SEPENGGAL KISAH UDIN - Buntet Pesantren SEPENGGAL KISAH UDIN - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Monday, April 14, 2008

    SEPENGGAL KISAH UDIN





    Oleh: Agus Iswanto*


    Udin terus berlari menyusuri gang-gang
    sempit di perkampungan yang kumuh Tampak wajah dan tubuhnya penuh
    dengan peluh, rasa takut terlihat dari sorot mata dan raut wajahnya.
    Nafasnya tersengal-sengal seperti dikejar setan yang menyeramkan dan
    akan menerkamnya. Udin berhenti sesaat. Matanya mengawasi ke ujung
    jalan bak kucing memburu mangsanya, badan berputar ke belakang, rasa
    tenang pun terlihat pada dirinya. Kemudian duduk bersandar pada tiang
    listrik, wajahnya tertunduk, nafasnya masih memburu, ia tutup wajahnya
    dengan telapak tangan seraya menghela nafas Begitulah bagian sisi kehidupan Udin, hampir setiap malam harus bertaruh dengan maut hanya untuk menyambung hidupnya.





    Malam
    ini mungkin tuhan masih memberi kesempatan padanya untuk kembali
    kejalannya. Malam ini dia boleh bersenang dan lega hati, karena masih
    dapat menghirup udara bebas tanpa harus menghabiskan hidupnya di balik
    terali besi menunggu sang hakim memukulkan palunya untuk hukumannya,
    tapi bisakah itu terus berlanjut ?, bisakah ia terus melepaskan diri
    dari kejaran kesalahan yang selalu menghantuinya, mampukah ia lepas dan
    bebas dari bayang-bayang kesalahan yang membuntutinya, hatinya tak
    dapat berbohong dan akan selalu menjadi saksi akan kebenaran yang
    sebenarnya. Lalu adakah kebenaran yang tidak sebenarnya?.


    Dua
    hari yang lalu, Ucok seorang teman asal pelabuhan Tanjung Balai Medan
    tewas tertembak sewaktu melawan petugas yang akan menyergapnya. Tak
    ayal lagi ibunya yang mengharap anak satu-satunya itu sebagai tumpuan
    harus tiada. Hari sebelumnya, Asep temannya juga mendekam di sel
    tahanan setelah timah panas menembus kakinya. Baru berselang satu hari.
    Gembong besar kriminal kota itu tertangkap tanpa perlawanan di
    sarangnnya. Udin meringis mengingat kejadian itu semua. Kini ia harus
    mempertahankan nasibnya yang tak menentu itu bagai telur diujung
    tanduk. Wajah pucat pasi, lemas tiada berdaya seakan pasrah menunggu
    nasib yang akan ia terima. Tubuhnya pun lemas tiada daya lagi untuk
    tegakkan kaki untuk menapak hari-hari depan yang entah baginya suram
    ataupun terang. Kini ia hanya menghitung nasib dan pengharapan.


    “Dunia ini bohong”
    “Dunia ini penipu”
    “Hanya manusia bodoh yang mau tertipu”
    “Untuk tidak tertipu, kau harus menipu lebih dulu !”
    “Aku kasihan pada emak, abah, juga adikku”
    “Ha…ha…ha”
    “Omong kosong”
    “Emak dan bapakmu sudah di dalam tanah”
    “Adikku ?”
    “Tahu apa dia ?”
    “Sudahlah aku tak mau berdebat dengan uwa”
    “Tapi ingat nasibmu tidak akan berubah jika kau hanya berlagak suci”
    “Dunia
    ini bukan hanya kampung, rumah, emak, bapak , adik, makan, sawah, atau
    tetek bengek lainnya, tapi dunia ini lebih luas, lebih ganas, lebih
    kejam dari yang kau bayangkan. Bagaimana bisa kau membahagiakan adikmu
    kalau dirimu saja masih kere”

    Udin terdiam membisu.

    “Sudahlah
    aku masih banyak urusan, pikirkan baik-baik, untuk beberapa hari ini
    kau boleh tinggal disini, tapi ingat, tidak untuk selamanya”.

    Udin
    menghela nafas dalam-dalam, mukanya terlihat kusut, terlihat keraguan
    dan keputusasaan yang menghantui jiwa. Hatinya hanya bertanya-tanya.
    Dia ambil tas ransel bututnya pemberian ayahnya sepuluh tahun yang
    lalu. Ia keluarkan sebagian isi tas kedalam lemari kayu yang sudah agak
    rapuh. Hatinya menangis dalam kebisuan. Terbayang senyum ibu, bapak dan
    adiknya yang selalu mengharapkannya. Seakan hidup dalam lautan duri
    yang terus menyiksanya, perih, pedih dan sembilu menyayat hati. Udin
    duduk menghadap kesebuah meja, tangannya menyambar kertas yang bercecer
    diatas tumpukan buku-buku yang usang, ia tulis surat untuk adiknya.


    *****

    Udin
    adalah yatim piatu yang dilahirkan di sebuah kota pinggiran kota besar.
    Ia putuskan untuk keluar dari pesantren setelah tiga tahun mondok
    karena tak mampu lagi membiayai sekolahnya. Kedua orang tuanya
    memasukannya ke sebuah pesantren kecil di kotanya walaupun dengan
    kekurangan dan susah payah yang tetap ingin anaknya menjadi anak yang
    mempunyai derajat dan mampu menagangkat derajat keluargnya,. Udin
    sebagai seorang anak laki-laki merasa bertanggung jawab pada adiknya
    yang masih duduk di kelas enam SD. Udin memilih keluar dari
    pesantrennya karena dia bertekad untuk mencukupi dan membiayai sekolah
    adaiknya.


