Ford Foundation Kembangkan Pendidikan Jarak Jauh Berbasis Teknologi di Pesantren - Buntet Pesantren Ford Foundation Kembangkan Pendidikan Jarak Jauh Berbasis Teknologi di Pesantren - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Friday, April 11, 2008

    Ford Foundation Kembangkan Pendidikan Jarak Jauh Berbasis Teknologi di Pesantren



    kang_dhabas_dan_menteri.jpgSebuah lembaga donor, Ford Foundation mengembangkan program pendidikan jarak jauh berbasis ICT  (information and communication technology) di pesantren. Ada delapan pesantren yang ditunjuk untuk mengikuti program ini selama tiga tahun, dari April 2008 hingga April 210.











    Seminar dua hari bertajuk ”Open, Distance dan E-Learning (ODEL) untuk
    Transformasi Masyarakat Islam Melalui Pesantren” dilaksanakan oleh
    International Center for Islam and Pluralism (ICIP), sebuah lembaga
    swadaya masyarakat (LSM) yang berpusat di Jakarta.

    Seminar yang dilangsungkan di hotel berbintang lima, Hotel Nikko
    Jakarta pada 7-8 April 2008 itu dihadiri oleh Menteri Komunikasi dan
    Informatika Prof. Dr. Muhammad Nuh, Menteri Pendidikan Nasional Bambang
    Sudibyo, perwakilan dari Ford Foundation dan beberapa pejabat kedutaan.

    Delapan pondok pesantren yang dipilih dalam program ini adalah
    Pesantren Al Kenaniyah (Jakarta Timur), An Nizhomiyah (Pandegelang
    Banten), Miftahul Huda Al-Musri’ (Cianjur), Al Mizan (Majalengka),
    Hasyim Asyari (Jepara), Raudhatul Falah (Rembang), Nurul Islam (Jember)
    dan Nurul Jadid (Probolinggo).

    Direktur Eksekutif ICIP Dr. M. Syafi’i Anwar dalam peluncuran program
    itu, Senin kemarin menyatakan, program ini selain bertujuan untuk
    memperluas akses pendidikan bagi masyarakat santri pesantren dan
    komunitas sekitar pesantren. Karena menurutnya, masalah pendidikan di
    Indonesia tidak bisa hanya diselesaikan dengan sebatas program-program
    yang memiliki batas waktu, lebih jauh kepada gerakan-gerakan yang tidak
    memiliki keterbatasan waktu dan akan berakhir sampai masalah tersebut
    dapat terselesaikan.

    Selain itu, ke 8 pesantren yang menjadi mitra program, mereka akan
    diberikan materi pendidikan Paket B dan Paket C yang diarahkan kepada
    ujian Nasional, pendidikan keterampilan, dan pendidikan kewarga negaraan
    yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi, internet dan
    intranet.  Ini semua menurutnya, guna mewujudkan masyarakat pesantren
    yang akrab dengan perkembangan ICT juga untuk mewujudkan ’pencerahan’
    peradaban Islam yang inklusif, humanis dan berorientasi ke depan.

    Dasar dari tujuan tersebut bahwa ”Program ini juga dilandasi dengan
    pandangan visioner bahwa pesantren mampu menjadi agen perubahan sosial
    yang dapat memberikan pencerahan dan bermanfaat bagi masyarakat
    sekitarnya,” katanya.

    Kenapa hanya ke delapan pesantren, menurut Dr. M. Syafi’i Anwar
    menyatakan bahwa ke delapan pesantren ini telah melalui seleksi dengan
    memperhatikan masyarakat sekitar pesantren  yang masih dalam keadaan
    kurang mampu. Karenanya diharapkan dengan masuknya ICT di pesantren
    tersebut dapat dengan cepat memberikan pencerahan yang lebih baik.

