Tragedi Ekonomi-Ekosistem - Buntet Pesantren Tragedi Ekonomi-Ekosistem - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Saturday, April 19, 2008

    Tragedi Ekonomi-Ekosistem


    Oleh: Prof Dr Hadi S Alikodra




     



    Sebetulnya sudah lama para pemerhati kehutanan
    mengetahui bahwa kerusakan hutan di Kalimantan, antara lain, dipicu
    pencurian kayu yang dicukongi ”oknumoknum pengusaha” di Malaysia.







    Meski demikian, selama bertahun-tahun, aparat
    keamanan sulit sekali menangkap para pencuri kayu dari Malaysia. Di
    pihak lain, Pemda Kalimantan–– khususnya Kalbar dan Kaltim yang paling
    berdekatan dengan Malaysia— tampaknya kurang ”antusias” memberantas
    para pembalak liar yang menguras kayu di wilayah mereka.






    Akibat
    pembalakan liar itu,sejumlah taman nasional di Kalimantan Barat dan
    Kalimantan Timur (Taman Nasional Meratus,Tanjung Puting, Gunung Palung,
    Danau Sentarum, Betung Kerihun,dan Kayan Mentarang) kini mengalami
    kerusakan. Hutan-hutan perawan di sejumlah taman nasional banyak yang
    rusak. Rusaknya taman nasional ini tidak saja merugikan Indonesia,tapi
    juga merugikan dunia ilmu pengetahuan secara keseluruhan. Soalnya taman
    nasional di Kalimantan bisa dikatakan sebagai laboratorium alam
    terlengkap di dunia.






    Maklumlah, hutanhutan di
    Kalimantan adalah hutan tropis basah yang menyimpan khazanah ilmu
    pengetahuan amat kaya,khususnya mengenai kehidupan tumbuhan dan hewan,
    termasuk mikroorganisme, yang jumlah dan variasinya amatamat banyak.






    Pusat Bertindak



    Setelah
    banjir sering melanda wilayah Kalimantan,belakangan perhatian Jakarta
    terhadap kerusakan hutan di Kalimantan tersebut makin besar.



    Wakil
    Presiden Jusuf Kalla sempat kesal terhadap maraknya pembalakan liar di
    Kalimantan. Bahkan belum lama ini, Kapolri Jenderal Polisi Sutanto dan
    Menteri Kehutanan (Menhut) MS Kaban meninjau langsung lokasi
    penangkapan 21 kapal pembawa kayu ilegal di kawasan Ketapang,
    Kalimantan Barat, pekan pertama April lalu.






    Yang
    membuat masyarakat terkejut, ada dugaan kasus penangkapan ini
    melibatkan petinggi kepolisian daerah Kalbar.Bahkan,pencurian kayu itu
    diduga melibatkan jaringan mafia yang menyusup hampir di semua lini
    pemda setempat. Seperti diketahui, puluhan kapal yang ditangkap
    tersebut mengangkut 12.000 meter kubik (m3) kayu curian. Dalam kasus
    ini, negara berpotensi merugi hingga Rp280 miliar. Semua kayu
    rencananya dikirim ke Serawak, Malaysia.Polisi juga sudah menutup enam
    lokasi pengolahan kayu.






    Di sana ditemukan
    tumpukan kayu olahan. Kapolri berharap penangkapan ini menjadi tonggak
    untuk memberangus pencurian kayu dari hutan Indonesia. ”Siapa yang
    bersalah harus ditindak. Tapi kita juga tak mau berpegang pada opini
    saja.Kita sedang mengumpulkan bukti-bukti,” kata Kapolri. Senada dengan
    Kapolri,MS Kaban juga berpendapat kasus ini harus ditindaklanjuti
    terus.






    ”Ini kasusnya besar, dan kita ingin
    memberangus sampai akar-akarnya. Karena itu kasus ini dibawa ke
    Jakarta.Diadili di Jakarta supaya bebas intervensi,” kata Menhut.Selain
    semua barang bukti di atas, polisi juga mencokok tiga tersangka
    masing-masing Aweng,Fredi, dan Darwis.Polisi juga meringkus Wijaya yang
    diduga sebagai pemilik satu dari 21 kapal yang ditangkap.Bayangkan
    ini,baru satu kasus.






