Memoar Santri Buntet Pesantren - Buntet Pesantren Memoar Santri Buntet Pesantren - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Saturday, April 26, 2008

    Memoar Santri Buntet Pesantren


    "BUMI
    PERJUANGAN, YANG TERUS BERSINAR TERANG"



    Oleh: Zulfa Rafik Iskandar
    z_rafik.jpgSaya baru saja pulang kampung, di desa
    kelahiran saya. Sebuah desa kecil dilereng Gunung Perahu bernama  Desa Getas Kecamatan Bawang Kabupaten Batang, sebuah
    Kabupaten yang dulunya masuk daerah administratif Pekalongan Jawa Tengah.
    Kebetulan ada acara keluarga sehingga harus pulang kampung. Hanya satu hari
    saya dirumah dan selanjutnya berangkat kembali ke
    Jakarta tempat perantauan
    saya sekarang. Tidak lupa saya mampir sowan ke kediaman Habib Luthfy Bin Yahya
    yang merupakan sesepuh kami masyarakat Pekalongan dan sekitarnya.



    Walaupun usianya belum teramat sepuh, tapi
    karena kapasitas keilmuwan beiau maka banyak ulama yang lebih sepuh (baca -tua)
    juga berkonsultasi ke beliau. Sesampai di kediaman Habib, ternyata beliau
    sedang melatih ketropak Islami dengan tema "Sunan Kalijaga". Yang dilatih
    adalah bapak-bapak dari Dewan Kesenian Pekalongan di dampingi Sekretaris Daerah
    Kabupaten Pekalongan.


    Ketropak Islami tersebut nantinya akan di pentaskan
    dalam rangka memeriahkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Secangkir teh
    dituangkan dan Abah Habib, -begitu kami memanggil beliau- mulai memberikan
    konsultasi dan nasihat kepada setiap tamu yang hadir. Lebih kurang 2 jam saya
    sowan di kediaman Abah Habib dan mendapatkan amanat sebuah "ijazah" tentang
    tata kerama melakukan istikharah dengan Al-Qur'an, saya pun pamit untuk
    melanjutkan perjalanan. Saya sampaikan ke beliau bahwa saya akan mampir ke
    Buntet Pesantren, beliaupun menitipkan salam untuk segenap ahli (keluarga besar) Buntet.


    Mobil saya melaju kencang, rupanya sopir
    saya ingin segera sampai Buntet dan segera bisa istirahat. Pukul 22.00 malam saya
    sampai di Buntet Pesantren. Saya langsung menuju Asrama C Al-Firdaus salah satu
    pondok di Buntet dimana KH.Hasanuddin Busyrol Karim mengasuh para santrinya.
    Dulu disinilah saya mulai mengenal al-Qur'an dan ilmu agama lainnya.


    Setelah bersalaman dan bincang-bincang
    sebentar dengan sang Kyai, saya pamit untuk ke kamar santri tempat saya dulu
    menikmati tikar sebagai alas tidur dan lipatan sajadah sebagai bantalnya. Tapi
    Kyai melarang,  katanya ada kamar kosong
    di lantai dua rumahnya. Tadinya kamar tersebut milik putrinya Dede Siti
    Fatimatuz Zahra yang sekarang sedang nyantri di PP Ploso Kediri Jawa Timur. Beginilah
    memang cara keluarga Buntet menghormati tamu maupun alumninya. Dengan pintu
    yang selalu terbuka selam 24 jam dan sambutan hangat bersahabat. KH. Hasanuddin
    Busyrol Karim merupakan putra ketiga dari KH. Busyrol Karim bin KH.Hamim. Kakak
    kandung beliau adalah KH. Fakhruddin Mulyono dan KH. Majduddin.


    Bagi kami masyarakat Bawang Kabupaten
    Batang tentu sudah sangat familier dengan Pondok Buntet Pesantren. Dulu yang
    pertama kali melakukan syi'ar keislaman di Bawang dan membuat sebuah
    rekronstruksi sosial menjadikan masyarakat yang agamis, masyarakat santri
    adalah ulama Buntet. Sekitar dekade 50-an, melalui undangan santri pertama
    Buntet asal daerah kami KH. Maqsudi, para ulama Buntet melakukan dakwah
    Islamiyah di kampung kami. Mulai dari KH.Mustahdi Abbas, KH. Mustamid Abbas,
    KH.Hasyim, KH.Munawwar, KH. Muafi hingga KH.Busyrol Karim semuanya pernah
    menetap dan berdakwah di kampung kami. Di rumah kakek saya sendiri, keluarga
    KH.Busyrol Karim menetap dan berdakwah selama lebih kurang 5 tahunan. Dulu di desa
    saya belum ada Madrasah Dinniyah, maka KH.Fakhruddin Mulyono putra tertua
    KH.Busyrol Karim tersebutlah yang mendirikannya dengan nama Madrasah Dinniyah
    Bustanul Khairat.


    Para ulama Buntet juga
    secara bergiliran memberikan pengajian untuk masyarakat sekecamatan Bawang. Santri-santri
    Buntet juga "di impor" untuk sekedar mengajar membaca al-Qur'an di
    masjid-masjid dan melantunkan tadarrus
    al-Qur'an
    ketika bulan Ramadlan tiba. Terjalinlah ikatan batin yang hangat
    dan sikap saling menghormati begitu harmonis antara ulama Buntet Pesantren
    dengan masyarakat setempat. Dari sini, kecintaan dan kemauan masyarakat untuk
    belajar agama di pesantren tumbuh dan mulailah masyarakat mengirimkan
    putra-putrinya ke pondok-pondok pesantren dipulau Jawa. Kini di Kecamatan
    Bawang sudah berdiri puluhan pesantren dan dihuni ratusan mungkin ribuan santri
    dari berbagai daerah. Sebuah perjuangan dakwah dalam rangka transformasi sosial yang sukses. Gambaran
    diatas membuktikan bahwa pesantren mampu melahirkan Social Engineer yang
    handal.


    Malam itu saya begadang di rumah Kang Imat,
    panggilan akrab KH. Aris Ni'matullah, MAF. Rumahnya di ujung barat kampung
    Buntet, tepatnya di daerah ledeng, sentra irigasi pertanian di Buntet namun
    kini airnya sudah mengering. Kang Imat adalah seorang Kyai muda berbakat dan
    mempunyai jiwa kepemimpinan tinggi. Sejak kuliah di Cairo University Mesir
    beliau sudah kondang sebagai ketua paguyuban santri Jawa Barat di Mesir
    disamping  juga sebagai aktivis KMNU pada
    masanya. Beliau menempati sebuah rumah baru dengan arsitektur Jawa kuno yang di
    sebut "rumah gebyok".  Sedang asyik
    menikmati teh dan ngobrol ngalor-ngidul, tiba tiba seorang santri beliau
    bernama Khotib menawarkan saya makan dengan menu yang sangat istimewa, " Mas
    Zulfa, kersa dahar manuk puyuh mboten? (Mas
    Zulfa mau makan daging burung puyuh tidak?). Saya tidak langsung menjawab tapi
    justeru tambah heran. Jam 02.00 dini hari saya ditawari makan, walaupun pola
    makan seperti ini menjadi sesuatu yang biasa kalo saya masih nyantri di Buntet.
    Tapi setelah beberapa tahun di
    Jakarta mungkin jadwal
    makan saya mulai sedikit teratur. Yang lebih membuat saya terkejut lagi adalah
    menu yang di tawarkan yakni daging burung puyuh. Darimana dapatnya?!!.


    Setelah saya lihat di dapur saya lebih
    tercengang lagi. Dua orang santri dan satu orang asli Buntet bernama mas Baki
    sedang membersihkan bulu-bulu burung puyuh dalam jumlah yang sangat banyak.
    Saya tanya "berapa jumlahnya mas Khotib?". "Enam puluh dua ekor Mas" jawabnya.
    "Hah!", angka yang fantastis untuk sebuah "perburuan malam". Kata Kang Imat
    tadi mas Baki dan Mas Khotib yang mencari burung puyuh sampai ke sawah-sawah di
    sekitar Gemulung, sebuah desa di sebelah selatan Buntet. Itulah hobi mas Khotib
    selain memelihara kambing sang Kyai dan menanam pohon singkong. Dia adalah
    seorang santri dari Cilacap Jawa Tengah yang sangat hormat terhadap sang guru.
    Keluarganya turun temurun merupakan santri di Buntet Pesantren. Dia sekarang
    hampir tiga tahun nyantri di Buntet dan belum pernah pulang ke kampung
    halamannya. Bagi santri Buntet ada sebuah keyakinan. Barang siapa yang mondok
    di Buntet selama tiga tahun dan tidak pernah pulang ke kampung halaman maka
    insyaAllah akan "futuh" (terbukanya
    pintu hati dalam menerima ilmu). Selanjutnya sang santri akan mendapatkan
    berkah ilmu yang manfaat.


    Bagi orang yang belum pernah ke Buntet
    mungkin bingung jam 02.00 dini hari para Kyai dan santri sedang sibuk
    mempersiapkan makan. Saya sendiri bingung kalo harus memberi  nama apa makan dini hari seperti itu. Kecuali
    untuk sahur bagi orang yang berpuasa. Padahal kami semua tidak hendak berpuasa.
    Mungkin kalo orang bule menyebut breakfast
    campur lunch menjadi brunch, nah ini dinner campur breakfast
    jadi apa yah?. Kalau boleh saya buat nama baru mungkin lebih baik di sebut "dinfast", dinner campur breakfast, yah
    kalau boleh saya sebut begitu, orang Buntet biasa menyantap "dinfast" dengan menu yang harus di
    masak terlebih dahulu. Ini sedikit gambaran tentang Buntet. Sebuah perkampungan
    kecil dimana
    medan waktu berhenti,
    atau terkadang waktu berputar lebih dari 24 jam sehari. Datanglah ke Buntet,
    maka anda akan merasakan "Waktu Yang Berhenti".


    Jam 04.00 dini hari dari jauh terdengar
    sayup-sayup Man Mursyid sudah mulai mengumandangkan ayat suci al-qur'an dari
    corong speaker Masjid Jami Buntet dengan
    gaya tilawahnya yang
    khas.  Saya pun pamit kepada Kang Imat
    kembali ke kediaman KH.Hasan Busyrol Karim yang berada tepat di depan Masjid untuk
    berganti baju dan melaksanakan solat berjamaah di Masjid. Jalan kaki dari rumah
    Kang Imat ke Masjid mungkin sekitar 500 meter atau 10 menit dengan berjalan
    kaki. Di perjalanan saya melawati kediaman KH. Ahmad Manshur yang biasa disapa
    dengan panggilan Kang Mamad. Rupanya beliau juga sudah siap menuju masjid,
    karena memang Kyai yang satu ini yang senantiasa istiqomah solat berjamaah di
    Masjid. Kang Mamad juga merupakan salah satu imam Masjid Buntet. Semasa sekolah
    di Madrasah Aliyah NU Buntet saya belajar kepada beliau Ilmu Ushul Fiqih dengan
    kitab sandingan Qowaid al-Fiqhiyah
    dan Al-Asyabah Wan Nadho'ir.  Kyai yang satu ini terkenal  nyentrik dan sangat fanatik terhadap
    tradisionalitasnya disamping beliau juga jawara-nya Bahtsul Masa'il Diniyah.


