KH. Muhammad Akyas (2) - Buntet Pesantren KH. Muhammad Akyas (2) - Buntet Pesantren
  • Latest News

    Friday, March 28, 2008

    KH. Muhammad Akyas (2)


    Oleh: Muhammad Kurtubi


    Kyai Akyas bin Abdul Jamil sosok ulama dari Buntet Pesantren yang dikenal dengan sifatnya yang alim, tawadlu, berani, tegas, lugas, dan disiplin serta hidup apa adanya. Kealiman dan kesederhanannya itu beliau tampilkan saat membina santri-santri di asramanya juga kepada masyarakat yang berguru pada beliau. Menjelang wafatnya, beliau sempat berpesan kepada keluarganya ingin mati fakir. Saat ajal tiba, benarlah kalau beliau meninggal dalam keadaan fakir.




    Beliau memiliki satu anak dari isteri pertama, Nyai Tike,  dan 9 anak dari isteri kedua yang menemaninya hingga wafat di Buntet Pesantren. Isteri beliau yang kedua ini bernama Nyai Masriah putri seorang "Penghuku Landrat" atau Kepala KUA pada masa Belanda.

    Karena Nyai Masri seorang  anak pejabat zaman Belanda, ia mendapat kesempatan belajar di HIS Belanda di Cirebon. Dengan pendidikan setinggi ini Nyai Masri mahir berbahasa Asing. Sedangkan Kyai Akyas sendiri mahir berbahasa Arab. Sehingga seringkali jika Buntet Pesantren kedatangan tokoh Internasional maka keluarga Kyai Akyas yang menemani.

    Suatu ketika, Buntet Pesantren kedatangan ulama dari Arab Saudi seorang Qori Internasional bernama Abdul Basith. Penguasaan qiroat dan syair-syair berbahasa Arab Kyai Akyas mampu mengimbangi intensitas komunikasi. Bahkan menurut penuturan orang yang pernah melihat pertemuan itu, Abdul Bastih mengagumi sosok Kyai Akyas yang dianggap fasih baik dalam ilmu qiroat, maupun syair-syaiar dari Arab.

    Sedangkan Nyai Masri yang mahir berbahasa Belanda, terlihat akrab ketika isteri KH. Nahduddin Abbas dari Perancis datang ke Buntet Pesantren dalam sebuah kunjungan keluarga. Namun Nyai Masri saat diminta menjadi pegawai Kedutaan Indonesia di Belanda tidak mau karena alasan menemani Kyai di Buntet Pesantren.

    Kerikil dan Hadits
    Kemampuan berbahasa Arab Kyai Akyas ditempa sedari muda. Beliau sudah hafal alfiah sejak itu dan untuk memperdalam ilmu, langsung belajar ke Pesantren KH. Hasyim Asyari di Jombang Jawa Timur.

    Kemampuan bahasa ini terus diasah dalam kesehariannya membina masyakat dan santri-santrinya. Tercatat dalam ingatan seorang cucunya, Imaduddin Al Kaf  (Kang Imad) yang selalu mendampingi beliau hingga wafatnya.

    Salah satu kebiasaan Bapak Yai, (maksudnya Kyai Akyas) kata Kang Imad adalah suka menghafal hadits-hadits Rasulullah saw. Saya biasanya disuruh mengumpulkan batu kerikil yang fungsinya untuk "nengeri" hafalan haditsnya. Batu kerilik ini beliau ambil lalu menghafal setelah selesai dilempar ke wadah yang lain begitulah seterusnya hingga hafalannya selesai. Kemudian saya juga disuruh menulis hafalan beliau itu dalam satu buku catatan. Sayangnya buku catatan hafalan hadits mbah Yai itu dipinjam seorang santri  dan belum mengembalikan. Kalau tidak salah, saya baru mencatat 400 hadtis hasil beliau menghafal.

