
    terkesan galak dan mengumbar kebencian dengan sesama warga negara dan
    sesama umat beragama, pasti ada yang salah dalam berkomunikasi. Pasti
    silaturahmi sedang krisis.






    Hal ini perlu
    disadari oleh semuanya, lalu dicari penyebab dan solusinya. Sebagai
    umat beragama, apa pun agama dan pahamnya, kita semua malu ketika agama
    justru menjadi sumber dan beban masalah bagi kehidupan berbangsa dan
    kemanusiaan, bukannya sebagai penyejuk dan penyubur kehidupan dan
    peradaban. Orang boleh saja berkata ajaran agama mesti benar, yang
    salah umatnya.







    Yang salah adalah pengikutnya.
    Tetapi perlu kita ingat, agama—apa pun namanya— pada akhirnya
    baik-buruk ajarannya akan dilihat bagaimana dampak dan wujudnya yang
    ditunjukkan oleh pemeluk dan yang mengusung label agama itu. Mirip
    obat, betapa pun muluk-muluk dan indah iklannya, orang akan menghargai
    dan membeli atau menolak obat itu setelah dibuktikan oleh mereka yang
    meminumnya.






    Jadi, begitu wahyu yang berasal
    dari langit dan alam gaib turun menyejarah ke bumi manusia, baik-buruk
    sebuah agama akan dilihat pada fungsi dan dampaknya, apakah benar-benar
    sebagai obat penawar dan air penyejuk ataukah malah jadi sumber konflik
    dan peperangan? Pendeknya, agama telah masuk pada wilayah profan, meski
    berasal dari dunia yang sakral. Itulah sebabnya Tuhan tidak sembarangan
    memilih rasul.






    Mesti orang yang akhlaknya
    baik, tutur katanya lemah lembut, tegas dan jelas dalam pendirian; namun
    bijak dan cerdas dalam menghadapi orang yang berbeda, bahkan
    berseberangan. Figur nabi-nabi yang oleh sejarah masih mudah ditelusuri
    antara lain Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad. Kesemuanya itu
    dikenal oleh kaumnya sebagai orang yang berakhlak mulia dan sangat
    santun.



     



    Jadi,kalau ada orang membawa bendera dan
    menyatakan diri sebagai pewaris ajaran nabi, tetapi meninggalkan
    prinsip akhlak mulia dan kesantunan,maka orang itu akan menodai citra
    para rasul yang mulia.Prinsip ini berlaku bagi umat Yahudi, Nasrani,
    dan Islam yang ketiganya pernah menumpahkan darah atas nama Tuhan
    sehingga menodai lembaran sejarah agama. Agama lalu dibela, diajarkan,
    sekaligus dicurigai dan dibenci.






    Kehadiran Desa Buana



    Munculnya
    fenomena desa buana (global villages) telah mengubah banyak sekali cara
    hidup manusia dan sistem nilai serta budaya yang tak terbayangkan
    sebelumnya, termasuk pemahaman dan hubungan antarumat beragama. Zaman
    dulu, ketika penduduk bumi masih sedikit lalu Tuhan mengirimkan rasul,
    maka komunitas pemeluk agama hampir bersifat homogen, jumlahnya kecil
    dan mereka memiliki figur pemimpin manusia super berpangkat rasul Tuhan
    dengan dilengkapi kekuatan mukjizat sebagai senjata pamungkas.






    Tapi
    saat ini kita hidup dalam masyarakat yang semakin majemuk dan jumlah
    manusia pun terus berkembang.
    Lagi pula, tak ada sosok nabi yang
    memiliki otoritas pewahyuan.Perjumpaan dan benturan antarbudaya dan
    agama semakin intens. Mirip perempatan jalan raya di kota besar yang
    selalu macet oleh banyaknya kendaraan, jauh berbeda dari jalan kampung
    zaman dulu yang lengang.