    Saya ingat dulu saya ngaji khusus sendiri
    ke beliau setiap malam pukul 23.30 malam hingga pukul 01.00 dini hari. Terkadang
    saya juga membangunkan beliau jika beliau sudah tertidur terlebih dahulu sebelum
    saya datang di kediaman. Di hadapan beliau saya di beri pengajian dengan
    "sistem sorogan" yakni sebuah motode pengajaran dimana seorang santri
    diwajibkan untuk membaca sendiri kitab klasik tanpa harakat beserta maknanya.
    Selanjutnya sang Kyai menjelaskan pengertian yang di maksud oleh pengarang
    kitab beserta contoh-contoh kasus yang terjadi dalam masyarakat secara aktual.
    Selanjutnya sang Kyai membuka ruang untuk berdiskusi atau sekedar tanya jawab.
    Saya sungguh sangat mengagumi metode ini, sebuah metode yang sangat
    partisipatif layaknya pengajaran di kampus-kampus perguruan tinggi. Karena
    mungkin sudah malam saya terkadang kelelahan terlelap sebentar dan bangun lagi ketika
    Kang Mamad memberi penjelasan Kitab Fathul
    Mu'in
    yang sebelumnya saya baca beserta artinya dulu.


    Maklum juga, sejak pagi saya sudah mulai
    aktifitas berat hingga malam hari. Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah
    saya selalu belanja di pasar Mertapada untuk makan siang santri lain dan
    mengepel kediaman Kyai. Latar belakang keluarga saya yang kurang mampu sehingga
    saya merupakan salah satu dari ratusan santri Buntet yang "mondok gratis".
    Termasuk sekolah pun saya selalu mendapat subsidi dari pemerintah sehingga saya
    merupakan siswa langganan bea siswa. Di pesantren, santri model saya ini di
    sebut Khodam Kyai yang artinya
    "pembantu Kyai". Tapi dengan menjadi pembantu Kyai saya merasa lebih dekat
    kepada Kyai  serta termotivasi untuk
    senantiasa berbuat baik agar mendapat ridlo dan barokah dari Kyai. Tapi
    malangnya terkadang para santri melampiaskan kelelahannya dengan tidur bukan
    pada jamnya. Memang dasar pemalas!.Saking malasnya saya pernah di jewer oleh
    KH. Salim Effendy dan disuruh untuk menghitung jumlah langkah kaki dari pondok
    ke sekolah Madrasah Aliyah yang jaraknya cuma 50 meter, he.he.. sebuah
    pengalaman yang memalukan.


    Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama Buntet
    Pesantren Cirebon disingkat MANU BPC merupakan salah satu sekolah formal
    setingkat SLTA yang ada di Buntet Pesantren. Pada saat itu kepala sekolah MANU
    BPC adalah KH.Hasanuddin Kriyani seorang tokoh di Buntet Pesantren yang sudah
    mempunyai jiwa kepemimpinan sejak muda. Beliau sekarang menjabat Rois Suriyah
    PCNU Kabupaten Cirebon. KH.Hasanuddin Kriyani merupakan sosok yang sangat
    tegas, disiplin serta visioner. Beliau merupakan sosok ideal untuk sekolah
    formal di lingkungan pondok pesantren. Yang paling di ingat oleh para santri
    siswa MANU adalah ketika beliau menyampaikan amanat Pembina Upacara pada setiap
    upacara bendera hari Sabtu. Maklum di Buntet libur sekolah dan pengajian
    semuanya hari Jum'at, jadi upacara Bendera diadakan tiap hari Sabtu. Suara
    beliau yang  lantang, bergetar dan
    terkadang mengelegar. Nasihatnya begitu jelas dan selalu terngiang-ngiang di
    kepala semua siswa. Sebagai Kepala Sekolah beliau sangat di segani oleh segenap
    Dewan Guru, bahkan banyak sekali guru dari luar yang ikut mengajar di MANU BPC
    juga merasa menjadi santri beliau dan berharap adanya barokah dari ilmu beliau.
    Kini beliau menjadi salah satu Kyai sepuh di
    Cirebon yang banyak
    dimintai masukan dan pendapat dari berbagai lapisan masyarakat.


    Selain ngaji kepada KH.Ahmad Manshur, saya
    tentu ngaji di Asrama C Al-Firdaus. Saya ingat saya belajar  kepada Ustadz Qomarul Huda mulai dari Ta'limu Muta'allim (kitab induk berisi
    etika dan metodologi belajar), Safinatun Najah kitab fiqih dasar di
    pesantren, Innarotud Duja sebuah
    kitab penjelasan dari kitab Safinatun Najah
    dalam bentuk nadzam (syair) yang di
    beri penjelasan dalam paparan deskriftif (nasyar).
    Selain kedua kitab tersebut saya juga mengaji kitab nahwu-shorof (Arabic Grammar) Jurumiyah,
    Nadzam Amrithi, Amtsilatut
    Tasrifiyah,Nadzam Maqsud.
    Beberapa kitab fiqih seperti Minhajul Qowwim, Nihayatuz Zain, Bajuri dan lainnya yang tidak
    saya ingat lagi. Kang Omang panggilan
    guru saya ini unik, beliau selalu mewajibkan para santri yang mengaji untuk
    membuat daftar pertanyaan yang berkaitan dengan tema yang sedang dikaji. Santri
    tidak dapat bertanya malah di beri sangsi untuk menghafal beberapa pelajaran
    yang akan datang. Satu hal yang saya ingat, Kang Omang merupakan ustadz yang
    paling serius, mendalam, teliti dan tuntas kalau mengaji fiqih haidz
    (menstruasi). Saya tidak tahu juga kenapa Kang Omang sangat bersemangat kalau
    sedang mengajar fiqih haidz?!. Mungkin kalau ada gelar Doktor di bidang haidz,
    Kang Omang merupakan salah satu kandidatnya.


    Di Asrama C al-Firdaus pula saya sempat
    belajar dengan Ustadz Fathuddin yang spesialis ilmu Shorof (salah satu cabang
    Arabic Grammar ), kepada Ustadz Abdurahman putra KH. Muqoyyim Bakri yang semasa
    hayatnya menjadi Imam Besar di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan
    Cirebon. Ustadz Abdurahman
    yang pernah nyantri di Kaliwungu ini mengajarkan Kitab Fiqih Riyadul Badi'ah dengan sangat tenang dan
    gamblang. Yang paling mengesankan bagi saya adalah pengalaman mengaji Alfiyah Ibnu Malik sebuah kitab
    referensi utama ilmu nahwu yang kebetulan di ajarkan oleh ustadz Subhi Muta'ad
    Ilyas. Kang Ukhi panggilan akrab beliau merupakan adik kandung KH. Thobroni
    Muta'ad Ilyas guru fiqih saya di Madrasah Aliyah dimana Kitab Kifayatul Akhyar  merupakan referensi wajib bagi para siswa. KH.
    Thobroni juga merupakan guru Nahwu yang sangat dicintai oleh para santri bahkan
    juga putra-putri Kyai Buntet Pesantren sendiri. Beliau telah membuat sebuah
    Kitab Kompilasi (diktat) di bidang
    ilmu nahwu sendiri secara singkat dan praktis. Hebatnya diktat tersebut bisa
    dipelajari oleh semua tingkatan baik mulai kelas basic, elementary maupun advance.


    Ustadz Subhi Muta'ad merupakan jebolan
    Pesantren Sarang Rembang  yang sejak
    kecil belajarnya via jalur madrasah. Sehingga jika waktunya Kang Ukhi
    menerangkan dengan menggunakan bahasa Indonesia maka akan sangat tidak enak di
    dengar di telinga.
    Gaya bahasa melayunya
    sering tidak tertata rapi, lucu dan aneh. Bagi kami para santri di Asrama C
    al-Firdaus saat itu selalu usul agar di terangkan menggunakan bahasa Jawa saja
    atau menggurakan bahasa Arab Fushah (konvensional)
    sekalian. Tapi yang kami salut adalah tingkat pemahaman beliau terhadap materi
    yang disampaikan dan jawaban setiap pertanyaan santri yang selalu jelas dan
    lengkap. Beliau merupakan guru ngaji kami yang tidak pernah absen dalam
    mengajar.  Bahkan, dalam cuaca hujan pun
    beliau selalu datang mengajar dengan berjalan kaki dan membawa payung sementara
    kitab beliau masukkan kedalam baju beliau. Sebuah sikap yang sangat bersahaja,
    ikhlas dan sangat mengagumkan bagi kami santri yang bisa belajar pada beliau.
    Jika ingat beliau saya bukan hanya kagum tapi juga sering menitikkan air mata
    mengingat mutiara keikhlasan di akhir jaman ini. Kang Ukhi jugalah yang
    senantiasa memberi nasihat bahwa para santri jika ingin ilmunya bermanfaat
    harus keluar (bahasa santrinya; boyong)
    dari Buntet harus dalam keadaan paling diridlai. Karena di situlah berkah dan
    doa para guru akan senantiasa mengalir. Beruntung saya mempunyai guru seperti
    beliau.


    Bagi saya pribadi, Kyai Buntet yang paling berpengaruh
    dalam membentuk pribadi saya adalah KH. Fakhruddin Mulyono dan KH. Hasanuddin
    Busyrol Karim. Kakak beradik yang juga mempunyai isteri kakak beradik tersebut
    bukan hanya guru bagi penulis tapi juga sudah merupakan orangtua sendiri.
    Bimbingan, nasihat, suri tauladan dan ilmu yang tidak ternilai selalu di
    ajarkan oleh keduanya. KH. Fakhruddin Mulyono kalau boleh saya gambarkan disini
    beliau adalah seorang Kyai dan juga seorang ahli Hikmah (supranatural). Sejak pertama penulis masuk Pondok Buntet
    Pesantren tahun 1997 penulis senantiasa melihat beliau istiqamah menjadi aurad lailiyahnya di Masjid Jami Buntet
    Pesantren. Mulai pukul 12.30 malam hingga subuh tiba beliau tidak pernah
    bergeser dari tempat duduk beliau di depan jam dinding masjid bertuliskan "M
    Nitisemino" sambil terus memutarkan butiran tasbihnya. Setelah mengimami solat
    subuh beliau selalu berkumpul di kediamannya dengan orang-orang tua Buntet yang
    juga istiqamah solat subuh berjamaah
    di masjid. Hal tersebut dijalankan beliau hingga bertahun-tahun hingga akhir
    hayat beliau. 


    Saya merupakan saksi hidup atas karomah
    yang beliau miliki. Mulai dari orang yang sakit medis, psikis, orang yang
    kesusahan terkena pailit, hingga yang mau maju Pilkada banyak sekali yang
    datang ke beliau. Pernah suatu ketika seorang Kyai dari Pandeglang Banten
    datang dan memohon agar dibantu permasalahannya. Ternyata sang Kyai dari
    Pandeglang tersebut mempunyai khodam jin muslim laki-laki dan sudah lebih dari
    satu minggu mengamuk terus karena minta di nikahkan dengan jin muslimah.
    Akhirnya KH. Fakhruddin menyanggupi untuk segera menyiapkan upacara pernikahan
    di alam jin tersebut. Bisa di bayangkan seperti apa resepsinya yah, pastinya
    sangat meriah lah. Seingat saya ini kejadian tahun 2000 semasa saya  senantiasa mendampingi beliau. Banyak lagi
    hal-hal mistis, ghaib dan daya linuwih beliau yang tidak bisa diceritakan satu
    persatu disini.


