Peringatan Maulid Nabi s.a.w. dan Bid'ah - Buntet Pesantren Peringatan Maulid Nabi s.a.w. dan Bid'ah - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Saturday, March 22, 2008

    Peringatan Maulid Nabi s.a.w. dan Bid'ah


     



    Oleh:
    M. Luthfi Thomafi



    Saya pernah membaca dari buku terbitan kementrian agama Arab Saudi
    bahwa Peringatan Maulid Nabi tidak pernah dilakukan dan dicontohkan
    pada masa Nabi Muhammad SAW maupun pada masa sahabat-sahabat Nabi
    Muhammad SAW. "Bagaimana dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di
    Indonesia apakah ada hadist yang membenarkannya dan bagaimana sikap
    kita untuk menghadapi sesuatu yang dikatagorikan bid'ah?"



     






    Tanya Jawab (422) Maulid Nabi s.a.w. dan Bid'ah



     



    =======
    Tanya :
    =======


     




    Assalaamu'alaikum Wr.Wb.

    Ustadz
    yang saya hormati: Saya pernah membaca dari buku terbitan kementrian
    agama Arab Saudi bahwa Peringatan Maulid Nabi tidak pernah dilakukan
    dan dicontohkan pada masa Nabi Muhammad SAW maupun pada masa
    sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW. Dalam buku tersebut diperkuat pula
    dengan hadist-hadist shahih. Yang ingin saya tanyakan adalah:
    "Bagaimana dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia apakah
    ada hadist yang membenarkannya dan bagaimana sikap kita untuk
    menghadapi sesuatu yang dikatagorikan bid'ah?"
    Wassalaamu'alaikum



     



    =======
    Jawab :
    =======




    Assalamua'alikum war. wab.

    Ada
    tradisi umat Islam di banyak negara, seperti Indonesia, Malaysia,
    Brunai, Mesir, Yaman, Aljazair, Maroko, dan lain sebagainya, untuk
    senantiasa melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti Peringatan Maulid
    Nabi SAW, peringatan Isra' Mi'raj, peringatan Muharram, dan lain-lain.



     



    Bagaimana sebenarnya aktifitas-aktifitas itu? Secara khusus, Nabi
    Muhammad SAW memang tidak pernah menyuruh hal-hal demikian. Karena
    tidak pernah menyuruh, maka secara spesial pula, hal ini tidak bisa
    dikatakan "masyru'" [disyariatkan], tetapi juga tidak bisa dikatakan
    berlawanan dengan teologi agama.



     



    Yang perlu kita tekankan dalam
    memaknai aktifitas-aktifitas itu adalah "mengingat kembali hari
    kelahiran beliau --atau peristiwa-peristiwa penting lainnya-- dalam
    rangka meresapi nilai-nilai dan hikmah yang terkandung pada kejadian
    itu". Misalnya, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Itu bisa kita jadikan
    sebagai bentuk "mengingat kembali diutusnya Muhammad SAW" sebagai
    Rasul.



     



    Jika dengan mengingat saja kita bisa mendapatkan
    semangat-semangat khusus dalam beragama, tentu ini akan mendapatkan
    pahala. Apalagi jika peringatan itu betul-betul dengan niat "sebagai
    bentuk rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW".




    Dalam Shahih
    Bukhari diceritakan, sebuah kisah yang menyangkut tentang Tsuwaibah.
    Tsuwaibah adalah budak [perempuan] Abu Lahab [paman Nabi Muhammad
    [SAW]. Tsuwaibah memberikan kabar kepada Abu Lahab tentang kelahiran
    Muhammad [keponakannya], tepatnya hari Senin tanggal 12 Robiul Awwal
    tahun Gajah.



     



    Abu Lahab bersuka cita sekali dengan kelahiran beliau.
    Maka, dengan kegembiraan itu, Abu Lahab membebaskan Tsuwaibah. Dalam
    riwayat disebutkan, bahwa setiap hari Senin, di akhirat nanti, siksa
    Abu Lahab akan dikurangi karena pada hari itu, hari kelahiran Nabi
    Muhammad SAW, Abu Lahab turut bersuka cita. Kepastian akan hal ini
    tentu kita kembalikan kepada Allah SWT, yang paling berhak tentang
    urusan akhirat.



     



    Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW secara seremonial
    sebagaimana yang kita lihat sekarang ini, dimulai oleh Imam Shalahuddin
    Al-Ayyubi, komandan Perang Salib yang berhasil merebut Jerusalem dari
    orang-orang Kristen. Akhirnya, setelah terbukti bahwa kegiatan ini
    mampu membawa umat Islam untuk selalu ingat kepada Nabi Muhammad SAW,
    menambah ketaqwaan dan keimanan, kegiatan ini pun berkembang ke seluruh
    wilayah-wilayah Islam, termasuk Indonesia. Kita tidak perlu merisaukan
    aktifitas itu. Aktifitas apapun, jika akan menambah ketaqwaan kita,
    perlu kita lakukan.




