Hukum Menyanyi Dan Musik Dalam Fiqih Islam - Buntet Pesantren Hukum Menyanyi Dan Musik Dalam Fiqih Islam - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Monday, April 21, 2008

    Hukum Menyanyi Dan Musik Dalam Fiqih Islam




    Ditulis oleh Farid Ma'ruf



     







    Hukum nyanyian bagaimana Islam Memandang. Sebuah ulasan dari rangkuman beberapa sumber tulisan dikemas dalam bahasan ini. Mudah-mudah bisa dipahami.






    Jawab: 1. Pendahuluan



    Keprihatinan yang dalam akan kita rasakan, kalau kita melihat ulah
    generasi muda Islam saat ini yang cenderung liar dalam bermain musik
    atau bernyanyi. Mungkin mereka berkiblat
    kepada penyanyi atau kelompok musik terkenal yang umumnya memang
    bermental bejat dan bobrok serta tidak berpegang dengan nilai-nilai
    Islam. Atau mungkin juga, mereka cukup sulit atau jarang mendapatkan
    teladan permainan musik dan nyanyian yang Islami di tengah suasana
    hedonistik yang mendominasi kehidupan saat ini. Walhasil, generasi muda
    Islam akhirnya cenderung membebek kepada para pemusik atau penyanyi
    sekuler yang sering mereka saksikan atau dengar di TV, radio, kaset,
    VCD, dan berbagai media lainnya.



     



    Tak dapat diingkari, kondisi memprihatinkan tersebut tercipta karena
    sistem kehidupan kita telah menganut paham sekularisme yang sangat
    bertentangan dengan Islam. Muhammad Quthb mengatakan sekularisme adalah iqamatul hayati ‘ala ghayri asasin minad dîn, artinya, mengatur kehidupan dengan tidak berasaskan agama (Islam). Atau dalam bahasa yang lebih tajam, sekularisme menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah memisahkan agama dari segala urusan kehidupan (fashl ad-din ‘an al-hayah) (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nizhâm Al-Islâm,
    hal. 25). Dengan demikian, sekularisme sebenarnya tidak sekedar
    terwujud dalam pemisahan agama dari dunia politik, tetapi juga nampak
    dalam pemisahan agama dari urusan seni budaya, termasuk seni musik dan
    seni vokal (nyanyian).



     



    Kondisi ini harus segera diakhiri dengan jalan mendobrak dan
    merobohkan sistem kehidupan sekuler yang ada, lalu di atas
    reruntuhannya kita bangun sistem kehidupan Islam, yaitu sebuah sistem
    kehidupan yang berasaskan semata pada Aqidah Islamiyah sebagaimana
    dicontohkan Rasulullah Saw dan para shahabatnya.



     



    Inilah solusi
    fundamental dan radikal terhadap kondisi kehidupan yang sangat rusak
    dan buruk sekarang ini, sebagai akibat penerapan paham sekulerisme yang
    kufur. Namun demikian, di tengah perjuangan kita mewujudkan kembali
    masyarakat Islami tersebut, bukan berarti kita saat ini tidak berbuat
    apa-apa dan hanya berpangku tangan menunggu perubahan. Tidak demikian.
    Kita tetap wajib melakukan Islamisasi pada hal-hal yang dapat kita
    jangkau dan dapat kita lakukan, seperti halnya bermain musik dan
    bernyanyi sesuai ketentuan Islam dalam ruang lingkup kampus kita atau
    lingkungan kita.



     



    Tulisan ini bertujuan menjelaskan secara ringkas hukum musik dan
    menyanyi dalam pandangan fiqih Islam. Diharapkan, norma-norma Islami
    yang disampaikan dalam makalah ini tidak hanya menjadi bahan perdebatan
    akademis atau menjadi wacana semata, tetapi juga menjadi acuan dasar
    untuk merumuskan bagaimana bermusik dan bernyanyi dalam perspektif
    Islam. Selain itu, tentu saja perumusan tersebut diharapkan akan
    bermuara pada pengamalan konkret di lapangan, berupa perilaku Islami
    yang nyata dalam aktivitas bermain musik atau melantunkan lagu. Minimal
    di kampus atau lingkungan kita.



     



    2. Definisi Seni



    Karena bernyanyi dan bermain musik adalah bagian dari seni, maka
    kita akan meninjau lebih dahulu definisi seni, sebagai proses
    pendahuluan untuk memahami fakta (fahmul waqi’) yang menjadi objek penerapan hukum.



     



    Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa seni
    adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, yang
    dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang
    dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), indera pendengar
    (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari,
    drama) (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 13).



