Seni dalam Hukum Fiqh Islam - Buntet Pesantren Seni dalam Hukum Fiqh Islam - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Monday, April 21, 2008

    Seni dalam Hukum Fiqh Islam

    Oleh: Nab Bahani AS



    Secara
    harfiah, seni sebagai bentuk karya manusia yang mengandung nilai
    keindahan; mengandung pesona rasa jika diamati dan dinikimati. Kemudian
    memberik kepuasan dan kesenangan bagi setiap jiwa manusia. Dan seni
    adalah keindahan yang memberi kepuasan dalam kehidupan kita
    sehari-hari.







    Maka seni dan kesenian adalah suatu jelmaan dari rasa keindahan
    yang diujud karja manusia untuk mencapai suatu kesesejahteraan
    hidupnya, yang disusun berdasarkan pemikiran-pemikirannya, sehingga ia
    mejadi suatu karya yang indah, yang menimbulkan kesenangan untuk
    dinikmati. Maka secara filsafat, kalau sesuatu nilai baik dan buruk
    dapat dibahas dengan menggunakan demensi etika, maka nilai seni dan
    keindahan ini selalu dibahas dengan menggunakan demensi estetika, yaitu
    melalui penghayatan dan pengalaman-pengalaman indra manusia.



    Para filosof menggolongkan nilai seni dan keindahan ini ke dalam
    alam estetis. Sejak zaman Socrates, perhatian terhadap seni dan
    keindahan ini memang sudah menimbulkan pemikiran-pemikiran yang serius.
    Sehingga sejak itu sudah menimbulkan berbagai tanda tanya “tentang soal
    apakah yang berada dalam sesuatu objek hingga menyebabkan ia menjadi
    indah?”. Ini terus menjadi perhatian generasi selanjutnya, seperti
    Plato yang melihat seni dan keindahan ini dengan teori metafisika.
    Menurutnya, keindahan seni adalah sesuatu realitas yang sesungguhnya.
    Ia sejenis dengan hakekat yang abadi yang tidak berubah-ubah.



    Platinus menggunakan pendekatan rohaniah yang menilai seni apabila
    hakekat menyatakan dirinya atau memancarkan sinarnya dalam, sebuah
    realitas. Sedangkan seniman adalah manusia yang tajam pandangannya,
    yang dapat melihat dan menangkap realitas dan keindahan yang hakiki.
    Seni dan keindahan tak dapat dipisahkan dari hidup manusia.



    Manusia sendiri hidup dalam alam keindahan yang hakiki. Bahkan
    sejauh mata memandang, hanya keindahan yang kelihatan. Lihat saja
    bagaimana gunung-gemung hijau menjulang, lautan yang luas tak dapat
    dijangkau pandangan mata. Di matahari yang terbenam, di fajar yang
    menyingsing, di taman yang semerbak, di mawar yang merekah, dan bahkan
    disegenap lapangan ruang alam ini yang nampak hanyalah
    keindahan-keindahan yang mengagumkan. Hanya saja penglihatan kita yang
    terkadang belum mampu menangkap dari semua keindahun itu.



    Bahwa semua nilai seni yang hakiki ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa
    tanpa cacat sedikit pun. Sedang ciptaan manusia sendiri pastilah
    mengalami kekurangan. Itulah sebabnya, Sutardji Bachri menulis: “Walau
    penyair besar/takkan sampai sebatas Allah... “ (baca puisi walau). Lalu
    apakah Tuhan itu bisa disebut seniman? Kita tidak akan mempersoalkan
    jawaban dari pertanyaan itu. Yang pasti, “Sesungguhnya Allah itu Maha
    indah, Dia sukapada keindahan” (Hadis riwayat Muslim).



    Untuk memudahkan penilaian terhadap semua jenis keindahan di alam
    ini, manusia pun membagi dala, beberapa cabang kesenian seperti kita
    kenal saat ini. Misalnya, indah berbahasa disebut seni sastra; indah
    menari (seni tari); indah menggambar (seni lukis); indah berirama (seni
    musik) dan indah menata dinamakan seni hias; indah memahat (seni ukir).



    Dan jika dikaitkan dengan agama (Islam) jelas tidaklah
    bertentangam. Malah Islam menganjurkan penganutnya untuk selalu
    berindah-indah dan berseni sejauh tidak melanggar hukum yang telah
    ditentukannya. Seni dan Islam adalah dua masalah yang sering
    diperdebatkan.



    Tak jarang kita jumpai ada ulama yang menolak kesenian dalam Islam.
    Pandangan itu kadang ada juga benarnya, bahwa satu sisi agama tak ada
    hubungannya dengan seni. Agama adalah tata hubungan manusia dengan
    Tuhan, maka tak perlu ada kesenian. Seperti Shalat, tidak boleh
    diiringi musik, ia harus dikerjakan dengan penuh penghayatan,
    ketekunan, kesungguhan dan rasa pasrah (khusuk) kepada Tuhan.