    Sementara KH.Hasanuddin Busyrol Karim
    adalah seorang pribadi yang sangat bersahaja. Beliau senantiasa mengajaran
    Kitab Jawahirul Kalamiyah sebuah
    kitab di bidang tauhid (teologi)
    dan  Taisirul
    Kholaq
    sebuah kitab berisi tata kerama dan etika dalam kehidupan
    sehari-hari. KH.Hasunuddin Busyrol Karim adalah pribadi yang lebih banyak
    merenung dan berusaha, bicaranya sangat sedikit hanya seperlunya. Tapi wawasan
    beliau yang luas membuat beliau banyak bergaul dengan berbagai kalangan.
    Kepemimpinan beliau dalam Koperasi Pondok Buntet Pesantren juga memposisikan
    beliau banya bergaul dengan kalangan dunia usaha. Sifat wela asihnya kepada
    santri membuat setiap nasihatnya pasti akan senantiasa diingat dan dicamkan
    dalam hati.
    Gaya bicaranya dalam,
    metaforis, jarang sekali terlihat marah dan senantiasa melakukan zikir malam di
    kediaman beliau. Banyak beberapa pengusaha non muslim yang beguru ataupun
    berkawan dengan beliau yang akhirnya membaca syahadat, mengesakan Allah Ta'ala
    dan mengakui Muhammad SAW adalah utusannya.


    Kedua ulama inilah yang selalu menggembleng
    saya untuk terus mutholaah (belajar)
    dan memelihara himmah (cita) setinggi
    mungkin. KH. Fakhruddin paling sering memerintahkan saya puasa untuk melatih
    mental spiritual. Mulai dari puasa "ngasrep" atau orang pesantren menyebutnya
    puasa tarak. Di sebut tarak (tarku ma lahu ruh) karena dalam
    puasa tersebut kita tidak di perkenankan memakan segala sesuatu yang bernyawa.
    Kadang juga saya diharuskan melakukan puasa mutih yang hanya boleh berbuka dan
    sahur dengan meminum air putih dan makan nasi putih. Yang tersulit adalah puasa
    "undur-undur", sebuah ritual puasa dimana dalam hitungan mundur selama satu
    pekan saya hanya boleh makan nasi putih dan air putih ketika adzan magrib di
    kumandangkan. Di sebut "ngundur-undur" karena hitungan nasi yang dimakan
    dihitung menyusut kebelakang selama satu pekan. Di hari pertama puasa saya di
    perkenankan memakan tujuh kepalan tangan dan air putuh, besoknya lagi hanya di
    perboleh 6 kepal nasi, hari ketiga puasa menyusut menjadi 5,4,3,2,1 dan
    akhirnya hanya segelas air putih yang boleh saya minum. Itupun hanya dikala
    buka puasa karena puasa model ini tidak di perkenankan menyantap sahur.


    Adapula ritual puasa "ngebleng". Taraf
    kesulitan puasa ini masih jauh dibawah puasa "ngundur-undur" karena hanya tidak
    diperkenankan makan sahur tetapi ketika berbuka kita bisa menyantap makanan apa
    saja. Asal jelas kehalalannya. Setelah berbuka waktu magrib tiba, kita
    diwajibkan berniat puasa lagi hingga waktu magrib hari esok datang lagi. Yang
    tak kalah repotnya adalah ritual "mati geni". Ritual ini dilakukan selama 24
    jam mulai terbit fajar hingga terbit fajar lagi dihari kedua. Selama ritual
    kita tidak boleh makan dan tidur walaupun hanya sekejap mata. Kita hanya
    diwajibkan membatalkan puasa ketika magrib tiba dengan hanya meminum segelas
    air putih dan selanjutnya berpuasa lagi.


    Pernah juga saya di perintahkan Kyai untuk
    berziarah ke Maqbaroh (kuburan) para
    ulama Buntet setiap tengah malam dan tidak boleh di temani satu orang pun.
    Tentu ke kuburan bukan untuk uji nyali atau meminta pada orang yang sudah
    meninggal, tapi untuk menambah taraf keimanan saya. Pesan Kyai, "kamu berziarah
    malam hari ke kuburan yang sunyi dan hanya sendirian bukan untuk apa-apa.
    Tetapi agar kamu dapat mengimani satu hal. Yaitu bahwasanya tidak ada satu
    makhluk pun yang dapat melukai, menciderai dan membinasakan diri kita kecuali
    Allah. Begitu juga sebaliknya agar kamu bertambah iman bahwa tidak ada satu
    makhluk pun yang mampu member manfaat pada diri kita tanpa izin Allah SWT". Jika
    bukan karena spirit sebagaimana yang disampaikan Kyai tentu kita akan ketakutan
    ketika hal-hal gaib terlintas di depan kita. Dengan mata telanjang dan keadaan
    sadar pulu. Kalau saya ingat-ingat seram juga yah. Pesan Kyai tersebut sampai
    sekarang masih selalu terekam jelas dalam ingatan saya. Yah..semua itu dulu
    ketika saya masih di pesantren, sekarang setelah tinggal di
    Jakarta, jangankan puasa
    mutih untuk diet mengurangi makan pun terasa susah.


    Dari tahun 1997 sampai tahun 2004 penulis
    nyantri di Pondok Buntet Pesantren, begitu banyak merasakan kehangatan dan
    kemilau ilmu yang senantiasa bersinar. Sinar yang bukan hanya mampu menerangi
    kegelapan hati tapi bahkan mampu merubah kegelapan sosial. Salah satu cahaya
    ilmu tersebut terlihat dari seorang Ulama Besar, Rais Syuriah PBNU, Ketua
    Ittihadul Muballighin, Professor di Bidang Tafsir, Mahaguru Nan Digdaya bagi BANSER
    NU. Beliau adalah KH.Muhammad Anisul Fu'ad Hasyim. Seorang orator ulung, singa
    podium yang memulai dakwahnya dari panggung ke panggung mulai usia yang sangat
    belia yakni 18 tahun hingga akhir hayatnya di usia 63 tahun. Sebuah dedikasi
    besar, life time dedication.  Mutiara Akhir Zaman dengan daya ingat diatas
    rata-rata dan kecintaan belajarnya yang "ottodidak internasional". Ulama yang
    juga santri kembara ini sejak remaja sudah terlihat daya linuwihnya, orang
    pesantren bilang ilmu ladunni. Beliau
    dilahirkan hari senin wafat juga hari senin dalam usia 63 tahun, sungguh
    metamorfosa kehidupan Rasulullah SAW di dunia.


    Allamatus
    Syeikh
    Fuad Hasyim menghabiskan ilmunya untuk menebarkan dahwah islamiyah dan
    ilmu agama bukan hanya bagi masyarakat sekitar tapi juga skala nasional bahkan
    internasional. Di tingkat regional beliau sangat dekat dan senantiasa menjalin
    komunikasi dengan ulama-ulama
    di Malaysia, Thailand, Philipina, Kamboja, India terlebih ulama di
    Timur Tengah
    sana. Hal ini di pernah
    ungkapkan kepada saya langsung, bahkan beliau bukan hanya hafal nama dan alamat
    ulama tersebut di negara masing-masing, tapi berapa kilometer jarak dari air
    port?, menggunakan kendaraan apa untuk dapat sampai ke tujuan?, hingga tradisi
    tahunan yang di laksanakan oleh ulama tersebut beliau hafal diluar kepala. Apalagi
    jika berbicara tentang sejarah Nabi dan para sahabat beliau adalah gudang
    ilmunya. Daya ingat yang tiada bandingannya tersebut merupakan salah satu
    karomahnya. Jangan salah Kyai Fuad Hasyim juga mampu berkomunikasi aktif dengan
    puluhan bahasa manusia di dunia ini. Berhadapan dengan beliau bagaikan melihat
    matahari yang sangat besar, sungguh terang benderang, terkadang berubah menjadi
    laut yang memiliki palung sangat dalam yang tidak mungkin diselami oleh manusia
    manapun.


    Di tengah keadaan beliau yang sedang sakit
    dan di bantu satu tongkat penyangga kaki beliau masih terus berdahwah sampai ke
    pelosok negeri bahkan ke daerah pegunungan seperti kampung saya. Mang Royan
    supir pribadi beliau sering bercerita pada saya bahwa sang Kyai seringkali
    tidur di masjid untuk menunggu jadwal pengajian di pagi hari di
    kota yang sama atau
    didaerah yang berdekatan dengan pengajian sebelumnya. Bahkan terkadang melewati
    daerah yang jauh dari perkampungan sehingga ketika sang Kyai Besar tersebut
    hendak buang air harus turun ke kali dibantu Mang Royan yang menyiapkan air
    untuk bersucinya dengan ember yang selalu ada di mobil. Sungguh pengorbanan dan
    perjuangan yang tidak ternilai oleh Ulama Besar sekaliber KH.Fuad Hasyim. Ini
    semua tentu hanya demi li i'lai kalimatillah
    (menunggikan asma Allah).


    Tapi inilah mungkin tugas yang diamanatkan
    Tuhan kepada sang Kyai pencipta Syair Nahdlatul Ulama tersebut. Kamar tidur beliau
    hanya di hiasi oleh lampu baca dan tumpukan kitab yang entah berapa ratus judul
    jumlahnya. Walaupun beliau senantiasa menggunakan Mobil Mercy tetapi jika
    melihat ke kamar beliau sangat memprihatinkan, hanya sajadahnya saja yang
    senantiasa bersih, sementara beliau tidur diatas tempat tidur yang sangat tidak
    layak. Inilah filosofi hidup Kyai Fuad bahwa kesederhanaan di ruang privat
    tersebutlah yang akan senantiasa mengingatkan beliau pada Tuhannya, Allah azza
    wa jalla. Dalam setiap kesempatan Habib Lulthfy Bin Yahya senantiasa
    menyampaikan bahwa KH.Fu'ad Hasyim merupakan kawan seperjuangan beliau,
    senafas, seirama.


    Kini , alhamdulillah
    putra-putri beliau dapat meneruskan perjuangan beliau, KH.
    Luthfy El-Hakim, MA, KH. Abbas Billy
    Yachsy,MA dan KH. Faris al-Haq sekarang juga telah menjadi mubalig kondang yang
    senantiasa padat jadwal ceramahnya. KH. Luthfy el-Hakim juga meneruskan
    perjuangan ayahandanya dalam mendidik santri dengan menjadi pengasuh di Asrama
    L Pesantren Nadwatul Ummah. Sementara KH. Abbas Billy Yachsy,MA merupakan Kyai
    muda yang sangat cerdas dan tekun. Sekarang Kang Babas panggilan akrabnya
    beliau sedang menyelesaikan tahap akhir penulisan Disertasi Doktoralnya di UIN
    Jakarta.

    Mutiara lain yang senantiasa bersinar di
    Buntet adalah KH.Abdullah Abbas, ulama tiga zaman ini merupakan "jimat" bagi
    masyarakat Buntet dan Paku Bumi bagi Masyarakat Jawa Barat. Beliau adalah "Jimat"
    karena kemurahan hati  dan keterjagaan
    beliau dari perilaku yang kurang baik.
    Ada juga istilah yang
    senantiasa di sampaikan KH. Kholil Bisri ataupun adik beliau KH. Mustofa Bisri
    pada awal tahun 2000-an. Bahwa paku bumi tanah Jawa adalah Triple A; Abdullah
    Faqih di Jawa Timur, Abdullah Salam di Jawa Tengah dan Abdullah Abbas di Jawa
    Barat. Berbagai penghargaan dari berbagai kalangan baik dari masyarakat hingga negara
    telah beliau terima. Pengabdian sepanjang masanya juga telah memposisikannya
    dalam berbagai macam jabatan puncak pada organisasi sosial keagamaan seperti di
    PWNU, PBNU hingga Idarah ‘Aliyah Jam'iyah
    Ahlu Thariqah Al-Muktabarah An-Nahdliy
    ah (JATMAN). Namun kesederhanaan Mbah
    Dullah demikian panggilan hormat masyarakat sekitar tidak berubah. Sosok ulama yang
    sangat tawadlu dan sederhana. Keikhlasan merupakan filosofi hidup yang selalu
    beliau pegang teguh. Diam, sabar dan ikhtiar merupakan garis juang Mbah Dullah.
    Sebagai sesepuh pesantren dan sesepuh masyarakat Jawa Barat, Mbah Dullah tidak
    pernah sepi dari tamu di kediamannya. Mulai dari para santri, murid tarekat, hingga
    para umaro silih berganti mendatangi beliau. Tokoh sentral dalam suksesi
    kepemimpinan KH.Abdurahman Wahid ke Istana Negara ini, pada pemilu 2004 juga
    dijadikan rujukan oleh hampir semua kandidat Capres dan Cawapres Republik
    Indonesia.