     



    Adapun seni musik (instrumental art) adalah seni yang
    berhubungan dengan alat-alat musik dan irama yang keluar dari alat-alat
    musik tersebut. Seni musik membahas antara lain cara memainkan
    instrumen musik, cara membuat not, dan studi bermacam-macam aliran
    musik. Seni musik ini bentuknya dapat berdiri sendiri sebagai seni
    instrumentalia (tanpa vokal) dan dapat juga disatukan dengan seni
    vokal.



     



    Seni instrumentalia, seperti telah dijelaskan di muka, adalah
    seni yang diperdengarkan melalui media alat-alat musik. Sedang seni
    vokal, adalah seni yang diungkapkan dengan cara melagukan syair melalui
    perantaraan oral (suara saja) tanpa iringan instrumen musik. Seni vokal
    tersebut dapat digabungkan dengan alat-alat musik tunggal (gitar,
    biola, piano, dan lain-lain) atau dengan alat-alat musik majemuk
    seperti band, orkes simfoni, karawitan, dan sebagainya (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 13-14). Inilah sekilas penjelasan fakta seni musik dan seni vokal yang menjadi topik pembahasan.



     



    3. Tinjauan Fiqih Islam



    Dalam pembahasan hukum musik dan menyanyi ini, penulis melakukan
    pemilahan hukum berdasarkan variasi dan kompleksitas fakta yang ada
    dalam aktivitas bermusik dan menyanyi. Menurut penulis, terlalu
    sederhana jika hukumnya hanya digolongkan menjadi dua, yaitu hukum
    memainkan musik dan hukum menyanyi. Sebab fakta yang ada, lebih
    beranekaragam dari dua aktivitas tersebut. Maka dari itu, paling tidak,
    ada 4 (empat) hukum fiqih yang berkaitan dengan aktivitas bermain musik
    dan menyanyi, yaitu:







    Pertama, hukum melantunkan nyanyian (ghina’).



    Kedua, hukum mendengarkan nyanyian.



    Ketiga, hukum memainkan alat musik.



    Keempat, hukum mendengarkan musik.



     



    Di samping pembahasan ini, akan disajikan juga tinjauan fiqih Islam
    berupa kaidah-kaidah atau patokan-patokan umum, agar aktivitas bermain
    musik dan bernyanyi tidak tercampur dengan kemaksiatan atau keharaman.



     



    Ada baiknya penulis sampaikan, bahwa hukum menyanyi dan bermain
    musik bukan hukum yang disepakati oleh para fuqaha, melainkan hukum
    yang termasuk dalam masalah khilafiyah. Jadi para ulama mempunyai pendapat berbeda-beda dalam masalah ini (Syaikh Abdurrahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah, hal. 41-42; Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 96; Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 21-25; Toha Yahya Omar, Hukum Seni Musik, Seni Suara, Dan Seni Tari Dalam Islam,
    hal. 3).



    Karena itu, boleh jadi pendirian penulis dalam tulisan ini
    akan berbeda dengan pendapat sebagian fuqaha atau ulama lainnya.
    Pendapat-pendapat Islami seputar musik dan menyanyi yang berbeda dengan
    pendapat penulis, tetap penulis hormati.



     



    3.1. Hukum Melantunkan Nyanyian (al-Ghina’ / at-Taghanni)



    Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menyanyi (al-ghina’ / at-taghanni).
    Sebagian mengharamkan nyanyian dan sebagian lainnya menghalalkan.
    Masing-masing mempunyai dalilnya sendiri-sendiri. Berikut sebagian
    dalil masing-masing, seperti diuraikan oleh al-Ustadz Muhammad al-Marzuq Bin Abdul Mu’min al-Fallaty mengemukakan dalam kitabnya Saiful Qathi’i lin-Niza’ bab Fi Bayani Tahrimi al-Ghina’ wa Tahrim Istima’ Lahu (Musik. http://www.ashifnet.tripod.com),/ juga oleh Dr. Abdurrahman al-Baghdadi dalam bukunya Seni dalam Pandangan Islam (hal. 27-38), dan Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki dalam Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas (hal. 97-101):




     



     



    A. Dalil-Dalil Yang Mengharamkan Nyanyian:







    a. Berdasarkan firman Allah:



    Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan
    yang tidak berguna (lahwal hadits) untuk menyesatkan manusia dari jalan
    Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu ejekan. Mereka
    itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.
    ” (Qs. Luqmân [31]: 6)



    Beberapa ulama menafsirkan maksud lahwal hadits ini sebagai nyanyian, musik atau lagu, di antaranya al-Hasan, al-Qurthubi, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud.



     



    Ayat-ayat lain yang dijadikan dalil pengharaman nyanyian adalah Qs. an-Najm [53]: 59-61; dan Qs. al-Isrâ’ [17]: 64 (Abi Bakar Jabir al-Jazairi, Haramkah Musik Dan Lagu? (al-I’lam bi Anna al-‘Azif wa al-Ghina Haram), hal. 20-22).



