Buntet Pesantren Pengusung Tasawuf - Buntet Pesantren Buntet Pesantren Pengusung Tasawuf - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Saturday, April 26, 2008

    Buntet Pesantren Pengusung Tasawuf


    Oleh: Redaksi


    Buntet Pesantren sebagai
    pesantren tua kini masih kokoh mengemban agen perubahan masyarakat melalui
    pendekatan pendidikan dan praktek kerohanian dalam setiap aktivitasnya.
    Karenanya, Buntet pesantren lebih dekat pada 
    kehidupan tasawufnya. Di luar itu, semisal ilmu hikmah yang dipandang
    oleh beberapa masyarakat di luar Buntet, hanyalah salah satu kelebihan dari
    Buntet Pesantren. Sayangnya, gaung ilmu hikmah itu lebih santer ketimbang
    kehidupan tasawufnya. Padahal ilmu hikmah itu sendiri bukanlah semangat yang
    dikembangkan para kyai Buntet Pesantren di awal tahun 30-an.



    Demikian pandangan H. Anis
    Wahdi bin Kyai Mustahdi Abbas, salah satu pimpinan asrama di Buntet di
    sela-sela obrolan bersama redaksi saat haul kemarin.  Menurutnya, Kyai Buntet zaman dahulu banyak
    yang bertarekat atau bertasawwuf. Berbagai cerita yang berkembang di masyarakat
    misalnya tentang Kyai Abbas lebih banyak kepada kedigdayaanya. Padahal
    nilai-nilai tasawuf yang beliau ajarkan sungguh dibangun  lahir dan batin. "Rasanya, jika ini yang
    berkembang, saya sangat kecewa!" 
    tukasnya.

    Sangat wajar keprihatinan Kyai
    Anis ini.  Sebab seakan-akan di Buntet
    sendiri ada semacam kontradiksi antara orang tasawuf dan orang hikmah.  Orang tasawuf seperti Kyai Anas dan Kyai
    Abbas dan lainnya memiliki karomah yang terpendam dari diri beliau.  Tetapi penyebutan hikmah itu sendiri oleh
    sementara kalangan disebut sakti. Padahal karomah dan  hikmah itu sangat berbeda.

    Menurut Kyai Anis pengertian
    Karomah itu merupakan suatu kelebihan dari Allah subhanahu wata'ala yang
    diberikan kepada hambaNya yang memiliki maqam. Mereka adalah orang-orang
    shaleh. Sholeh yang dimaksud adalah abid atau ahli ibadah,  merekalah yang memiliki maqom. Orang sering
    mudah menyebutnya dengan  wali. "Saya
    lebih suka menyebutnya sebagai orang yang mempunyai karomah atau orang yang
    sholeh dan ahli tahid." Kata sekretaris 
    Jam'iyyah ahli toreqah Annahdiyah pimpinan Habib Lutfi bin Yahya.

    Sedangkan pengertian ilmu
    hikmah
    menurut pria yang suka bergamis putih ini, lebih cenderung
    kepada ilmu kanuragan. Kanuragan itu mislanya orang bisa kebal dibacok
    atau rambut digunting tidak mempan,  ilmu
    ngemat atau ilmu penglaris dan lain-lain.  
    Umunya orang-orang seperti itu lebih banyak suu dzon kepada orang lain.
    Misalnya orang yang tengah sakit dianggap buatan  seseorang 
    atau dikenal dengan sebutan disantet. "Itu adalah kerjaan orang-orang
    hikmah." Tuturnya saat hujan deras bagian depan teras asramanya.

    Sebaliknya menurut beliau,  jika tasawuf yang dikedepankan, memandang
    seseorang yang tengah dirundung sakit, apakah wajar atau tidak wajar tidak
    dipandang karena dibuat oleh seseorang. "Bukan su'udzon yang dikedepankan  tapi kita mengedapankan prasakna baik atau
    khusnuzon." Imbuhnya.   

    Sebaliknya jika seorang yang
    sakit itu benar-benar karena disantet, maka upaya yang bisa dilakukan adalah
    kita mendoakan dan tidak membicarakan sedikitpun apa penyebabnya (disantet).
    "Paling banter akan dikatakan  wallaua'lam!".  Sendainya tahu siapa pembuatnya maka
    membicarakannya pun tidak. Bahkan orang yang menyantet itu disembunyikan
    rapat-rapat dan tidak diceritakan. Yang penting bagi si penderita dan
    keluarganya agar tenang dan diupayakan kesembuhannya.

    Saya sedih bila ada orang datang
    ke Buntet semata-mata ingin kaya atau ingin naik pangkat atau mencari dukun
    atau mencari orang pintar. Kenapa sedih, menurut kyai yang  waktu mudanya berambut panjang itu berargumen
    bahwa Buntet yang dibangun susah payah oleh pendirinya dengan membesarkan islam
    melahirkan wali-wali besar. Dari beliau 
    lahirlah nilai sufistik yang indah dengan perjuangan dan amal nyata
    semisal melawan penjajah. Sayangnya, Buntet Pesantren sebagai pesantren tertua
    setelah di Aceh, hanya popular dengan (ilmu kanuragan) itu." Imbuhnya.

