Refleksi Hari Film Nasional - Buntet Pesantren Refleksi Hari Film Nasional - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Saturday, March 29, 2008

    Refleksi Hari Film Nasional

    kh_salahuddin_wahid.jpg
    Oleh: KH. Salahuddin Wahid



    Medio Maret 2008 saya menonton film Ayat-Ayat Cinta (AAC) bersama istri saya. Banyak sekali yang tertarik untuk menonton film itu,termasuk Pak Habibie dan Pak Jusuf Kalla.

    Setahun lalu saya menonton film Nagabonar Menjadi 2. Kedua film itu
    adalah film yang bagus sekaligus laris.Bahkan film AAC menjadi film
    Indonesia yang paling banyak penontonnya sepanjang sejarah, mencapai
    angka 2,9 juta sampai 22 Maret 2008.Angka 4 juta tampaknya bisa
    tercapai.






    Mengapa jumlah penonton AAC bisa melonjak demikian
    tinggi? Pertama, tentu karena buku AAC karya Habiburrahman el-Shirazy
    adalah buku yang baik dan terjual dalam jumlah amat besar, konon di
    atas 400.000 buah. Kedua,filmnya sendiri juga cukup bagus dan enak
    untuk ditonton.










    Ketiga, ada kebutuhan akan munculnya film yang
    baik.Artinya masyarakat sudah menunggu hadirnya film yang baik dan
    laku.Coba kalau hal yang sama terjadi 10 tahun lalu, belum tentu
    hasilnya akan seperti itu. Apakah ini merupakan awal dari bangkitnya
    dunia film Indonesia sehingga bisa tidak menjadi tamu di negeri
    sendiri?










    Apakah insan perfilman Indonesia sudah siap mengikuti
    jejak rekannya di dunia musik Indonesia yang sudah menjadi tuan rumah
    di negeri sendiri? Bahkan lebih jauh lagi, mampukah kita mengekspor
    film Indonesia, paling tidak ke Malaysia, seperti para musisi kita?
    Kita perlu melihat dunia perfilman India sebagai perbandingan atau
    contoh.










    ***










    Film Ayat-ayat Cinta
    Kita menyaksikan banyak sekali film India diputar
    di hampir semua stasiun TV di Indonesia. Di bioskopbioskop di hampir
    seluruh kota di Indonesia film layar lebar India sejak 50 tahun lalu
    menjadi kegemaran masyarakat kelas menengah ke bawah. Masyarakat
    menengah ke atas Indonesia memandang film India dengan sebelah mata.










    Seumur
    hidup saya hanya pernah menonton film India berjudul Boot Polish pada
    akhir 1950-an.Tanpa disangka pada minggu ketiga Januari 2007 saya
    menonton dua film India yang baru diputar. Dua film itu panjangnya tiga
    dan tiga setengah jam. Saya menonton film tersebut di New Delhi saat
    saya dan istri berkunjung ke India (Januari 2007) diajak salah seorang
    kawan saya, Dalpat Mirchandani.










    Kami ditraktir menonton film
    pertama oleh seorang kawan Pak Dani (Mirchandani), bernama SK Ghai,
    seorang penerbit buku yang sukses.Artinya berasal dari kelas
    menengah.Selesai makan malam, seisi rumah,Pak Ghai dan istri serta
    kedua anak dan istrinya, Pak Dani dan istrinya,Maya, serta seorang anak
    mereka,Anub,dan saya bersama istri menonton film itu.



    Sejak
    makan malam mereka mulai membicarakan film itu yang baru mulai diputar
    setelah dua minggu dan telah lama ditunggu masyarakat. Penonton di
    bioskop penuh. Banyak yang memesan karcis bioskop sehari sebelumnya.
    Pemutaran perdana film-film India box-office dilakukan serentak di
    India dan luar negeri.



    Di India ada lebih dari 100 saluran pada
    TV kabel. Sebagian besar diisi stasiun TV India yang memutar filmfilm
    India lama.Film India di masa lalu banyak yang diputar terus-menerus
    bertahun-tahun. Kini mulai berkurang jumlah film seperti itu. Setiap
    hari diproduksi 3 film baru, berarti dalam setahun diproduksi lebih
    dari 1.000 film baru. Sebagian besar diekspor ke Amerika, Eropa, dan
    Asia.










    Sebenarnya hasil ekspor tadi hanya sebagai pelengkap dari
    pasar dalam negeri. Industri film yang berpusat di Mumbai (dulu Bombai,
    karena itu disebut Bollywood) itu mampu memberi penghidupan bagi
    puluhan juta rakyat India.Para artis India,terutama yang papan atas,
    bisa memperoleh penghasilan yang aduhai.







    Bisa mencapai belasan
    miliar per film. Shah Rukh Khan untuk menjadi pemandu Crore Pati –versi
    India dari Who Wants To Be A Millionaire– dibayar Rp1,6 miliar rupiah
    per tayang. Perhatikan, India memakai judul bahasa India untuk program
    itu. Empat orang mantan Ratu Dunia asal India terjun ke dunia film:
    Lara Dutta, Sushmita Sen,Aishwarya Rai, Priyanka Chopra.Aishwarya Rai
    telah ikut bermain di dalam film Hollywood.