    Udin pun pergi ke kota metropolitan. Ia bermaksud
    mencari pamannya yang kabarnya sudah sukses hidup di jakarta. Pamannya
    yang diketahui oleh orang-orang desa sudah berhasil dan mapan hidup di
    kota. Ketika pamannya kembali ke kampung, dengan penampilan yang
    berbeda, mobil yang mewah dengan pakaian necis dan serba wah membuat
    orang-orang udik tercengang, Lesmana itu nama paman Udin. Lesmana yang
    dulu sebagai pemuda pengangguran, kini kembali dengan gaya hidup yang
    mewah. Tapi memang kota, bisa membuat orang berubah sembilan puluh
    bahkan seratus derajat dari kehidupannya. Apakah ini bukti sabda rasul,
    bahwa pada suatu zaman nanti, orang-orang mencari penghidupan dengan
    dosa dan maksiat ?.


    Lesmana seorang gembong narkoba yang punya
    nama di beberapa kota besar, Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Medan,
    dan ia adalah buronan aparat yang menjadi target utama. Dia tertembak
    mati, ketika mencoba melarikan dari kejaran aparat di sebuah markasnya.


    Udin
    yang tergoda dengan gemerlap kehidupan dunia. Akhirnya terperosok ke
    jurang kenistaan, ia terkurung dalam lingkaran setan, tak ada jalan
    keluar baginya untuk melepeskan dari ikatan itu, mati adalah
    taruhannya. Adakah hati nuraninya menolak dan jujur akan kenistaan yang
    ia jalani ?, mungkin ya mungkin juga tidak. “Tuhan haruskah aku terus
    lakukan dan memilih jalan ini,” hatinya bergetar sembilu yang
    senantiasa bertarung dengan nafsunya yang terus menang dalam
    pertarungan.

    Azan subuh mengalun dan meraung memanggil anak manusia
    untuk bangun dari tidur lelapnya, bangun dari keterlelapannya, bangun
    dari selimutnya. Adakah manusia sadar dengan mimpinya, adakah manusia
    sadar akan jalan gelap yang mereka pilih.


    Udin masuk kedalam
    rumahnya, ia lihat adiknya, Ratih, masih tertidur pulas. Ada keharuan
    yang mendalam. Sorot matanya nanar dan berkaca-kaca. “Tuhan adakah
    seberkas sinarmu yang memberikan cahaya terang pada kami,” hatinya
    bertanya.

    Ia langsung bergegas berwudhu seraya kemudian menghadap
    sang ilahi, mengadu dan bertanya tentang nasibnya, nasibkah yang ia
    jalani. “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu
    merubahnya.”


    Dengan khusyu dia lakukan sholat. Ada kepasrahan
    yang terpancar dari wajahnya. dengan takbir mengangkat kedua tangan
    pasrah menghadapnya, diiringi dengan ruku’ dan sujud adalah pertanda
    kelemahan manusia yang senantiasa harus tunduk dengan sang khaliqnya,
    lalu tahiyyat sebagai pengakuan akan kesetiaan seorang hamba yang akan
    selalu mengabdi ikhlas untuk tuannya. Diakhiri dengan salam adalah
    makna jika semua hal itu telah terlaksana maka manusia akan bahagia
    menjalani hidup di dunia dan menuju dunia di balik dunia, akhirat.


    Sesudah
    sholat, Udin tetap duduk bersimpuh dalam kesahajaan, merenungi atas
    semua perbuatan yang dilakukannya dan hari-hari yang dilaluinya.
    “Iringilah perbuatan yang buruk itu dengan perbuatan yang baik”,
    terlintas kata-kata itu dalam diri Udin. “Terlambatkah aku jika
    mengharapkan kasih sayangmu”, hatinya lirih bertanya. Terlintas
    bayangan masa kanak-kanaknya bersama ibunya yang penuh kebahagiaan
    tanpa beban, polos dan jujur walaupun dengan keadaan hidup yang serba
    kekurangan.

    “Adakah kebahagian yang sejati di dunia ini, adakah ini
    kebahagiaan dan kebaikan untuk ku yang engkau berikan, inikah
    keadilanmu, aku tak mengharapkan itu semua, tapi tolong berikanlah
    kasih sayang dan ampunanmu pada hambamu yang berlumur dengan noda dan
    dosa”, kembali hatinya bertanya seraya lirih merintih mengadu bagaikan
    sang anak yang merengek dan meminta pada sang ibu.


    Fajar pagi
    menjemput malam, mentari pagi perlahan merambat memasuki kehidupan
    manusia. Datanglah siang sebagai ladang pencaharian nafkah dunia
    setelah malam sebagai hamparan permadani sujud padaNya berlalu. Udin
    masih diatas sajadah, matanya tertutup dengan kepala tertunduk,
    nafasnya turun naik, terlelap dalam mimpi-mimpinya menggapai mahligai
    kebahagiaan.


    “Ang Din sudah pagi, bangun !”
    “Ratih berangkat dulu”
    “Kemarin siang ada surat dari kampung, nenek kangen”
    “Kita juga disuruh ziarah ke makam emak dan bapak”
    “Lebaran sekarang kita pulang kan ?”
    Ratih pun meninggalkan Udin yang masih membaca surat dengan kening yang mengerenyit.
    “Hati-hati Ratih !”
    Ratih masih terus berjalan seraya membalikan mukanya ke arah Udin yang melambaikannya dari jendela kamar.*

    Jogjakarta Maret 2004
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: SEPENGGAL KISAH UDIN Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top