Bahaya Menghina Orang Tua - Buntet Pesantren Bahaya Menghina Orang Tua - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Sunday, May 11, 2008

    Bahaya Menghina Orang Tua


    Berbakti kepada orang tuaDurhaka kepada orang tua merupakan dosa besar. Dan sebaliknya, berbakti kepada orang tua merupakan amalan utama yang pahalanya besar. Berikut uraian Imam Adz-Dzahabi dalam Al-Kabair.




    Allah ta’ala berfirman





    وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا




    “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
    menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang
    tuamu dengan sebaik-baiknya.” (Al-Isra': 23)


    Berbuat baik kepada kedua orang tuamu artinya, memberikan bakti dan kasih sayang kepada keduanya.





    إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ




    “Jika salah seorang di antara keduanya atau
    kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
    sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’
    (AI-Isra': 23)


    Jangan mengatakan “ah” artinya, janganlah berkata-kata kasar kepada
    keduanya jika mereka telah tua dan lanjut usia. Selain itu, wajib
    bagimu untuk memberikan pengabdian (berbakti) kepada mereka sebagaimana
    mereka berdua telah memberikan pengabdian kepadamu. Sesungguhnya,
    pengabdian orang tua kepada anaknya adalah lebih tinggi dari pada
    pengabdian anak kepada orang tuanya. Bagaimana mungkin kedua pengabdian
    itu bisa disamakan? ketika kedua orang tuamu menahan segala derita
    mengharapkan agar kamu bisa hidup, sedangkan jika kamu menahan derita
    karena kedua orang tuamu, kamu mengharapkan kematian mereka

    Allah melanjutkan firman-Nya,

    وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا



    ...Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Al-Isra': 23)


    Yakni ucapan yang lemah lembut.



    وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا



    “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan
    penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka
    keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’
    (AI-Isra':24)


    Allah Ta'ala berfirman,



    أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ



    “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah engkau akan kembali (Luqman: 14)


    Perhatikanlah -semoga Allah merahmatimu- bagaimana Allah mengaitkan
    rasa syukur kepada kedua orang tua dengan syukur kepada-Nya.

    Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ada tiga ayat yang
    diturunkan dan dikaitkan dengan tiga hal, tidak diterima salah satunya
    jika tidak dengan yang dikaitkannya:


    1. Firman Allah Ta'ala, `Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada
    Rasul'. Maka barangsiapa taat kepada Allah namun tidak taat kepada
    Rasul, ketaatannya tidak diterima.


    2. Firman Allah Ta'ala, `Dan dirikanlah shalat serta tunaikan
    zakat'. Maka barangsiapa melakukan shalat namun tidak mengeluarkan
    zakat, tidaklah diterima.

    3. Firman Allah Ta'ala, Agar kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada
    kedua orang tuamu.' Barangsiapa bersyukur kepada Allah namun tidak
    bersyukur kepada kedua orang tua, tentu saja tidak diterima hal itu.
    Oleh karena itulah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
    Keridhaan Allah ada di dalam keridhaan kedua orang tua dan kemurkaan
    Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua. (Diriwayatkan Tirmidzi dari
    hadits Abdullah bin Amr, hadits ini diperkuat oleh hadits Abu
    Hurairah).


    Dalam sebuah hadits disebutkan, Seseorang datang kepada Rasulullah
    Shallallahu 'alaihi wa sallam meminta izin untuk jihad. Kemudian Nabi
    Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, Apakah bapak ibumu masih hidup
    ? orang itu menjawab, Ya maka kata Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
    Hendaklah kamu berbakti kepada keduanya [HR. Bukhari, Muslim)

    Lihatlah bagaimana berbuat baik dan memberikan pelayanan kepada kedua orang tua lebih diutamakan daripada jihad?


    Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan bahwa
    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Maukah aku beritahu
    kalian tentang dosa besar yang paling besar? Yakni menyekutukan Allah
    dan durhaka kepada kedua orang tua"


    Lihatlah bagaimana Allah mengaitkan antara menyakiti kedua orang
    tua, tidak adanya bakti kepada mereka dengan dosa syirik kepadaNya.

    Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim juga, Rasulullah Shallallahu
    Alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang durhaka
    (kepada kedua orang tua, orang yang menyebut-nyebut kebaikannya, dan
    yang kecanduan khamr"

    Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Jika Allah mengetahui
    sesuatu yang lebih hina dari ah' niscaya Allah akan melarangnya. Maka
    berbuatlah orang yang durhaka (kepada orang tua) semaunya, pastilah ia
    tidak akan masuk surga. Dan berbuatlah orang yang berbakti kepada orang
    tua semaunya, tidaklah ia masuk neraka"


    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Allah melaknat
    orang yang durhaka kepada orang tua, Beliau bersabda lagi, Allah
    melaknat orang orang yang mencaci bapaknya. Allah melaknat orang yang
    mencaci ibunya. (Diriwayatkan lbnu Hibban dalam shahihnya dari hadits
    Ibnu Abbas). Beliau bersabda, Semua dosa ditunda (siksanya) oleh Allah
    semau-Nya hingga hari Kiamat kecuali durhaka kepada orang tua.
    Sesungguhnya dosa durhaka disegerakan (siksanya) bagi pelakunya"
    (Diriwayatkan Hakim dari hadits Abu Bakar dengan sanad yang baik).


    Yakni hukumannya di dunia sebelum hari Kiamat.


    Ka'abul Ahbar Rahimahullah berkata, "Sesungguhnya Allah
    menyegerakan kehancuran bagi seorang hamba jika ia durhaka kepada orang
    tuanya. Kehancuran itu merupakan siksaan baginya. Dan sesungguhnya
    Allah menambah umur orang yang berbakti kepada orang tua agar bertambah
    pengabdian dan kebaikannya kepada mereka"


    Di antara bentuk pengabdian adalah memberi nafkah kepada mereka di
    saat mereka membutuhkan. Seseorang datang kepada Nabi Shallallahu
    Alaihi wa Sallam dan berkata, Wahai Rasulullah, ayahku ingin merampas
    hartaku. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Kamu dan
    hartamu untuk bapakmu"


    Ka'abul Ahbar ditanya tentang durhaka kepada orang tua, Apakah !tu?
    la menjawab, "Yaitu jika ayah atau ibunya menyumpahinya, ia tidak
    mempedulikannya. Jika mereka menyuruhnya, ia tidak mentaatinya. Jika
    meminta sesuatu kepadanya, ia tidak memberinya. Dan jika diberi amanat,
    ia mengkhianatinya"


    lbnu Abbas radhiyallahu anhuma ditanya tentang Ashabul-A’raf. Ia
    menjawab, Adapun A'raf, ia adalah sebuah gunung di antara surga dan
    neraka. Dikatakan A’raf karena ia lebih tinggi daripada surga dan
    neraka. Di sana terdapat pepohonan, buah-buahan, sungai, dan mata air.
    Adapun orang-orang yang menempatinya, mereka yang dulunya pergi
    berjihad tanpa izin dari ayah dan ibu mereka. Kemudian mereka terbunuh
    dalam jihad itu dan kesertaannya dalam perang itu menghalanginya dari
    siksa neraka. Sedangkan kedurhakaan kepada orang tua menghalanginya
    untuk masuk surga. Maka mereka bertempat di Araf tersebut hingga Allah
    memutuskan urusan mereka.


    Dalam kedua kitab Shahih diriwayatkan, "Seseorang datang kepada
    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan bertanya, Wahai Rasulullah,
    siapakah yang berhak mendapatkan perlakuan baik? Rasulullah Shallallahu
    Alaihi wa Sallam menjawab, Ibumu. Beliau bertanya, Kemudian siapa?
    Rasulullah menjawab, Ibumu la bertanya lagi, Kemudian siapa lagi? la
    menjawab, ibumu. la bertanya lagi, kemudian siapa? Beliau menjawab,
    'Ayahmu. Kemudian yang paling dekat dan yang paling dekat


    Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengulangi kewajiban berbakti
    kepada seorang ibu hingga tiga kali sedangkan berbakti kepada ayah satu
    kali. Hal itu disebabkan karena derita yang dialami seorang ibu lebih
    besar dari pada yang dialami seorang ayah dan kasih sayang yang
    diberikannya juga lebih besar daripada ayah. Belum lagi kalau
    dibandingkan dengan beratnya mengandung, kontraksi, melahirkan,
    menyusui, dan berjaga malam.


    Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma melihat seseorang seseorang sedang
    memanggul ibunya dengan lehernya sambil mengelilingi Ka'bah. Orang itu
    bertanya, "Hai Ibnu Umar, apakah dengan demikian berarti aku telah
    membalasnya?" Ibnu Umar menjawab, "Belum sedikit pun kamu membalasnya,
    namun kamu telah berbuat baik kepadanya. Dan Allah akan membalas atas
    sedikit kebaikanmu dengan balasan yang banyak"


    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata bahwa Rasulullah
    Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Ada empat orang yang Allah
    harus tidak memasukkan mereka ke dalam surga dan tidak mereka mencicipi
    kenikmatannya: orang yang kecanduan terhadap khamr, pemakan riba, orang
    yang memakan harta anak yatim secara dzalim, dan orang yang durhaka
    kepada kedua orang tua kecuali jika mereka telah bertaubat"
    (Diriwayatkan Hakim dengan sanad shahih, namun AI-Mundziri mengatakan
    bahwa pada sanad hadits ini terhadap Ibrahim bin Khaitsam yang
    haditsnya matruk, tertinggal dan tidak diakui).

