KH. Taufiqul Hakim, Penemu Metode Cepat Baca Kitab - Buntet Pesantren KH. Taufiqul Hakim, Penemu Metode Cepat Baca Kitab - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Monday, April 14, 2008

    KH. Taufiqul Hakim, Penemu Metode Cepat Baca Kitab


    Oleh: Abdul Rosyid
    taufiqul_hakim, penemu Metode baca KitabSiapa sih yang tidak ingin bisa memahami tulisan-tulisan berbahasa Arab
    secara baik dan benar? Tidak ada yang bisa meragu, kitab suci Al-Qur’an
    dan teks-teks hadits Nabi serta sebagian besar khasanah keislaman
    disuguhkan dengan bahasa dan tulisan Arab. Ada yang berlebihan bahkan
    menyebut bahasa Arab sebagai bahasa surga.

    Akan tetapi melihat
    huruf-huruf yang kelihatan ruwet dalam kitab-kitab kuning atau kitab
    gundul itu orang menjadi ngeri. Yang menakutkan lagi, jika orang ingin
    bisa berbahasa Arab harus mengeram berlama-lama di pesantren, sampai
    tua dan tidak sempat menikah.


    Orang harus belajar
    ilmu nahwu, memutar-mutar harakat sampai ngelu; harus belajar ilmu
    sharaf yang menegangkan saraf, satu kata dibolak-balik menjadi puluhan
    kata, puluhan makna. Banyak yang ketakutan bahwa bahasa Arab adalah
    bahasa tersulit di dunia.









    Hal itulah yang menginspirasi Taufiqul Hakim, seorang kiai muda
    usia, untuk menyusun metode pembelajaran kitab kuning secara cepat,
    tepat, dan menyenangkan. Metode itu diberi nama ”Amtsilati” yang
    terinspirasi dari metode belajar cepat membaca Al-Quran, yakni
    ”Qiro’ati”. Jika dalam metode Qiro’ati orang bisa belajar membaca
    Al-Qur’an dengan cepat, maka dengan metode Amtsilati orang akan dapat
    membaca dan memahami kitab ‘gundul’ kitab tanpa harakat, kenapa tidak!!








    “Terdorong dari metode Qiro’ati yang mengupas cara membaca yang ada
    harokatnya, saya ingin menulis yang bisa digunakan untuk membaca yang
    tidak ada harokatnya. Terbetiklah nama Amtsilati yang berarti beberapa
    contoh dari saya yang sesuai dengan akhiran “ti” dari Qiro’ati.






    Mulai
    tanggal 27 Rajab 2001, saya merenung dan bermujahadah, dimana dalam
    thoriqoh ada do’a khusus, yang jika orang secara ikhlas
    melaksanakannya, insya Allah akan diberi jalan keluar dari masalah
    apapun oleh Allah dalam jangka waktu kurang dari 4 hari. Setiap hari
    saya lakukan mujahadah terus-terusan sampai tanggal 17 Ramadhan yang
    bertepatan dengan Nuzulul Qur’an,” katanya.








    ”Saat mujahadah, kadang saya ke makam Mbah Ahmad Mutamakin. Di situ
    kadang seakan-akan berjumpa dengan Syekh Muhammad Baha’uddin
    An-Naqsyabandiyyah, Syekh Ahmad Mutammakin dan Ibnu Malik dalam keadaan
    setengah tidur dan setengah sadar. Hari itu seakan-akan ada dorongan
    kuat untuk menulis. Siang malam saya ikuti dorongan tersebut dan
    akhirnya tanggal 27 Ramadlan selesailah penulisan Amtsilati dalam
    bentuk tulisan tangan. Amtsilati tetulis hanya sepuluh hari.”








    ”Kemudian diketik komputer oleh Bapak Nur Shubki, kang Toni dan kang
    Marno. Proses pengetikan mulai dari Khulashoh sampai Amtsilati memakan
    waktu hampir 1 tahun. Kemudian dicetak sebanyak 300 set. Sebagai follow
    up terciptanya Amtsilati, kami gelar bedah buku di gedung Nahdlatul
    Ulama (NU) Kabupaten Jepara, tanggal 16 juni 2002 diprakarsai Bapak Nur
    Kholis. Sehingga timbullah tanggapan dari peserta yang pro dan kontra.”