    Sebelumnya beberapa aktor
    dan aktris India juga telah bermain di Hollywood. Satyajit Ray,
    sutradara film Father Panchali dan Aparajito,telah lama menempati
    posisi terhormat di dunia film internasional.










    ***










    Bagaimana
    dengan keadaan dunia perfilman kita? Industri film kita telah mengalami
    beberapa kali pasang surut. Dari era Usmar Ismail ke era Asrul Sani,
    Syuman Djaja,Wim Umboh, Teguh Karya,Slamet Raharjo, Sophan
    Sophian,Garin Nugroho hingga era Rudi Sujarwo. Dari era Raden Mohtar,
    Bambang Hermanto, Chitra Dewi,Titin Sumarni,ke era Sukarno M Noor,
    Rahmat Hidayat, Lenny Marlina, Widyawati, Benyamin, Deddy Mizwar,
    Christine Hakim,Warkop hingga ke era Rano Karno,Tora Sudiro, dan Dian
    Sastrowardoyo.











    Cukup lama film layar lebar istirahat karena
    dikalahkan oleh sinetron. Ada beberapa sinetron yang bagus dan
    menghibur serta mendidik seperti serial Losmen, serial Si Doel Anak
    Sekolahan, Mahkamah.Namun,kini sinetron yang ada umumnya tidak bermutu.
    Film layar lebar yang bagus adalah produksi era masa lalu yang cukup
    lama seperti November 1828, Cut Nyak Dien, Apa Yang Kau Cari Palupi?,
    Nagabonar, dan Kejarlah Daku Kau Kutangkap.










    Film-film tahun
    1950-an juga banyak yang bagus. Sayangnya secara komersial film-film
    itu tidak semua menggembirakan sehingga produser sulit untuk bertahan.
    Beberapa tahun terakhir film layar lebar mulai mendapat pasar yang
    lumayan dengan munculnya film Jelangkung, Ada Apa Dengan Cinta?,
    Petualangan Sherina, Gie, Berbagi Suami, dan beberapa film lain.










    Terakhir
    ialah film AAC yang fenomenal. Beberapa film diikutsertakan di dalam
    festival bergengsi di luar negeri, tetapi belum berhasil.Usaha itu
    patut dihargai. Perkembangan terakhir yang menyedihkan ialah
    pertengkaran dan konflik antara insan muda perfilman Indonesia dengan
    para seniornya berkaitan dengan penyelenggaraan festival film Indonesia
    sehingga para insan muda industri film itu beramairamai mengembalikan
    Piala Citra yang telah mereka terima.Peristiwa itu sungguh membuat kita
    prihatin. Perlu ada win-win solution.










    ***










    Kita perlu kerja
    keras bersamasama untuk mengembangkan industri film Indonesia sehingga
    dapat menjadi salah satu industri yang memberi sumbangsih nyata bagi
    kemajuan ekonomi Indonesia. Pemerintah perlu memberi dukungan nyata
    terhadap industri film nasional kita. Kita harus memulai langkah nyata
    untuk membuat film yang baik lalu kita ekspor.










    Saya yakin kita
    punya kemampuan untuk itu tetapi mengalami hambatan kurangnya
    pendanaan.Kita punya banyak materi yang dapat menjadi bahan cerita yang
    baik. Untuk membuat skenario bisa dikerahkan tenaga terbaik yang
    ada,kalau perlu dengan meminta asistensi dari luar negeri supaya bisa
    memenuhi selera pasar.Sutradara dan tenaga lain juga cukup tersedia.










    Secara
    bertahap kita mulai memproduksi, dari lima film per tahun hingga
    akhirnya mencapai puluhan film per tahun. Industri film Indonesia
    selama ini tidak mendapat bantuan dana dari pemerintah.Tidak ada
    salahnya pemerintah membantunya seperti membantu dunia olahraga.
    Bantuan bisa diberikan 50 miliar per tahun untuk memproduksi sekitar
    lima film dan 10 miliar untuk upaya memasarkan.










    Kalau ada hasil
    positif bisa ditingkatkan secara bertahap.Salah satu nilai positif
    manusia Indonesia menurut Mohtar Lubis ialah jiwa seni. Kita bisa
    memanfaatkan hal itu seoptimal mungkin.Kita harus bekerja profesional,
    tidak boleh ada KKN atau sistem koneksi.Semua harus terbuka dan
    transparan. Industri film India maju karena masyarakat India mendukung
    dan mencintai film nasional mereka.










    Film Barat menjadi tamu di
    India. Tuan rumahnya ialah film India.Apakah mungkin menumbuhkan
    dukungan, apresiasi, dan rasa cinta masyarakat Indonesia terhadap film
    Indonesia seperti mereka mencintai tim bulutangkis yang meraih Piala
    Thomas? Sulit untuk menjawab pertanyaan itu.(*)








    KH. Salahuddin Wahid
    Budayawan, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang  
    Kliping dari Koran SINDO
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Refleksi Hari Film Nasional Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top