    Seseorang datang kepada Abu Darda' Radhiyallahu Anhu dan berkata,
    Hai Abu Darda', sesungguhnya aku menikahi seorang wanita dan ibuku
    menyuruhku untuk menceraikannya. Abu Darda' berkata, Aku mendengar
    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda. "Orang tua adalah
    pintu tengahnya surga, jika kamu mau, hilangkan saja pintu atau
    jagalah".

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Ada tiga doa
    yang terkabulkan dan tidak ada keraguan padanya: doa orang yang
    didzalimi, doa orang yang bepergian, dan doa tidak baik orang tua
    terhadap anaknya"(Diriwayatkan Tirmidzi, Abu Dawud, dan Thabrani).

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Seorang bibi
    berkedudukan sama dengan ibu. Maksudnya dalam rangka rasa bakti,
    kebajikan, kemuliaan, hubungan, dan kebaikan. (Diriwayatkan Tirmidzi
    dan menilainya sebagai hadits shahih).


    Dari Amr bin Murrah Al-Juhani berkata, Seseorang datang kepada
    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan bertanya, "Wahai
    Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku melaksanakan shalat lima
    (waktu), aku berpuasa Ramadhan, menunaikan zakat, berhaji

    ke Baitullah. Maka apa yang aku dapatkan?" Rasulullah Shallallahu
    Alaihi wa Sallam menjawab, "Barangsiapa melakukan hal itu ia bersama
    para nabi, orang-orang jujur, para syuhada, dan orang-orang shalih.
    Kecuali jika ia durhaka kepada orang tuanya" (Diriwayatkan Ahmad dan
    Thabrani).


    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Allah melaknat kepada orang yang durhaka kepada orang tuanya"


    Juga diceritakan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa
    beliau bersabda, "Pada malam ketika aku diisra’ kan aku melihat
    beberapa kaum yang bergelantungan pada dahan-dahan dari api. Aku
    bertanya, Wahai Jibril, siapakah mereka itu?" Jibril menjawab, "Mereka
    adalah orang-orang yang mencaci ayah dan ibu mereka di dunia"


    Diriwayatkan bahwa barangsiapa mencaci kedua orang tuanya akan
    didatangkan kepadanya di dalam kuburan bara dari api sejumlah setiap
    titik air yang turun dari langit ke bumi. Juga diriwayatkan bahwa jika
    seseorang durhaka kepada orang tuanya. Nanti setelah dikubur, ia akan
    dihimpit kuburan itu hingga tulang-tulang rusuknya berhimpit.

    Yang paling keras siksanya pada hari Kiamat nanti tiga orang: Musyrik, pezina, dan yang durhaka kepada orang tua.


    Seorang laki-laki dan perempuan datang kepada Rasulullah
    Shallallahu Alaihi wa Sallam, mereka bertengkar tentang permasalahan
    anak mereka. Yang laki-laki berkata, Wahai Rasulullah, anakku ini
    keluar dari tulang rusukku. Yang perempuan berkata, Wahai Rasulullah,
    ia membawanya dengan ringan dan meletakkannya secara menyenangkan,
    sedangkan aku mengandungnya susah dan melahirkannya pun susah, aku juga
    menyusuinya dua tahun penuh. Akhirnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
    Sallam memutuskan anak itu untuk ibunya.


    Nasihat

    Wahai yang mengabaikan hak-hak mulia ini, yang enggan berbakti
    kepada kedua orang tua bahkan durhaka kepada mereka. Wahai orang yang
    lupa akan kewajibannya, yang lalai kepada apa yang ada di depannya.
    Berbakti kepada kedua orang tua bagimu adalah agama, Anda
    menerlantarkan kewajiban ini dan mengekor kepada syahwat, menurut
    dugaanmu kamu mencari surga, padahal surga itu ada di bawah telapak
    kaki ibumu. la mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan
    yang terasa sembilan tahun. la menderita saat melahirkanmu, suatu
    penderitaan yang memilukan hati dan menyusuimu.
    Demi kamu ngantuknya ditahan, dengan tangan kanannya ia
    membersihkanmu dari kotoran dan mara bahaya. la lebih mengutamakanmu
    dalam hal makanan. la menggunakan pangkuannya menjadi tempat
    landasanmu, memberikanmu kebaikan dan pertolongan. Jika sakit atau
    kepedihan menimpamu, ia menumpahkan rasa sayangnya secara
    habis-habisan. Kegelisahannya karenamu dan kegundahannya terus
    menemaninya,
    jika demlakan harta miliknya untuk mengobatimu ke dokter. Jika ia
    diberi pilihan antara hidupmu dan kematiannya, tentu ia akan memilih
    kehidupan bagimu dengan suaranya yang lantang. Inilah kasih sayang ibu.