    Diceritakan, Salah satu dari peserta bedah buku di Jepara kebetulan
    mempunyai kakak di Mojokerto yang menjadi pengasuh Pesantren. Beliau
    bernama KH. Hafidz pengasuh pondok pesantren “Manba’ul Qur’an”. Beliau
    berinisiatif untuk menyelenggarakan pengenalan sistem cepat baca kitab
    kuning Metode Amtsilati, tanggal 30 Juni 2002. untuk acara tersebut
    Bapak H. Syauqi Fadli sebagai donatur, menyarankan agar dicetak 1000
    set buku Amtsilati dan sekaligus untuk acara Hubbur Rosul di Ngabul
    Jepara.








    Dari Mojokertolah dukungan mengalir sampai ke beberapa daerah di
    Jawa Timur melalui forum yang digelar oleh Universitas Darul Ulum
    (UNDAR) Jombang, Jember, dan Pamekasan Madura. Sampai saat ini
    Amtsilati telah tersebar ke pelosok Jawa, bahkan sudah sampai ke luar
    Jawa, seperti Kalimantan, Batam dan Alhamdulillah telah dikenal di luar
    negeri, seperti Malaysia. Dalam waktu 4 tahun kitab amtsilati sudah
    diterbitkan tidak kurang dari 5 juta exemplar.








    Kitab Amtsilati pertama kali digandakan dengan mesin foto copy.
    Hasil penjualannya dipakai untuk menggandakan Amtsilati di mesin
    percetakan. Kemudian, hasil penjualan selanjutnya digunakan untuk
    membeli mesin cetak sendiri. Setiap kali cetak sejumlah 5000 ekslempar.
    Pegawai percetakan adalah masyarakat sekitar, termasuk ibu-ibu rumah
    tangga.








    ***





    Taufiqul Hakim lahir pada 14 Juni 1975 di Sidorejo RT. 03 RW. 12
    Bangsri, Jepara, Jawa Tengah. Dia adalah anak terakhir dari tujuh
    bersaudara. Dia bukan keterunan kiai atau bangsawan. Ayah dan ibunya
    hanya petani. Dari tujuh bersaudara hanya dia yang berprofesi sebagai
    seorang guru, dan saat ini dia dikenal sebagai kiai. Hal yang paling
    disesalinya adalah ketika ayahnya meninggal, dia tidak sempat ikut
    mengantarkan jenazah ayahnya karena harus menyelesaikan tugas belajar.








    Dia adalah alumnus Perguruan Islam Matholiul Falah Kajen Pati.
    Ketika menjadi siswa di Matholiul Falah, dia juga nyantri di Pondok
    Pesantren Maslakhul Huda Kajen, yang diasuh oleh Rais “am PBNU KH. MA.
    Sahal Mahfudh. Pada tahun yang sama dia nyantri di Popongan Klaten,
    belajar Thariqah an-Nagsabandiyah dibimbing oleh KH. Salman Dahlawi,
    dan dinyatakan lulus setelah belajar selama 100 hari.








    Selain sibuk mengajar dan mengisi pelatihan-pelatihan Amtsilati di
    berbagai kota di Indonesia dia juga tetap produktif menulis. Di antara
    karyanya adalah Program Pemula Membaca Kitab Kuning: Amtsilati jilid
    1-5; Qaidati: Rumus dan Qaidah, Shorfiyah: Metode Praktis Memahami
    Sharaf dan I’lâl, Tatimmah: Praktek Penerapan Rumus 1-2, Khulashah
    Alfiyah Ibnu Malik, ‘Aqidati: Aqidah Tauhid, Syari’ati: Fiqih,
    Mukhtarul Hadits 1-7, Muhadatsah, Kamus At-Taufik 587 halaman, Fiqih
    Muamalah 1-2, Fiqih Jinayat, Fikih Taharah, Fikih Munakahat, Fikih
    Ubudiyah 1-2, dan beberapa kitab lainnya. Sudah ada sekitar 30 buku,
    dan masih terus menulis. “Di mana saja menulis, di mobil, di mana saja
    menulis. Kalau ada mud menulis, kalo tidak, ya tidak,” katanya.