    Cerita kerikil ini kemudian belanjut, saat seorang tamu datang mengeluhkan penyakit di perutnya yang sangat mengganggunya cukup lama. Orang Madura bernama Pak Selamet tukang sate Ayam, ini hanya dikasih kerikil wirid hadits yang biasa dipake beliau. Ganjel saja dengan batu kerikil yang biasa diapkai untuk menghafal hadits, kata beliau kepada Pak Selamet.

    Bumi Hangus
    Di balik sifat kealiman beliau, kyai Akyas sendiri merupakan kyai pejuang pada masa penjajahan Belanda. Ketika Buntet Pesantren menjadi target operasi tentara kompeni Belanda kabarpun beredar di masyarakat kalau Buntet hendak diserang dan dibakar dari dari darat dan udara seperti di daerah-daerah lain. Keberadaan pesantren ini sudah lama diincar oleh Belanda namun selalu gagal. Konon, menurut cerita yang berkembang di kalangan orang Buntet,  peta Buntet Pesantren itu tidak nampak oleh pilot pembawa bom saat hendak dijatuhi bom dari pesawat.

    Dari kabar yang menggetarkan itu membuat orang-orang Buntet Pesantren disuruh mengungsi ke daerah lain guna menghindari jatuhnya korban di pihak sipil. Tentara Hisbullah yang terdiri dari orang-orang Buntet dan kyai waktu itu juga mengungsikan penduduk Buntet. Namun Kyai Akyas tetap bertahan tidak mau bringsut dari rumahnya sedangkan yang lain sudah bersembunyi di perbatasan desa ada yang mengungsi ke hutan.

    Alasan kyai Akyas kenapa tidak ikut mengungsi tidak mengada-ada. Isterinya Nyai Masri yang pandai berbahasa Belanda itu mendapat informasi rahasia dari markas Belanda di Cirebon. seorang pejabat kabupaten datang ke Buntet memberitagar jangan mengungsi. Sebab katanya, jika masih ada orang yang tidak mengungsi maka bumi hangus tidak jadi.

    Maka benarlah Kyai Akyas tidak jadi pergi. Sebagai gantinya, Kyai Akyas diambil Belanda dan ditahan di Cirebon untuk beberapa lama kemudian dibebaskan kembali. Setidaknya, Kyai Akyas bersyukur dengan penghorbanan dirinya, Kampung Buntet Pesantren tidak jadi dibakar. Konon akhirnya Belanda melampiaskan kemarahannya dengan membakar pesantren lain di wilayah Cirebon.

    Mengembara
    Ada cerita menarik seputar pengembaraan beliau. Pertama ketika berada di sebuah pesantren di Jawa, ada orang gila mengamuk sambil membawa pedang. Semua santri ribut dan ketakutan sehingga lari tunggang-langgang tinggal Kyai Akyas sendirian di situ. Para santri yang melihat dari jauh merasa khawatir pada kyai Akyas itu. Namun beliau tetap tenang dan menyambut orang itu dengan senyuman.

    "Sampean itu Orang sakt!" sambil mengangkat jempol tangan kanan tanda memuji.

    "Heheh, kamu benar! saya ini sakti, kalau mau bukti silahkan ambil pedang saya dan coba potong tangan saya heheheh." Kata si stress sesumbar.

    Pak Kyai berusaha tenang saat si stress itu menyerahkan pedangnya. Begitu pedang sudah berpindah ke tangan Kyai, beliau tidak mau ambil resiko. Dengan sigapnya, pak Kyai langsung melempar pedang itu  jauh-jauh disaksikan oleh oran-orang yang sedari tadi deg-degan khawatir terjadi apa-apa.

    Kontan saja begitu pedang sudah tidak ada pada orang stress yang ngamuk tadi, kyai langsung meminta bantuan teman-temannya untuk menundukkan dan meringkusnya. Setelah itu barulah suasana pesantren manjadi tenang kembali dan orang stress tadi diserahkan kepada pimpinan asrama untuk diobati.