    Padahal katanya, bila kita
    melihat sejarah pada masa lalu, dulu orang jauh-jauh merantau ke Buntet
    Pesantren adalah karena ingin menimba ilmu dan mempelajari ilmu akhalq tasawuf
    atau karena ingin memiliki pengabdian. Menurutnya ini indah sekali  dan dahulu, Buntet Pesantren memiliki gaung
    luar biasa, dan pada gilirannya dari Buntet Pesantren ini melahirkan para
    mursyid tareqah di tempat lain.

    Salah satu penyebab mengapa orang
    luar banyak yang  memandang Buntet
    Pesantren sebagai "gudang ilmu kanuragan", kyai Anis memandang karena
    adanya  pergeseran nilai dalam memandang
    Buntet sendiri. Salah satunya  karena
    hingar bingarnya ilmu hikmah itu. 
    Padahal kata beliau, jika orang-orang 
    yang datang ke Buntet Pesantren kemudian berhasil memwujudkan keinginannya,
    itu tercapai karena karomahnya para pendaulu almarhumin atau para sesepuh di
    Buntet Pesantren.

    Salahs atu contoh karomah Kyai
    Abbas misalnya, ungkap Kyai Anis membuka sejarah. Konon kata Kyai Abbas dulu
    berkata, Kyai Wahab Khasbullah  dan Kyai
    Hasyim Asy'ari, suatu ketika pergi dari Surabaya
    menuju Bandung. Kalau tidak salah,
    rombongan itu terdiri dari 34 orang menaiki macan.  Kemudian Kyai Abas berpesan kepada rombongan
    itu saat tiba di Indramayu: "Tolong jangan tengok-tengok selama di perjalanan".  Lalu ada yang penasaran dan  tengok-tengok dan benarlah ada satu yang
    nengok, imbasnya ketinggalan.

    Itu adalah contoh bentuk karomah,
    sementara orang mengatakan kalau itu adalah ulama sakti. Padahal kejadian di
    luar kebiasaan itu menurut pandangan tareqaht itu bisa saja yang mengiring
    mereka adalah para Malaekat. Para ulam di Buntet
    mengetahui, kalau Kyai Abas itu memiliki 
    khodam itu sangat  mungkin,  tapi khodam kyai sebesar beliau bisa mungkin
    adalah Malekat.  "Hina sekali jika beliau
    punya khodam jin." Tegasnya.

    ***

    Cerita seputar Jin, pernah
    diungkapkan oleh ayah kyai Anis, Kyai Mustahdi Abbas. Menurut kyai Anis,
    ayahnya itu tidak tertarik kepada jin dan dunianya. Namun heran mengapa ayahnya
    ini memiliki jin. "Anis, bapak due jin siji arane Mustadal Insi." (Anis saya
    punya satu jin, bernama Mustadal Insi) kata Kyai Mustahdi. Lalu ditanyakan
    kenapa memelihara jin padahal sebelumnya Kyai Mustahdi itu tidak tertarik
    kepada Jin. Lalu ayah saya bercerita kalau jin tersebut sengaja datang dari
    Mesir.  Awalnya bulan puasa ikut ngaji
    pasaran kemudian ngondel terus 
    karena betah ia tidak kembali ke Mesir. Padahal kata kyai Anis, jin dari
    Mesir itu pernah diusir tapi ia bermohon dan bersikukuh ingin ikut ngaji.
    Akhirnya kyai Mustahdi mengizinkan dan berpesan "baik asal kamu jangan
    mengganggu!"

    Menurut kyai Anis, alasan mengapa
    Kyai Mustahdi tidak tertarik kepada jin, ayahnya ini  penah berujar "sebaik-baik jin adalah
    sejahat-jahat manusia." 

    Akhirnya, menurut Kyai Anis,
    Buntet Pesantren tidak mengembangkan ilmu hikmah tetapi tasawuflah yang
    dibangun semenjak dahulu. Kerhidupan santri di Buntet Pesantren diarahkan
    kepada kehidupan syariah yang telah diajarkan oleh Rasulullah Sallallahu 'Alahi
    Wasallam  dan diterjemahkan lagi oleh
    para fuqoha. Oleh para ulama zaman dahulu ini kemudian kita bisa melihat melaui
    kajian-kajian kitabnya yang selalu dikaji. Kemudian pada prakteknya, para
    santri dididik untuk disiplin ilmu fiqh. Mulai dari cara bersuci, kemudian
    shalat, dzikir dan dilatih agar faseh dalam melantunkan ayat-ayat suci Al Quran
    itulah yang dikembangkan di Buntet.

    Sementara bila ilmu hikmah itu
    sendiri bukan konsentrasi para kyai Buntet. Ia adalah salah satu dari ekeses
    karena mempraktekkan ilmu tasawuf dari dulu hingga kini dan telah dikembangkan
    sejak dahulu dan diikuti oleh keluraga kyai dan para santri-santrinya. (MK)

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Buntet Pesantren Pengusung Tasawuf Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top