     



    b. Hadits Abu Malik Al-Asy’ari ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:



    Sesungguhnya akan ada di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutera, arak, dan alat-alat musik (al-ma’azif).” [HR. Bukhari, Shahih Bukhari, hadits no. 5590].



     



    c. Hadits Aisyah ra Rasulullah Saw bersabda:



    Sesungguhnya Allah mengharamkan nyanyian-nyanyian (qoynah) dan menjualbelikannya, mempelajarinya atau mendengar-kannya.” Kemudian beliau membacakan ayat di atas. [HR. Ibnu Abi Dunya dan Ibnu Mardawaih].



     



    d. Hadits dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda:



    Nyanyian itu bisa menimbulkan nifaq, seperti air menumbuh
    kan kembang.
    ” [HR. Ibnu Abi Dunya dan al-Baihaqi, hadits mauquf].



     



    e. Hadits dari Abu Umamah ra, Rasulullah Saw bersabda:



    Orang yang bernyanyi, maka Allah SWT mengutus padanya dua
    syaitan yang menunggangi dua pundaknya dan memukul-mukul tumitnya pada
    dada si penyanyi sampai dia berhenti.
    ” [HR. Ibnu Abid Dunya.].



     



    f. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Auf ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:



    Sesungguhnya aku dilarang dari suara yang hina dan sesat,
    yaitu: 1. Alunan suara nyanyian yang melalaikan dengan iringan seruling
    syaitan (mazamirus syaithan). 2. Ratapan seorang ketika mendapat
    musibah sehingga menampar wajahnya sendiri dan merobek pakaiannya
    dengan ratapan syetan (rannatus syaithan).




     



     



    B. Dalil-Dalil Yang Menghalalkan Nyanyian:







    a. Firman Allah SWT:



    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa
    yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu
    melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui
    batas.
    ” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).



     



    b. Hadits dari Nafi’ ra, katanya:



    Aku berjalan bersama Abdullah Bin Umar ra. Dalam perjalanan kami
    mendengar suara seruling, maka dia menutup telinganya dengan
    telunjuknya terus berjalan sambil berkata; “Hai Nafi, masihkah kau dengar suara itu?” sampai aku menjawab tidak. Kemudian dia lepaskan jarinya dan berkata; “Demikianlah yang dilakukan Rasulullah Saw.” [HR. Ibnu Abid Dunya dan al-Baihaqi].



     



    c. Ruba’i Binti Mu’awwidz Bin Afra berkata:



    Nabi Saw mendatangi pesta perkawinanku, lalu beliau duduk di atas
    dipan seperti dudukmu denganku, lalu mulailah beberapa orang hamba
    perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi dengan memuji orang
    yang mati syahid pada perang Badar. Tiba-tiba salah seorang di antara
    mereka berkata: “Di antara kita ada Nabi Saw yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.” Maka Nabi Saw bersabda:



    Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.” [HR. Bukhari, dalam Fâth al-Bârî, juz. III, hal. 113, dari Aisyah ra].



     



    d. Dari Aisyah ra; dia pernah menikahkan seorang wanita kepada pemuda Anshar. Tiba-tiba Rasulullah Saw bersabda:



    Mengapa tidak kalian adakan permainan karena orang Anshar itu suka pada permainan.” [HR. Bukhari].



     



    e. Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Umar melewati
    shahabat Hasan sedangkan ia sedang melantunkan syi’ir di masjid. Maka
    Umar memicingkan mata tidak setuju. Lalu Hasan berkata:



    Aku pernah bersyi’ir di masjid dan di sana ada orang yang lebih mulia daripadamu (yaitu Rasulullah Saw)” [HR. Muslim, juz II, hal. 485].



     



    C. Pandangan Penulis



    Dengan menelaah dalil-dalil tersebut di atas (dan dalil-dalil lainnya), akan nampak adanya kontradiksi (ta’arudh)
    satu dalil dengan dalil lainnya. Karena itu kita perlu melihat
    kaidah-kaidah ushul fiqih yang sudah masyhur di kalangan ulama untuk
    menyikapi secara bijaksana berbagai dalil yang nampak bertentangan itu.



     



    Imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa tidak dibenarkan
    dari Nabi Saw ada dua hadits shahih yang saling bertentangan, di mana
    salah satunya menafikan apa yang ditetapkan yang lainnya, kecuali dua
    hadits ini dapat dipahami salah satunya berupa hukum khusus sedang
    lainnya hukum umum, atau salah satunya global (ijmal) sedang lainnya adalah penjelasan (tafsir). Pertentangan hanya terjadi jika terjadi nasakh (penghapusan hukum), meskipun mujtahid belum menjumpai nasakh itu (Imam asy-Syaukani, Irsyadul Fuhul Ila Tahqiq al-Haq min ‘Ilm al-Ushul, hal. 275).