    Sudah berapa kali kamu memperlakukannya secara kasar? Namun tetap
    saja ia mendoakanmu dalam kebaikan baik secara rahasia atau
    terang-terangan. Tatkala ia menua dan membutuhkan sesuatu kepadamu,
    rasanya ia menjadi beban paling berat bagimu. Kamu kekenyangan
    sedangkan ia kelaparan, kamu hilang rasa dahaga sedangkan ia kering
    kehausan. Kamu memberikan segala kebaikan kepada keluarga dan
    anak-anakmu di saat kamu melupakannya. Terasa berat bagimu urusannya,
    padahal ia mudah. Terasa panjang usianya bagimu padahal ia pendek. Kamu
    mengusirnya, sedangkan dada penolong selainmu. Ini sikapmu sedang
    Tuhanmu telah melarangmu mengatakan 'ah'. Allah mencacimu karena
    hak-haknya yang kamu abaikan dengan cercaan halus, bahwa -dalam dunia
    kamu akan dibalas dengan kedurhakaan anak-anakmu, sedang di dalam
    akhirat kamu dijauhkan dari Tuhan semesta alam. Allah memanggilmu
    dengan hina dan ancaman, Itulah (hasil) dari tanganmu (perbuatanmuj,
    dan sesungguhnya Allah tidak berlaku dzalim kepada hamba-hamba-Nya.
    (AI-Hajj: 10).


    Bagi ibumu terdapat banyak hak atasmu. Apa yang banyak menurutmu
    sesungguhnya sangatlah kecil sudah berapa malam ia merasa memberatkanmu
    dan kamu mengadukan perihalnya dengan rintih dan keluh Jika kamu tahu
    betapa berat saat ia melahirkanmu karena berat beban itu hati terasa
    terbang melayang. Betapa sering ia menjagamu dari mara bahaya dengan
    tangan kanannya. Dan pangkuannya pun menjadi ranjangmu la mengorbankan
    jiwanya demi keluhanmu Dari susunya keluar minuman suci bagimu Betapa
    sering kamu menderita kelaparan dan dengan sepenuh tenaga la memberikan
    kasih sayangnya kepadamu di waktu kecilmu


    Kasihan, mengapa orang cerdas mesti menuruti nafsunya Kasihan bagi
    yang buta hati sedangkan matanya melihat Berharaplah kamu terhadap
    semua doa-doanya karena terhadap apa yang didoakannya kamu
    membutuhkannya.


    Kisah Al Qomah
    Dikisahkan bahwa terdapat seorang pemuda yang dikenal dengan nama
    Alqamah, ia banyak berusaha mewujudkan ketaatannya kepada Allah dalam
    shalat, puasa, dan sedekah. Lalu ia ditimpa penyakit hingga kondisinya
    sangat parah.

    Ia mengutus istrinya untuk menemui Rasulullah Shallallahu
    Alaihi wa Sallam. Istrinya berkata, Suamiku, Alqamah sedang sekarat.
    Aku ingin memberitahukanmu wahai Rasulullah tentang keadaannya. Lalu
    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Ammar dan Shuhaib
    serta Bilal sembari bersabda, Pergilah kepadanya dan ajari ia syahadat.


    Mereka pergi dan masuk ke tempatnya, mereka mendapatkannya telah
    sekarat. Para sahabat itu lalu mengajarinya mengucapkannya `la ilaha
    illallah' sementara lidahnya kelu dan tidak bisa mengucapkannya. Lalu
    para utusan itu mengirim seseorang menemui Rasulullah shallallahu
    Alaihi wa Sallam untuk memberitahukan kepada beliau bahwa lisannya
    tidak bisa mengucapkan kalimat syahadat.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi
    wa Sallam bertanya,
    "Apakah salah seorang dari kedua orang tuanya masih
    hidup?"