    Sisi lain, dari rasa kepasrahan itu, maka dalam bahasa - bahasa
    yang diucapkan timbullah semacam nada, irama, dan gaya-gaya bacaan yang
    benilai seni. Seperti azan, ia harus dikumandangkan seindah mungkin
    dengan irama alunan suara menyentuh hati setiap yang mendengarnya dan
    tergerak jiwanya melaksanakan ibadah shalat.



    Begitu juga al-Quran, kitab suci yang diturunkan penuh dengan nilai
    seni bahasa (sastra) yang sangat tinggi. Tak ada mahkluk yang bisa
    menandingi seni bahasa al-Quran. Orang Jahiliah yang dikenal memiliki
    nilai kesusastraan sangat tinggi sebelum Islam, tak mampu menandingi
    seni yang terkandung dalam al-Qu’an. Begitu tinggi nilai sastranya,
    Allah memperingatkan agar para sastrawan dapat selalu beriman dan
    berpodoman pada al-Quran.



    Tidak menjadi sastrawan seperti bandit-bandit yang mengembara dari
    lembah-ke lembah yang berbicara tanpa kerja hingga mereka menjadi
    pendusta-pendusta kebenaran. Firman Allah, “.. kecuali
    sastrawan-sastrawan beriman dan beramal saleh, dan banyak menyebutkan
    nama Allah serta mendapat kemenangan sesudah mendapat kezaliman... “
    (QS: Asy-syu’ra: 227).



    Mufassir kenamaan Muhammad Jamaluddin Al Qasimy (1866-1944 M)
    menjabarkan maksud ayat tersebut bahwa yang mempengaruhi sajak- sajak
    mereka (sastrawan beriman) adalah Kemahaesaan Allah yang selalu
    mengandung hikmah serta ajaran dan budi pekerti yang baik. Dengan
    sajak-sajak yang diciptakan itu mereka beroleh kemenangan dari
    musuh-musuh yang sebelumnya menzalimi.



    Dalam surat Asy-syu’ra yang beberapa ayatnya membahas khusus
    tentang sastrawan, menunjukan bahwa Islam sama sekali tidak melarang
    seni bahasa atau kesusastraan. Bahkan zaman Rasul SAW, terdapat
    beberapa penyair pribadinya. Di antaranya Hasan Ibnu Shabid yang selalu
    mengubah syair-syairnya untuk perjuangan Islam dan memuliakan
    Rasulullah. Islam sendiri mulanya disiarkan dengan seni yang
    mendakwahkan ajaran dengan bahasa-bahasa damai.



    Rasul SAW, pernah menyatakan, “Dalam seni bahasa bersemi sejuta
    kata, ucapan sastrawan yang pasti kebenaran adalah kalimat Lubaid yang
    berintikan, kecuali Allah, semuanya akan rnusnah”. Hadis rasul SAW juga
    menyatakan, “Orang yang berperang dengan senjata lidah, sama pentingnya
    dengan mereka yang berperang dengan senjata besi”.



    Tidaklah heran, kalau Nabi sendiri sangat menyukai karya sastra,
    terutama sajak-sajak yang digubah para penyair di masa beliau. Di
    antara syair-syair yang paling disukai Rasulullah adalah karya Umaiyah
    hen Shal, karena syair Umaiyah ini selalu mengingatkan manusia kepada
    Allah dengan menggambarkan peritiwa-peristiwa yang akan terjadi di hari
    kebangkitan sete1ah kehidupan ini berakhir. Rasulullah semasa hidupnya
    senantiasa dekat dengan penyair dan selalu mendorong mereka menciptakan
    syair-syair yang membangkitkan semangat jihad kaum muslimin
    meperjuangkan kebenaran Islam. ‘



    Jenis kesenian musik dan tari juga sangat erat hubungannya dengan
    dunia Islam. Bahkan pernah mencapai puncak kejayaan seni musik dan
    tari. Namun ketika perang salip pecah di Palestina 1096 M, orang-orang
    Kristiani dari Eropa banyak yang mengambil kesempatan mempelajari musik
    Islam. Bahkan merampas dokumen-dokumen musik umat Islam untuk
    mempelajarinya.



    Jenis seni malah sudah dianggap sebagi displin ilmu yang perlu
    dikembangkan hingga menjelang abad ke-13 dunia Islam mengalami kemajuan
    luar biasa di bidang musik, yakni dengan mendirikan sekolah- sekolah
    khusus untuk mempelajari musik. Safi al- Din Abdul al-Mukmin adalah
    salah seorang sarjana musik Islam yang mendirikan sekolah musik pertama
    dalam dunia Islam.



    Sekarang ini kemajuan di bidang seni musik ini telah tampil dengan
    beragam corak, terutama di Eropa. Namun akar dari semua jenis seni
    musik itu adalah berpangkal dari musik Islam. Ahli Purbakala Jerman
    Prof FG Waleker yang pernah meneliti asal usul musik Eropa,
    menyimpulkan bahwa segenap musik yang berkembang di Eropa datangnya
    dari orang Islam.



    Demikian juga dengan seni tari. Di awal abad ke-13 dunia Islam
    telah berhasil mengembangkan suatu tarian yang sangat populer waktu
    itu, yaitu tarian Almishasil ciptaan Reveriedu Soir, tarian ini sangat
    digemari oleh remaja-remaja Islam ketika itu.



