Khutbah atau Release Media - Buntet Pesantren Khutbah atau Release Media - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Saturday, April 19, 2008

    Khutbah atau Release Media

    Oleh: Aden (alumni buntet)

    Tadi
    siang, sembari menunggu acara kumpul-kumpul dengan orang-orang
    seprofesi, ikut Jum’atan di masjid dekat tempat kantor. Agak telat
    datang tapi masih bisa mendengarkan khutbah dari awal. Ada banyak
    harapan ingin menambah ilmu, namun sayangnya, khatib yang ganteng dan
    berwibawa itu lebih banyak memberikan cerita biasa daripada memberikan
    ilmu baru. Jadilah khutbah itu kurang gregetnya.


    Awalnya
    menyinggung umat Islam itu katanya, saling bermusuhan. Misalnya kata
    beliau, umat Islam yang ingin menegakkan syariat, dijegal oleh umat
    Islam yang lain dengan terang-terangan. Padahal ia mengklaim bahwa
    syaraiat Islam itu bisa membantu untuk mengatasi persoalan umat saat
    ini.


    Penjelasan point tersebut menurut saya sudah basi.
    Hampir mirip dengan para khatib dari kalangan kader-kader PKS yang saya
    kenal. Tidak jauh dari bagaimana menggambarkan umat saat ini, lihatlah
    masalah terjadi di mana-mana dst. Bolehlah itu dijadikan sebagai
    pembukaan atau latar belakang masalah dan biasanya di akhir pembahasan
    kemudian merupakan jawaban darimasalah tersbut.


    Sayangnya,
    pada pembahasan berikut bukan jawaban, tetapi gambaran-gambaran yang
    basi. Misalnya beliau menyebut: Banyak umat Islam yang tidak suka
    mengaji dan lebih senang nonton Televisi dll. Kemudian dieksplorasi
    masalah tayangan-tayangan yang aduhai.


    Tayangan yang menjadi
    pembahasan yang cukup lama menyita waktu adalah masalah perceraian.
    “Kenapa perceraian umat islam yang ditayangkan di hampir semua stasiun
    TV sedangkan tayangan perceraian umat non muslim tidak ditayangkan.”
    Protesnya dalam khutbah itu.

    Menurut saya, kenapa protes seperti itu disampaikan dalam khutbah yang intinya protes sebuah perceraian ditayangkan di televisi.


    Bagi
    saya pertanyaan itu cukuplahlah disampaikan oleh anak-anak rohis SMU
    yang mencoba kritis. Sementara seorang Khatib yang banyak pendengarnya
    adalah kalangan yang sudah tahu persoalan itu, mestinya mbok ya dibahas
    persoalan perceraian itu apa, bagaimana hukum disampaikan di publik,
    bagaiaman nilai positif dan negatif sebuah perceraian publik, Alasan
    mengapa publik televisi begitu, apa apa kontribusi para ulama dalam hal
    ini, bagaimana upaya dia sendiri dalam menangani masalah itu.

    Pertanyaan-pertanyaan
    itu tidak terjawab dalam khutbah tadi, hanya memberikan ulasan
    masalah-masalah sosial yang sudah umum diketahui hatta anak-anak
    sekolah. Jadilah khutbah hari itu kurang greget. Yang ada hanyalah
    pancingan sentimen terhadap golongan agma lain.


    Sepertinya
    gambaran sebuah kecemburuan dan ketidak pedean sebagai umat Islam.
    Alih-alih kemudian seperti para gerakan islam kota, mengusulkan
    tegaknya syariat Islam. Baik syariat secara formal maupun informal.


    Mestinya
    protes seperti itu disampaikan saja kepada televisi yang bersangkutan
    akan lebih manfaat dan di dengar oleh krue televisi. Sementara di
    tempat itu, hampir dipastikan tidak ada petugas televisi jadi buat apa
    protes kepada jamaah jumat.


    Sayangnya, khatib-khatib kita
    masih banyak yang kurang peka terhadap kebutuhan rohani tapi seringan
    hanya membahas hal-hal peristiwa biasa saja. Padahal publik masyarakat
    kota dalam hal membaca koran mungkin lebih banyak audien daripada
    khatib. Saya jadi teringat seorang penulis berkata:

    Mereka yang
    berpikiran hebat membicarakan ide-ide. Mereka yang berpikiran sedang
    membicarakan peristiwa-peristiwa. Mereka yang berpikiran sempit
    membicarakan orang lain. - Eleanor Roosevelt (1884–1962).
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Khutbah atau Release Media Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top