    Seminar peluncuran program ODEL itu dihadiri oleh berbagai elemen tokoh
    masyarakat pelaku pendidikan. Hadir di sana Prof. Dr. Mohammad Nuh,
    Menteri Komunikasi dan Informasi, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, Menteri
    Pendidikan Nasional. Pembicara lainnya adalah Prof. Dr. Komaruddin
    Hidayat (Rektor UIN Jakarta), Drs. Bambang Ismawan MS (Pembina Yayasan
    Bina Swadaya), dan Drs. Bahruddin (pengasuh SLTP Alternatif Qaryah
    Thayyibah). Amin Haidari, M.Pd, Direktur Diniyah dan Pondok Pesantren
    Departemen Agama, Ella Yulaelawati, Ph.D, MSc, Direktur Pendidikan
    Kesetaraan PLS, Diknas; Drs. Bambang Ismawan, MS, Pembina Yayasan Bina
    Swadaya, Ir. Rahmad Riyadi, MM, Direktur Dompet Duafa Republika dan KH.
    Fuad Affandi, Pengasuh PP. Al Ittifaq, Bandung.

    Prof. Dr. Mohammad Nuh, sebagai menkoinfo mengupas masalah
    transoformasi masyarakat Islam. Meskipun peserta seminar banyak orang
    asing, namun beliau dengan fasihnya mengucapkan salam dan pembukaan
    dalam bahasa arab. Selanjutnya beliau bebicara seputar tantangan,
    peluang dan agenda kerja pesantren dalam era globalisasi. Setelah itu
    acara dilanjutkan dengan peluncuran website www.pesantrenglobal.org
    sebuah situs yang mengupas perkembangan seputar program ODEL.

    Setelah Menkoinfo, pembicara selanjutnya Ace Suryadi, Ph.D,  Dirjen
    Pendidikan Luar Sekolah Depdiknas, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor
    UIN Jakarta dan Drs. Bahruddin, Pengasuh SLTP Allternatif Qoryah
    Thayyibah, Salatiga Jawa Tengah mengusung tema "Pendidikan Kesetaraan
    melalui metode teknologi komunikasi-informasi dari tatanan kebijakan
    hingga praktis."

    Tema berikutnya yang dibahas adalah bagaimana pesatnren dapat berperan
    sebagai peneyelenggara pendidikan jarak jauh dan terbuka antara
    kualitas dan harapan. Tema ini disampaikan oleh Amin Haidari, M.Pd dan
    Ella Yulalawati sayangnya keduanya tidak hadir dan diwakili oleh
    pejabat terkait.

    Pada sesi sore hari, pukul 14.45-17.00 WIB mengupas tema bagaimana
    pendidikan jarak jauh di pesantren bisa memberikan manfaat untuk
    wirausaha. Kaitan antara pesantren dengan dunia usaha. Sebuah
    pengalaman menarik disampaikan oleh KH. Fuad Affandi, pengasuh
    pesantren PP. Al Ittifaq yang berkonsentrasi dalam pertanian. Pesantren
    yang didirikan tahun 1933 semula sangat tertutup seperti Pesantren Benda
    di Cirebon, namun kini pesantren ini sudah menjadi suplayer di
    supermarket besar dalam pengembangan pertaniannya.

    Pada hari kedua, 8 April 2008, tema yang mengusung pendidikan dan
    Humanisme Universal sebagai mata pelajaran pendidikan jarak jauh di
    Pesantren untuk transformasi masyarakat Islam antara strategi dan
    format disampaikan oleh Dr. Moeslim Abdurahman, Direktur al Maun
    Institute dan Yanti Mukhtar, Direktur Kapal Perempuan. Sayangnya,
    redaksi tidak bisa mengikuti hingga hari kedua. (MK)

    Akhirnya, peran pesantren memang dituntut untuk bisa berada di zaman apapun. Format dan aplikasinya tergantung dari pelaksana pesantren itu sendiri. Namun kemampuan pesantren tidak semuanya bisa mandiri dalam pengelolaan baik dana maupun SDM. Karena itu, lahirnya sebuah empati dan simpati dari pihak luar akan sangat membantu guna menyelesaikan masalah internal pengelolaan pesantren yang pada perannya sangat dinanti masyarakat sebagai agen perubahan.  (MK)


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ford Foundation Kembangkan Pendidikan Jarak Jauh Berbasis Teknologi di Pesantren Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top