    Padahal,kata mantan Sekjen
    Dephut Soeripto, kasus pencurian itu sudah berlangsung puluhan tahun.
    Negara telah dirugikan minimal 10 triliun akibat pencurian kayu dalam
    10 tahun terakhir ini. Menhut tampak geram dengan pencurian kayu
    tersebut. Sebab, sudah lama para pencuri kayu itu lalu lalang di
    perbatasan Kalimantan- Serawak. Namun, aparat setempat tampaknya
    mandul.






    Kepolisian dan pengadilan setempat
    sering tidak berdaya menghadapi para pembalak liar tersebut. Inilah
    tampaknya yang membuat kesal Jakarta hingga akhirnya Menhut dan Kapolri
    perlu melakukan tindakan shock therapy (terapi kejut).







    Malaysia, Pengekspor Kayu?



    Ada
    keanehan dalam data perdagangan kayu dunia saat ini. Malaysia tercatat
    sebagai negara pengekspor utama kayu tropis dunia. Negeri serumpun yang
    mempunyai hutan produksi 11,8 juta hektare tersebut tercatat mampu
    mengekspor kayu yang sangat besar ke Uni Eropa: yaitu 5 juta m3 kayu
    bulat dan 3 juta m3 kayu gergajian tiap tahun.






    Di
    samping itu,Malaysia juga mengekspor kayu tropis ke China sebesar 4,5
    juta m3 per tahun. Prestasi Malaysia sebagai pengekspor kayu tropis
    yang amat besar itu memang patut dipertanyakan. Lebih heran lagi,
    belakangan China juga tumbuh menjadi pengekspor kayu tropis ke
    Eropa,Amerika,dan Jepang. Pertanyaannya,dari mana kayu tropis China
    itu?






    Greenomics, sebuah lembaga kajian
    kehutanan independen di Jakarta, dalam pernyataannya 22 Desember tahun
    lalu sangat menyayangkan, kenapa AS, Eropa, dan Jepang percaya saja
    bahwa kayu tropis dari China itu memenuhi standar internasional, dalam
    arti kayu tersebut diperoleh dari hutan produksi lestari.Padahal,
    jelas-jelas kedua negeri itu tidak mempunyai hutan tropis yang luas
    yang mampu menghasilkan produk kayu tropis sebanyak itu.






    Amerika,misalnya,mengimpor
    kayu tropis dari China dan Malaysia sebesar USD23,3 miliar per tahun,
    Uni Eropa USD13,2 miliar per tahun, dan Jepang USD11,8 miliar per
    tahun.Dari mana kayu tropis yang diekspor Malaysia dan China tersebut?
    Mereka—Eropa,AS,dan Jepang— mestinya tahu bahwa kayu-kayu tersebut
    tidak mungkin sepenuhnya berasal dari kedua negara tadi.






    Melihat
    maraknya pencurian kayu dari Indonesia, mereka seharusnya curiga,dari
    mana kayu-kayu tropis itu.Tapi nyatanya, mereka diam seribu bahasa.
    Itulah sebabnya,Greenomics menuduh negara-negara maju bersikap
    munafik.Di satu sisi lantang mengkritisi kerusakan hutan tropis di
    Indonesia, di sisi lain mereka sebagai penadah kayu curian asal
    Indonesia.






    Karena itu, dalam hal kerusakan
    hutan tropis Indonesia,negara maju sebetulnya punya kontribusi.
    Berdasarkan kajian akhir tahun Greenomics Indonesia, data perdagangan
    kayu dunia itu aneh. Soalnya, Malaysia juga menyatakan Indonesia
    sebagai salah satu pemasok kayu bulat ke negerinya.Padahal sejak 1985,
    Indonesia telah melarang ekspor kayu bulat untuk mengembangkan industri
    hilir domestik.






    Kajian Greenomics itu diperoleh
    dari hasil analisis laporan tahunan produk-produk kayu tropis di pasar
    dunia tahun 2004–2007 yang dikeluarkan Komisi Ekonomi PBB untuk Eropa
    bersama FAO.Selama empat tahun itu,tercatat Malaysia mengekspor kayu
    bulat sebanyak 20 juta m3 dan kayu gergajian 12 juta m3 ke pasar Eropa.
    Dari mana kayu-kayu itu?






