Toleransi Berangkat dari Rumah - Buntet Pesantren Toleransi Berangkat dari Rumah - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Monday, April 14, 2008

    Toleransi Berangkat dari Rumah


     


    Oleh Nurul H. Maarif

    UrulIni
    kisah persahabatan dua bocah cilik. Nilna (perempuan, 16 bulan) dengan
    tetangga ciliknya Christopher (lelaki, 2 tahun). Keduanya dari keluarga
    dengan latar belakang agama berbeda. Nilna dari keluarga muslim dan
    Christopher dari keluarga Kristen. Itu nyata tersirat dari pilihan nama
    bagi keduanya.


    Namun, bukan soal pilihan nama ini yang menarik
    diperbincangkan. Menurut sebagian orang, apa sih arti sebuah nama? Di
    samping itu, toh keduanya juga belum tahu apa itu 'nama islami' dan apa
    itu 'nama kristiani'. Apalagi untuk memilih sebuah agama dengan
    kesadaran, tak pernah terpikirkan oleh anak sebelia itu. Orang
    tuanyalah yang nantinya memilihkan (tepatnya 'memaksakan') agama mana
    yang musti mereka anut.

    Lebih dari itu, imanpun belum mereka
    miliki, kecuali iman primordial yang dibawa sejak dari rahim bundanya.
    Iman hasil perjanjian suci antara calon jabang bayi dengan Tuhannya.
    Itupun, untuk anak seumuran mereka, belum mewujud sebagai identitas.
    Namun justru lantaran ketidakmengertian mereka tentang agama dan iman
    itulah, persahabatan mereka menjadi alami dan unik -- setidaknya
    menurut saya sendiri.

    Suatu ketika, bunda Si Nilna (saya
    menggunakan Si untuk menunjukkan kebeliaannya) memembelikan sepotong
    roti untuknya. Tak dinyana, roti itu dibelahnya menjadi dua bagian.
    Sebagian dimakan sendiri dan sebagian diulurkan buat Si Christopher,
    yang keluarganya Kristen dari Batak itu. Kendati tanpa perbincangan
    sedikitpun, karena keduanya belum bisa bercakap, toh keakraban diantara
    mereka tetap tampak nyata.

    Kisah persahabatan dua bocah cilik
    ini memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, persahabatan memang
    tidak musti dinyatakan melalui ucapan. Yang jauh lebih penting adalah
    tindakan nyata. Berbagi, sebagai simbol persahabatan yang ditunjukkan
    Si Nilna misalnya, tak perlu dimediasi oleh ucapan apapun. Apalagi
    perlu sorotan dan publikasi berbagai media massa. Cukup dengan tindakan
    nyata. Tangan kanan memberi, tangan kiri pun tak perlu mengetahuinya.
    Itulah sejatinya inti dari ajaran agama; tindakan. Karenanya, agama tak
    bermakna apa-apa jika hanya dikhutbahkan melulu di bibir, tanpa ada
    tindakan nyata untuk kemanusiaan. Jika hanya di mulut, agama menjadi
    kecil dan kerdil.

    Kedua, persahatan tidak seharusnya disekat
    oleh perbedaan, baik perbedaan suku, agama, ras, dan sejenisnya.
    Persahabatan itu universal. Karenanya, jika ada kelompok tertentu
    memilih-milih dan memilah-milah sahabat, seorang muslim hanya memilih
    dan memilah kawan dari muslim lainnya, yang Kristen pun demikian, maka
    substansi persahabatan menjadi hilang. Bahkan nyaris tak ada gunanya.

    Ketiga,
    persahabatan dua bocah cilik itu mengisyaratkan bahwa konflik antar
    agama atau antar iman, itu tidak pernah (setidaknya jarang) terjadi di
    tingkat bawah. Bahkan, ketika Si Nilna dan banyak anak-anak muslim di
    lingkungannya sakit, (sebut saja) Bidan Manurung yang Kristen Batak
    menjadi rujukan penyembuhan. Ini soal kepercayaan, bukan keterpaksaan,
    karena masih banyak dokter muslim di sana. Tapi bahwa kerja medis bidan
    ini lebih cocok bagi pasien, itu tidak bisa dipungkiri. Sekat
    keimananpun menjadi lebur, karena kesalingpercayaan.

    Yang tak
    kalah penting, yang membuat pasien muslim kerasan, adalah keramahan dan
    ketelatenan Nenek (ia menyebut dirinya) menjawab keluhan pasien yang
    tak direka-reka. Dan, tak ada satu pasien muslimpun yang menyoal latar
    belakang imannya. Mereka datang untuk mengobati fisik yang luka, bukan
    mengobati iman yang koyak. Mereka datang bertanya resep kesehatan,
    bukan bertanya akidah. Kesehatan adalah kesehatan dan akidah adalah
    akidah. Keduanya terpisah jelas. Soal akidah misalnya, lakum dinukum wa
    liya din. Ternyata orang di bawah 'lebih paham' pemisahan ini.

    Jika
    nyatanya di bawah no problem, jangan-jangan benar belaka dugaan bahwa
    wacana konflik antar agama atau antar iman itu sejatinya melulu problem
    elit: 'masalah orang pinter' atau 'yang dipermasalahkan orang pinter'.
    Saking pinternya, termasuk yang bukan masalahpun dipermasalahkan.
    Kalaupun ada masyarakat bawah yang turut meributkannya, saya yakin
    sekali itu lantaran pengaruh atau bahkan hasil komporan 'orang pinter'
    itu.

    Keempat, persahabatan dua bocah cilik itu -- secara tidak
    langsung -- juga bisa dimaknai sebagai kritik bagi para penggiat dialog
    antar agama. Jujur saja, tingkat keberhasilan dialog jenis ini --
    termasuk melalui munculnya Trilogi Umat Beragama oleh Menteri Agama
    Alamsyah Ratu Prawiranegara -- masih perlu uji lebih jauh. Apalagi
    dialog ini lumrahnya hanya melibatkan orang dewasa yang telah memiliki
    'prasangka laten' pada 'yang lain'.

    Sebaiknya, dialog itu lebih
    dicurahkan untuk anak-anak kecil yang belum memiliki paradigma apapun
    tentang 'yang lain'. Anak-anak yang bersih ini perlu dibekali
    perjumpaan dan perkenalan dengan umat agama lain. Biarkan pengalaman
    lapangan yang berbicara dan menjadi guru mereka, bukan dialog wacana
    yang acap hanya ada di kepala. Dengan 'toleransi lapangan' sejak dini
    itu, 'prasangka laten' yang menjadi faktor utama konflik antar agama
    sangat mungkin dikikis. Tentu saja, setelah itu tetap penting diinjeksi
    wacana-wacana yang damai dan toleran.

    Dengan ujaran lain,
    janganlah dialog antar agama digelar dengan mengabaikan keluarga dan
    anak-anak. Toleransi dan keterbukaan yang sesungguhnya, hanya akan
    terwujud jika sedari dini keluarga dan anak-anak telah merasakan arti
    sesungguhnya toleransi dan keterbukaan itu. Untuk itu, toleransi dan
    keterbukaan harus diberangkatkan dari rumah. Dan, tentu saja, ini butuh
    kerja keras dengan durasi waktu panjang. Tujuan mulia memang butuh
    kesungguhan! Wa Allah a'lam.[]

    (Radar Banten, Kamis, 17 Januari 2008)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Toleransi Berangkat dari Rumah Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top