     



    Karena itu, jika ada dua kelompok dalil hadits yang nampak bertentangan, maka sikap yang lebih tepat adalah melakukan kompromi (jama’)
    di antara keduanya, bukan menolak salah satunya. Jadi kedua dalil yang
    nampak bertentangan itu semuanya diamalkan dan diberi pengertian yang
    memungkinkan sesuai proporsinya. Itu lebih baik daripada melakukan
    tarjih, yakni menguatkan salah satunya dengan menolak yang lainnya.
    Dalam hal ini Syaikh Dr. Muhammad Husain Abdullah menetapkan kaidah ushul fiqih:







    Al-‘amal bi ad-dalilaini —walaw min wajhin— awlâ min ihmali ahadihimaMengamalkan dua dalil —walau pun hanya dari satu segi pengertian— lebih utama daripada meninggalkan salah satunya.” (Syaikh Dr. Muhammad Husain Abdullah, Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh, hal. 390).



    Prinsip yang demikian itu dikarenakan pada dasarnya suatu dalil itu
    adalah untuk diamalkan, bukan untuk ditanggalkan (tak diamalkan). Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menyatakan:



     



    Al-ashlu fi ad-dalil al-i’mal lâ al-ihmalPada dasarnya dalil itu adalah untuk diamalkan, bukan untuk ditanggalkan.” (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, juz 1, hal. 239).



     



    Atas dasar itu, kedua dalil yang seolah bertentangan di atas dapat
    dipahami sebagai berikut : bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan
    hukum umum nyanyian. Sedang dalil yang membolehkan, menunjukkan hukum
    khusus, atau perkecualian (takhsis), yaitu bolehnya nyanyian
    pada tempat, kondisi, atau peristiwa tertentu yang dibolehkan syara’,
    seperti pada hari raya. Atau dapat pula dipahami bahwa dalil yang
    mengharamkan menunjukkan keharaman nyanyian secara mutlak. Sedang dalil
    yang menghalalkan, menunjukkan bolehnya nyanyian secara muqayyad (ada batasan atau kriterianya) (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 63-64; Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 102-103).




     



    Dari sini kita dapat memahami bahwa nyanyian ada yang diharamkan, dan ada yang dihalalkan. Nyanyian haram
    didasarkan pada dalil-dalil yang mengharamkan nyanyian, yaitu nyanyian
    yang disertai dengan kemaksiatan atau kemunkaran, baik berupa perkataan
    (qaul), perbuatan (fi’il), atau sarana (asy-yâ’), misalnya disertai khamr, zina, penampakan aurat, ikhtilath
    (campur baur pria–wanita), atau syairnya yang bertentangan dengan
    syara’, misalnya mengajak pacaran, mendukung pergaulan bebas,
    mempropagandakan sekularisme, liberalisme, nasionalisme, dan
    sebagainya. Nyanyian halal didasarkan pada
    dalil-dalil yang menghalalkan, yaitu nyanyian yang kriterianya adalah
    bersih dari unsur kemaksiatan atau kemunkaran. Misalnya nyanyian yang
    syairnya memuji sifat-sifat Allah SWT, mendorong orang meneladani
    Rasul, mengajak taubat dari judi, mengajak menuntut ilmu, menceritakan
    keindahan alam semesta, dan semisalnya (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 64-65; Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 103).




     



    3.2. Hukum Mendengarkan Nyanyian



    a. Hukum Mendengarkan Nyanyian (Sama’ al-Ghina’)



    Hukum menyanyi tidak dapat disamakan dengan hukum mendengarkan nyanyian. Sebab memang ada perbedaan antara melantunkan lagu (at-taghanni bi al-ghina’) dengan mendengar lagu (sama’ al-ghina’).



     



    Hukum melantunkan lagu termasuk dalam hukum af-‘âl (perbuatan) yang hukum asalnya wajib terikat dengan hukum syara’ (at-taqayyud bi al-hukm asy-syar’i). Sedangkan mendengarkan lagu, termasuk dalam hukum af-‘âl jibiliyah, yang hukum asalnya mubah. Af-‘âl jibiliyyah
    adalah perbuatan-perbuatan alamiah manusia, yang muncul dari penciptaan
    manusia, seperti berjalan, duduk, tidur, menggerakkan kaki,
    menggerakkan tangan, makan, minum, melihat, membaui, mendengar, dan
    sebagainya. Perbuatan-perbuatan yang tergolong kepada af-‘âl jibiliyyah ini hukum asalnya adalah mubah, kecuali adfa dalil yang mengharamkan. Kaidah syariah menetapkan:



     



    Al-ashlu fi al-af’âl al-jibiliyah al-ibahahHukum asal perbuatan-perbuatan jibiliyyah, adalah mubah.” (Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 96).



