Metode Cepat Membaca Kitab - Buntet Pesantren Metode Cepat Membaca Kitab - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Monday, April 14, 2008

    Metode Cepat Membaca Kitab






     



    Oleh Nurul Huda Maarif

    cah-elikJuara
    pertama Lomba Baca al-Qur'an tingkat Taman Pendidikan al-Qur'an
    se-Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dalam rangka Hari Amal Bhakti
    Departemen Agama ke-45, itu akhirnya digondol Muslihin Rozi.

    Padahal
    pada saat mengikuti lomba, yang digelar pada 15 Desember 1990 itu,
    Muslihin belum genap berumur 10 tahun. Dia masih duduk di kelas 4
    Madrasah Ibtidaiyah.




    Namun kemampuan siswa Taman Pendidikan
    al-Qur'an (TPA) Darus-Salam Kemiri Subah Batang, Jateng, membaca
    al-Qur'an tidak diragukan. Di bawah gemblengan Ustadz Mudha'af Adam,
    Muslihin kecil -- yang kini menginjak dewasa -- begitu lancar dan fasih
    melafalkan ayat-ayat al-Qur'an.

    "Itu berkat metode Qiraaati
    yang kita ajarkan," ujar pengurus Ponpes Darus-Salam Syamsul Maarif
    Syahid, yang kala itu turut mendampingi Muslihin kecil.

    Metode
    baca al-Quran Qira'ati ditemukan KH. Dachlan Salim Zarkasyi (w. 2001 M)
    dari Semarang, Jawa Tengah. Metode yang disebarkan sejak awal 1970-an,
    ini memungkinkan anak-anak mempelajari al-Qur'an secara cepat dan
    mudah.

    Hal ini diakui pengajar metode Qira'ati, yang juga
    asisten Ketua Dewan Masjid Indonesia, Abdullah Syafii Damanhuri.
    Menurutnya, ini lantaran Qira'ati menawarkan pengajaran yang sistematis
    dan mendetail.

    "Misalnya, metode ini mengajarkan bacaan gharib
    (bacaan langka, red.) dalam al-Qur'an, yang tidak diajarkan metode
    lain," ujar peraih syahadah (sertifikat) Qira�ati dari Ustadz Abu Bakar
    Zarkasyi, putera KH. Dachlan Salim Zarkasyi.

    Kiai Dachlan yang
    mulai mengajar al-Qur'an pada 1963, merasa metode baca al-Qur'an yang
    ada belum memadai. Misalnya metode Qa'idah Baghdadiyah dari Baghdad
    Irak, yang dianggap metode tertua, terlalu mengandalkan hafalan dan
    tidak mengenalkan cara baca tartil (jelas dan tepat, red.)

    Saat
    itu juga, terbetik di benak Kiai Dachlan keinginan menyusun metode yang
    mudah dan digemari anak-anak, dengan orientasi bacaan tartil.
    Bertahun-tahun dengan penuh ketekunan dan kesabaran, Kiai Dachlan
    mengamati dan meneliti majlis pengajaran al-Qur'an di banyak mushalla,
    masjid, dan majlis tadarus al-Qur'an.

    Ia pun kecewa. Karena
    dari hasil pengamatannya, murid-murid pengajian tidak mengindahkan mad
    (bacaan panjang pendek, red.). Itu membuatnya lebih serius untuk
    menemukan metode yang mujawwad murattal (mengajarkan tajwid dan cara
    baca tartil, red.). Kiai Dachlan kemudian menerbitkan enam jilid buku
    Pelajaran Membaca al-Qur'an untuk TK al-Qur'an untuk anak usia 4-6
    tahun pada l Juli 1986.
    Usai merampungkan penyusunannya, KH.
    Dachlan berwasiat, supaya tidak sembarang orang mengajarkan metode
    Qira'ati. Tapi semua orang boleh diajarkan Qira'ati.

    "Dalam
    100 siswa/santri hanya 1 orang yang kurang pandai. Jika ada lebih dari
    1 orang yang kurang pandai, maka yang perlu dipertanyakan gurunya,"
    pesan pendiri TPA Roudhatul Mujawwidin Semarang ini.

    Untuk
    mengajarkan buku jilid 1-2 metode ini, guru diharuskan telaten
    mengajari murid seorang demi seorang. Ini supaya guru mengerti
    kemampuan anak-anak didiknya. Untuk jilid 3-6 dilakukan secara
    klasikal, yaitu beberapa murid membaca dan menyimak bersama dalam satu
    ruangan.

    Dalam perkembangannya, sasaran metode Qiraati kian
    diperluas. Kini ada Qiraati untuk anak usia 4-6 tahun, untuk 6-12
    tahun, dan untuk mahasiswa.

    Setelah metode Qira'ati, lahir
    metode-metode lainnya. Sebut saja metode Iqra' temuan KH. As'ad Humam
    dari Yogyakarta, yang terdiri enam jilid. Dengan hanya belajar 6 bulan,
    siswa sudah mampu membaca al-Qur'an dengan lancar.

    Iqra'
    menjadi populer, lantaran diwajibkan dalam TK al-Qur'an yang
    dicanangkan menjadi program nasional pada Musyawarah Nasional V Badan
    Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), pada 27-30 Juni
    1989 di Surabaya.