    Pesantren Darul Falah yang dipimpinnya kini membimbing tidak kurang
    dari 650 santri. Santri Darul Falah ada dua kategori: santri tetap dan
    santri kilatan. Santri tetap harus mengikuti semua aturan yang ada
    dalam program Amtsilati, sementara santri kilatan tidak diwajibkan
    banyak hafalan. Masa belajar bagi santri kilatan antara 1 minggu s.d.
    dua bulan saja.





    Nama Al-Falah diambil dari nama pesantren Matholiul Falah, tempat
    dia pernah menjadi santri. Secara tidak resmi, Darul Falah ada sejak
    Taufiqul Hakim lulus dari Pesantren. Secara resmi, Darul Falah
    didaftarkan ke Notaris (Bapak H. Zainurrohman, S.H. Jepara) tanggal 01
    Mei 2002 dengan nomor registrasi 02.








    ***





    Awalnya Tufiqul hakim menyimpulkan bahwa ternyata tidak semua nadzam
    atau syair dalam kitab Alfiyah yang disebut-sebut sebagai babonnya
    gramatikal arab itu tidak semuanya digunakan dalam praktek membaca
    kitab kuning. Dia menyimpulkan bahwa dari 1000 nazham Alfiyah yang
    terpenting hanya berjumlah sekitar 100 sampai 200 bait, sementara
    nazham lainnya sekedar penyempurna. Dengan bekal hafalan dan
    pemahamannya terhadap kitab Alfiyah, dia mulai menyusun metode
    Amtsilati. Penyusunan tersebut dia mulai dari peletakan dasar-dasarnya
    kemudian terus berkembang sesuai kebutuhan.








    Amtsilati memberi rumusan berpikir untuk memahami bahasa Arab. Di
    sana ada rumusan sistematis untuk mengetahui bentuk atau posisi satu
    kata tertentu. Hal ini dapat dilihat pada rumus utama isim dan fi’il
    atau tabel. Lalu juga ada rumus bayangan dhamīr untuk mengetahui jenis
    atau kata tertentu; penyaringan melalui dzauq (sensitivitas) dan
    siyāqul kalām (konteks kalimat).








    Sebelum memasuki praktek, Amtsilati telah memberi rambu-rambu
    mengenai kata-kata yang serupa tapi tak sama (homonimi: homografi,
    homofoni). Kata-kata yang serupa ini bisa terjadi dari beberapa
    kemungkinan: isim; fi’il mādhi; fi’il mudhāri’; fi’il amar; isim fi’il;
    huruf; dhamīr; isyrāh; maushūl; dan lainnya. Rumus selengkapnya
    terangkum dalam buku Tatimmah 1 hal. 3-7, 10, 12, 15-34.








    Kelebihan Amtsilati adalah peletakan rumus secara sitematis, dan
    penyelesaian masalah gramatikal Bahasa Arab melalui penyaringan dan
    pentarjihan. Selain itu, rumus yang pernah dipelajari diikat dengan
    hafalan yang terangkum dalam dua buku khusus, yaitu “Rumus Qaidati” dan
    “Khulashah Alfiyah”. Diharapkan, para pemula tidak perlu bersusah-susah
    mempelajari bahasa Arab selama 3 sampai 9 tahun; cukup 3 sampai 6 bulan
    saja.














    Abdul Rosyid
    Ketua Forum Mahasiswa Alumni Pesantren Lirboyo (FORMAL)
    Tulisan ini diambil dari skripsi penulis berjudul “Metode Amtsilati
    dalam Proses Penerjemahan: Studi Analisis Buku ‘Program Pemula Membaca
    Kitab Kuning’, Karya H. Taufiqul Hakim” di Jurusan Tarjamah Fakultas
    Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. (nam)



    Sumber: http://www.nu.or.id



     



     

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: KH. Taufiqul Hakim, Penemu Metode Cepat Baca Kitab Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top