    Maka dari itu, melihat —sebagai perbuatan jibiliyyah— hukum asalnya adalah boleh (ibahah).
    Jadi, melihat apa saja adalah boleh, apakah melihat gunung, pohon,
    batu, kerikil, mobil, dan seterusnya. Masing-masing ini tidak
    memerlukan dalil khusus untuk membolehkannya, sebab melihat itu sendiri
    adalah boleh menurut syara’. Hanya saja jika ada dalil khusus yang
    mengaramkan melihat sesuatu, misalnya melihat aurat wanita, maka pada
    saat itu melihat hukumnya haram.



     



    Demikian pula mendengar. Perbuatan mendengar termasuk perbuatan
    jibiliyyah, sehingga hukum asalnya adalah boleh. Mendengar suara apa
    saja boleh, apakah suara gemericik air, suara halilintar, suara
    binatang, juga suara manusia termasuk di dalamnya nyanyian. Hanya saja
    di sini ada sedikit catatan. Jika suara yang terdengar berisi suatu
    aktivitas maksiat, maka meskipun mendengarnya mubah, ada kewajiban amar
    ma’ruf nahi munkar, dan tidak boleh mendiamkannya. Misalnya kita
    mendengar seseorang mengatakan, “Saya akan membunuh si Fulan!
    Membunuh memang haram. Tapi perbuatan kita mendengar perkataan orang
    tadi, sebenarnya adalah mubah, tidak haram. Hanya saja kita
    berkewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap orang tersebut
    dan kita diharamkan mendiamkannya.



     



    Demikian pula hukum mendengar nyanyian. Sekedar mendengarkan
    nyanyian adalah mubah, bagaimanapun juga nyanyian itu. Sebab mendengar
    adalah perbuatan jibiliyyah yang hukum asalnya mubah. Tetapi jika isi
    atau syair nyanyian itu mengandung kemungkaran, kita tidak dibolehkan
    berdiam diri dan wajib melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nabi Saw
    bersabda:



     



    Siapa saja di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah
    kemungkaran itu dengan tangannya (kekuatan fisik). Jika tidak mampu,
    ubahlah dengan lisannya (ucapannya). Jika tidak mampu, ubahlah dengan
    hatinya (dengan tidak meridhai). Dan itu adalah selemah-lemah iman.
    ” [HR. Imam Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Majah].




     



    b. Hukum Mendengar Nyanyian Secara Interaktif (Istima’ al-Ghina’)



    Penjelasan sebelumnya adalah hukum mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’). Ada hukum lain, yaitu mendengarkan nyanyian secara interaktif (istima’ li al-ghina’). Dalam bahasa Arab, ada perbedaan antara mendengar (as-sama’) dengan mendengar-interaktif (istima’).



     



    Mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’) adalah sekedar mendengar, tanpa ada interaksi misalnya ikut hadir dalam proses menyanyinya seseorang.



    Sedangkan istima’ li al-ghina’,
    adalah lebih dari sekedar mendengar, yaitu ada tambahannya berupa
    interaksi dengan penyanyi, yaitu duduk bersama sang penyanyi, berada
    dalam satu forum, berdiam di sana, dan kemudian mendengarkan nyanyian
    sang penyanyi (Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 104). Jadi kalau mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’) adalah perbuatan jibiliyyah, sedang mendengar-menghadiri nyanyian (istima’ al-ghina’) bukan perbuatan jibiliyyah.



     



    Jika seseorang mendengarkan nyanyian secara interaktif, dan nyanyian
    serta kondisi yang melingkupinya sama sekali tidak mengandung unsur
    kemaksiatan atau kemungkaran, maka orang itu boleh mendengarkan
    nyanyian tersebut.



     



    Adapun jika seseorang mendengar nyanyian secara interaktif (istima’ al-ghina’) dan nyanyiannya adalah nyanyian haram, atau kondisi yang melingkupinya haram (misalnya ada ikhthilat) karena disertai dengan kemaksiatan atau kemunkaran, maka aktivitasnya itu adalah haram (Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 104). Allah SWT berfirman:



     



    Maka janganlah kamu duduk bersama mereka hingga mereka beralih pada pembicaraan yang lainnya.” (Qs. an-Nisâ’ [4]: 140).



    …Maka janganlah kamu duduk bersama kaum yang zhalim setelah (mereka) diberi peringatan.” (Qs. al-An’âm [6]: 68).