    Tentu hal ini ada yang melatarbelakanginya,
    sehingga Mbah Dullah begitu dimuliakan masyarakat. Mantan laskar Hisbullah ini selain
    merupakan pembesar tarekat Syathoriyah dan 
    sesepuh pesantren Jawa Barat, beliau juga seorang mantan pejuang Negara
    yang banyak makan asam garam perpolitikan nasional. Mulai zaman revolusi fisik,
    peristiwa pemberontakan DI TII hingga peristiwa pemberontakan PKI di tahun 1965
    beliau selalu menjadi pelaku sejarah. Banyak sekali sejarah kelam bangsa yang
    terekam apik dalam ingatan beliau. Ketika beliau bercerita sejarah republik
    ini, walau diusia yang sudah udzur, masih sangat runut dan detail. Pada
    momentum tertentu pernyataan dan sikap Mbah Dullah sangat di tunggu-tunggu oleh
    masyarakat Jawa Barat. Hingga akhir hayat kediaman Mbah Dullah tidak henti-hentinya
    menjadi tempat Halaqah Ulama
    menyikapi persoalan bangsa, baik mulai level Jawa Barat maupun level nasional.
    Mbah Dullah telah purna bakti dalam mendedikasikan hidupnya untuk Buntet, NU
    dan Bangsa.


    Ulama sepuh lainnya di Buntet Pesantren
    adalah KH. Abdul Hamid Anas dan KH.Abdullah Syifa Akyas. Kyai Hamid merupakan
    putra KH.Anas Abdul Jamil. Seorang Kyai tasawuf yang juga sangat sedikit
    berbicara. Sehingga tiap ucapan yang keluar dari Kyai Hamid senantiasa bagaikan
    mutiara. Beliau merupakan tempat bertanya bagi masyarakat Buntet sendiri.
    Beliaulah pemangku kehidupan beragama di Buntet. Pada masa hayatnya KH.Abdullah
    Abbas, KH.Fuad Hasyim, dan KH. Abdul Hamid Anas merupakan Tri Tunggal yang
    sangat ideal mengelola dan mengarahkan Buntet Pesantren. Walaupun tidak pernah
    terekspos Kyai Hamid adalah salah seorang pejuang 65. Inisiator pergolakan
    santri Jawa Tengah menumpah pemberontak PKI.


    Sebulan sebelum kejadian Gerakan 30
    September PKI, tepatnya tanggal 17 Agustus 1965 pemerintah Kabupaten Demak mengadakan
    pagelaran kesenian rakyat dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat termasuk
    Pesantren. Pada waktu itu KH.Abdul Hamid Anas masih menjadi lurah pondok di
    Pesantren Mranggen Demak Jawa Tengah di bawah asuhan Mbah Muslih. Untuk
    berpartisipasi dalam pagelaran tersebut, Mbah Muslih merintahkan Kyai Hamid
    muda untuk mengadakan pertunjukan debus. Kyai Hamid muda pun menyanggupi,
    padahal sebelumnya beliau telah mempersiapkan pertunjukan drama teateretikal
    yang dilatih oleh kader-kader Lesbumi (Lembaga Seni dan Budaya Islam) NU Jawa
    Tengah.  Mulailah sang Lurah Pondok
    tersebut mengumpulkan kawan-kawannya dari
    Cirebon untuk dilatih debus.
    Pertunjukan pun di mulai, adegan demi adegan pun di pertontonkan. Kyai Hamid
    memimpin perhelatan dengan menampilkan aksi kebal bacok, menggunakan kalung
    petasan yang sebelumnya telah di nyalakan sumbunya, minum air tiga ember,
    hingga menghilang dari kerumunan masa. Jawara-jawara kecil ini pun mulai
    mendapat tepuk tangan meriah dari semua pengunjung yang menyaksikan.


    Pada saat bersamaan ternyata antek-antek PKI
    sedang mempersiapkan Kudeta dengan menculik para Jenderal dan Tokoh Kunci
    Masyarakat. Tanggal 30 September, pemberontakan PKI pun terjadi di susul
    benturan sosial (social clash)
    dimana-mana. Negara dinyatakan dalam keadaan darurat dan tragedi kemanusiaan
    tersebut telah merengut banyak korban. Tidak hanya kalangan militer yang di
    incar tetapi juga para tokoh NU. Hingga akhirnya Kyai Hamid muda mendapat
    surat dari Cirebon yang isinya
    menyatakan bahwa di berbagai daerah telah serempak menyerukan penumpasan PKI. Peristiwa
    kelam anak bangsa yang hingga saat ini belum terjawab siapa sebenarnya yang
    menjadi dalang semuanya.


    Kyai Hamid muda segera bertindak dengan
    meminta arahan dari ketua PWNU Jawa Tengah saat itu KH.Abdul Hadi yang juga
    dari Mranggen. Selanjutnya kontak konsolidasi pesantren Jawa Tengah yang
    meliputi Mranggen Demak, Rembang, Kaliwungu Kendal dan Mangkang di komandoi
    oleh Kyai hamid muda. Operasi penumpasan pun sukses walau akhirnya ada dua
    orang santri dari Kaliwungu Kendal yang hilang tanpa jelas rimbanya.
    Para tokoh PKI di
    tangkap oleh para santri bersama Banser dan Ansor NU selanjutnya diserahkan ke
    kantor Koramil atau Kantor Polisi setempat. Peristiwa ini pulalah yang akhirnya
    membuat tersohor tentang kesaktian Kyai Hamid dan kawan-kawannya dari
    Cirebon yang dikenal
    dengan "Santri-santri Jawara dari
    Cirebon". Sejak saat itu
    semua santri
    Cirebon jadi santri kelas
    VIP di Mranggen. Di jalan di pasar, ataupun di pesantren mereka sangat di
    segani. Bahkan petugas pos pun rela mengantarkan secara ekspres kiriman
    surat ataupun wesel dari Cirebon langsung ke
    bilik-bilik santri. Mungkin karena takut kena jurus silat santri-santri
    Cirebon!

    Berbeda dengan Kyai Hamid, Kyai Syifa
    (panggilan singkat KH. Abdullah Syifa Akyas) adalah seorang hamilul qur'an (orang yang senantiasa
    menjadikan Al-Qur'an sebagai way of life-nya).
    Selain beliau adalah seorang Hafidz Qur'an beliau senantiasa mewiridkan
    al-Qur'an. Bukan hanya bagi masyarakat Buntet tapi beliau juga menjadi rujukan
    masyarakat sekitar. Di setiap hari Kamis di kediaman Kyai Syifa senantiasa
    diadakan pengajian rutin untuk masyarakat umum. Pengajian rutin untuk
    masyarakat sekitar terbut sudah dijalankan oleh ayahandanya, KH. Akyas Abdul
    Jamil. Saat ini Kyai Syifa juga menjadi salah satu Khalifah Tarekat Tijaniyah
    yang masyhur. Semasa hayatnya Kyai Buntet lainnya yang memangku gelar Khalifah
    Tarekat Tijaniyah adalah KH. Junaidi Anas kakak kandung KH. Abdul Hamid Anas
    yang juga sesepuh pesantren Sidamulya
    Cirebon dan juga KH. Fahim
    Chawi.


    Kang Aying panggilan akrab KH. Fahim Chawi
    semasa hayatnya juga menjabat sebagai Katib Syuriah PWNU Jawa Barat dimana
    KH.Abdullah Abbas sebagai Rois Syuriahnya. Biasanya setiap solat Jum'at di
    masjid Buntet senantiasa digelar wirid berjamaah tarekat Tijaniyah oleh para
    pengikut tarekat yang di pimpin Kyai Syifa. Di kediaman beliau juga sering di
    gelar pembacaan Manaqib Syeikh Ahmad
    At-Tijani bersama para murid tarekatnya. Saya sendiri pernah mengaji Kitab Tafsir Surat Yasin kepada Kyai Syifa. Dalam
    setiap kesempatan pengajian Kyai Syifa senantiasa menyampaikan isi kitab Kasykul (penulis sendiri tidak pernah
    melihat kitab tersebut) yang isinya mengenai anekdot sufi. Memang, hampir semua
    ulama Buntet mempunyai selera humor tinggi baik yang tua maupun yang muda.


    Begitu hangat dan indahnya hidup bersama
    para ulama, dengan kehidupan yang begitu bersahaja. Buntet memang surga bagi
    para pencari ilmu. Setiap malam para santri senantiasa bergulat dengan
    pelajaran dirasah diniyyah
    (pendidikan agama) hinggu pukul 23.00 malam, setelah itu mulai asyik
    bercengkerama sambil menikmati segelas kopi ataupun minuman khas Buntet, teh
    upet panas di seduh bersamaan dengan gula batu yang manis. Orang Buntet
    menyebutnya Teh Tubruk. Biasanya para santri karena diminum rame-rame dan
    peralatan minum yang tidak lengkap, mereka menggunakan gayung yang biasa untuk
    mandi sebagai gelas dan jika tidak ada sendok untuk mengaduk gula batu mereka
    sering menggunakan ujung sikat gigi sebagai penggantinya. Ya..Tidak ada rotan
    akarpun jadi, tidak ada sendok  sikat
    gigi pun jadi. Yang penting puas sambil ketawa-ketiwi atau sambil main tebak
    tebakan kalo tidak saling pijit badan bergantian. Kadang juga walau jam di
    dinding sudah menunjukkan jam 01.00 dini hari tapi masih terdengar suara air
    bergemuruh di kamar mandi, itu biasanya santri sedang mencuci baju mereka.


    Memang kehidupan pesantren mempunyai pola
    hubungan, jadwal kegiatan, karakteristik dan siklus hidup tersendiri. Maka
    pantas jika kehidupan pesantren disebut Sub-Kultur Sosial tersendiri seperti
    sering di ungkapkan Gus Dur. Namun terus terang saya sering keki sendiri kalo
    ingat masa nyantri dulu.
    Ada beberapa sifat
    buruk yang susah sekali di tinggalkan para santri. Yaitu kebiasaan tidur hingga
    lupa waktu dan pola hidup kotor karena malas bersih-bersih. Padahal di depan
    pintu masuk pondok terpampang jelas slogan "Annadhofatu
    Minal Iman
    ;kebersihan sebagian dari iman". Siapa yang salah kalo sudah
    begini yah?!, saya jadi ingat pesan KH.Nahduddin Royandi Abbas, sesepuh baru
    kami di Pondok Buntet Pesantren menggantikan kakak beliau KH.Abdullah Abbas
    yang baru saja berpulang kerahmatullah. Kata Mbah Dien (sapaan hormat
    KH.Nahduddin) "di pesantren itu al-qur'an dibaca tiap hari, hadits ting blegedek (hadits banyak sekali di
    nukil), kyainya alim-alim, tapi suruh hidup bersih saja tidak bisa". Itulah
    sindiran khas
    gaya Mbah Dien.

