BBM dan Nasib Pendidikan - Buntet Pesantren BBM dan Nasib Pendidikan - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Wednesday, May 28, 2008

    BBM dan Nasib Pendidikan




    Oleh: Fitri Kamalia



    antriApa
    boleh buat harga BBM sudah naik. Pemerintah menghentak rakyatpun
    tersentak. Pemerintah rupanya “ngotot” dengan argumentasi sendiri dan
    katanya merupakan pilihan terakhir dari berbagai opsi yang
    dikedepankan.



     



    Namun janji pemerintah dari pengalihan kompensasi BBM
    yang selama ini untuk minyak akan dialokasikan kepada warga miskin
    dengan membagikan BLT (bantuan langsung tunai) dan sarana lainnya
    termasuk pendidikan. Namun masalahnya, BBM dinaikkan berkali-kali namun
    pendidikan dan kesehatan tetap mahal.



     









    Dampak dari semua itu, kini harga-harga
    mulai naik. Protes dari berbagai kalangan masyarakat menyeruak ke
    jalanan. Dari dunia pendidikan yang diwakili para mahasiswa bahkan
    cenderung anarkis. Sementara itu, rakyat yang berpenghasilan terbatas
    kini tidak bisa lagi tenang karena memikirkan dampaknya. Terlebih bagi
    masayarakat yang berpenghasilan sangat terbatas.






    Kini kita bertanya, bagaimana
    konpensasi BBM itu bisa dinikmati oleh dunia pendiikan. Tentu saja
    pendidikan kini sudah menikmati dari dampak kenaikan sejak 2005.
    Pendidikan dasar dari mulai SD hingga SLTP memang ada yang gratis.
    Namun pungutan biaya lainnya terus membebani orang tua murid.






    Bagaimanapun BBM sudah naik karenanya,
    kita hanya bisa berharap seperti yang pernah ditulis oleh seorang
    pengamat Pendidikan Darmaningtyas:






    Pertama, pemerintah harus konsisten,
    dana subsidi BBM yang dipotong itu hendaknya dialihkan untuk pelayanan
    kebutuhan sosial dasar, bukan untuk bayar utang. Juga bukan untuk
    kenaikan gaji pejabat negara. Sebab yang paling menderita atas kenaikan
    BBM itu adalah masyarakat, bukan kreditor dan pejabat. Penggratisan
    tidak berarti menutup partisipasi publik karena partisipasi publik
    ditekankan pada perencanaan dan kontrol. Sedangkan partisipasi dalam
    bentuk pendanaan bisa melalui sumbangan sukarela. Namanya sukarela
    tidak boleh dipaksa. Tapi, yang mampu juga tidak boleh berpura-pura
    miskin. Jadi pemerintahnya harus konsisten agar warganya peduli.






    Kedua, mulailah mengembangkan pajak
    progresif yang hasilnya untuk membiayai pendidikan bermutu dan gratis
    untuk semua (kaya dan miskin). Jangan salah mengerti bahwa yang kaya
    kok disubsidi. Mereka juga bayar sekolah, tapi melalui pajak yang
    tinggi. Itu semua bukan utopia, tapi bisa terlaksana, seperti di
    negara-negara kesejahteraan asal pengelolaannya sungguh-sungguh dan
    jujur. Jangan petugas pajaknya saja yang kaya raya.



     



    Ketiga, pemerintah harus kreatif dan
    jeli dalam melaksanakan program. Masalah DO tidak bisa dipecahkan dari
    lingkup sekolah saja, tapi bisa melalui peningkatan ekonomi keluarga.
    Oleh sebab itu, program-program padat karya perlu diciptakan untuk kaum
    miskin agar ekonomi mereka tetap berputar sehingga punya semangat
    menyekolahkan anaknya. Nelayan—yang nyata-nyata kaum miskin—diberikan
    subsidi bahan bakar agar masih tetap bisa melaut.






    Keempat, saatnya pemerintah/pemda
    menyediakan angkutan umum khusus pelajar (di kota dan desa) yang biaya
    operasionalnya ditanggung pemerintah/pemda. Atau membangun jalur khusus
    sepeda untuk melayani jarak pendek (kurang dari 5 km) agar warga miskin
    tidak terancam DO karena tidak mampu bayar ongkos transportasi yang
    lebih besar daripada SPP-nya.






    Sekarang DO di pedesaan dan kalangan
    miskin kota terjadi karena mahalnya ongkos transportasi. Bila tidak mau
    menempuh keduanya itu, maka betul juga bunyi SMS nakal: SBY–JK itu
    singkatan dari ”susah bensin ya jalan kaki”! Kata orang Yogya ini
    akibat dari BBM=bola-bali mundak (berulang kali naik) sehingga hidup
    ”sengsara bersama Yudhoyono”. (*)







    Fitri Kamalia, anake wong Buntet Pesantren lahir dan tinggal di Jakarta

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: BBM dan Nasib Pendidikan Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top