Tentang Pembubaran Ahmadiyah Ulama Cirebon Beda Pendapat - Buntet Pesantren Tentang Pembubaran Ahmadiyah Ulama Cirebon Beda Pendapat - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Friday, April 25, 2008

    Tentang Pembubaran Ahmadiyah Ulama Cirebon Beda Pendapat



    Dampak pengumuman Bakorpakem yang
    menilai Ahmadiyah adalah sesat dan menyesatkan, cukup membuat kehebohan
    di daerah, apalagi di Cirebon yang sejak tahun 1980-an para ulama dan
    masyarakatnya memang sangat anti-Ahmadiyah.



     



    Tapi suasana 1980-an tersebut berbeda dengan sekarang. Bahkan beberapa
    pihak yang dulu menyatakan anti Ahmadiyah, paska pengumuman Bakorpakem
    justru melakukan penentangannya.






    Mereka yang menentang keputusan Bakorpakem yang merupakan para Ulama
    dan pimpinan Pondok Pesantren dari NU, dengan menamakan diri "Forum
    Khiththoh 1926" berkumpul di PP Khatulistiwa Kempek Kecamatan Gempol
    Minggu (20/04), membahas penolakan keputusan Bakorpakem yang melarang
    Ahmadiyah hidup di Indonesia. Pertemuan itu dipimpin oleh Habib Utsman
    pimpinan PP Khatulistiwa.






    Informasi yang diterima Pelita menyebutkan, Pimpinan atau Ulama lain
    yang hadir diantaranya KH Taufiqur Rahman, KH Qosim Hamim (PP
    Gedongan), KH Hasanuddin Imam (Ender), Ihya Ulumiddin (AN Nahdliyah,
    Gebang), KH Syarif Abu Bakar Yahya, KH Aziz Hakim (Babakan Ciwaringin),
    KH Zahid Hidayat (Kaliwadas), KH Syarif Tholhah Nawawi (Kempek) dan
    beberapa Kyai lainnya. Sebagian diantara mereka dulunya sangat
    menentang Ahmadiyah.






    Alasan penolakan keputusan Bakorpakem adalah, Negara menjamin setiap
    warga Negara untuk menjalankan agamanya sesuai dengan keyakinan dan
    kepercayaannya masing-masing. Dan mendesak struktur NU dari pusat
    hingga daerah kembali ke barak masing-masing untuk mengurusi ummat dan
    pesantren, tidak terjebak manisnya godaan politik praktis yang
    menyesatkan dan kembali ke Khiththoh NU 1926, serta mengajak kaum
    Nahdliyyin menggiatkan kembali tradisi NU yakni silaturrahmi, lailatul
    ijtima dan lain-lain.






    Dalam kaitan itu Habib Utsman menegaskan, pihak manapun tidak berhak
    menghakimi dan menghukum Ahmadiyah, dan jangan mengatasnamakan agama
    untuk melakukan kekerasan, tidak seharusnya menuduh mereka sesat dan
    menyesatkan, apalagi melarang ajaran Ahmadiyah hidup di Indonesia.






    Terkait dengan acara itu, Ketua PC NU Kabupaten Cirebon KH Ali Murtadlo
    menegaskan, bahwa pertemuan Forum Khiththoh 1926 sama sekali tidak
    terkait dengan NU, dan menganggap mereka di luar Kontrol NU.



     



    Bantahan juga datang dari Ihya Ulumiddin pimpinan pondok Pesantren
    Annahdliyah Gebang, saat dikonfirmasi Pelita terkait keterlibatannya
    dalam Forum itu melalui ponselnya.






    Saya tidak pernah seideologi, dengan Ahmadiyah, dan tidak pernah akan
    membenarkan ideology Ahmadiyah ungkapnya. Dan meminta berdiskusi
    langsung tentang sikapnya.






    Para pendukung Bakorpakem kemudian juga menggelar pertemuan di
    sekretariat Front Pembela Islam Weru, difasillitasi oleh Front Pembela
    Islam Cirebon Selasa malam (22/04), untuk membahas sikap Forum
    Khiththah 1926. Yang hadir berasal dari Ormas-ormas Islam, para
    pimpinan Pondok Pesantren berpengaruh dan tokoh-tokoh muda. Mayoritas
    adalah Ulama NU juga. Mereka menegaskan kembali bahwa Ahmadiyah adalah
    ajaran yang sesat dan menyesatkan, serta mendukung Bakorpakem.






    MUI Kabupaten Cirebon beserta Kandepag dan pihak-pihak lainnya akan
    membuat pernyataan resmi terkait Keputusan Bakorpakem pada hari Senin
    28 April, setelah melakukan pertemuan di aula MUI. Sementara Kepala
    Kejaksaan Negeri Kabupaten Cirebon Happy Widyastuty SH CN, akan
    memberikan keterangan hari Jumat 25 April. (ck-71)



     



    Sumber: Harian Umum Pelita

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Tentang Pembubaran Ahmadiyah Ulama Cirebon Beda Pendapat Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top