    Mbah Dien merupakan sesepuh kami yang baru
    dan mungkin merupakan sesepuh paling eksentrik. Dalam setiap kesempatan beliau
    tidak pernah mengenakan baju kebesaran khas para Kyai. Tetapi beliau selalu
    konsisten memakai baju kemeja lengan pendek, peci hitam dan sarungan saja.
    Beberapa Kyai Buntet sampai membelikan baju koko (busana muslim) ataupun batik
    berharap Mbah Dien merubah penampilannya, tetapi nampaknya usaha para Kyai
    Buntet tersebut belum berhasil. Karena Mbah Dien tetap konsisten dengan
    costumnya. Maklum saja walau di usianya sudah kepala tujuh tapi Mbah Dien ini
    bukan sembarangan Kyai. Beliau merupakan santri kelana dan "Ulama
    Trans-Nasional" yang sejak muda hidupnya dihabiskan diluar negeri. Awalnya
    beliau menetap di
    Saudi Arabia sebagai staf
    kedutaan di
    sana. Selanjutnya Mbah
    Dien menetap di London Inggris bersama keluarganya dan saudaranya yang bernama
    KH. Ghozi Mujahid adik kandung KH.Imamuddin Mujahid perintis KBIH Buntet
    Pesantren.


    Sejak awal berdirinya hingga sekarang
    organisasi NU Cabang Khusus London telah menetapkan Mbah Dien sebagai
    Musytasyarnya. Beliau merupakan figur yang sangat demokratis, lurus dan paling
    sering melancarkan auto kritik. Saya kira hal terakhir ini yang paling penting
    untuk di alamatkan ke pesantren. Pola hubungan adi luhung (ningrat) membuat
    pesantren sering dianggap feodal sehingga kritik merupakan hal yang kadang
    tabu. Jarak sosial antara Kyai dengan masyarakat biasa kadang terlalu menganga.
    Tapi hal itu tentu tergantung bagaimana peranan tokoh sentral di pesantren
    tersebut. Karena paternalisme di pesantren sangat kental, semua digerakkan oleh
    kharisma tokoh.


    Mbah Dien misalnya senantiasa berpesan
    kepada segenap pengasuh pondk di Buntet bahwa modal membina umat hanyalah dua
    hal jujur dan ikhlas. Selanjutnya beliau menambahkan jika kita sendiri tidak
    bisa melakukan dua hal tersebut, maka jangan salahkan kalangan luar menganggap
    pesantren secara miring. Pada suatu kesempatan Mbah Dien memberikan pengarahan
    kepada pengurus Forum Silaturahmi Pondok Buntet Pesantren di Jakarta. Beliau
    menekankan dalam membangun sebuah organisasi yang kokoh di perlukan semangat membaja
    dan pantang menyerah. Tidak harus dilakukan oleh organisasi besar dan massal, dalam
    setiap kebijakan organisasi yang terpenting adalah memulainya bukan hanya
    mendiskusikannya, karena tanpa di mulai tidak mungkin semua program akan
    teralisasi. 


    Sekali lagi, saya begitu merasa bangga
    dengan almamater saya. Rasanya semua kekeringan ilmu tersirami dengan deras di
    Buntet Pesantren. Walaupun kata senior saya di Buntet, saya tidak mengalami
    masa keemasan Buntet dimana para ulama masih lengkap. Tentu, saya hidup di masa
    sekarang, bukan di jaman dahulu yang lampau. Tapi saya terkadang membayangkan
    bagaimana rasanya jika saya mengalami masanya KH. Mustahdi Abbas dimana para
    santri sering melihat kerumunan jin yang juga bersama-sama para santri mengaji
    kepada sang Kyai. Tasbih dan kitab kadang terlihat berjalan sendiri. Terlintas
    juga KH. Chawi yang senantiasa menangis ketika mengucap dan mendengar asma
    Allah. KH. Zen yang mempunyai beberapa putra dan cucu yang semuanya alim.
    Ada yang menjadi
    anggota
    DPR RI yakni KH.Nu'man
    Zen bahkan ada yang menjadi Qori Internasional KH. Fuad Zen.. KH. Imam yang
    ahli dalam bidang falak (astronomi) Buntet Pesantren. Pencipta perhitungan
    waktu solat seumur hidup ini bahkan mampu menghitung kapan daun akan jatuh dari
    pohon, atau bunga kapan akan mekar dan layu.
    Ada juga KH. Arsyad
    yang mempunyai banyak santri dan alim-alim, KH. Hasyim seorang ulama pejuang
    yang sangat jujur dan senantiasa memakmurkan masjid dengan al-Qur'an.


    KH. Mustamid Abbas salah seorang sesepuh
    Buntet Pesantren yang pernah menjabat sebagai anggota
    MPR RI utusan Nahdlatul
    Ulama'. Beliau seorang tokoh yang mempunyai hubungan luas dengan para petinggi
    negara. Kyai Mustamid pulalah yang menjadi salah satu pelopor pesantren
    sehingga menerima Pancasila sebagai azas ideologis bangsa. Saya pernah mendapat
    ceritera dari salah seorang staf pimpinan
    DPR RI yang hingga saat
    ini masih bertugas. Namanya Saefuddin staf khusus Bapak Agung Laksono Ketua DPR
    RI. Beliau asli Jawa Timur, setiap kali berangkat ke
    Jakarta dari kampung
    halamannya beliau selalu mampir ke Buntet. Walaupun belah pernah mondok, beliau
    sudah merasa sebagai santri Buntet. Katanya dahulu Kyai Mustamid ketika
    bersidang selalu menggunakan sarung dan peci, Kyai Mustamid menjadi seorang
    yang sangat di segani di senayan karena kharisma dan wibawanya yang tinggi. Bahkan
    banyak kolega beliau yang mengangkatnya sebagai guru dan orang tuanya. Hingga
    ada kolega beliau di
    MPR RI waktu itu yang
    berwasiat agar dapat di kuburkan di Buntet Pesantren.


    Saya juga sering mendapat cerita dari para
    senior saya di pesantren tentang kealiman tiga bersaudara; KH. Izzudin, KH.
    Nasirudin dan KH. Anwaruddin. Ketiganya merupakan putra KH. Ahmad Zahid seorang
    ulama besar Buntet Pesantren yang sangat zuhud dan istiqomah. Beliau adalah
    legenda hidup pada zamannya. Dulu katanya pengajian begitu ramai, kitab-kitab
    besar berjilid-jilid selalu dikaji dalam waktu yang cukup singkat. Santri
    begitu termotivasi untuk belajar dan bersemangat dalam setiap muhadharah (pentas keilmuan) santri.
    Para putra kyai
    semuanya juga mengikuti pengajian di tempat KH. Izzudin dan KH. Nashirudin.
    Sementara KH. Anwaruddin menjadi pimpinan tertinggi "Angkatan Darat" Buntet
    Pesantren. Beliau tidak segan-segan memberi sangsi atas semua kesalahan fatal
    yang dilakukan santri. Di sisi lain beliau merupakan benteng bagi semua orang
    dan kepentingan yang ingin merusak harmoni kehidupan pesantren.   


    Lebih-lebih, saya tidak terbayang bagaimana
    jika saya merasakan masa awal-awal keberadaan Buntet Pesantren dimana KH. Abdul
    Jamil bersama putra putrid beliau masih berkumpul. Mulai dari KH. Abbas putera
    tertua yang merupakan tokoh sentral dan paling legendaris dari Buntet. Sejuta
    ceritera dan testimonial para santri atau pengikut beliau telah banyak di tulis
    dan di bukukan. Kajian kesejarahan dan perjuangan jaman revolusi fisik juga
    tidak kurang dalam mengetengahkan ketokohan beliau. KH. Akyas adik kandung Kyai
    Abbas adalah seorang Allamah, Hafidzul Hadits serta guru para Kyai di
    Buntet. KH. Anas bin Abdul Jamil juga merupakan tokoh yang sangat fenomenal. Pembawa
    tarekat Tijaniyah ke tanah Jawa ini sudah terkenal kassyaf (mengetahui hal yang gaib) sejak usia belia.


    Berbeda dengan ketiga saudaranya KH. Ilyas
    merupakan ulama alim yang sangat zuhud dan wara'. Beliau senantiasa
    membersihkan pelataran masjid serta berjalan kaki walaupun untuk menuju tempat
    yang cukup jauh. Atau KH. Murtadlo, karib KH. Munawir Krapyak Yogyakarta ini
    merupakan peletak dasar ilmu al-Qur'an di Buntet Ah, itu semua adalah masa lalu
    mungkin ilmu para ulama bisa saja terkubur bersama kepergiannya ke alam barzah.
    Para pendahulu kini telah mendapatkan tempat yang layak di
    hadirat Allah SWT.Namun fondasi yang begitu kokoh diletakkan para founding father Buntet Pesantren hingga
    kini masih berdiri tegak.


    Saya sangat bangga dengan Buntet Pesantren,
    karena proses regenerasi kepemimpinan dan keilmuannya sangat baik. Seiring
    dengan meninggalkan para pendahulu kini muncul kader-kader ulama muda Buntet
    Pesantren yang sangat luar biasa. Salah satunya adalah KH. Adib Rofi'uddin
    Izza. Beliau yang sekarang mengemban amanah sebagai Ketua YLPI Pondok Buntet Pesantren,
    juga merupakan Rois Syuriah PBNU termuda dalam usianya yang ke 40 tahun. Ini
    menunjukkan kapasitas keilmuan dan kualitas pribadi yang menonjol dari diri Kyai
    Adib. Di usianya yang belum begitu tua, beliau sangat vocal dalam setiap rapat
    di PBNU. Baik rapat yang membahas masalaha internal keorganisasian, masalah fiqhiyah hingga masalah kebangsaan
    seperti halnya hubungan NU dengan Partai Politik. Kyai Adib merupakan figur
    yang penuh idealisme, berani menyampaikan kebenaran dan berani menyatakan sesuatu
    yang berbeda dengan pandangan orang lain jika menurutnya benar.


    Beliau juga merupakan Kyai yang sangat alim
    dalam bidang fiqih. Hal ini jelas terlihat ketika memberikan penjelasan sebuah
    kitab fiqih kepada santri. Saya sendiri sempat mengaji kepada beliau beberapa
    kitab seperti Fathul Wahab (dibidang
    fiqih), Tafsir Jalalain (dibidang
    tafsir al-qur'an) dan Al-Hikam
    (dibidang akhlak tasawuf). Semasa di pesantren hampir tiap malam juga saya mujalasah dengan beliau bersama warga
    sekitar sambil menikmati teh tawar panas yang dihidangkan dengan gorengan. Satu
    hal yang saya salut adalah walaupun sedang asyik-asyiknya ngobrol di depan
    teras rumah beliau, jika waktu telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari beliau
    pasti masuk kamar beliau untuk menjalankan Qiyamul
    Lail
    . Murid kesayangan KH.Maimun Zubair ini sejak usia remaja memang sudah
    terlihat tingkat keilmuan yang matang dan spiritualitas yang tinggi. Tidak
    heran makannya jika sekarang beliau menjadi tokoh yang sangat terpandang.


