Nasionalisme Di Tengah Trans-nasionalisme - Buntet Pesantren Nasionalisme Di Tengah Trans-nasionalisme - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Monday, April 14, 2008

    Nasionalisme Di Tengah Trans-nasionalisme






    Oleh Ali Ma’nawi *

    Menguatnya trans-nasionalisme atau
    globalisasi telah menyeret perbincangan seputar nasionalisme ke dalam
    ruang yang menampakkan sikap berbeda-beda dari para pelaku sejarah
    negara-bangsa. Dimana ada yang merasa geram dan sinis –fundamentalis
    agama maupun politik- atas munculnya trans-nasionalisme karena
    kekhawatiran akan tercerabutnya identitas mereka. Namun ada juga yang
    bangga akan trans-nasionalisme (liberalis), mengingat
    trans-nasionalisme telah meraih prestasi gemilang dalam menyatukan
    masyarakat dunia lewat arus informasi dan tekhnologi.




    Trans-nasionalisme
    adalah paham yang berusaha menanggalkan sisi partikular-lokalistik
    menjadi global yang pengglobalan tersebut kemudian menjadi lokalitas.
    Maksudnya, suatu bangsa dengan sendirinya meleburkan diri dalam
    peradaban baru sehingga peradaban yang dimiliki manusia menjadi satu.
    Disini tidak ada lagi peradaban bangsa tertentu karena yang ada hanya
    peradaban manusia secara tunggal, baik dalam politik, sosial, ekonomi
    dan budaya.


    Sementara nasionalisme sendiri merupakan pilihan
    suatu bangsa untuk menentukan nasibnya secara sendiri, baik politik,
    sosial, ekonomi dan budaya. Nasionalisme adalah sikap memiliki dari
    bangsa tertentu atas khazanah yang ada yang terbatas pada garis
    territorial. Seperti nasionalisme Indonesia berarti sikap pilihan
    bangsa Indonesia atas kepemilikannya terhadap teritorial dan kekayaan
    yang dimiliki. Nasionalisme lahir dari solidaritas komunitas bangsa,
    seperti yang dikatakan Renan bahwa nasionalisme adalah hasil
    solidaritas yang terbentuk oleh pengalaman penderita bersama yang telah
    terjadi dan pengalaman itu dijadikan sebagai dasar pembentukan
    komunitas hari ini dan dimasa datang. Senada dengan Renan, Antthony
    Smith menegaskan bahwa bangsa adalah komunitas kultural politik yang
    ada dalam gerak berayun antara pencarian identitas ke masa lalu dan
    pencarian arah pada rentang sejarah ke depan.


    Bertitik tolak
    pada pemahaman tersebut, maka nasionalisme dalam tinjauan
    trans-nasionalisme merupakan paham yang cenderung
    partikularistik-lokalistik. Dan paham ini jelas berseberangan dengan
    trans-nasionalisme yang berusaha meyatukan manusia tanpa tersekat oleh
    territorial dan kebudayaan tertentu.


    Pertanyaannya, bagaimana
    sikap nasionalisme ditengah menguatnya trans-nasionalime? masih
    relevankah nasionalisme? Untuk menjawab pertanyaan tersebut dibutuhkan
    kajian kritis atas realitas yang dilahirkan oleh trans-nasionalisme.


    Ada
    banyak hal yang harus disoroti ketika mengkaji trans-nasionalisme,
    diantaranya adalah politik ekonomi yang dibangun oleh paham ini.
    Trans-nasionalisme sebenarnya bukanlah menyatukan masyarakat dunia
    dalam mencapai peradaban yang menjungjung tinggi nilai kemanusiaan,
    tetapi sebaliknya trans-nasionalisme telah menciptakan konflik baru
    antara negara kuat dan lemah. Dimana trans-nasionalisme merupakan
    konspirasi negara-negara kuat atas kepentingan produksi mereka.
    Artinya, dalam dimensi ekonomi-politik trans-nasionalisme telah membagi
    job antara negara kuat dan negara pinggiran, dalam hal ini negara kuat
    menjadi penopang produksi sementara negara pinggiran menjadi penikmat
    dan konsumen atas produksi negara maju, maka lahirnya budaya
    konsumerisme dan terpangkaslah jiwa kreatifitas negara pinggiran.
    Akibat lainnya negara kuat semakin kuat dan negara pinggiran terus
    menghamba pada negara kuat. Janji kemakmuran dan percepatan pertumbuhan
    ekonomi yang digagas oleh trans-nasionalisme hanya mitos yang menjadi
    kepanjangan dari sistem kolonial.


    Nasionalisme sebagai paham
    yang lahir dari ketidakdilan harus mampu menjadi pendorong perubahan
    atas arogansi trans-nasionalisme. Bukan untuk melawannya karena
    trans-nasionalisme adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa terelakan,
    tetapi dengan peran aktif bangsa-bangsa atas gejala tidak manusiawi
    yang dilahirkan trans-nasionalisme, dengan cara tetap memperkuat
    demokrasi, keadilan dan mitos nasionalisme. Berkaitan dengan
    nasionalisme Coleman mengatakan relevansi nasionalisme dapat ditegakan
    dengan menegakkan legitimasi negara-bangsa modern yaitu; demokrasi,
    keadilan dan mitos nasionalisme. Untuk itu, nasionalisme tetap relevan
    dan selamanya akan relevan.


    Jadi, nasionalisme yang kita pahami
    sekarang adalah sikap kebangsaan yang didorong untuk menjaga keadilan
    dan kemakmuran masyarakat dunia. Dan untuk menuju kearah tersebut
    nasionalisme harus dijelmakan dalam diri bangsa Indonesia dengan
    meletakkan keadilan, kebebasan dan persamaan sebagai ruh.


    Miliran, Yogyakarta
    Penulis adalah senior LSO Jurnalistik Ikatan Sillaturrahim Alumni Buntet Pesantern Cirebon (INSAN BPC) 

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Nasionalisme Di Tengah Trans-nasionalisme Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top