Lembaran Hitam di Balik Penampilan Keren Kaum Wahabi - Buntet Pesantren Lembaran Hitam di Balik Penampilan Keren Kaum Wahabi - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Friday, April 18, 2008

    Lembaran Hitam di Balik Penampilan Keren Kaum Wahabi


    Kontra Liberal


    Oleh: Idrus Ramli*



    Ke
    mana-mana selalu menyebarkan salam. Selalu memakai baju bercorak gamis
    dan celana putih panjang ke bawah lutut, ciri-khas orang Arab.
    Jenggotnya dibiarkannya lebat dan terkesan menyeramkan. Slogannya
    pemberlakuan syariat Islam. Perjuangannya memberantas syirik, bid’ah,
    dan khurafat. Referensinya, al-Kitab dan Sunah yang sahih. Semuanya
    serba keren, valid, islami. Begitulah kira-kira penampilan kaum Wahabi.
    Sepintas dan secara lahiriah meyakinkan, mengagumkan.







    Tapi
    jangan tertipu dulu dengan setiap penampilan keren. Kata pepatah
    jalanan, tidak sedikit di antara mereka yang memakai baju TNI, ternyata
    penipu, bukan tentara. Pada masa Rasulullah
    r,
    di antara tipologi kaum Khawarij yang benih-benihnya mulai muncul pada
    masa beliau, adalah ketekunan mereka dalam melakukan ibadah melebihi
    ibadah kebanyakan orang, sehingga beliau perlu memperingatkan para
    Sahabat
    t dengan bersabda, “Kalian akan merasa kecil, apabila membandingkan ibadah kalian dengan ibadah mereka.”







    Demikian
    pula halnya dengan kaum Wahabi, yang terkadang memakai nama keren “kaum
    Salafi”. Apabila diamati, sekte yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul
    Wahhab an-Najdi (1115-1206 H/1703-1791 M), sebagai kepanjangan dari
    pemikiran dan ideologi Ibnu Taimiyah al-Harrani (661-728 H/1263-1328
    M), akan didapati sekian banyak kerapuhan dalam sekian banyak aspek
    keagamaan.



     



    A. Sejarah Hitam



    Sekte Wahabi, seperti biasanya sekte-sekte yang menyimpang dari manhaj
    Islam Ahlusunah wal Jamaah memiliki lembaran-lembaran hitam dalam
    sejarah. Kerapuhan sejarah ini setidaknya dapat dilihat dengan
    memperhatikan sepak terjang Wahabi pada awal kemunculannya. Di mana
    agresi dan aneksasi (pencaplokan) terhadap kota-kota Islam seperti
    Mekah, Madinah, Thaif, Riyadh, Jeddah,
    dan lain-lain, yang dilakukan Wahabi bersama bala tentara Amir Muhammad
    bin Saud, mereka anggap sebagai jihad fi sabilillah seperti halnya para
    Sahabat
    t menaklukkan Persia dan Romawi atau Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel.







    Selain
    menghalalkan darah kaum Muslimin yang tinggal di kota-kota Hijaz dan
    sekitarnya, kaum Wahabi juga menjarah harta benda mereka dan
    menganggapnya sebagai ghanîmah (hasil jarahan perang) yang
    posisinya sama dengan jarahan perang dari kaum kafir. Hal ini berangkat
    dari paradigma Wahabi yang mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan
    darah dan harta benda kaum Muslimin Ahlusunah wal Jamaah pengikut
    mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali yang tinggal di kota-kota
    itu. Lembaran hitam sejarah ini telah diabadikan dalam kitab asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb; ‘Aqîdatuhus-Salafiyyah wa Da’watuhul-Ishlâhiyyah karya Ahmad bin Hajar Al-Buthami (bukan Al-Haitami dan Al-‘Asqalani)–ulama Wahabi kontemporer dari Qatar–, dan dipengantari oleh Abdul Aziz bin Baz.