     



    3.3. Hukum Memainkan Alat Musik



    Bagaimanakah hukum memainkan alat musik, seperti gitar, piano,
    rebana, dan sebagainya? Jawabannya adalah, secara tekstual (nash), ada
    satu jenis alat musik yang dengan jelas diterangkan kebolehannya dalam
    hadits, yaitu ad-duff atau al-ghirbal, atau rebana. Sabda Nabi Saw:



     



    Umumkanlah pernikahan dan tabuhkanlah untuknya rebana (ghirbal).” [HR. Ibnu Majah] ( Abi Bakar Jabir al-Jazairi, Haramkah Musik Dan Lagu? (Al-I’lam bi Anna al-‘Azif wa al-Ghina Haram), hal. 52; Toha Yahya Omar, Hukum Seni Musik, Seni Suara, Dan Seni Tari Dalam Islam, hal. 24).



     



    Adapun selain alat musik ad-duff / al-ghirbal,
    maka ulama berbeda pendapat. Ada yang mengharamkan dan ada pula yang
    menghalalkan. Dalam hal ini penulis cenderung kepada pendapat Syaikh Nashiruddin al-Albani. Menurut Syaikh Nashiruddin al-Albani
    hadits-hadits yang mengharamkan alat-alat musik seperti seruling,
    gendang, dan sejenisnya, seluruhnya dha’if.



     



    Memang ada beberapa ahli
    hadits yang memandang shahih, seperti Ibnu Shalah dalam Muqaddimah ‘Ulumul Hadits, Imam an-Nawawi dalam Al-Irsyad, Imam Ibnu Katsir dalam Ikhtishar ‘Ulumul Hadits, Imam Ibnu Hajar dalam Taghliqul Ta’liq, as-Sakhawy dalam Fathul Mugits, ash-Shan’ani dalam Tanqihul Afkar dan Taudlihul Afkar juga Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim dan masih banyak lagi. Akan tetapi Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam kitabnya Dha’if al-Adab al-Mufrad setuju dengan pendapat Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla bahwa hadits yang mengharamkan alat-alat musik adalah Munqathi’ (Syaikh Nashiruddin Al-Albani, Dha’if al-Adab al-Mufrad, hal. 14-16).



     



    Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla, juz VI, hal. 59 mengatakan:



    Jika belum ada perincian dari Allah SWT maupun Rasul-Nya
    tentang sesuatu yang kita perbincangkan di sini [dalam hal ini adalah
    nyanyian dan memainkan alat-alat musik], maka telah terbukti bahwa ia
    halal atau boleh secara mutlak.
    ” (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 57).



     



    Kesimpulannya, memainkan alat musik apa pun, adalah mubah. Inilah
    hukum dasarnya. Kecuali jika ada dalil tertentu yang mengharamkan, maka
    pada saat itu suatu alat musik tertentu adalah haram. Jika tidak ada
    dalil yang mengharamkan, kembali kepada hukum asalnya, yaitu mubah.



     



    3.4. Hukum Mendengarkan Musik



    a. Mendengarkan Musik Secara Langsung (Live)



    Pada dasarnya mendengarkan musik (atau dapat juga digabung dengan
    vokal) secara langsung, seperti show di panggung pertunjukkan, di GOR,
    lapangan, dan semisalnya, hukumnya sama dengan mendengarkan nyanyian
    secara interaktif. Patokannya adalah tergantung ada tidaknya unsur
    kemaksiatan atau kemungkaran dalam pelaksanaannya.



    Jika terdapat unsur kemaksiatan atau kemungkaran, misalnya syairnya tidak Islami, atau terjadi ikhthilat, atau terjadi penampakan aurat, maka hukumnya haram.



     



    Jika tidak terdapat unsur kemaksiatan atau kemungkaran, maka hukumnya adalah mubah (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 74).



     



    b. Mendengarkan Musik Di Radio, TV, Dan Semisalnya



    Menurut Dr. Abdurrahman al-Baghdadi (Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 74-76) dan Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki (Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 107-10 8)
    hukum mendengarkan musik melalui media TV, radio, dan semisalnya, tidak
    sama dengan hukum mendengarkan musik secara langsung sepereti show di
    panggung pertunjukkan. Hukum asalnya adalah mubah (ibahah), bagaimana pun juga bentuk musik atau nyanyian yang ada dalam media tersebut.



     



    Kemubahannya didasarkan pada hukum asal pemanfaatan benda (asy-yâ’)
    —dalam hal ini TV, kaset, VCD, dan semisalnya— yaitu mubah. Kaidah
    syar’iyah mengenai hukum asal pemanfaatan benda menyebutkan:



    Al-ashlu fi al-asy-yâ’ al-ibahah ma lam yarid dalilu at-tahrimHukum asal benda-benda, adalah boleh, selama tidak terdapat dalil yang mengharamkannya.” (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 76).