    Ada juga seorang Kyai
    di Buntet walaupun usianya masih paruh baya tapi pembawaannya sangat sepuh.
    Postur tubuh yang tinggi tegap dan raut wajah yang sangat tampan.
    Gaya bicara, gerakan
    tubuh dan senyumannya pasti membuat setiap mata wanita memandang akan
    terpesona. Beliau adalah KH. Abdul Basith Zen putra KH. Fuad Zen yang terkenal
    sebagai qori international dari Buntet Pesantren. Konon katanya nama Abdul
    Basith karena tafa'ulan (duplikasi
    dengan maksud penghormatan) kepada karib ayahandanya yang seorang qori masyhur
    dari Timur Tengah bernama Abdul Basith. Beliau merupakan alumni Pesantren Tegal
    Rejo Jawa Tengah dan kini mengasuh Asrama Santri Al-Falah. Kealiman beliau di
    bidang ilmu fiqih memposisikan beliau saat ini sebagai Ketua Lajnah Bahtsul
    Masa'il NU Kabupaten Cirebon. Sebuah lembaga pengambilan keputusan hukum NU
    yang menaungi ratusan pesantren di Kabupaten
    Cirebon. Jika kita
    menyempatkan sekali-kali solat Iedul Fitri atau Iedul Adha di Masjid Jami
    Buntet. Maka kita akan mendengarkan duet dua ulama muda Buntet. KH. Adib
    Rofi'uddin selaku khotib karena memang beliau jago pidato sementara KH.Abdul
    Basith sebagai Imamnya, alunan nada dalam membacakan ayat suci al-Qur'an sangat
    merdu, syahdu dan begitu menyentuh.  Sebuah duet yang sangat serasi, kompak penuh
    harmoni. Saya selalu berdoa semoga kedua ulama muda Buntet ini senantiasa di
    berikan kesehatan dan panjang umur.


    Ada lagi, satu Kyai
    muda Buntet yang hampir tiap bulan saya pinjam kitabnya. Beliau memang seorang
    "kutu kitab". Kyai muda ini punya penyakit aneh, yaitu tidak bisa tidur jika
    malam hari. Walaupun telah larut malam hingga dini hari mata beliau tidak
    pernah mau berkompromi untuk tidur. Namun beliau justeru menikmati penyakitnya
    tersebut, karena dengan demikian setiap malam beliau senantiasa bercengkerama
    dengan kitab-kitabnya yang berjumlah ratusan judul dan berjilid-jilid. Hampir
    seluruh ruang perpustakaan pribadinya di penuhi dengan kitab-kitab agama
    tersebut. Setiap saya sowan ke beliau selalu saja ada di dekat mejanya satu
    gelas teh, gula batu, sebuah teko tempat menuang teh, dan beberapa bungkus
    rokok kretek. Terkadang beliau juga punya menu khusus, yaitu rokok "ting we",
    ngelinting dewe. Perawakannya gemuk, tambun, dan selalu memakai sarung hingga
    di bawah dada. Kyai muda ini adalah Tubagus Ahmad Rifky Chowas, putra KH. Chowas
    Nuruddin seorang mantan Ketua Lembaga Pendidikan Islam Buntet Pesantren yang
    juga karib KH. Syukron Makmun.


    Konon gelar Tubagus yang disandangnya
    merupakan gelar kehormatan yang di dapatkannya dari Kesultanan Banten. Kang
    Ntus, panggilan akrabnya, pernah terseleksi sebagai salah satu kandidat Syuriah
    NU
    Cirebon yang mendapat
    pendidikan Ke-Syuriahan dari PBNU di Jakarta. Bagi saya beliau adalah "kitab
    berjalan". Setiap kali berdiskusi dengan beliau, selalu saja mengalir dari
    mulut beliau puluhan nukilan kitab yang beliau ingat diluar kepala. Terkadang
    saya sampai tidak dapat mengingat apa saja kitab yang di nukil dan berapa puluh
    kitab jumlahnya. Referensialnya sangat kuat dan tajam. Hebatnya lagi beliau
    juga tidak perla luput meng-up date perkembangan pemikiran Islam modern di
    tanah air maupun Timur Tengah bahkan pemikiran ke islaman di Barat. Maka jangan
    heran kalau Kyai muda ini juga hobi mengoleksi buku-buku tulisan intelektual
    muda NU, seperti Ulil Abshar Abdalla, Masdar Faried Mas'udi, Gunawan Muhammad,
    Dawam Raharjo hingga pemikiran-pemikiran Gus Dur.


    Banyak juga terpampang kitab Muwaffaqat Fi Maqashid al-Syari'ah karya
    As-Syatibi, Fiqhul Islam Wa Adillatuhu
    karya Wahbah Zuhaili, karya-karya Sayid Abdurrahman Al-Buthi, An-Naim,
    Al-Jabiri, Muhammad Arkoun hingga Hassan Hanafi. Beliau senantiasa bertukar
    kitab dengan kawan-kawannya yang study di Timur Tengah. Tapi yang saya salut
    beliau tetap konsisten dengan pemikirannya yang khas pesantren. Tidak mau ke
    kiri-kirian, atau menjadi puritan ke kanan-kananan. Sungguh salut dengan
    beliau, bukan hanya pandai memetakan dan mengkritisi pemikiran ulama salaf dan
    intelektual Islam masa kini. Beliau juga telaten mengkoleksi ghara'ibul mas'alah dinniyah
    (kasus-kasus fiqhiyah yang menyimpang dari mainstream ulama mazhab). Saya yakin
    suatu saat beliau akan menjadi seorang ulama yang di hebat dan di segani.


    Kyai-Kyai muda di atas merupakan produk
    murni pendidikan salaf pesantren
    Indonesia. Tapi jangan salah
    di Buntet Pesantren banyak juga Kyai muda yang merupakan prototype campuran
    pendidikan salaf di pesantren dan juga lulusan Perguruan Tinggi Islam luar
    negeri. Sebut saja misalnya KH.Abbas Sobich Mustahdi adalah seorang putra
    mahkota Buntet Pesantren yang pernah belajar dan menetap lama di Arab Saudi. Putra
    KH. Mustahdi Abbas ini juga seorang ahli di bidang Qiro'atus Sab'ah. Sebuah disiplin ilmu yang mempelajari
    metode-metode pembacaan ayat suci al-Qur'an yang di ajarkan Tujuh Imam Besar. Sungguh
    sangat di sayangkan Allah SWT memanggil beliau dalam usia yang masih paruh baya
    karena penyakit yang di deritanya.


    Di awal tadi saya juga telah menceritakan
    paling bahwa KH. Aris Ni'matullah putra KH. Izzudin yang lulusan
    Cairo University. Adik iparnya KH. Wawan Arwani, MA adalah putra
    KH.Amin Siraj sesepuh pesantren Gedongan Cirebon, ibu beliau Nyai Eni kakak
    kandung KH. Hasanuddin Kriyani. Beliau merupakan alumni S2 di
    Chourtum
    University
    Sudan dan sekarang
    sedang menyelesaikan Disertasi S3-nya di Bidang Ilmu Tasawuf di UIN
    Jakarta. Mantan Ketua Umum
    PMII Cirebon ini merupakan sosok organisatoris sejati dengan kemampuan
    diplomasi nomor wahid. Setiap minggu beliau selalu pulang pergi
    Cirebon - Jakarta karena beliau
    mempunyai pengajian ekskutif yang di ikuti oleh para pengusaha asal Cirebon di
    Jakarta. Sebagai Wakil Ketua PCNU Cabang Kabupaten Cirebon, saya dengar beliau
    juga di gadang-gadang untuk duduk sebagai wakil Bupati
    Cirebon atas rekomendasi
    PCNU. Ayah beliau KH. Amin Siroj yang juga paman KH. Said Aqiel Siraj tersebut merupakan
    tokoh kharismatik pilar ulama di
    Cirebon bagian timur.

    Satu angkatan dengan KH. Aris Ni'matullah,
    adalah KH. Ade Nasich, Lc. Beliau merupakan alumnus jurusan Ushuluddin
    Universitas Al-Azhar Syarif Mesir. Ahli di bidang Teologi ini merupakan menantu
    KH.Abdullah Abbas dan juga merupakan adik kandung KH. Cecep Nidzomuddin. Kang
    Cecep, sapaan hangat KH. Cecep Nidzomuddin merupakan sosok Kyai muda yang
    memiliki selera humor tiada duanya. Duta Dakwah Dompet Duafa Republika ini kini
    selalu berkeliling nusantara untuk menebarkan dakwah islamiyah. Di Buntet
    Pesantren juga tercatat banyak Kyai Muda yang pernah belajar di
    Al-Igra
    University
    India, beliau adalah KH.
    Luthfy El-Hakim, MA, KH. Abbas Billy
    Yachsy, MA, dan KH. Yumni Fathoni Imam, MA. Saya tidak hapal semua dan tidak
    dapat mengingatnya satu persatu Putra Buntet yang belajar di luar negeri. Yang
    jelas juga masih banyak Putra Buntet yang hingga saat ini masih berada di luar
    negeri bahkan juga sudah memiliki dua kewarganegaraan.
    Ada yang di Inggris, Australi, India, Pakistan ataupun di Timur
    Tengah
    sana. Biar kampung
    kecil, Buntet merupakan "perkampungan internasional".


    Inilah fenomena perkampungan internasional bernama
    Buntet Pesantren yang telah di rintis sejak lama oleh KH. Mustahdi Abbas. Sejak
    masa-masa awal kemerdekaan beliau telah menjalin kontak diplomasi dengan
    ulama-ulama Timur Tengah seperti Arab Saudi,
    Mesir, Sudan, Syiria dan Yaman.
    Dulu santri Buntet juga banyak sekali yang mendapat beasiswa belajar di Timur
    Tengah. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan. Pesantren yang sudah berumur
    ratusan tahun hingga saat ini masih tetap menunjukkan eksistensinya menjadi khadimul ummah (pelayan umat). Ini tentu
    juga tidak terlepas dari barokah para pendahulu sebagaimana Mbah Muqoyyim yang
    sebelum mendirikan pesantren berpuasa dulu selam 12 tahun untuk mendoakan
    keluarga, santri dan tanah perjuangan Buntet Pesantren.


    Di Buntet kini masih berdiri sekitar 40an
    pondok pesantren, saya tidak hafal namanya satu persatu. Semuanya pondok atau
    kadang disebut juga asrama memiliki seorang atau beberapa pengasuh yang biasa
    di pegang oleh seorang Kyai atau Nyai beserta keluarganya. Mempunyai dewan as-satidz (dewan guru), sitem pengajian dirasah dinniyah yang berjenjang. Mulai
    dari i'dadi (persiapan), sifir (kelas terendah), awaliyah (permulaan), tsanawiyah (pertengahan/lanjutan) dan aliyah (tingkat tinggi). Sayang memang
    dengan potensi yang ada, sampai sekarang ini setahu saya belum ada sebuah
    sistem dirasah dinniyah yang di bakukan secara seragam. Sehingga antara satu
    pondok dengan lainnya cenderung memiliki managemen yang berbeda tergantung
    managemen yang dipilih sang kyainya. Apalagi kalau saja bisa ada pengajian
    wajib bersama yang di ikuti oleh seluruh santri Buntet Pesantren. Dimana para
    Kyai Buntet secara bergiliran sesuai dengan bidang keilmuan yang dimilikinya.
    Mungkin jika hal itu dapat di realisasikan maka Buntet dengan sumber daya
    manusia yang ada akan menjadi pesantren yang mempunyai pendidikan handal dan
    bermutu.


    Waktu saya masih nyantri, akhirnya saya dan
    sebagian santri punya prinsip jika pendidikan yang terintegrasi belum dapat
    terealisir maka kamilah yang harus lebih aktif untuk mengikuti pengajian beberapa
    ulama di Buntet. Seingat saya selain kepada KH. Fakhrudin Mulyono, KH.
    Hasanuddin Busyrol Karim para ustadz di asrama C Al-Firdaus seperti Kang Omang,
    Kang Abdurahman, Kang Qohar, Kang Fathuddin dan Kang Ukhi. Saya juga sempat
    mengaji kepada KH. Adib Rafi'uddin, KH.Ahmad Manshur, KH.Abdul Hamid Anas dan
    KH. Abdullah Syifa Akyas. Saya juga bersama beberapa alumni dari pesantren
    Ploso Kediri, Jombang dan alumni Buntet sendiri pernah ngaji khusus kepada KH.
    Ali Maufur yang juga guru Al-Fiyah Ibnu
    Malik
    saya di MANU BPC. Selama bulan puasa hingga bulan Syawal kami mengaji
    beberapa kitab kepada beliau, termasuk diantaranya Durrotun Nasihin yang berisi mauidlah bekal dakwah serta kitab Fathul Jawwad Fil Ma'fuwwat. Sesuai
    namanya kitab ini menjelaskan najis-najis yang mendapat ditolelir atau bahkan
    di anulir dari sisi hukumnya. 