     



    B. Kerapuhan Ideologi



    Dalam akidah Ahlusunah wal Jamaah, berdasarkan firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah)” (QS asy-Syura [42]: 11), dan dalil ‘aqli yang definitif, di antara sifat wajib bagi Allah adalah mukhâlafah lil-hawâdits,
    yaitu Allah berbeda dengan segala sesuatu yang baru (alam). Karenanya,
    Allah itu ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dan Allah itu tidak duduk,
    tidak bersemayam di ‘Arasy, tidak memiliki organ tubuh dan sifat
    seperti manusia. Dan menurut ijmak ulama salaf Ahlusunah wal Jamaah,
    sebagaimana dikemukakan oleh al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (227-321
    H/767-933 M), dalam al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, orang yang
    menyifati Allah dengan sifat dan ciri khas manusia (seperti sifat
    duduk, bersemayam, bertempat, berarah, dan memiliki organ tubuh),
    adalah kafir. Hal ini berangkat dari sifat wajib Allah, mukhâlafah lil-hawâdits.







    Sementara Wahabi mengalami kerapuhan fatal dalam hal ideologi. Mereka terjerumus dalam faham tajsîm (menganggap Allah memiliki anggota tubuh dan sifat seperti manusia) dan tasybîh
    (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Padahal menurut al-Imam
    asy-Syafi’i (150-204 H/767-819 M) seperti diriwayatkan olah as-Suyuthi
    (849-910 H/1445-1505 M) dalam al-Asybâh wan-Nazhâ’ir, orang yang berfaham tajsîm, adalah kafir. Karena berarti penolakan dan pengingkaran terhadap firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah).” (QS asy-Syura [42]: 11)



     



    C. Kerapuhan Tradisi



    Di antara ciri khas Ahlusunah wal Jamaah adalah mencintai, menghormati, dan mengagungkan Rasulullah r, para Sahabat t,
    ulama salaf yang saleh, dan generasi penerus mereka yang saleh seperti
    para habaib dan kiai yang diekspresikan dalam bentuk tradisi semisal
    tawasul, tabarruk, perayaan maulid, haul, dan lain-lain.



    Sementara kaum Wahabi mengalami kerapuhan tradisi dalam beragama, dengan tidak mengagungkan Nabi r,
    yang diekspresikan dalam pengafiran tawasul dengan para nabi dan para
    wali. Padahal tawasul ini, sebagaimana terdapat dalam Hadis-Hadis sahih
    dan data-data kesejarahan yang mutawâtir, telah dilakukan oleh Nabi Adam
    u, para Sahabat t, dan ulama salaf yang saleh. Sehingga dengan pandangannya ini, Wahabi berarti telah mengafirkan Nabi Adam u, para Sahabat t, ahli Hadis, dan ulama salaf yang saleh yang menganjurkan tawasul.







    Bahkan lebih jauh lagi, Nashiruddin al-Albani–ulama Wahabi kontemporer–sejak lama telah menyerukan pembongkaran al-qubbah al-khadhrâ’ (kubah hijau yang menaungi makam Rasulullah r) dan menyerukan pengeluaran jasad Nabi r
    dari dalam Masjid Nabawi, karena dianggapnya sebagai sumber kesyirikan.
    Al-Albani juga telah mengeluarkan fatwa yang mengafirkan al-Imam
    al-Bukhari, karena telah melakukan takwil dalam ash-Shahih-nya.







    Demikian
    sekelumit dari ratusan kerapuhan ideologis Wahabi. Dari sini, kita
    perlu berhati-hati dengan karya-karya kaum Wahabi, sekte radikal yang
    lahir di Najd. Dalam Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi
    r bersabda, “Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan”. Menurut para ulama, maksud generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi. Wallâhul-hâdî. [BS]



     



    *) penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Sidogiri, tinggal di Jember


    Tulisan ini dimuat di Buletin Sidogiri edisi 26
    sumber: situs resmi pondok pesantren sidogiri
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Lembaran Hitam di Balik Penampilan Keren Kaum Wahabi Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top