     



    Namun demikian, meskipun asalnya adalah mubah, hukumnya dapat
    menjadi haram, bila diduga kuat akan mengantarkan pada perbuatan haram,
    atau mengakibatkan dilalaikannya kewajiban. Kaidah syar’iyah menetapkan:



     



    Al-wasilah ila al-haram haramSegala sesuatu perantaraan kepada yang haram, hukumnya haram juga.” (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustur, hal. 86).



     



    4. Pedoman Umum Nyanyian Dan Musik Islami



    Setelah menerangkan berbagai hukum di atas, penulis ingin membuat
    suatu pedoman umum tentang nyanyian dan musik yang Islami, dalam bentuk
    yang lebih rinci dan operasional. Pedoman ini disusun atas di prinsip
    dasar, bahwa nyanyian dan musik Islami wajib bersih dari segala unsur
    kemaksiatan atau kemungkaran, seperti diuraikan di atas. Setidaknya ada
    4 (empat) komponen pokok yang harus diislamisasikan, hingga tersuguh
    sebuah nyanyian atau alunan musik yang indah (Islami):



     



    1. Musisi/Penyanyi.



    2. Instrumen (alat musik).



    3. Sya’ir dalam bait lagu.



    4. Waktu dan Tempat.



    Berikut sekilas uraiannya:



     



    1). Musisi/Penyanyi



    a) Bertujuan menghibur dan menggairahkan perbuatan baik (khayr / ma’ruf)
    dan menghapus kemaksiatan, kemungkaran, dan kezhaliman. Misalnya,
    mengajak jihad fi sabilillah, mengajak mendirikan masyarakat Islam.
    Atau menentang judi, menentang pergaulan bebas, menentang pacaran,
    menentang kezaliman penguasa sekuler.



     



    b) Tidak ada unsur tasyabuh bil-kuffar
    (meniru orang kafir dalam masalah yang bersangkutpaut dengan sifat khas
    kekufurannya) baik dalam penampilan maupun dalam berpakaian. Misalnya,
    mengenakan kalung salib, berpakaian ala pastor atau bhiksu, dan
    sejenisnya.



     



    c) Tidak menyalahi ketentuan syara’, seperti wanita
    tampil menampakkan aurat, berpakaian ketat dan transparan, bergoyang
    pinggul, dan sejenisnya. Atau yang laki-laki memakai pakaian dan/atau
    asesoris wanita, atau sebaliknya, yang wanita memakai pakaian dan/atau
    asesoris pria. Ini semua haram.



     



    2). Instrumen/Alat Musik



    Dengan memperhatikan instrumen atau alat musik yang digunakan para
    shahabat, maka di antara yang mendekati kesamaan bentuk dan sifat
    adalah:



     



    a) Memberi kemaslahatan bagi pemain ataupun pendengarnya. Salah satu bentuknya seperti genderang untuk membangkitkan semangat.



     



    b) Tidak ada unsur tasyabuh bil-kuffar dengan alat musik atau bunyi instrumen yang biasa dijadikan sarana upacara non muslim.



    Dalam hal ini, instrumen yang digunakan sangat relatif tergantung
    maksud si pemakainya. Dan perlu diingat, hukum asal alat musik adalah
    mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.



     



    3). Sya’ir



    Berisi:



    a) Amar ma’ruf (menuntut keadilan, perdamaian, kebenaran dan sebagainya) dan nahi munkar (menghujat kedzaliman, memberantas kemaksiatan, dan sebagainya)



    b) Memuji Allah, Rasul-Nya dan ciptaan-Nya.



    c) Berisi ‘ibrah dan menggugah kesadaran manusia.



    d) Tidak menggunakan ungkapan yang dicela oleh agama.



    e) Hal-hal mubah yang tidak bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam.



     



    Tidak berisi:



    a) Amar munkar (mengajak pacaran, dan sebagainya) dan nahi ma’ruf (mencela jilbab,dsb).



    b) Mencela Allah, Rasul-Nya, al-Qur’an.



    c) Berisi “bius” yang menghilangkan kesadaran manusia sebagai hamba Allah.



    d) Ungkapan yang tercela menurut syara’ (porno, tak tahu malu, dan sebagainya).



    e) Segala hal yang bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam.



     



    4). Waktu Dan Tempat



    a) Waktu mendapatkan kebahagiaan (waqtu sururin) seperti pesta pernikahan, hari raya, kedatangan saudara, mendapatkan rizki, dan sebagainya.



    b) Tidak melalaikan atau menyita waktu beribadah (yang wajib).



    c) Tidak mengganggu orang lain (baik dari segi waktu maupun tempat).



    d) Pria dan wanita wajib ditempatkan terpisah (infishal) tidak boleh ikhtilat (campur baur).