    Tentang pendapat Ulama dan Pemerintah Arab
    Saudi itu, memang benar, sebagaimana yang kami tulis di atas. Tetapi,
    jika kita ingin 100% seperti zaman Nabi Muhammad SAW, apapun yang ada
    di sekeliling kita, jelas tidak ada di zaman Nabi. Yang menjadi prinsip
    kita adalah esensi. Esensi dari suatu kegiatan itulah yang harus kita
    utamakan.



     



    Nabi Muhammad SAW bersabda : 'Barang siapa yang melahirkan
    aktifitas yang baik, maka baginya adalah pahala dan [juga mendapatkan]
    pahala orang yang turut melakukannya' (Muslim dll). Makna 'aktifitas
    yang baik' --secara sederhananya--adalah aktifitas yang menjadikan kita
    bertambah iman kepada Allah SWT dan Nabi-Nabi-Nya, termasuk Nabi
    Muhammad SAW, dan lain-lainnya.





    Masalah Bid'ah:

    Ibnu Atsir
    dalam kitabnya "Annihayah fi Gharibil Hadist wal-Atsar" pada bab Bid'ah
    dan pada pembahasan hadist Umar tentang Qiyamullail (sholat malam)
    Ramadhan "Sebaik-baik bid'ah adalah ini", bahwa bid'ah terbagi menjadi
    dua : bid'ah baik dan bid'ah sesat. Bid'ah yang bertentangan dengan
    perintah qur'an dan hadist disebut bid'ah sesat, sedangkan bid'ah yang
    sesuai dengan ketentuan umum ajaran agama dan mewujudkan tujuan dari
    syariah itu sendiri disebut bid'ah hasanah.



     



    Ibnu Atsir menukil sebuah
    hadist Rasulullah "Barang siapa merintis jalan kebaikan maka ia akan
    mendapatkan pahalanya dan pahala orang orang yang menjalankannya dan
    barang siapa merintis jalan sesat maka ia akan mendapat dosa dan dosa
    orang yang menjalankannya". Rasulullah juga bersabda "Ikutilah kepada
    teladan yang diberikan oleh dua orang sahabatku Abu Bakar dan Umar".



     



    Dalam kesempatan lain Rasulullah juga menyatakan "Setiap yang baru
    dalam agama adala Bid'ah". Untuk mensinkronkan dua hadist tersebut
    adalah dengan pemahaman bahwa setiap tindakan yang jelas bertentangan
    dengan ajaran agama disebut "bid'ah".




    Izzuddin bin Abdussalam
    bahkan membuat kategori bid'ah sbb : 1) wajib seperti meletakkan
    dasar-dasar ilmu agama dan bahasa Arab yang belum ada pada zaman
    Rasulullah. Ini untuk menjaga dan melestarikan ajaran agama.Seperto
    kodifikasi al-Qur'an misalnya. 2) Bid'ah yang sunnah seperti mendirikan
    madrasah di masjid, atau halaqah-halaqah kajian keagamaan dan membaca
    al-Qur'an di dalam masjid. 3) Bid'ah yang haram seperti melagukan
    al-Qur'an hingga merubah arti aslinya, 4) Bid'ah Makruh seperti
    menghias masjid dengan gambar-gambar 5) Bid'ah yang halal, seperti
    bid'ah dalam tata cara pembagian daging Qurban dan lain sebagainya.




    Syatibi
    dalam Muwafawat mengatakan bahwa bid'ah adalah tindakan yang diklaim
    mempunyai maslahah namun bertentangan dengan tujuan syariah.
    Amalan-amalan yang tidak ada nash dalam syariah, seperti sujud syukur
    menurut Imam Malik, berdoa bersama-sama setelah shalat fardlu, atau
    seperti puasa disertai dengan tanpa bicara seharian, atau meninggalkan
    makanan tertentu, maka ini harus dikaji dengan pertimbangan maslahat
    dan mafsadah menurut agama. Manakala ia mendatangkan maslahat dan
    terpuji secara agama, ia pun terpuji dan boleh dilaksanakan. Sebaliknya
    bila ia menimbulkan mafsadah, tidak boleh dilaksanakan.(2/585)




    Ada
    juga pendapat yang mengatakan bahwa bid'ah terjadi hanya dalam
    masalah-masalah ibadah. Namun di sini juga ada kesulitan untuk
    membedakan mana amalan yang masuk dalam kategori masalah ibadah dan
    mana yang bukan. Memang agak rumit menentukan mana bid'ah yang baik dan
    tidak baik dan ini sering menimbulkan percekcokan dan perselisihan
    antara umat Islam, bahkan saling mengkafirkan. Selayaknya kita tidak
    membesar-besarkan masalah seperti ini, karena kebanyakan kembalinya
    hanya kepada perbedaan cabang-cabang ajaran (furu'iyah).



     



    Kita
    diperbolehkan berbeda pendapat dalam masalah cabang agama karena ini
    masalah ijtihadiyah (hasil ijtihad ulama).Sikap yang kurang terpuji dalam mensikapi masalah furu'iyah adalah menklaim dirinya dan pendapatnya yang paling benar.




    Demikian, semoga membant.



    M. Luthfi Thomafi  (pesantren virtual)

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Peringatan Maulid Nabi s.a.w. dan Bid'ah Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top