Halaqoh “Pesantren dan Radikalisme” - Buntet Pesantren Halaqoh “Pesantren dan Radikalisme” - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Saturday, April 5, 2008

    Halaqoh “Pesantren dan Radikalisme”



    Maraknya aksi kekerasan yang
    mengatasnamakan agama akhir akhir ini membuat resah kalangan pesantren, tidak
    terkecualai buntet pesantren, yang merupakan salah satu pesantren tertua se
    Indonesia. Tema halaqoh ini dilaksanakan pada Rabu, 3 April 2008 merupakan
    rangkaian acara Haul 2008 Buntet Pesantren.







    Akasi kekerasan yang berujung
    pada pengrusakan tempat ibadah yang marak akhir-akhir ini ditengarai karena
    umat islam saat ini miskin akan pengetahuan agama yang ia peroleh. Banyak umat
    Islam di Indonesia sekarang memandang Islam sebagai agama yang melegitimasi dan
    mengajurkan untuk berbuat tindak kekerasan, bahakan Pesantren yang sejatinya
    merupakan gerbang Ilmu agama Islam juga ditenggarai ikut berperan dalam
    memebentuk sikap radikal dan melegitimasi aksi kekerasan. 







    Dengan ditangkapnya aktor pengebom Bali Ali
    Mukhlas yang merupakan alumni  dari
    pesantren Ngeruki, banyak pihak yang mengaitkan pesantren dan radikalisme dalam
    konteks ini.  inilah yang melatar
    belakangi Halaqoh di buntet pesantren dengan judul pesantren dan radikalisme
    bekerjasama dengan The Wahid Institute.






    Hadir sebagai pembicara dalam
    acara halaqoh antara lain, Hamami Zada dari LAKPESDAM NU, Rumadi,Muqsith Gazali
    dari The Wahid Institue, dan KH. Syarif Usman Yahya dari pondo pesantren
    Kempek. Dalam acara itu di hadiri pula oleh Kyai sewilayah tiga Cirebon.
    Menurut Hamami Aksi Radikalisme Islam merupakan aksi yang sangat membahayakan
    Islam sebagao agama yang membawa misi damai. Dia mencontohkan gerakan
    radikalisme Islam di Timur Tengah yang ketika di praktekan di Indonesia sangat
    tidak cocok.







    Antara Budaya Islam Arab dan
    budaya Islam Indonesia sangat jauh berbeda. Lebih jauh menurut Muqsith Gazali
    Pesantren yang merupakan Ujung tombak dari ajaran Islam yang damai harus serta
    merta mendukung gerakan Islam yang toleran sehingga keberagaman hrus terus
    terpelihara. Sedangkan KH. Syarif Usman Yahya sebagai pembanding mencontohkan
    bagaimana NU sejak awal berdirinya sangat menghormati perbedaan.



     



    Beliau
    kemudian mencontohkan bahwa dulu di pesantren Kempek 
    kalau Shalat Jum’at hanya sekalai Adzan karena ada salah satu Kyai yang
    tidak sepakat dengan Dua kali adzan ketika jum’at. Tapi di NU kasus seperti itu
    tidak pernah di persoalakan secara serius karena Kyai tersebut mempunyai
    pemahaman Islam yang berbeda dengan Kyai NU lainya.






    Aksi kekerasan yang mengatas
    namakan Agama  yang marak akhir akhir ini
    makain meningat, karena itu pesantren NU harus segera berbuat sesuatu untuk
    mencegah agar aksi kekerasan itu terjadi kembali ujar Rumadi, peneliti The
    Wahid Institue, seperti diketahui sebelumnya kekerasan yang mengatasnamakan
    Agama di wilayah tiga Cirebon sangat meningkat, sekedar menyebut contoh, Aksi
    kekerasan dan pengusiran komunitas Ahmadiyah di desa Manis Lor, yang
    mengakibatkan beberapa Masjid komunitas Ahmadiyah dirusak sehingga tidak bisa
    digunakan.






    Halaqoh dengan tema pesantren dan
    Radikalisme mencapai kesepakan dan deklarasi bersama untuk serta merta menolak
    kekerasan dan menjaga kerukunan di antara Ummat Beragama. Hadir dalam deklarasi
    tersebut antara lain para Kyai Muda se wlayah tiga Cirebon. (Zaim N.)

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Halaqoh “Pesantren dan Radikalisme” Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top