    Jadi, kalau terjadi
    benturan dan salah paham serta pertengkaran antarpemeluk agama,
    sebagaimana pertengkaran antarsopir akibat jalan yang semrawut, hal itu
    sangat wajar.
    Hal itu menjadi tidak wajar kalau berlangsung terus
    sebagaimana suasana semrawut lalu lintas Kota Jakarta. Bagaimana agar
    semuanya tertib, santun, dan damai? Ada beberapa aspek strategis yang
    mesti diwujudkan. Pertama, meningkatkan pendidikan dan ekonomi warga.






    Kedua, muatan
    kurikulum pendidikan agama dan warga negara mesti diperbaiki, kurikulum
    dan metode pembelajaran yang membuat setiap warga dan pemeluk agama
    saling menghargai. Masing-masing tahu batas hak dan kewajiban ketika
    masuk ke ranah publik. Ketiga, pemerintah mesti tegas dan adil dalam
    menegakkan hukum sehingga siapa pun yang melanggar hukum mesti siap
    menerima sanksi, apa pun agama dan status sosialnya.






    ***



     



    Sekarang
    ini, umat Islam di belahan Timur maupun Kristen dan Yahudi di belahan
    Barat, mengidap rasa curiga satu terhadap yang lain.
    Di Barat,
    perkembangan Islam dipandang sebagai agresi kultural dan ideologis
    terhadap agama mainstream. Sebaliknya, pengaruh dan kehadiran Kristen
    dan Yahudi ke dunia Islam dianggap sebagai kelanjutan imperialisme dan
    perang salib.






    Jadi, semuanya mengidap rasa dan
    sikap saling membenci serta curiga.
    Semuanya sakit. Semuanya mudah
    marah dan mudah tersinggung.
    Semua pihak mengalami krisis percaya diri
    dan sikap toleransi.
    Apakah yang menjadi penyebab? Tentu banyak dan
    pertanyaan ini tak habis-habisnya dibahas para ilmuwan sosial sehingga
    telah melahirkan ribuan judul buku. Kembali ke posisi awal, agama
    sebagai curah hujan dari langit atau mengalir dari sumber mata air yang
    jernih.






    Maka bila percikan dan aliran air itu
    mengumpul, menyatu, dan kemudian menjelma menjadi sungai besar dalam
    arus sejarah, sudah pasti air tak pernah lagi jernih.Banyak sekali
    elemen lain yang ikut bergabung, sejak dari ikan sampai sampah dan
    kotoran lain. Begitulah sejarah agama.



     



    Perjalanan pesan suci dan mulia
    dari Tuhan yang bergerak bersama berbagai elemen lain yang dimasukkan
    oleh pemeluknya, sehingga ketika agama menyejarah, maka wajahnya selalu
    mendua, sebuah cita suci dan mulia, namun adakalanya diteriakkan oleh
    hati, tangan,dan pikiran yang tidak selalu suci, mulia, santun dan cinta
    damai.






    Memasuki desa buana, ditambah lagi
    kenyataan bahwa Indonesia adalah negara bangsa yang majemuk—bukan
    negara agama—maka kalau kita tidak arif, lapang, dan tidak maubelajar
    dari sejarah, tragedi konflik berdarah darah atas nama Tuhan, rasul, dan
    agama akan terjadi lagi dan lagi di bumi kita yang hijau, subur, dan
    indah ini. Ketika keanggunan dan keindahan pesan dasar agama dibungkus
    dengan wajah masam dan bengis, agama akan tergeser ke pinggir.



     



    Orang
    lalu akan beralih pada ideologi humanisme dan gegap gempita menerima
    kehadiran sains dan teknologi yang menawarkan hidup lebih nyaman secara
    teknikal dan tidak membedakan ras, suku, dan agama. Semuanya merasa tidak
    nyaman hidup tanpa telepon, mobil, televisi, kulkas, dan kartu kredit.
    Kenyamanan itu mesti menjadi lebih nyaman lagi dengan pesan agama yang
    santun dan damai. Bukan sebaliknya, agama sumber pertikaian.(snd)






    *) Rektor UIN Syarif Hidayatullah


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Beragama dengan Santun dan Damai Rating: 5 Reviewed By: Mubarok Hasanuddin
    Scroll to Top