    Cerita kedua, saat masih muda pak kyai tengah berjalan di pesisir pantai. Saat itu ada prahu di pinggir pantai kemudian beliau naiki. Tanpa diduga, tiba-tiba saja angin besar bertiup sangat kencang, hingga menyeret perahu tadi hingga ke tengah laut. Di tmenerpa perahu dan terbawalah di tengah laut.. tapi akhirnya  beliau bisa kembali lagi.

    Perhatian kepada Keluarga
    Dalam masalah perkawinan Kyai Akyas seringkali menasehati putra-putrinya tentang urusan menikah itu yang penting adalah calonnya mengerjakan shalat. Artinya jangan melihat kedudukan lebih-lebih karena hartanya.  "Wis pokoke wong laki rabi itu sing penting bener, semabayang."  Itulah satu nasehat beliau kepada anak cucunya.

    Perhatian kepada keluarga juga tidak kalah pentingnya. Pak Kyai memiliki besan dengan keluarga di Pekalongan dan Tegal. Dua orang anaknya menjadi keluarga di sana. Karenanya beliau suka silaturahmi ke ke Pekalongan dan Tegal sekalian berdakwah.

    Di kota Tegal besan Kyai Akyas bernama Abah Muhammad. Beliau mempunyai anak bernama Muhammad Lazim dan Masih keluarga dengan Sayyid Abdul Ghoffar Purbaya, Kali Soka Tegal. Muhammad Lazim ini dinikahkan dengan putri perempuan Kyai Akyas bernama Yuhanna. Kemudian di Pemalang beliau memiliki besan satu lagi bernama H. Basari. Putri H Basari ini  bernama Siti Zakiah yang kemudian menjadi  penamping setia KH. Muhammad Syifa hingga saat ini.

    Di samping perhatian terhadap keluarga, Kyai Akyas  memiliki intensitas hubungan baik dengan orang-orang biasa. Beliau sering sekali dengan tukang becak mengobrol dan makan bersama. Keakraban itu terus menerus beliau tunjukkan hingga masa akhir hayatnya.

    Membutktikan kata kata
    H. Narsa adalah santri yang menganggap kalau Kyai Akyas itu seorang waliullah. Santri ini pekerjaanya menimba air  untuk bak mandi keluarga kyai. Tugas berikutnya adalah menggendong cucu kyai. Keseharian H. Narsa ini bahwa hampir tidak sempat mengaji justru yang sering dialami adalah suka digentak (dimarahi) oleh Kyai.

    Tetapi di luar dugaan nasib H. Narsa setelah selesai mondok dari Buntet (H. Narsa atau dikenal juga dengan H. Ismail dari  Kedung Wungu Lebaksiu Tegal itu berhasil menjabat sebagai kepala KUA.

    Saat menjelang wafatnya pak kyai mengatakan kepada saya: "Sira kah baka isun mati, bakale teka." Kamu jika saya meninggal datang.  Ketika itu H. Narsa mikir-mikir apa iya bisa mendengar kabar, bukankah saya ini tinggal di pedalaman desa  Pemalang di kaki gunung selamat. Gumam H. Narsa yang waktu itu masih mondok.

    Kata-kata itu dibuktikan  tahun 76 saat ia sudah menjadi orang sukses di Pemalang. Ia tengah bermain ke kota Tegal. Pada saat jalan-jalan di kota Tegal, ada yang mengabari kalau Kyai Akyas wafat. Saat itu ia langsung teringat dengan kata-kata pak Kyai dan kontan saja tidak ba bi bu, ia menuju ke Buntet Pesantren. Rupanya kata-kata Kyai itu benar-benar terbukti. Kata H. Narsa.


    Akhir Umur
    Kyai Akyas sehari-harinya sebagai ulama yang waktunya digunakan untuk membimbing masyarakat dan keluarga. Beliau, disamping mengajar  para santri di rumahnya beliau juga mengajar masyarakat terutama ibu-ibu dalam pengajian "Senen-an" "Kemis-an". Muridnya ratusan saat pengajian itu dilaksanakan. Datang dari semua penjuru kampung sekitar Buntet juga warga buntet sendiri ikut mengaji kepada beliau. Mereke berbondong-bondong ke rumah kyai untuk mengaji di pagi hari.