     



    5. Penutup



    Demikianlah kiranya apa yang dapat penulis sampaikan mengenai hukum
    menyanyi dan bermusik dalam pandangan Islam. Tentu saja tulisan ini
    terlalu sederhana jika dikatakan sempurna. Maka dari itu, dialog dan
    kritik konstruktif sangat diperlukan guna penyempurnaan dan koreksi.



    Penulis sadari bahwa permasalahan yang dibahas ini adalah permasalahan khilafiyah.
    Mungkin sebagian pembaca ada yang berbeda pandangan dalam menentukan
    status hukum menyanyi dan musik ini, dan perbedaan itu sangat penulis
    hormati.



     



    Semua ini mudah-mudahan dapat menjadi kontribusi —walau pun cuma
    secuil— dalam upaya melepaskan diri dari masyarakat sekuler yang
    bobrok, yang menjadi pendahuluan untuk membangun peradaban dan
    masyarakat Islam yang kita idam-idamkan bersama, yaitu masyarakat Islam
    di bawah naungan Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Amin. [M. Shiddiq al-Jawi] Wallahu a’lam bi ash-showab.




     



    ---------------------



     



    Daftar Bacaan



    * Abdullah, Muhammad Husain. 1995. Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh. Cetakan II. (Beirut : Darul Bayariq).



    * Al-Amidi, Saifuddin. 1996. Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam. Juz I. Cetakan I. (Beirut : Darul Fikr).



    * Al-Baghdadi, Abdurrahman. 1991. Seni Dalam Pandangan Islam. Cetakan I. (Jakarta : Gema Insani Press).



    * Al-Jazairi, Abi Bakar Jabir. 1992. Haramkah Musik dan Lagu ?
    (Al-I’lam bi Anna Al-‘Azif wa Al-Ghina Haram). Alih Bahasa oleh Awfal
    Ahdi. Cetakan I. (Jakarta : Wala` Press).



    * Al-Jaziri, Abdurrahman. 1999. Kitab Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib
    Al-Arba’ah. Juz II. Qism Al-Mu’amalat. Cetakan I. (Beirut : Darul Fikr).



    * Asy-Syaukani. Tanpa Tahun. Irsyadul Fuhul Ila Tahqiq Al-Haq min ‘Ilm Al-Ushul.(Beirut : Darul Fikr).



    * Asy-Syuwaiki, Muhammad. Tanpa Tahun. Al-Khalash wa Ikhtilaf An-Nas. (Al-Quds : Mu`assasah Al-Qudsiyah Al-Islamiyyah).



    * An-Nabhani, Taqiyuddin. 1953. Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah. Juz
    III (Ushul Al-Fiqh). Cetakan II. (Al-Quds : Min Mansyurat Hizb
    Al-Tahrir).



    * ———-. 1963. Muqaddimah Ad-Dustur.(t.t.p. : t.p.).



    * ———-. 1994. Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah. Juz I. Cetakan IV. (Beirut : Darul Ummah).



    * ———-.2001. Nizham Al-Islam. (t.t.p. : t.p.).



    * Ath-Thahhan, Mahmud. Tanpa Tahun. Taysir Musthalah Al-Hadits. (Surabaya : Syirkah Bungkul Indah).



    * Bulletin An-Nur. Hukum Musik dan Lagu. http://www.alsofwah.or.id/



    * Bulletin Istinbat. Mendengarkan Musik, Haram ? http://www.sidogiri.com/



    * Fatwa Pusat Konsultasi Syariah. Lagu dan Musik. http://www.syariahonline.com/



    * Kusuma, Juanda. 2001. Tentang Musik. http://www.pesantrenvirtual.com/



    * “Norma Islam untuk Musisi, Instrumen, Sya’ir, dan Waktu”. Musik. http://www.ashifnet.tripod.com/



    * Omar, Toha Yahya. 1983. Hukum Seni Musik, Seni Suara, dan Seni Tari Dalam Islam. Cetakan II. (Jakarta : Penerbit Widjaya).



    * Santoso, Iman. Hukum Nyanyian dan Musik. http://www.ummigroup.co.id/



    * Wafaa, Muhammad. 2001. Metode Tarjih Atas Kontradiksi Dalil-Dalil
    Syara’ (Ta’arudh Al-Adillah min Al-Kitab wa As-Sunnah wa At-Tarjih
    Baynaha). Alih Bahasa oleh Muslich. Cetakan I. (Bangil : Al-Izzah).



     

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Hukum Menyanyi Dan Musik Dalam Fiqih Islam Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top