    "Wahai Rasulullah, hanya ada seorang ibu
    yang sudah tua renta." Utusan itu menjawab,

    Rasulullah mengutus sahabat tersebut untuk
    menemui ibunya, beliau berkata kepadanya, "Katakan kepadanya, apakah ibu
    bisa berjalan menemui Rasulullah? Jika tidak bisa, tinggallah ibu di
    rumah hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam datang kepadamu."

     Lalu utusan itu datang kepadanya dan mengatakan kepadanya apa yang
    dipesankan Rasulullah kepadanya. lbu itu berkata, "Jiwaku untuk jiwanya
    sebagai tumbal, aku lebih berkewajiban untuk mendatanginya."

    lbu itu
    bersandar kepada sebuah tongkat dan berdiri dengan bantuan tongkat itu
    untuk datang menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau
    berkata kepadanya:
    "Wahai Ibu Alqamah, berlaku jujurlah kepadaku, dan
    jika kamu berbohong, sebenamya telah datang wahyu dari Allah kepadaku.
    Bagaimana keadaan anakmu Alqamah?"

    "Ya Rasulullah, ia banyak
    melaksanakan shalat, banyak puasa, dan bersedekah." Jawabnya

    "Lalu bagaimana dengan dirimu?" Tanya Rasulullah saw.

    "Wahai Rasulullah, aku sedang
    marah kepadanya. " Jawabnya.

    "Mengapa begitu?"

    "Wahai Rasulullah, ia lebih mementingkan
    istrinya daripada aku dan ia durhaka kepadaku."

    "Sesungguhnya kemarahan ibu Alqamah menjadi
    penghalang bagi lisan Alqamah untuk mengucapkan syahadat." Sabda Rasulullah saw.

    Beliau
    berkata lagi, "Ya Bilal, pergi dan ambillah untukku kayu bakar yang
    banyak!"

    "Wahai Rasulullah, apa yang akan engkau
    lakukan?" Protes ibu Al Qomah.

    "Aku akan membakamya dengan api itu di
    hadapanmu." Tegas Rasulullah saw.

    "Wahai Rasulullah, hatiku tidak tahan
    melihat anakku dibakar di hadapanku.!" Rintih sang Ibu.

    "Wahai Ibu Alqamah, siksaan Allah lebih dahsyat dan
    lebih kekal. Jika kamu senang kalau Allah mengampuninya, ridhailah ia." Nasehat Rasulullah saw.

    " Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, Alqamah tidak akan mendapatkan
    manfaat dengan shalatnya, puasanya, dan sedekahnya jika kamu masih
    marah kepadanya."

    "Wahai Rasulullah, aku mempersaksikan
    kepada Allah Ta'ala, para malaikat, dan semuanya, kaum Muslimin yang
    hadir bahwa aku kini telah ridha kepada anakku, Alqamah." Tegas Ibu  AL qomah.

    Kemudian Rasulullah
    Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Pergilah wahai Bilal dan
    lihatlah apakah ia bisa mengucapkan la ilaha illallah atau tidak!" Kemudian  Bilal
    pergi dan terdengar dari dalam rumah Alqamah mengucapkan la ilaha
    illallah.

    Bilal masuk dan berkata, Wahai semuanya, sesungguhnya
    kemarahan ibunya menghalanginya untuk mengucapkan syahadat dan
    keridhaannya membuat lisannya mampu mengucapkannya. Kemudian pada hari
    itu juga Alqamah meninggal, Rasulullah hadir dan memerintahkan untuk
    dimandikan, dikafani, dan dishalatkan. Beliau juga menghadiri
    pemakamannya, lalu beliau berdiri di bibir kuburannya dan bersabda:

    "Wahai sekalian kaum Muhajirin dan Anshar, barangsiapa yang lebih
    mementingkan istrinya dibandingkan ibunya, maka ia mendapatkan laknat
    dari Allah, para malaikat, dan semua manusia. Allah tidak akan menerima
    pengganti atau penebus kecuali ia bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla
    dan berbuat baik kepadanya serta memohon keridhaannya. Karena keridhaan
    Allah ada pada keridhaannya dan murka Allah ada pada murkanya."


    Dari kisah ini, kita memohon kepada Allah agar berkenan memelihara kita dengan
    keridhaan-Nya dan menjauhkan kita dari kemurkaannya. Sesungguhnya Allah
    Mahamulia dan Maha Dermawan. Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.


    Diambil dengan beberapa pengurangan dari “Al-Kabair” karya Imam Adz-Dzahabi
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Bahaya Menghina Orang Tua Rating: 5 Reviewed By: Mubarok Hasanuddin
    Scroll to Top