    Fakta Ironis



    Menurut
    Greenomics, jika sistem tebang lestari diberlakukan di Malaysia seperti
    klaim negara itu di berbagai konferensi lingkungan hidup internasional,
    termasuk di Bali belum lama ini, maka Malaysia hanya dapat mengekspor
    3,6 juta m3 kayu bulat per tahun.






    Yang jadi
    soal,Malaysia mengaku bahwa produksi kayunya mencapai 35–40 juta m3 per
    tahun. Di pihak lain, Indonesia yang memiliki 38,8 juta hektare hutan
    produktif menghasilkan 12 juta ton kayu bulat per tahun secara lestari
    (60 juta m3 dalam lima tahun). Jumlah tersebut masih melebihi kebutuhan
    industri kayu nasional yang mencapai 40–45 juta m3 dalam lima tahun
    (2002–2007). Informasi bahwa Malaysia sebagai penadah kayu curian
    sebetulnya sudah lama didengar pemerintah Indonesia.






    Menteri
    kehutanan zaman Presiden Megawati Soekarnoputri, Mohamad Prakosa,
    misalnya, sudah menuduh secara terang-terangan bahwa Malaysia harus
    menghentikan kerja sama pencurian kayu dengan para mafia kayu
    Indonesia. Akan tetapi, peringatan Indonesia itu tidak
    digubris.Malaysia tetap menganggap bahwa kayu yang dibeli dengan harga
    murah dari Kalimantan itu legal.






    Padahal,selama
    ini sudah jadi rahasia umum bahwa penebangan liar besarbesaran di
    Kaltim dan Kalbar,cukong dan penadahnya adalah para pengusaha kayu
    Malaysia.Para pengusaha Malaysia juga ikut menyebarkan pengaruh buruk
    terhadap aparat keamanan dan pengadilan di Kalimantan.






    Mereka
    siap melakukan apa saja–– seperti mafia Sisilia–– untuk mendapatkan
    kayu Kalimantan tersebut. Itulah sebabnya, Dr Ir Mustoha Iskandar––yang
    pernah menjadi Direktur di Inhutani III–– menyatakan serakahnya
    pembalakan liar di Indonesia sudah masuk kategori luar biasa. Karena
    sudah masuk kategori itu, seharusnya pemerintah juga mengeluarkan
    kebijakan yang luar biasa untuk mengatasi pencurian kayu tersebut.






    Bila
    perlu,pelakunya dihukum mati atau paling seumur hidup tanpa pandang
    bulu.Pasalnya,pembalakan liar tersebut bukan hanya merupakan tragedi
    ekonomi, melainkan juga ekosistem dan masa depan bumi. Pemerintah
    Indonesia juga harus melindungi hutan tropis Kalimantan secara
    ekstraketat.Pada titik-titik tertentu yang biasa dipakai untuk
    menyelundupkan kayu ke luar negeri misalnya, dijaga superketat melalui
    semua angkatan.






    Sementara itu,para pelakunya bisa
    dikategorikan sebagai teroris sehingga bisa dihukum amat berat,bahkan
    hukuman mati.Pendeknya, para pelaku pembalakan liar harus diberantas
    sampai akar-akarnya sehingga bisa menimbulkan efek jera. Persoalannya,
    siapkah aparat keamanan dan penegakan hukum melakukan semua itu.






    Sebagai
    negeri yang pernah menjadi tuan rumah konferensi lingkungan
    internasional di Bali belum lama ini, pemerintah memang mempunyai
    tanggung jawab moral terhadap kelanjutan programprogram penyelamatan
    bumi yang dihasilkan konferensi itu. Itulah tanggung jawab moral bangsa
    Indonesia terhadap penyelamatan bumi. Jika pemerintah mampu mengemban
    amanah konferensi Bali dengan baik,niscaya kepercayaan internasional
    kepada Indonesia bakal me-ningkat.






    Itu
    artinya,kredibilitas Indonesia dalam bidang lain pun akan meningkat
    pula, termasuk ekonomi. Imbasnya, negara kaya pun akan banyak membantu
    pemulihan ekonomi Indonesia. Ini benar-benar kesempatan emas yang harus
    pemerintahan Indonesia perhatikan.Semoga! (*)





    Prof Dr Hadi S Alikodra
    Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB 
    sumber tulisan : Koran SINDO edisi
    Kamis, 17/04/2008
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Tragedi Ekonomi-Ekosistem Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top