    Anak -naka penangkap ikan sering memaikan tarian ini sambil melepas
    lelah di tepi sungai Nil saat itu. Di Cairo kala itu ada Cairo Ghazali,
    tempat yang khusus dibuat sebagai tempat pertunjukan “tarian dansa” di
    depan umum.

    Tarian ini dipop1uerkan kembali seorang komponis Perancis Filicien
    David, dan diganti nama dengan Dense Des Almees. Cukup banyak dalil
    tentang seni tari dan musik dalam Islam.



    Seperti terungkap dalam hadis Yang diriwayatkan Aisyah: “Rasulullah
    sedang berbaring dan aku di sampingnya, kala Aisyah, saat itu kami
    sedang dihiburi dengan lagu-lagu merdu. Lalu masuklah Abu Bakar dan
    membentakku dengan kata-kata yang tajam. Apa serunai setan itu sedang
    berada di samping Rasul?” tanya Abu Bakar. Rasulullah menjawab:
    “Biarkan mereka terus menyanyikan lagu-lagunya”.



    Hadist lain yang juga diriwayat Aisyah: “Pada suatu hari saya
    (Aisyah) sedang memimpin upacara perkawinan sepasang suami-isteri kaum
    Ansar. Waktu itu Nabi bersabda: “Wahai Aisyah, apakah engkau
    menyediakan sesuatu pertunjukan permainan, karena kaum Ansar suka
    kepada permainan?” Hadis ini bermakna upacara perkawinan pun Islam
    membolehkan diadakannya pertunjukan kesenian sejauh tidak menyimpang
    dari ajaran Islam itu sendiri.



    Kemudian dalam Hadis riwayat Buraidah disebutkan: Pada suatu hari
    Rasulullah didatangi seorang gadis yang ingin melepaskan nazarnya untuk
    menabuh rebana dan menembangkan lagu..lagunya di depan Rusulullah. Saat
    itu Rasul menjawab: “Kalau benar engkau telah bernazar demikian,
    laksanakan apa yang telah menjadi nazarmu”, kala Rasul. Lalu gadis itu
    pun menabuh rebananya sambil menyanyikan lagu-lagu merdu di depan
    Rasulullah.



    Di tengah pertunjukan itu masuklah beberapa orang Sahabat dan ikut
    menyaksikan nyanyian gadis itu bersama Rasul. Kemudian masuk Saidina
    Umar, gadis itu langsung menyembunyikan rebananya di bawah pinggul.
    Sehingga sambil tersenyum Rasulullah bersabda: “Gadis itu sungguh takut
    kepadamu ya Umar Begitu pun dalam Hadis riwayat Imam Bukhari. dari
    Aisyah menceritakan.



    Pada suatu hari Rasulullah berdiri di pintu kamar Aisyah melihat
    orang Habsyi sedang menabuh rebana dan menari dalam masjid. Sambil
    memperlihatkan permainan itu pada Aisyah, Nabi menyelimuti Aisyah
    dengan selendangnya, seraya menanykan: “Apakah engkau gemar
    melihatnya,” tanya Nabi. “ya! “, jawab Aisyah. Lalu Rasulullah berdiri
    di sampingnya dan kemudian memerintahkan anak-anak Habsyi: “Lanjutkan
    permainanmu hai anak-anak Ar-Fadah,” ucap Rasul. Setelah Aisyah pun
    dengan pertunjukan mereka, barulah Nabi menyuruh mereka pergi.



    Lalu bagaimana dengan seni lukis dan seni perhiasan? Jenis ini
    sering diperdebatkan Sepertidiceritakan Sa’id ibnu Hasan: “Ketika saya
    sedang bersama Ibnu Abbas, tiba-tiba datang seorang laki-laki
    (seniman), ia berkata, hai Ibnu Abbas, aku hidup dari kerajinan
    tanganku dengan melukis dan membuat arca.



    Lalu Ibnu Abbas menjawab, tidak akan aku katakan kepadamu, hanya
    apa, yang telah aku dengar dari Rasulullah. Beliau bersabda: “Siapa
    yang telah melukis sebuah gambar, maka dia akan disiksa Tuhan sampai
    dia bisa memberinya gambar itu bernyawa akan tetapi sampai kapanpun dia
    tidak akan mungkin memberikan nyawa terhadap gambar itu”. (baca Jawahir
    Buchari).



    Para penafsir hadis ini berpendapat bahwa membuat gambar secara
    inklusif (seni lukis) pada dasarnya memang dibolehkan dalam agama
    Islam. Namun yang membedakan pendapat para ulama terhadap seni lukis
    ini adalah dalam bentuk objek dan motif yang dilukiskan.



    Sebagian ulama berpendapat, maksud Hadis di atas melarang seseorang
    membuat gambar dengan objek atau motif dalam bentuk sesuatu makhluk
    bernyawa, seperti gambar manusia atau gambar binatang. Dan sangsi yang
    disebutkan berarti larangan membuat gambar. Yang dilarang jika gambar
    itu dapat diraba bentuknya, seperti relif atau arca.

    ***
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Seni dalam Hukum Fiqh Islam Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top