    Beliau sendiri seorang petani dan juga berkebun. Sawahnya ada di makam Dulek,  kebonya terletak di Buntet Desa. Kekayaan yang diperoleh dari hasil tani itu cukup lumayan untuk ukuran di kampung. Anaknya yang banyak itu dapat hidup sejahtera dari hasil berkebun dan bersawah.

    Seperti juga kyai yang lainnya di Buntet Pesantren para kyai memiliki sawah dan ladang. Hasil pertanian ini sangat dibutuhkan untuk memberi makan keluarga juga para santri yang tinggal di asrama. Sebab di masa lalu, para santri yang mondok di Buntet Pesantren tidak semuanya membayar. Kalaupun membayar, tidak dibatasi, bahkan zaman dulu, kebanyakan santri itu ngliwet (masak) sendiri.

    Sebab mereka datang dan ingin menjadi santri namun hanya berbekal semangat dan cita-cita. Jumlah santri model seperti ini cukup banyak. Termasuk H. Narsa salah satu santri pemalang yang hidup bersama dengan pak Kyai, membantu pekerjaan rumah tangga kyai.

    Namun pada saat menjelang umur berakhir, beliau mati dalam keadaan fakir. Maksudnya, beliau menjual semua kekayaanya dan hingga akhir umurnya Kyai Akyas yang dicintai itu meninggal dalam keadaan fakir.

    Mati dalam keadaan fakir itu, bagi kyai adalah cita-citanya. Sebelumnya beliau telah memberitahukan kepada isterinya. "Kita kih baka wis bli doyan udud bakale akhire umur. Jadi titena bae ya." Saya nanti kalau sudah dekat ke akhir umur, cirinya saya tidak lagi merokok, jadi perhatikan ya. Ujar kyai Akyas kepada isterinya.  Kemudian isterinya menjawab dengan sedih, "Jangan begitu sih" kata isterinya.

    "Terus baka sira munggah haji, iku tandae isun wis akhire ning umur." Kemudian, jika kamu pergi haji, maka itu berarti saya sudah sebentar lagi pergi. Kata kyai memberitahukan kepada isterinya.

    Waktu berjalan terus, dan ketika itu kyai sudah tidak merokok beliau tetap memberitahukan kepada isterinya, kalau dia sudah menjelang ajalnya. Tentu saja isterinya kaget.

    Ibadah
    Kyai Akyas dimata keluarga dan murid-muridnya adalah sosok ulama yang ahli hadtis, ahli tahajud, ahli quran. Kebiasaan harian beliau saat menjalng  jam 2-3 malam sudah berada dalam posisi di tempat ibadah. Berdzikir keras, pelan.  Itu disaksikan oleh cucunya yang merawat beliau.

    Beliau juga sebagai pembimbing spiritual yang tergabung dalam tarekat Tijani. Namun meski demikian, beliau sebagai muqoddam tijani, tidak memaksa siapapun untuk masuk ke dalam tharekatnya.

    Hal unik lainya yang diajarkan beliau kepada muridnya adalah dalam hal "istikho­roh singkat" artinya metode istikhoroh jika tidak menggunakan shalat. Jika orang dalam keadaan bingung, maka dianjurkan shalat istikhoroh, namun jika keadaan tidak memungkinkan, bisa dicoba metode kyai Akyas ini.

    Kata beliau cobalah menggunakan metode hurf Syin dan Kho dalam alquran. Buka alquran, dan hitung berapa huruf kho dan syin yang ada di dalam dua hlalaman quran kita lihat. Jika banyak huruf syin singkatan dari kata syarrun berarti pilihan yang akan diambil itu tidak baik. Jika banyak huruf kho, singkatan dari kata khoirun, berarti keputusan itu baik.