    Kediaman KH. Ali Maufur berada di seberang
    sungai yang menjadi yang membatasi wilayah perkampungan Buntet Pesantren. Kata
    orang sekitar daerah tersebut kalau tidak salah dinamakan Blok Sekrikil. Di
    cluster Sekrikil tersebut juga terdapat beberapa Pondok Pesantren yang masih
    dibawah naungan YLPI Buntet Pesantren. Selain pondok Al-Khoir yang di pimpin
    KH.Ali Maufur terdapat pula pondok Syubaniyah Islamiyah Pimpinan KH. Baedlowi.
    Ada juga pondok Habil
    Ilmi pimpinan KH.Habil Ghomam, pondok Ar-Raudlah pimpin KH. Jirjis Umar Yutho, pondok
    dan Sekolah SLTP Islam peninggalan KH. Aziz, seorang tentara ulama berpangkat
    kolonel. Di samping kanan jalan utama masuk ke Buntet juga berdiri megah
    bangunan Akademi Keperawatan Pondok Buntet Pesantren, satu-satunya AKPER di
    Jawa Barat yang mewajibkan Mahasiswanya mampu menguasai baca tulis al-Qur'an
    dan Fiqih Dasar.


    Semua mahasiswa wajib mengikuti pengajian
    fiqih terutama fiqhun najasah karena
    profesi perawat sangat rentan berhubungan dengan hal tersebut. Di sebelah
    kanannya juga terdapat Gedung MANU Putra BPC yang baru. Harap di ketahui bahwa
    di Buntet Pesantren mulai dari pendidikan dasar pendidikan formal untuk siswa
    putra dan siwa putri semuanya di pisahkan. Untuk sekolah formal khusus putra
    semua dewan gurunya pun semuanya laki-laki. Bisa di bayangkan kalau sudah siang,
    maka bau keringat siswa putra dikelas mulai menguap. Di tambah lagi bau minyak
    misik guru-guru kami yang mayoritas juga Kyai. Waduh, sangat menyengat dan
    membuat pusing kepala. Berbeda dengan sekolah khusus putri yang baik siswi
    amaupun ustadzahnya semuanya cantik-cantik dan wangi-wangi.


    Di samping kiri jalan terlihat bangunan
    luas bertuliskan Madrasah Aliyah Negeri Buntet Pesantren. Satu-satunya
    pendidikan lanjutan di Buntet yang berstatus negeri dan menjadi favorit untuk
    masyarakat sekitar. Sebenarnya Buntet sudah memproyeksikan beberapa Mega Proyek
    Pendidikan dan Fasilitas Pesantren. Diantaranya adalah peningkatan status Akademi
    Keperawatan menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan, Pembukaan Akademi Kebidanan,
    Pembangunan Universitas Buntet Pesantren, peningkatan Lembaga Bahasa dan Komputer
    menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Komputer. Disamping itu para pengurus YLPI juga
    telah memproyeksikan pendirian Rumah Sakit Islam Buntet Pesantren. Semoga semua
    cita-cita besar ini dapat segera terealisir. Amin.


    Di samping bangunan MANU Putra BPC juga
    terdapat Pesantren Nurul Arwani pimpinan KH.Wawan Arwani bersama irterinya
    Hajah Nurul. Di seberangnya juga terlihat Pesantren Riyadussolihin pimpinan KH.
    Djawahir Juha seorang pendidik dan pengarang kitab Nahwu bagi pemula yang laris di kalangan pesantren. Di belakang
    MANU Putra BPC sendiri terdapat lapangan sepak bola milik Kelurahan Mertapada
    Kulon. Buntet Pesantren sebenarnya hanyalah sebuah Dusun atau Dukuh yang secara
    administratif masuk ke Kelurahan Mertapada Kulon Kecamatan Astana Japura.
    Lapangan sepak bola tersebut juga sering kali di gunakan sebagai Hellipad jika ada pejabat yang
    berkunjung ke Buntet dengan menggunakan Hellicopter.


    Jika bulan Agustus tiba, lapangan tersebut
    sering di gunakan sebagai arena turnamen sepakbola yang melibatkan seluruh desa
    di Kecamatan Astana
    Japura. Para santri dan kyai
    biasanya tumplek blek menyaksikan
    pertandingan sepak bola di lapangan tersebut. Kesebelasan Buntet biasanya di
    perkuat oleh Kang Farid Cs. Kang Farid yang dilapangan sering di panggil
    "Panji" karena memang ketampanan dan bodynya mirip Primus. Aktor pemain
    sinetron jagoan anak-anak waktu itu yang menampilkan tokoh jagoan bernama
    Panji. Beliau adalah putra tertua dari KH. Nasirudin Zahid seorang ulama
    kharismatik yang pengajiaannya senantiasa di ikuti oleh mayoritas para putra
    Kyai Buntet. Bukan hanya kang Farid, tapi adik beliau Kang Luthfi dan Kang
    Zidni juga selalu memperkuat team kesebelasan Buntet. Saya tidak tahu apakah
    sekarang Kang Farid masih bisa bermain bola atau tidak?. Karena katanya beliau
    sekarang sedang laris manis mendapat undangan pengajian agama dari berbagai
    daerah sekitar. Mungkin kalo dulu penampilan Kang Farid mirip Panji mungkin
    sekarang lebih mirip Uje, bukan ustadz Jeje seksi sibuk di Buntet,  tapi ustadz Jefry yang juga selebritis itu.


    Inilah tokoh-tokoh muda Buntet dengan
    segara aktifitasnya. Ada yang ngajar ngaji saja di pesantren, ada yang mengajar
    di sekolah formal, ada yang menjadi dosen, ada yang menjadi pengurus organisasi
    sosial, menjadi birokrat, berdagang, kerja sektor informal bahkan mungkin ada
    juga yang jadi paranormal. Segudang cerita yang tidak akan pernah habis, dari
    hari ke hari dari generasi ke generasi. Buntet selalu saja mempunyai momentum
    untuk menentukan sikap sesuai garis perjuangannya. Sebuah dinasti pesantren keturunan
    ningrat dari Keraton
    Cirebon yang memiliki
    garis silsilah kepada Sunan Gunung Jati. Sebagai pesantren yang banyak di huni
    tokoh kaliber nasional, Buntet mau tidak mau juga banyak sekali terlibat dalam
    pentas perpolitikan nasional. Fatsoen politik yang menjunjung tinggi etika
    keagamaan, menjaga tradisi luhur kepesantrenan serta nilai-nilai kultural.


    Kancah Politik

    Saya kira yang paling faham tentang pentas
    politik pesantren di kancah nasional saat ini adalah KH.Anas Arsyad. Seorang
    tokoh muda Buntet Pesantren yang mempunyai jaringan luas, visi ke depan,
    diplomatik serta mempunyai
    gaya berpidato yang
    khas. Kepandaian dalam berpidatonya sungguh luar biasa, dengan pilihan kata
    yang padat penuh arti, beliau sanggup menggugah motivasi ataupun menyentuh perasaan
    terdalam pendengarnya. Sebagai mantan dosen civic
    education
    beliau juga sangat memahami tentang ilmu politik dan tata Negara.
    Beliaulah konsolidator pesantren secup nasional dan sangat dicintai para ulama.
    Setiap kali ada pertemuan Kyai Khos di Indonesia, selalu saja KH.Anas Arsyad
    konsolidatornya.  


    Beliau laksana Kyai As'ad Syamsul Arifin
    muda yang sering menjadi penyambung lidah para Kyai Khos. Bukan hanya dicintai
    oleh para Kyai Khos, para intelektual muda pun seperti halnya Ahmad Denni
    Daruri (Executive Director Banking Crisis Centre) juga sangat dekat dengan
    beliau. Bahkan mungkin sudah dianggapnya sebagai orang tua sendiri bagi Bung
    Deni yang tulisannya setiap minggu muncul di kolom Opini Media Indonesia. Kang
    Anas, begitu koleganya sering menyapa adalah sosok yang mampu membangun
    komunikasi dengan berbagai pihak. Tak heran jika kolega beliau begitu banyak
    mulai dari para pengasuh pesantren, pejabat pusat, pengusaha kelas nasional,
    aktivis pergerakan bahkan hingga beberapa selebitris. Sekarang ini Kang Anas
    juga mengadakan pengajian rutin di salah satu kediamaannya di
    Jakarta untuk segenap
    keluarga besar, santri dan alumni Buntet Pesantren di Jakarta. Kang Anas adalah
    kader pemimpin masa depan dari pesantren yang patut di banggakan.


    Begitu banyak kader Buntet Pesantren yang
    berkiprah di luar, tapi banyak juga para Kyai yang istiqomah menjadi benteng
    pendidikan keagamaan di pesantren Buntet. Sebut saja misalnya KH. Jaelani Imam
    pengasuh pondok  Al-Hidayah, KH.
    Amiruddin pengasuh pondok Hidayatul Mubtadiin, KH. Majduddin Busyrol Karim
    pengasuh pondok Al-Hikmah I, KH.Salman Al-Farisi pengasuh pondok Al-Hikmah II,
    KH. Anis Manshur pengasuh pondok Nadwatul Banin, KH. Jachus Santoso pengasuh
    pondok Al-Anwar, KH. Yusuf Ma'mun pengasuh pondok Al-Makmun, , KH. Turmudzi Nur
    pengasuh pondok An-Nur, KH. Immaduddin pengasuh pondok Darul Amanah, KH. Rofi'i
    Kholil pengasuh pondok Nurussobah hingga KH. Ahmad Tijani Anas pengasuh
    pesantren Darul Hijroh I. Ada juga pondok yang sepeninggal Kyai pendirinya akhirnya
    di teruskan oleh isteri, putera atau menantu para Kyai tersebut. Saya tentu
    tidak dapat menyebutnya satu persatu karena jumlahnya mencapai puluhun.


    Termasuk dalam naungun YLPI Buntet
    Pesantren adalah pesantren-pesantren yang berada pada cluster sebrang sungai
    sisi kiri yang di sebut Blok Buntet Sebrang. Buntet Pesantren secara geografis
    memang di kelilingi oleh dua sungai besar sehingga daerah tersebut di namakan
    Buntet yang artinya buntu. Konon masyarakat sekitar mempunyai kepercayaan bahwa
    santri yang berasal dari Jawa Tengah di larang keras mandi di sungai tersebut. Memang
    sudah banyak kejadian santri Jawa Tengah yang nekat mandi di sungai tersebut di
    temukan dalam keadaan pingsan atau bahkan tewas secara tidak wajar. Padahal
    arus sungainya relatif kecil, sungainya pun juga dangkal. Ini merupakan salah
    satu cerita misteri yang ada, masih banyak lagi cerita mistik yang lain yang
    tidak bisa diceriterakan disini.


