Aku Ingin Jadi Pohon - Buntet Pesantren Aku Ingin Jadi Pohon - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Thursday, May 22, 2008

    Aku Ingin Jadi Pohon


    2006-03-07_jajang.jpgOleh: Jajang Jahroni
    Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba pada suatu hari, anakku bilang
    bahwa ia ingin jadi pohon. Aku kaget. Apa maksudnya. "Manusia Pohon"
    yang tempo hari mengisi lembaran surat kabar tentu bukan yang ia
    maksudkan. Yah, namanya juga anak-anak. Ia bisa saja bicara apa saja,
    tanpa jelas maksudnya. Tapi setelah aku pikir-pikir, kalimat itu sangat
    bagus dan indah. Penuh makna. Maka aku pun mulai berpikir tentang pohon.



    Pengetahuanku
    tentang pohon sangatlah terbatas. Sebatas yang aku pelajari dalam ilmu
    tumbuh-tumbuhan. Ya dulu anak SD diajar ilmu tumbuh-tumbuhan. Sekarang
    tidak lagi. Mungkin karena dianggap tidak penting sehingga orang
    sekarang seenaknya menebang hutan, lalu banjir, malapetaka, korban
    berjatuhan. Ini semua gara-gara pohon. Terus terang, omongan anakku di
    atas tanpa konteks yang jelas. Mungkin sebelumnya ia menonton siaran
    teve tentang banjir yang berhubungan dengan pembabatan hutan.

    Mungkin
    juga karena ia melihat pohon di belimbing di belakanga rumah yang
    tengah berbuah. Aku bilang sama istri, mungkin sebaiknya kita punya
    pohon di belakang rumah agar udara segar, dan panas matahari teredam
    sedikit oleh dedaunannya yang rimbun dan hijau. Istriku setuju. Maka
    kami pun mencari bibit belimbing yang kira-kira buahnya manis. Belum
    sempat kami pergi ke tukang tanaman, adikku datang membawa bibit
    belimbing. Dengan segera ia mengambil pacul dan menanamnya.

    Lama
    aku tidak memperhatikan pohon itu sampai suatu hari aku kaget. Pohon
    itu kini sudah tiggi menjulang, dan di sana sini merintis bunga.
    Pertanda akan berbuah. Dan setiap hari anakku memanjat dan bertengger
    di dahannya. Tak lama setelah itu, di atas meja makan selalu tersaji
    buah belimbing. Anakku sekali. Padahal tidak begitu manis. Mungkin ia
    merasa itu adalah buah pohon yang selalu dipanjatnya, pohonnya. Mungkin
    ini yang ia maksudkan dengan kalimatnya, "aku ingin jadi pohon."

    Hari
    berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Pohon itu
    semakin besar dan tinggi. Daunnya menutupi sebagian halaman belakang.
    Anakku sudah tidak pernah lagi memanjatnya. Dahan yang biasa ia
    tenggeri, sekarang sudah tidak terjangkau lagi.

    Matahari
    sekarang hanya bisa mengintip melewati rerimbunnya. Hawa di belakang
    sejuk memang. Tapi ada yang mengkhawatirkan aku. Dahannya sebagian
    merangsek ke genteng. Daun-daunnya menyumpal talang. Dan kalau hujan
    tiba, karena tersumpal air meluap dan merembes lewat triplek. Awalnya
    aku biarkan. Tapi ketika triplek jebol, karena lapuk dan hancur, aku
    pun angkat bicara. Mungki pohon ini harus ditebang.

    Anakku
    protes tidak setuju. Kalau mau, katanya, yang ditebang cukup dahan yang
    menjuntai ke atas genteng saja. Yang lainnya biarkan saja. Benar juga
    kataku dalam hati. Tapi bila angin bertiup daunnya toh tetap jatuh ke
    genteng dan menyumpal talang. Memang, katanya, ini karena bapak membuat
    talang segala sih! Coba kalau air hujan dibiarkan langsung jatuh, kan
    tidak perlu repot-repot memunguti sampah setiap kali musim hujam tiba.

    Aku menyergah dalam hati. Anak ini pandai bicara. Tiba-tiba aku ingat kata-katanya yang dulu ia ucapkan. Aku ingin jadi pohon.

    Karena
    argumenku lemah, talang dibelakang rumah dibongkar. Air hujan langsung
    jatuh ke tanah. Benar juga sih, tidak ada bercak air lagi di triplek.
    Namun, sesuai kesepakatan, dahan-dahan yang menjuntai di atas genteng
    dibabat habis. Aku bilang sama si tukang tebang, sisakan saja satu dua
    dahan pokok.

    Mengetahui pohonnya dibabat, anakku marah. Apa
    mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Nanti kan tumbuh lagi. Dahan dan
    daunnya tumbuh seperti sedia kala, kataku menghibur.

    Namun
    anehnya, sejak itu pohon itu tampak merana. Ia tidak mau tumbuh lagi.
    Wah, aku jadi bingung. Kok bisa jadi begini. Tanya punya tanya, aku
    baru engeh bila pohon terlalu banyak dipangkas, proses fotosintesisnya
    akan terganggu. Betul juga kataku. Tiba-tiba aku merasa bodoh sekali.
    Bukankah dulu guruku di SD bilang bahwa pohon memasak makanannya di
    daun. Kalau daunnya dipangkas, di mana pula ia akan memasak.

    Tak
    lama setelah itu kulihat pohon itu mulai ditumbuhi jamur. Pertanda
    memang tidak ada pertumbuhan di dalamnya. Aku diam saja ketika anakku
    cerita bagaimana orang Jepang merawat pohon-pohonnya. Pada musim
    dingin, pada bagian bawah pohon-pohonnya dilibeti jerami yang sudah
    dianyam rapi. Ini dimaksudkan agar kutu dan serangga yang bersarang,
    karena kedinginan, berkumpul di bawah jerami itu. Begitu musim semi
    datang, selimut jerami itu dibuka dan dibakar. Tak aneh bila kemudian
    bunga sakura di sana bisa berumur lebih panjang dari manusia.

    Aku
    semakin bersalah saja mendengar cerita itu. Terlebih lagi ketika pohon
    itu renta dan lapuk. Manusia punya rencana, tapi tuhan juga yang
    menentukan. Setelah berdebat ke sana ke mari, pohon itu akhirnya
    ditebang.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Aku Ingin Jadi Pohon Rating: 5 Reviewed By: Mubarok Hasanuddin
    Scroll to Top