    Tiga model pengajaran metode ini, adalah;
    pertama, Cara Belajar Santri Aktif (CBSA). Guru tak lebih sebagai
    penyimak, bukan penuntun bacaan. Kedua, privat, yaitu guru menyimak
    seorang demi seorang. Ketiga, asistensi. Jika tenaga guru tidak
    mencukupi, murid yang mahir bisa turut membantu mengajar murid-murid
    lainnya.

    Keprihatinan akan banyaknya masyarakat yang buta
    huruf Arab, menggugah Otong Surasman menemukan metode al-Bayan.
    Al-Bayan, yang hanya satu jilid dengan 71 halaman, ini disusun sejak
    1994.

    Sarjana Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur'an Jakarta ini
    mulai menuangkan penelitiannya dalam tulisan tangan pada 1995. Awalnya,
    penemuan itu dinamai metode Insani. Setelah dievaluasi, metodenya
    dipadatkan, dan namanya diubah menjadi al-Bayan. Dengan belajar enam
    bulan, murid mampu melafalkan ayat al-Qur'an secara baik.

    Hattaiyyah
    adalah metode baca al-Qur'an yang paling fantastis. Dengan metode
    penemuan Muhammad Hatta Usman, ini anak didik mampu membaca al-Qur'an
    dalam waktu 4,5 jam. Metode ini akan lebih mudah diterapkan bagi anak
    didik yang telah mampu baca tulis huruf latin. Karena metode ini
    menggunakan pendekatan Bahasa Indonesia.

    Caranya, 28 huruf
    Arab dicari padanannya dalam aksara Indonesia. Tanda baca pun
    diperkenalkan dalam rumus-rumus bahasa Indonesia. Sehingga, hanya
    dengan enam kali pertemuan, masing-masing 45 menit, anak didik bisa
    membaca al-Qur'an.

    Walau kurang dikenal, metode al-Barqy dapat
    dinilai sebagai metode cepat membaca al-Qur'an yang paling awal. Metode
    ini ditemukan dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya, Muhadjir
    Sulthon pada 1965. Awalnya, al-Barqy diperuntukkan bagi siswa SD Islam
    at-Tarbiyah, Surabaya. Siswa yang belajar metode ini lebih cepat mampu
    membaca al-Qur'an. Muhadjir lantas membukukan metodenya pada 1978,
    dengan judul Cara Cepat Mempelajari Bacaan al-Qur'an al-Barqy.

    Uniknya,
    metode ini memadukan ho-no-co-ro-ko (aksara Jawa) dan huruf Arab. Hanya
    saja, untuk alasan efektifitas, aksara Jawa yang tersusun dari lima
    suku kata dipadatkan menjadi empat suku kata.

    Terinspirasi
    Qira'ati, Pengasuh Ponpes Darul Falah Jepara Jawa Tengah, KH. Taufiqul
    Hakim membuat Amtsilati pada 2001. Bedanya, Qira'ati untuk memudahkan
    membaca al-Qur'an, Amtsilati untuk memudahkan membaca kitab gundul
    (kitab tanpa harakat, red.) atau kitab kuning.

    "Terdorong dari
    metode Qira'ati yang mengupas cara membaca yang ada harakatnya, saya
    ingin menulis yang bisa digunakan untuk membaca yang tidak ada
    harakatnya," kata Kiai Taufiq (baca: Kitab Gundul Bukan Lagi Hantu).

    Jauh
    sebelum Amtsilati, Pengasuh Ponpes Salafiyyah Seblak Jombang Jawa Timur
    almarhum KH. Muhammad Ma'shum bin Ali, menggubah metode canggih
    memahami sharf (bentuk dan perubahan kata dalam Bahasa Arab, red.).

    Metodenya
    itu disusun dalam karya berjudul al-Amtsilah al-Tashrifiyyah, cetakan
    CV Pustaka al-Alawiyah Semarang. Di sana diuraikan bentuk-bentuk dan
    perubahan kata; kata kerja lampau, sekarang, akan datang, kata benda,
    subjek, dan seterusnya, hingga sangat mendetail.

    Saking
    pentingnya, metode gubahan menantu Hadhratusy Syaikh KH. Muhammad
    Hasyim Asyari ini digunakan di hampir seluruh pesantren di negeri ini.
    Santri-santri wajib menghafalnya, jika ingin mumpuni menguasai kitab
    kuning.

    "Di pesantren Sunda kitab ini juga digunakan," ujar
    Pengasuh Ponpes al-Ikhwan Cigadung Bandung, yang juga Ketua Tanfidziah
    PCNU Kota Bandung KH. Maftuh Kholil.

    Karya ini juga telah
    diuji Tim Penilai Buku Ditjen Binbaga Islam Tahun 1991/1992. Hasilnya,
    berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama
    Islam No. 58/E/1992, tanggal 5 September 1992, karya ini dinilai
    memenuhi syarat sebagai bahan bacaan pelajaran keislaman.

    Ada
    juga karya lain berjudul Murad al-Awamil Mandaya karya Syeikh Nawawi
    bin Muhammad Ali bin Ahmad, dari Mandaya Carenang Serang, Banten. Karya
    ini mengulas masalah nahwu dengan latar Bahasa Arab yang ringan. Di
    pesantren wilayah Banten, karya ini menjadi menu wajib bagi santri
    pemula.

    Metode-metode itu tak lapuk di makan zaman. Bahkan hingga kini masih diterapkan di mana-mana.[]

    *Suplemen the WAHID Institute di Majalah TEMPO, Senin 27 Agustus 27
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Metode Cepat Membaca Kitab Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top