    Di Blok Buntet Sebrang tersebut juga
    terdapat beberapa pondok seperti pondok Al-Hikmah III yang di asuh KH. Ahmad
    Mursyidin dan pondok Al-Muafi yang diasuh KH.Abdul Matin. Saya jadi ingat dulu
    saya pernah belajar tilawatul Qur'an kepada KH.Abdul Matin di pondok Al-Muafi
    tersebut. Namun baru dua kali pertemuan saya sudah menyerah angkat tangan
    karena saya sadar diri. Suara saya yang bariton, nafas pendek dan karakter
    suara yang terlalu banyak fibrasi tidak cocok untuk menjadi seorang Qori.
    Walaupun program gurah tenggorakan dan berpantang makan gorengan, tidak berubah
    juga suara saya menjadi baik. Mungkin saya lebih tepat memimpin tahlil saja
    yang bacaannya pendek-pendek dari pada berlatih tilawah yang harus bisa
    bernafas panjang.


    Di Blok Buntet Sebrang ini pulalah saya
    bersama kawan-kawan santri lain selalu menghabiskan sore hari. Jika tidak ada
    jadwal mengaji, kami selalu bermain sepak bola disitu. Lapangannya adalah kebun
    belakang rumah penduduk yang ditelah tumbuh beberapa pohon asem. Tentu tidak
    ada rumput hijaunya sama sekali, apalagi garis lapangan. Bola akan di anggap
    out dari lapangan apabila telah melewati pekarangan sebelah yang sudah di buat
    fondasi karena akan segera di bangun rumah. Atau bola telah melewati jalan desa
    yang banyak dilalui motor atau kalau tidak berarti bola telah meluncur terbawa
    aliran sungai. Walaupun di samping kiri kanan terdapat rumah penduduk tapi
    tendangan jarak jauh yang mengenai rumah tidak berbahaya. Bukan karena apa-apa,
    tapi karena bola yang kami gunakan adalah bola plastik. Bola tersebut hanya
    dapat bertahan untuk
    lima sampai sepuluh
    kali permainan. Setiap terkena runcing batu atau ketika terjadi benturan
    tendangan antar pemain bola akan pecah atau sobek. Gawangnya cukup di buat
    dengan menancapkan dua galah bambu yang biasa digunakan untuk kegiatan
    ekstrakulikuler pramuka di sekolah.


    Karena badan saya gemuk saya selalu
    mendapat posisi untuk memperkuat lini belakang pertahanan. Mungkin juga kalau
    jadi penyerang saya kurang gesit berlari. Kami biasanya lebih senang jika hujan
    turun, karena permainan akan lebih mengasyikkan. Yang paling lucu dari
    permainan ini adalah kostum kami. Biasanya para santri bermain bola dengan
    memakai kaos dan sarung. Tentu kami juga memakai celana pendek atau paling
    tidak celana dalam. Tapi terkadang ada juga yang nekat tidak memakai celana
    sama sekali. Hanya memakai sarung  dan
    kaos oblong saja. Celakanya, pas terpeleset jatuh di tidak sadar kalau
    sarungnya robek sampai ke paha. Walhasil. "tongkat polisi" si santri tersebut
    tak ayal menjadi tontonan lucu oleh pemain lainnya. Tapi mungkin inilah
    kebahagiaan hidup santri yang tidak dapat di beli dengan harta atau kenikmatan
    lainnya.


    Pikiran saya mulai membayang menerawang
    kemana-mana mengingat masa-masa indah nyantri di Buntet Pesantren. Saya jadi
    ingat kawan-kawan "seperjuangan" saya. Salah satunya adalah Mas Sulam santri
    KH.Ahmad Tijani Anas yang berasal dari Purwokerto. Dulu, setelah nyantri dari
    Buntet meneruskan ke Pesantren Sarang Rembang dan akhirnya dia kembali lagi ke
    Buntet. Kang Yusuf dan Kang Ipin keponakan KH. Yusuf Makmun yang saat itu juga
    mengajar di beberapa pondok. Kang Azizi putra Uwa Abdul Bari yang sering di
    panggil oleh Kang Farid dengan sebutan "3 X 4". Di panggil demikian karena
    memang postur tubuhnya sangat pendek seperti past foto yang sering dia cetak.
    Yah..kebetulan Kang Azizi memang seorang fotografer senior Buntet yang
    studionya cukup dengan menempel kain biru polos di dalam ruang tamu rumahnya.


    Saya juga ingat Busyaeri rekan seperjuangan
    saya yang pernah punya cita-cita ingin menjadi "Kepalanya Kapolri". Dia
    sekarang sudah diangkat menjadi PNS di Pengadilan Agama
    Kota Cirebon. Bulan lalu saya
    ketemu dia, katanya sekarang tujuan hidupnya tinggal satu "ingin secepatnya
    menikahi pacarnya anak Indramayu yang katanya secantik dewi persik". Anak-anak
    Garesado (Gabungan Remaja Sawo Doyong). Nama yang aneh?!. Zaki Mubarok "Cecep"
    tukang komputer, Tamar, Amar Jhon, Amar Congkrek, Awang, Ang Say, Dawud,  Mas Hadi instruktur fitness, Wawan gendut,
    Mang Bawon pemilik caffe dengan menu special "rumbah so'un". 


    Ada nama klub sepak
    bola di Buntet yang bernama PS Tiga Roda. Tentu bukan karena sponsor utamanya
    semen tiga roda tetapi karena pemainnya adalah tukang-tukang becak. Klub ini
    selalu menjadi primadona ketika ada turnamen "kambing cup" yang biasa di gelar
    di Stadiun Utama Buntet, "Stadiun Kebon Ledeng". Lapangannya sangat aneh karena
    bentuknya mirip wajan dengan tingkat kemiringan 45 derajat.
    Ada juga yang
    dinamakan masyarakat T-KAD, kepanjangannya adalah tuan kandang. Kelompok ini
    merupakan cluster masyarakat Buntet yang berada di sisi rel kereta api yang
    melintasi depan pesantren. Pimpinannya adalah Man Rochim yang lebih biasa di
    panggil Man O'im. Seorang senior driver
    di Buntet yang kini juga berdagang peralatan elektronik dan listrik.


    Mas Waros serta Kuswito tenaga administrasi
    MTs teladan di Buntet. Terlalu banyak kenangan dengan mereka terutama langganan
    utang saya untuk biaya transport kuliah.
    Ada juga rekan sesama
    khodam di pesantren bernama Ahmad Syaefuddin, biasa kami panggil U'u. Anak yang
    paling jarang pakai sandal ini sekarang sudah hebat. Setelah mondok di Buntet
    dia bercita-cita ingin kuliah di
    Cirebon. Akhirnya dengan
    bekal suara merdunya ketika mengumandangkan adzan dia melamar jadi pengurus
    masjid di bilangan Perumnas Cirebon. Dari hasil gaji mengurus masjid, memberi
    private pengajian dan mengajar al-qur'an di masjid. Dia sekarang sudah semester
    akhir kuliah di STAIN
    Cirebon. Perjuangan yang
    sangat mulia dan patut di teladani.


    Saya juga teringat putra-putri Kyai yang
    semuanya baik, ganteng-ganteng dan cuantik-cuantik. Persis seperti
    bintang-bintang film Bollywood. Mereka inilah yang nantinya
    kan menjadi
    pemimpin-peminpin Buntet di masa yang akan datang. Tidak terasa ternyata saya
    dari tadi masih duduk termenung di beranda masjid setelah melaksanakan solat
    Subuh berjamaah yang di imami oleh KH. Hasannudin Kriyani.


    Seorang santri menghampiri saya dan
    menyampaikan bahwa saya di tunggu sarapan oleh Kyai saya, KH.Hasannudin Busyrol
    Karim di kediamannya. Aha!!..menu kesukaan saya telah tersedia di meja tamu
    Kyai, serabi hangat disandingkan dengan
    tempe goreng. Lidah saya
    sudah tidak sabar untuk mencicipinya. Ditemani segelas teh tawar hangat saya
    pun mulai menyantap menu istimewa khas "restoran itali" tersebut.


    Sambil ngobrol ngalor ngidul saya dan Kyai
    melahap serabi hingga hampir habis. Tak terasa matahari mulai menghangatkan
    bumi para santri tersebut, dan di ujung
    sana sudah mulai
    terlihat berjejer food court
    menjajakan makanan sarapan untuk para santri. Paling ujung kanan terlihat Man
    Asep dengan makanan ketoprak khas
    Cirebon, Man Ilyas dengan
    Bajigur dan ketela rebusnya, Man Munir dengan bubur ayamnya.
    Ada juga nasi ponggol
    yang di jajakan Bi Pat dang sang suami tercinta, Man Aom dengan dagangan
    macam-macam di gerobak mulai dari permen, kerupuk, teh botol hingga rokok.
    Terlihat juga Man Yadi mulai memarkin gerobak es campurnya yang senantiasa
    laris manis di borong para santri. Tidak perduli siang malam, cuaca panas
    ataupun hujan sekalipun. Selalu saja dagangan es campurnya habis tak tersisa.
    Buntet Pesantren memang penuh keberkahan begitu Man Yadi sering menasihati
    saya.


    Entah sudah berapa generasi berganti, entah
    sudah berapa juta alumni yang pernah nyantri, Waktu serasa telah terhenti,
    tinggallah cahaya ilmu yang terus menyinari. Buntet Pesantren tetap ada penuh
    dedikasi. Berapa banyak Ulama, Pemimpin, Intelektual, Pengusaha dan Birokrat
    yang telah di lahirkan dari bumi perjuangan tersebut. Bakti persada para
    pahlawan tanpa tanda jasa, telah paripurna menasbihkan asma-Nya. Puspita Warni Ma'hadi Buntet As-Syirboni.  

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    3 comments:

    1. Assalamualaikum...
      Salam kenal, saya santrinya KH. Abdul Hamid Anas (Asrama F/Al-Falahiyah Futuhiyah) th. 1989-1992, asal Jakarta. Dulu Sekolah di MTs. NU bareng sama Kang Luthfi, putranya Alm. KH. Nashiruddin Zahid, Kepala sekolahnya KH. Fachruddin Mulyono.
      Buntet sekarang sudah ramai ya, dulu waktu saya disana masih sepi.
      Warungnya Mang Wahib (Daud) yang di jembatan dekat rumahnya Kang Ali Maufur, tempat saya biasa nongkrong sambil makan indomie malam2, masih ada ga ya?
      Kang Adib (KH. Adib Rofi'uddin Izza, menantu KH. Abdul Hamid Anas) memang dari dulu sewaktu masih bujangan memang sudah kelihatan intelektualnya.
      Jadi nostalgia nih, inget Kang Basith (KH. Abdul Basith Zen), Kang Epen (KH. Salim Effendi, bokapnya Darda) yang serem, galak dengan kumis tebalnya hehehe... Kang Ali (KH. Ali Maufur) yang selalu nyuruh saya berdiri di depan kelas karena selalu gak pernah hafal tasrifan, Kang Didin dan kang Komet (Ust. Takdir Chumaedi) yang selalu ngasih bocoran soal2 ujian karena selalu gak tega liat nilai saya jeblok.
      Buntet Pesantren, I Miss U All...

      ReplyDelete
      Replies
      1. Masih ada warungnya mang daud kang anonim, kang adib sekarang jadi ketua yayasan pondok buntet

        Delete
    2. Buntet Pesantren penuh kenangan...
      Saya alumni MAN Buntet angkatan tahun (1979-1982) saya tinggal di asrama K (Asrama Al-Hikmah) yang diasuh KH. Majduddin BK, KH. Izuddin, KH. Fakhruddin ---
      Semoga warga dan kiai Buntet Pesantren selalu dlm keberkahan... Barokalloh.
      (Samsul Munir Amin -- Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Jl. Raya Kalibeber KM 3 Wonosobo 56351.

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Memoar Santri Buntet Pesantren Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top