    Kena Santet
    Cerita ini disampaikan oleh cucunya yang merawat beliau hingga akhir masanya. Bapak Yai, katanya pernah dioperasi, diarawat oleh Dokter karena tidak bisa keluar udara dari tubuh nya. Ketika, pagi-pagi beliau belum makan apa-apa, tapi didahuli makan tape ketan, akhirnya beliau tidak bisa mengeluakan kotoran dari tubuhnya. Ketika mau dioperasi langsung sembuh. Bahkan dokter merasa heran, karena langsung sembuh.

    Sebelumnya, saat itu kyai buang air besar dan yang keluar dari dalam tubuhnya itu salak beserta paku. "Nginsing angel pisan kujeh isie kuh salak karo paku" kata kyai kepada cucunya. Kemudian oleh Kyai Jud, muridnya dari Babadan menyarankan agar dibalas orang yang "menyantet itu". Tapi dijawab oleh kyai jangan nanti Allah saja yang membalasnya.

    Getokan Kyai
    Sosok Kyai Akyas dikenal dengan ketegasannya dalam hal menerapkan peraturan pondok. Coba-coba melanggar, maka jika ketahuan kyai Akyas siapapun dikenai teguran atau sangsi. Namun hukuman seorang kyai Akyas bisa membawa hikmah luar biasa, seperti kyai Akyas menggetok kepala Dr. Manarul Hidayah saat mondok gara-gara tidak memakai peci.

    Kenapa ia katakan gara-gara Kyai Akyas, karena sebelumnya Kyai Manarul ini bertemu Gus Dur kemudian Gus Dur mengatakan bahwa kalau saya bisa seperti ini katanya pernah "ditotok" kepalanya oleh Kyai Akyas waktu di Buntet Pesantren. Saya heran kok Gus Dur tahu kejadian masa kecil saya di pondok dan pernah ditotok. Saya hanya mesem-mesem saja. Kata Manarul dalam sebuah ceramahnya.

    Tasawuf
    Tasawuf merupakan pola hidup beliau. Selain ibadah yang rutin, beliu juga menerapkan disiplin kepada santri-santrinya di Buntet agar iku menerapkan akhlak tasawuf dan menghindari tindakan muruah. Saat beliau masih hidup, paling tidak suka kepada warga atau santrinya yang tidak menerapkan tasawuf misalnya tidak pake peci atau bermain bola.

    Bila ada santri yang coba-coba bermain bola, kyai Akyas tidak sungkan untuk menegur santri, jika coba-coba lari, si santri akan dikejar hingga ketangkep dan dirampas bolanya. Suatu ketika ada pengakuan santrinya kalau sudah dikejar oleh kyai sulit menghindar karena dari segenap penuru seolah-olah kyai itu mengepung.

    Menjelang akhir hayat Kyai Akyas mempunya tiga orang santri binaan dari Desa Cipicung, Sumedang dua orang: Sanusi dan Muhidin keduanya kini sudah menjadi orang makmur dan bermanfaat hidupnya. Pak Muhidin menjadi Polisi sedangkan Pak  Sanusi menjadi kyai yang memiliki pesantren dengan murid sekitar 600 orang. Saat menjadi santri dulu Sanusi dan Muhidin ini kerjanya hanya mendorong dorong becak  menemani kyai untuk keliling kampung. Karena kebiasaan beliau setiap hari keliling kampung bertemu dengna orang-orang dan saudara dari segenap kalangan.

    Ketiga belaiu juga memiliki santri dari arjawinangun dari desa Winong, Mubtadi namanya. Kini dia menjadi pengusaha sukses. Tiga orang inilah santri binaan kyai di akhir masanya. Di asrama kyai ini santri yang bermukim tidak banyak. Yang banyak adalah beliau memiliki santri ibu-ibu yang datang dari berbagai desa se Kecamatan Astanajapura mengaji pada hari kemisan.

    Demkian Manakib Kyai Akyas bagian kedua ... Penulis hanya mengawali, silahkan bagi pihak-pihak lain yang mau menambah atau mengurangi. Tulisan ini masih bisa diedit.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: KH. Muhammad Akyas (2) Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top